UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Pengakuan Farih.


__ADS_3

Sesampainya di hotel Farih langsung menuju kamarnya.


Baru saja masuk kedalam ruangan itu Farih sudah di sambut tangisan istrinya. Ia mendekat pada istri kecilnya itu dan memeluknya.


"Maaf, Kakak tidak bermaksud meninggalkanmu. Kakak masih ada urusan yang harus di selesaikan" Farih ber'alibi merayu istrinya."


"Sudah sayang, diam Ya. Kakak minta maaf" Farih mencium kening istrinya itu dan mengusap punggungnya. Ia berharap istrinya menghentikan tangisannya.


"Sudah sayang kau ingin apa sekarang, ayo katakan" ucap Farih masih memeluk istrinya.


"Hiks hiks hiks..., Lia lapar, juga belum mandi" jawab gadis mungil itu polos mendongakkan kepalanya menatap suaminya. Farih yang melihat linangan air mata di pipi istrinya itu menghapusnya dengan satu tangannya dan mengecup satu persatu kelopak mata istrinya.


"Eheeemmm" Tiara berdehem menghentikan keromantisan pasangan itu. Ia sejak datang tadi, langsung duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Tapi keberadaan Tiara seolah tak terlihat oleh kedua pasangan romantis itu.


"Kau ini" Farih menoleh pada adiknya yang tersenyum padanya.


"Siapa dia Kak?" tanya Lia penasaran


"Ayo aku kenalkan" Farih menuntun istrinya mendekati Tiara. Tiara mengulurkan tangannya pada istri Farih.


"Perkenalkan, saya Tiara salah satu wanita kesayangan Kak Farih" ucap Tiara menggoda.


"Kakak!!!" Lia melotot tajam pada suaminya.


"Dia adikku sayang, adik kandungku."


"Iya saya adik kandungnya" Tiara tersenyum mengejek ke arah Kakaknya.


"Saya Lia."


"Kamu mandi dulu ya, biar Kakak pesankan makanan untukmu. Ayo," Farih menggandeng istrinya ke kamar mandi.


"Kamu tunggu situ sebentar Ya dek, Kakak mau Anter dia sebentar."


"Lama juga nggak apa kok Kak" tawa Tiara.


Setelah berada di kamar mandi, Farih memberitahukan istrinya hal-hal yang tidak ia ketahui. Ia membantu istrinya mengisi bathub dan menambahkan Aroma yang ia suka ke dalamnya.


"Mandilah, Kakak tunggu di luar ya."


Farih keluar dari sana, lalu menghubungi pihak hotel untuk pesan makanan. kemudian ia menemui adiknya dan duduk di sebelah Tiara.


"Gimana Kak?" tanya Tiara.


"Gimana apanya?"


"Gimana rasanya jadi baby sister."


"Sialan lu" Farih melemparkan bantalan sofa ke arah adiknya yang menertawakannya.


"Dia masih muda banget Kak, anak sekolahan Ya."


"Iya, dia sekolah di SMK Farmasi. Kelas 3."

__ADS_1


"Terus gimana rencana Kakak, Kapan Kakak memberitahu orangtua kita?"


"Setelah Lia selesai mandi, kakak rencananya mau pulang dan bicara dengan orang tua kita. Kakak tidak mungkin terus menyembunyikannya pernikahan Kakak. Kau tolong temani dia ya. Kalau perlu ajak dia jalan-jalan. Kakak belum pernah mengajaknya kemanapun. Ini, kau ambil kartu kakak buat keperluan kalian belanja. PIN nya tanggal pernikahan Kakak kau bisa tanyakan pada istri Kakak."


"Seharusnya kartu ini kakak kasih ke dia, bukan Tiara."


"Kakak udah kasih dia, tapi dia nggak mau. Katanya nggak tau cara pakainya. Kamu ajarkan dia gih, apa aja yang dia nggak ngerti, kalau sesama perempuan dia pasti nggak akan sungkan."


Tak lama pelayan hotel datang dan membawa makanan pesanan Farih. setelah pelayan itu pergi, Lia keluar dari kamar mandi dalam keadaan fresh.


"Kemari" panggil Farih.


"Kamu pindah sana dek" ucap Farih mengusir Tiara yang duduk disebelahnya.


"Yeee, giliran ada istri, adiknya di buang" cibir Tiara. Farih mengabaikan ucapan adiknya, ia meminta istrinya duduk di sebelahnya. Tempat yang sebelumnya di duduki oleh Tiara.


"Kakak keluar sebentar ya, masih ada urusan yang harus Kakak selesaikan. Itu makanan sudah Kakak pesankan, kau makanlah berdua Tiara. Tiara akan menemanimu disini, kalau ingin jalan-jalan kau bisa mengajaknya."


"Tapi Kakak tidak akan lama kan?"


"Tidak, kakak cuma sebentar aja kok."


"Janji, cepat kembali ya."


"Iya, Kakak janji. Ya sudah kamu makan dulu ya, kakak mau keluar sekarang, Kakak pamit dulu. Cup, assalamualaikum" Farih berjalan keluar setelah mengecup kening Lia.


"Jaga istri Kakak ya dek!" teriak Farih sebelum menutup pintu.


Farih menuju ruang tengah. Diruang tengah Farih melihat kedua orang tuanya mengobrol santai dengan Dimas.


"Tiara masih ada keperluan sebentar, nanti juga pulang." ucap Farih berusaha menenangkan adik iparnya yang terlihat panik karena tidak mendapati istrinya bersama Farih.


"Ma, Pa, ada hal penting yang ingin Farih bicarakan."


"Kebetulan mama juga ada perlu sama kamu, tunanganmu rencananya besok siang sampai sini. Tolong kamu jemput di bandara, sekitar jam 2 siang pesawatnya mendarat."


"Maaf Ma, sepertinya Farih tidak bisa menjemputnya."


"Kenapa? Apa kamu ada jadwal di rumah sakit. Minta Dokter lain untuk menggantikannya. Jangan buat Mama malu, calon istri kamu itu anak dari sahabat Mama lho. Jadi kamu harus memperlakukannya dengan baik."


"Ma, Farih ingin pertunangannya di batalkan" ucap Farih tiba-tiba membuat Mamanya terdiam.


"Jangan main-main kamu Rih. Bulan kemarin bukannya kamu sudah setuju. Kamu ingin mempermalukan Mama dan Papa ya" Nada bicara Papa Aziz terdengar keras bahkan Dimas yang tidak pernah mendengar mertuanya marah pun terkejut.


"Ma, Pa maafkan Farih, Farih tidak bermaksud mempermalukan kalian. Farih..."


"Pokoknya Papa nggak mau tau, seminggu lagi kalian bertunangan dan bulan depan kalian menikah."


"Pa, Farih benar-benar tidak bisa. Karena..."


"Jangan menolak lagi, pokoknya keputusan ini sudah tidak bisa kamu ganggu gugat lagi. Pria seumuranmu itu seharusnya sudah menggendong anak. Kapan kalian mau memberi Mama dan Papa cucu" Papa Aziz memarahi Farih kemudian melirik Dimas.


"Masih dalam proses produksi Pa" jawab Dimas.

__ADS_1


"Farih tidak bisa bertunangan Pa, karena Farih sudah menikah."


"Apa?" ucap mereka bersamaan terkejut.


"Apa maksudmu nak, kamu bercandakan?" tanya Mama terkejut.


"Farih serius Ma, Pa. Maaf Farih tidak menghubungi kalian sebelumnya. Pernikahan Farih saat itu di lakukan karena kesalahpahaman. Tapi Farih sudah mulai mencintainya Ma. Tolong restui kami."


"Dimana kau sembunyikan istrimu?"


"Dia bersama Tiara di hotel."


"Anak siapa dia dan apa pekerjaan orang tuanya?"


"Dia anak Yatim piatu Pa, Ma. Neneknya yang merupakan keluarga satu-satunya baru saja meninggal dunia. Dia tidak memiliki siapapun, dia hanya memilikiku saja."


Mama dan Papa Aziz menghela nafas secara bersamaan mendengar penjelasan putranya.


"Ayo ikut Papa ke kamar belakang, ada yang ingin papa tunjukkan padamu."


Farih dan Tuan Aziz menuju kamar belakang. Begitu Farih memasuki kamar itu, tuan Aziz segera mengunci pintunya.


"Papa, Pa kenapa Farih dikunciin, Pa buka pintunya. Pa..." teriak Farih sambil menggedor-gedor pintu itu.


"Diam disitu, dan pikirkan kesalahanmu" ujar Papa Aziz lalu meninggalkan Farih dan kembali ke ruang tengah.


"Mana Farih Pa" tanya Mama.


"Papa mengurungnya di kamar belakang."


"Lalu bagaimana dengan rencana pertunangannya Pa."


"Ya, mau bagaimana lagi. Terpaksa di batalkan Ma, biar Papa yang menghubungi dan minta maaf pada mereka" ujar Papa Aziz.


Dimas hanya memperhatikan kedua mertuanya, ia tidak berani untuk ikut campur dalam permasalahan Farih.


"Nak Dim, coba tolong telpon istrimu dan tanya mereka ada di hotel apa. Katakan pada mereka kami akan kesana. Suruh mereka menunggu kedatangan kami."


Dimas menelpon istrinya, setelah mengetahui keberadaan mereka Papa dan Mama Tiara bersiap menuju kesana.


"Kau mau kemana?" tanya Papa Aziz ketika melihat Dimas mengikuti mereka.


"Dimas mau ikut Pa, nyusul istri Dimas."


"Tidak, kau jaga anak nakal itu. Ingat jangan dibuka pintunya sekalipun ia berteriak untuk memohon."


"Tapi, Pa saya..."


"Ini kuncinya, kau tunggu dirumah."


Papa dan Mama pun segera pergi menuju ke tempat dimana Tiara dan menantunya berada.


"Astaga, gue ditinggal lagi. Sepertinya keluarga ini hobi sekali meninggalkanku" ujar Dimas kesal.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2