
"Lho Mas ini kan jalan menuju ke rumah kita. Apa rumah orangtuaku dekat dengan rumah kita."
"Tidak sayang, Kita tidak akan kerumah orang tuamu sekarang. Papa tadi pesan kalau nanti malam akan mengajak orang tuamu kerumah kita makan malam bersama. Sebaiknya sekarang kita pulang dulu saja."
"Tapi aku ingin menemui mereka sekarang, Mas" ucap Tiara manja.
"Masih ada hal penting yang harus Papa bicarakan dengan orang tuamu. Jadi kasih kesempatan Papa buat berbicara terlebih dahulu. Sekarang kita pulang dan minta pelayan untuk menyiapkan makan malam nanti
Sesampainya di rumah Dimas memerintahkan pelayan untuk menyiapkan makan malam spesial. Tiara yang ingin ikut memasak, tidak di ijinkan oleh Dimas.
"Biar aku memasak beberapa menu buat orangtuaku ya Mas."
"Tidak disini sudah banyak pelayan kau istirahat dulu ke atas."
"Tapi Mas..."
"Tiaraa.."
Tiara menghentakkan kakinya, dengan memanyunkan bibirnya Tiara pergi ke kamarnya di lantai atas. Ia langsung merebahkan dirinya di kasur dengan posisi tertelungkup, kepalanya dimiringkan membelakangi Dimas. Dimas duduk di sebelah Tiara dengan menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Tiara..."
"Hmmmm"
"Berbaliklah, apa kau tidak sesak di posisi seperti itu.
"Tidak" jawab Tiara acuh.
"Tiara...."
"Hmmm"
"Apa kau tidak penasaran siapa orangtuamu?"
"apa kau mau memberitahuku?" Tiara langsung bangun dari posisi tidurnya mendekat ke arah Dimas.
"Tidak. Itu akan jadi kejutan untukmu."
Tiara mendengus kesal, menatap Dimas. Sementara Dimas tertawa melihat ekspresi wajah Tiara.
"Apa Masku dan Papa mengenal baik orang tuaku."
"Papa dan orang tuamu adalah sahabat baik sejak lama. Sementara Mas sudah lama tau tentang mereka. Tapi baru-baru ini mas mengenal dekat mereka."
"Benarkah? Lalu apa aku juga mengenal orangtuaku."
"Rahasia."
Tiara kesal dengan jawaban Dimas, ia merebahkan tubuhnya kembali membelakangi Dimas.
"Jangan ganggu Tiara mau tidur dulu." ujar Tiara kesal.
"Ngambek ya."
Tiara mengabaikan Dimas, Dimas mengelus pucuk kepala Tiara. Membiarkan Tiara terlelap, sementara itu ia mengambil tas kerjanya menyelesaikan pekerjaan kantornya yang tertunda diatas kasur sembari mengawasi istri kecilnya.
__ADS_1
*********
Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 siang, Yesi kesulitan menggerakkan tubuhnya. Ada tangan besar sedang menindih perutnya. Ia membekap mulutnya sendiri. Hampir saja ia berteriak terkejut. Tapi akal sehatnya menyadarkan posisinya saat ini yang telah menyandang status seorang istri.
Dengan perlahan Ia menyingkirkan tangan kokoh suaminya, Ia lalu duduk dan menggeser tubuhnya menjauh masih tertutupi selimut. Saat ini mereka berdua masih dalam keadaan polos.
"Mau kemana?" terdengar suara serak nan seksi milik suaminya.
"Ma-mau mandi dan menyiapkan sarapan" Yesi menggenggam erat selimutnya menutupi aset berharga miliknya.
"Sarapan?" Key menengok jam yang menempel di dinding.
"Maksudku makan siang."
"Tidak perlu, kita makan siang di luar saja. Lalu menjenguk Ayah, mendekatlah kemari."
Yesi menggeser tubuhnya mendekat. Ia saat ini dalam posisi duduk, sedangkan Key masih tidur berbaring.
"Apa masih sakit" tanya Key.
"Apanya?" Yesi tidak mengerti arah pertanyaan Key.
"Ini" Key menyentuh milik istrinya.
"Mas!!"
"Kenapa? inikan milikku sekarang. Apa sakit sekali semalam?" tanya Key lagi.
"Se-semalam sangat sakit tapi sekarang sepertinya tidak." jawab Yesi malu dengan wajah memerah.
"Ke-kenapa?" Yesi menjauhkan tubuhnya. Masih menggenggam erat selimutnya ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, melihat ada niatan lain diwajah suaminya.
"Sekali lagi Ya." pinta Key manja. Ia sepertinya ketagihan dengan tubuh istrinya.
"Apanya yang sekali lagi?"
"Seperti yang tadi malam" jawab Key masih dengan suara manjanya.
"Ta-tapi ini sudah siang" Yesi bingung dengan ekspresi dan suara manja suaminya. Pria dihadapannya ini biasanya selalu dingin dan galak sebelumnya. Kenapa tiba-tiba berubah manja saat di tempat tidur. Ia bergidik ngeri ekspresi manja suaminya benar-benar tidak cocok dengan karakter suaminya.
"Boleh ya?"
Yesi tidak tahan dengan wajah memelas nan manja Suaminya. Akhirnya ia menganggukkan kepalanya dengan wajah yang memerah.
Key tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia segera menarik istrinya kedalam pelukannya dan melakukan lagi. Permintaan yang tadinya hanya sekali menjadi berkali-kali.
**********
"Pantas saja aku merasakan perasaan berbeda kalau dekat dengannya. Ternyata gadis itu putri kita Pa" Istri Tuan Aziz matanya berkaca-kaca ketika Papa Teo menceritakan kebenarannya.
Papa Teo, Nyonya Anggi, Nita, Tuan Aziz beserta istrinya saat ini berada di rumah tuan Aziz. Mereka berlima duduk diruang tamu. Nyonya Anggi meminta maaf atas ulah suaminya dan seluruh keluarganya. mereka benar-benar menyesali perbuatannya. Sebenarnya Tuan Aziz dan istrinya sangat marah mengetahui jika mereka telah di permainkan.
Tetapi Karena memandang Papa Teo yang saat ini juga merupakan besannya, Maka Papa Aziz mau memaafkan mereka. Papa Teo ikut memohon pada Tuan Aziz agar memaafkan Anita dan Anggi. Untuk Bagas dan Susi ia menyerahkan semua pada Tuan Aziz bagaimana nantinya menangani mereka.
Sebagai kompensasi Nyonya Anggi memberikan klub miliknya kepada tuan Aziz. Sedangkan untuk apa yang sudah Tuan Aziz berikan pada Susi, ia juga akan meminta Susi untuk mengembalikannya nanti. Sebab sejak status Bagas menjadi narapidana, tiba-tiba jejak Susi menghilang.
__ADS_1
"Maaf Tuan, anak buah saya belum berhasil menemukan jejak adik ipar saya Susi."
"Tidak masalah, anak buah saya juga akan bantu untuk mencarinya. Ini bukan masalah berapa uang yang sudah kami berikan. Tapi saya ingin ini menjadi efek jera buat dia dan juga keluarga anda agar tak berbuat kejahatan lagi."
"Nitaa.." panggil Tuan Aziz lembut. Karena semenjak tadi ia memperhatikan Nita yang terus menunduk. Ia sama sekali tidak berani menatap Tuan Aziz maupun istrinya.
"Maaf, maafkan aku..., Maaf karena telah membohongi Anda. To-tolong jangan penjarakan aku." Nita menangis tersedu-sedu, ia mendekat dan bersimpuh di kaki Nyonya Aziz.
"Sebenarnya Ayah kecewa padamu, Ayah sudah menganggapmu seperti putri Ayah sendiri. Lalu bagaimana mungkin Ayah tega menyakitimu. Tebuslah kesalahanmu dengan merubah sifatmu menjadi lebih baik lagi. Jangan terjebak dengan kenikmatan yang bukan hakmu. Cobalah berubah dan menjadi orang yang berguna untuk orang lain."
Mama Aziz meminta Nita untuk duduk kembali di sofa. Mereka tidak ingin memperpanjang masalah ini. Entah Farih akan bereaksi seperti apa nanti jika mengetahui Tiara adalah adik kandungnya.
Farih saat ini masih berada di desa tertinggal menjalani hukuman dari Ayahnya disana. Memimpin sebuah rumah sakit milik keluarganya. Ia juga mendirikan berbagai fasilitas publik untuk warga desa.
Setelah pembicaraan mereka selesai Nyonya Anggi dan Nita diantar supir Tuan Aziz kembali ke rumahnya. Sedangkan mereka meluncur menemui ke rumah Dimas untuk menemui putrinya.
*********
Dirumah Dimas dan Tiara sudah berpakaian rapi. Setelah sebelumnya Dimas memaksa Tiara untuk mandi bersamanya. Kegiatan mandi yang bukan sekedar mandi, membuat Tiara semakin memberengut kesal pada suaminya itu.
Suara Bel pintu berbunyi. Tiara menarik suaminya untuk turun ke bawah bersamanya.
"Papa Aziz, Mama." Tiara terkejut tiba-tiba Tuan Aziz dan istrinya menghampirinya menangis dan memeluknya. Tiara sudah terbiasa memanggil Tuan Aziz dan istrinya dengan sebutan Mama dan Papa, karena permintaan kedua orang itu. Mungkin karena Nyonya Aziz merasakan kedekatan secara emosi pada Tiara, jadi sejak awal ia sudah menganggapnya sebagai putrinya.
"Papa, mama ada apa ini" tanya Tiara bingung karena Nyonya Aziz terus memeluknya. Bahkan baju Tiara sampai basah karena air mata wanita itu.
"Kau belum memberitahukan padanya" tanya Papa Teo.
Dimas menggelengkan kepalanya. Nyonya Aziz melepaskan pelukannya. Dimas menjabat tangan kedua mertuanya sembari mencium punggung tangan mereka.
"Oh ya Papa, Kata Mas Dimas Papa akan mengajak orang tuaku kemari. Dimana mereka," tanya Tiara pada Papa Teo."
"Yang di depanmu itu adalah orang tuamu sayang."
"Benarkah."
Papa Teo menganggukkan kepalanya. Tiara menangis kembali memeluk kedua orang tuanya. Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untuknya. Memiliki suami yang mencintainya ditambah lagi bisa bertemu dengan orangtua kandungnya.
"Sudah sayang, jangan menangis lagi. Ayo ajak mama dan papa mu makan malam dulu. Kangennya disambung nanti lagi."
Selesai makan malam mereka bercengkrama diruang keluarga. Mengobrol sambil sesekali bercanda. Tiara sedari tadi tidak pernah lepas dari Mamanya. Ia selalu menempel pada Ibu kandungnya. Bahkan Dimas merasa sedikit cemburu karena diabaikan oleh mereka.
"Mas, Tiara mau ikut mama, Papa pulang kerumah" ujar Tiara tiba-tiba.
"Hah, kenapa sayang?"
"Tiara masih kangen sama mereka. Tiara juga pingin ngerasain tidur di rumah orangtua Tiara. Boleh Ya Mas?" tanya Tiara memelas, sementara Dimas sempat bengong mendengar permintaan istrinya.
"Kau juga bisa ikut kami dan menginap dirumah kami" ujar Papa Aziz yang mengerti kehawatiran Dimas.
"Baiklah sayang, nanti kita menginap dirumah orang tuamu," jawab Dimas.
"Tapi Mas tidur sendiri ya, Tiara mau tidur sama Mama dan Papa. Tiara kan belum pernah ngerasain tidur sama mereka."
"Hah" jawab Dimas terkejut. Sementara Papa Teo menertawakan reaksi Dimas yang terkejut.
__ADS_1
TBC