UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Mengunjungi Nara.


__ADS_3

Seminggu hampir dua minggu berlalu semenjak kejadian peristiwa terjatuhnya Nara. Secara medis kondisinya sudah keluar dari masa kritis hanya menunggu kesadaran Nara saja.


Sementara untuk kondisi psikologis Dewi, ia belum bisa lepas dari Angga. Selama ini ia memilih tinggal dirumah Anton dan menolak untuk menemui Michael, padahal Anton sudah membujuknya dengan berbagai cara tapi rupanya Dewi belum bisa memaafkan pria itu.


Hari ini Anton ingin mencoba lagi untuk berbicara pada Dewi. Bukan apa-apa Michael memberi syarat padanya jika ia ingin menikahi Dewi maka ia harus bisa membuat Dewi untuk memaafkannya.


Persyaratan ini dilontarkan Mike dua hari yang lalu saat Anton menyampaikan niat baiknya ingin mempersunting Dewi. Untuk masalah Dewi setuju atau tidak Anton yakin Dewi pasti setuju mengingat Dewi yang sudah tidak bisa dipisahkan dari Angga. Michael juga sepertinya sudah kehabisan akal untuk membujuk Dewi, jangankan untuk berbicara dengan Dewi, untuk berjumpa dengannya saja Dewi tidak mau.


"Wik!" panggil Anton pada Dewi, saat ini Dewi sedang mengenakan pakaian pada Angga. Ia baru saja memandikan bocah kecil itu. Anton berjalan mendekat dan memilih duduk di tempat tidur tepat di samping Angga. sementara Dewi ada dihadapan Angga.


"Hemm" sahut Dewi tanpa menoleh sedikitpun ia disibukkan dengan Angga yang tak mau diam.


"Kepala sekolah menanyakan mu, kapan kamu mau mulai sekolah lagi?" tanya Anton. Ia mengkhawatirkan masa depan Dewi. Bukannya apa-apa tiga bulan lagi adalah ujian kelulusan. Ia tidak ingin masa depan Dewi suram karena terlalu larut dengan masalahnya.


Dewi terdiam tak menjawab, ia memilih menyibukkan diri mendadani Angga. Ia mencium bocah itu setelah selesai mendandaninya dan menaruhnya di pangkuannya.


"Wik! kalau kau memang tak ingin kembali ke sekolah itu, aku bisa mencarikanmu guru. Kau bisa homeschooling, apa kau mau?" tanya Anton lagi dan Dewi masih belum mau menjawab.


"Kalau kau homeschooling paling tidak kau bisa sambil mengawasi Angga dan kau juga tidak akan tertinggal materi pelajaran" ucap Anton lagi. Tidak ada hal menarik bagi Dewi selain bocah kecil itu.


"Apakah boleh?" Dewi terlihat antusias jika itu berkaitan dengan Angga.


"Tentu boleh, siapa yang akan melarang. Aku bisa menjelaskan semua pada guru pembimbingmu nanti, bagaimana?" ucap Anton terlihat senang karena Dewi mau meresponnya.


"Baiklah aku mau, tapi kau jangan melarangku dekat dengan Angga" ucap Dewi khawatir.


"Iya, tenang saja aku janji tidak akan mengambil Angga darimu. Aku akan meminta asistenku untuk mencarikan seorang guru mudah-mudahan besok kau sudah bisa memulai pelajaranmu" ucap Anton meyakinkan.

__ADS_1


Sebenarnya ada sedikit ketakutan dalam benak Anton, Dewi terlalu terobsesi pada putranya Angga. Ia takut jika itu berlanjut sampai Dewasa dan akan ikut mempengaruhi perkembangan Angga. Anton menepis semua pikiran itu dari benaknya, toh Angga masih kecil dan memang membutuhkan sosok seorang ibu.


"Oh ya apa kau tidak ingin menengok Nara, ia pasti senang jika kau mau menengoknya" ucap Anton. Ini sebenarnya yang ingin ia ungkapkan dari tadi. Tapi mengingat mood Dewi yang berubah-ubah seperti roller coaster membuat Anton harus berhati-hati dalam bicara.


"Apa ia sudah sadar?" tanya Dewi sembari menatap Anton. Ada kekhawatiran yang tak bisa ia tutupi dari pandangan matanya.


"Belum, tapi kondisinya sudah stabil. Kamu mau kan menengoknya? Siapa tahu setelah kau datang menengoknya lalu ia bangun dan tersadar" bujuk Anton. Dewi tampak terdiam berpikir, lalu pandangannya teralihkan pada Angga. Bocah kecil itu tertawa sembari menyentuh pipi Dewi.


"Kalau kita menengok Nara, lalu bagaimana dengan Angga?" Nara terlihat khawatir dan juga seperti tak tega untuk meninggalkan bocah itu. Rumah sakit adalah tempat orang sakit, sudah bisa di pastikan Angga tidak akan mungkin ikut dengan mereka.


"Angga biar dirumah dengan pelayan, aku memasang CCTV dikamar ini. Kau bisa melihat Angga dari handphonemu. Kamu bisa mendownload aplikasi yang terhubung langsung dengan CCTV kamar ini" ucap Anton menyadari kekhawatiran Dewi.


"Baiklah, tapi jangan terlalu lama ya!" ucap Dewi akhirnya dan diangguki oleh Anton.


"Bersiaplah, kita akan berangkat sebentar lagi" ucap Anton.


"Terserah kau saja, aku ada diruang kerja jika kau sudah siap berangkat" Anton mencium kening Angga yang ada dipangkuan Dewi. Ia memilih pergi dari situ, ada beberapa berkas yang harus ia tandatangani.


**********


Sementara itu dirumah sakit Kakek, Dimas dan Tiara sedang berkunjung. Mereka baru saja sampai, sementara itu putri Dimas dan Tiara ada diruangan direktur yang merupakan Papa Teo bersama seorang pengasuh. Tiara tidak tega meninggalkan putrinya, jadi Papa Teo menawarkan diri agar cucunya dibawa ke ruangannya saja.


Dimas, Kakek dan Mike memilih duduk di sofa yang ada diruangan itu. Nara sudah di pindahkan keruangan VVIP yang ada dirumah sakit itu.


"Bagaimana kondisi Nara?" tanya Kakek pada Mike.


"Secara medis kondisinya membaik Kek, tapi entah kenapa ia hobi sekali tidur sampai saat ini ia bahkan belum juga tersadar" ucap Mike sembari menatap Nara.

__ADS_1


"Jangan khawatir, sebentar lagi ia pasti sadar" hibur Kakek sembari menepuk bahu Mike pelan. Tiara memilih mendekati Nara. Ia membasuh wajah Nara dengan kain yang ia basahi dengan air hangat.


"Benar kata Kakek, Nara pasti sadar sebentar lagi. Kau tidak perlu khawatir!" ucap Dimas ikut menenangkan Mike. Kondisi Mike sudah tidak seperti dulu lagi. wajahnya mulai ditumbuhi bulu-bulu halus dan ia juga terlihat sedikit kurus dengan wajah sayu.


"Apa kau sudah makan?" tanya Kakek pada Mike.


"Belum, nanti saja Kek. Aku masih belum lapar" sahut Mike.


"Kalau menunggu kau lapar, kau tidak akan makan-makan" Kakek bangun dan menghampiri meja. Ia mengambil kotak nasi yang dibawa Tiara khusus untuk Mike.


"Makanlah, jangan sampai ketika Nara bangun nanti ia tidak mengenalimu karena badanmu yang kurus. Dan juga lihat wajahmu itu sudah dipenuhi kumis dan jenggot. Bercukurlah jika kau sempat nanti" perintah Kakek lagi. Ia sedikit khawatir dengan kondisi Mike seperti orang yang tak terurus, belum lagi rambut Mike yang juga terlihat mulai memanjang.


Mike menuruti perintah Kakek, walaupun ia tidak terlihat semangat tapi ia tetap memakan hidangan yang telah Tiara siapkan di dalam kotak makan.


Tok tok tok.


Terdengar suara ketukan pintu, Mike memilih menyudahi makannya. Ia menuju ketempat pencucian tangan yang ada diruangan pantry yang ada dikamar itu.


"Masuk" sahut Dimas. Pintu mulai terbuka dan terlihatlah Anton berjalan masuk disusul Dewi dibelakangnya.


"Dewi!" panggil Tiara terlihat senang dengan kehadiran Dewi. Sudah lama mereka tidak saling jumpa maupun mengunjungi sejak terakhir kali mereka liburan bareng.


Mike yang sedang cuci tangan di ruangan pantry bisa mendengar suara Tiara memanggil Dewi. Ia terdiam sejenak, setelah Akhirnya memilih menyudahi kegiatannya itu. Ia berjalan keluar dan memperhatikan Dewi yang mendekat pada Nara.


"Dewi!" panggil Mike hati-hati. Ia sebenarnya rindu dan ingin berbicara dengan Dewi yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri.


Dewi yang sedang menggenggam sebelah tangan Nara yang terbebas dari jarum infus mendadak terdiam dan membeku, Tiara bahkan bisa melihat perubahan ekspresi wajah Dewi yang tadinya tersenyum dan mendadak muram.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2