UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Rencana Tuan Bagas.


__ADS_3

"Mama pasti akan senang, kalau mengetahui ini Yah" Farih tersenyum menatap Ayahnya.


"Jangan beritahu Mamamu dulu, Aku ingin kita melakukan tes DNA terlebih dahulu. Ayah tidak ingin tertipu lagi"


"Ayah Benar"


"Oh ya sebaiknya Paman segera hubungi orang itu, Minta dia untuk membawa pemilik kalung ini juga. Kita rencanakan pertemuan di Rumah sakit keluarga. Sekalian kita langsung tes DNA disana. Pastikan orang-orang yang terpercaya yang menangani ini. Jangan berikan celah sedikitpun untuk terjadinya kesalahan" jelas Farih.


"Baik, Anda tenang saja saya akan menempatkan orang yang terpercaya untuk menangani ini" ujar Bayu.


Bayu kemudian meraih Handphone nya dan menghubungi Bagas.


***********


Sementara di lain tempat, Bagas yang baru saja menerima telpon menjadi uring-uringan sendiri.


"Kurang ajar mereka, pake minta tes DNA segala, ****..." Bagas mondar-mandir tak jelas


"Kali ini aku harus minta bantuan Anggi" gumam Bagas.


Bagas pun keluar dari apartemennya menuju ke tempat Anggi.


Bagas mengendarai mobilnya untuk menuju ke sana. kira-kira 25 menit perjalanan, akhirnya ia sampai juga.


Ia langsung melangkahkan kakinya masuk.


"Dimana Nyonya?" tanya Bagas ketika berpapasan dengan asisten rumah tangga.


"Nyonya di taman belakang, Tuan"


Bagas pun melangkahkan kakinya menuju taman belakang rumah.


Terlihat seorang wanita paruh baya, yang masih terlihat cantik sedang menikmati pemandangan bunga di tamannya.


"Hallo sayang" Bagas mencoba mencium kening Anggi tapi Anggi menghindarinya.


"Katakan saja apa maumu, tidak usah berbasa-basi."


"Kau memang paling mengerti aku sayang" ucap Bagas tersenyum.


Bagas pun menjelaskan maksud kedatangannya pada Anggi.


"Apa kau gila, bagaimana nanti jika ketahuan?" Anggi meninggikan suaranya.


"itu sebabnya aku meminta bantuanmu sayang."


"Tidak aku tidak mau terlibat dan berakhir di penjara" Anggi menolak permintaan Bagas.


"Tolonglah sayang aku janji tidak akan mengganggumu lagi, dan aku janji tidak akan melibatkanmu setelah kau membantuku.


Ya, Ya kali ini saja" Bagas merengek meminta bantuan Anggi.


"Aku bilang tidak ya tidak."


"Baiklah kalau kau tidak mau, sepertinya hari ini aku akan segera ke kampungmu mengunjungi keluargamu." Bagas tersenyum licik.


"Dasar brengsek, apa maumu?"


"Nah begitu dong sayang"


"Tapi awas sampai kau berani mengatakan hal yang bukan-bukan dengan keluargaku" Anggi menatap kesal ke arah Bagas.

__ADS_1


"Tenang saja sayang, kau tidak perlu khawatir. selama kau mau bekerjasama denganku" Bagas menyodorkan kotak perhiasan ke arah Anggi.


*********


Sementara terlihat Tiara yang berada di ruang tengah sudah terlihat mulai bosan. Hari ini Dimas sudah mulai masuk kantor, jadi Tiara sendirian di apartemen.


Dimas tak mengijinkan Tiara untuk keluar dari Apartemennya. Alhasil Tiara hanya bisa mondar-mandir tak jelas.


"Aku bisa mati bosan kalau begini terus" keluh Tiara.


Tak lama terdengar suara panggilan telepon dari handphone Tiara.


"Nomer siapa ini" gumam Tiara memperhatikan layar ponselnya.


"Hallo" ucap Tiara.


"Hallo Tiara, ini Maya."


"Nona Maya, Ada apa Nona" Tanya Tiara heran.


"Tidak, aku hanya ingin bertanya apa ada barangmu yang tertinggal, sebab aku menemukan beberapa barang di kamarmu" tanya Maya.


"Tidak Nona, barangku ada semua" jawab Tiara.


"Coba kau periksa dulu tasmu siapa tau ada yang tertinggal" ucap Maya.


"Baiklah, Nona" Tiara melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Ia memeriksa kembali tas kecilnya. Mengambil kotak perhiasan dan membukanya. Betapa terkejutnya Tiara ketika mendapati kalungnya tak ada di dalamnya.


"Nona, kalungku tidak ada di dalam kotak perhiasan. Apa anda menemukannya" ucap Tiara.


"Iya, kalungmu ada bersamaku. Bisakah kita ketemuan sekarang" tanya Maya.


"Maaf Tiara, aku sibuk dan tidak bisa kesana. Bagaimana jika aku mengirim seseorang untuk menjemputmu. Jangan khawatir, kita tidak akan ketemuan di Night club tapi di apartemenku."


"Bagaimana jika besok, saya belum minta ijin Tuan Dimas."


"Maaf Tiara, sore ini saya ada perjalanan ke luar kota dan aku tidak tau kapan kembali. Jadi jika kau tak kemari sekarang juga, aku tak akan bisa mengembalikan kalung ini padamu."


"Baiklah, kirim seseorang kemari aku akan menemuimu" jawab Tiara pasrah.


"Kirim alamatmu, aku akan kirim seseorang. kau tunggulah"


Tiara pun mengirim alamatnya dan segera bersiap-siap. Setelah selesai bersiap Tiara langsung menuju ke bawah.


Tak lama kemudian seorang pria paruh baya menghampiri Tiara.


"Nona Tiara" panggil orang itu.


"Ya," jawab Tiara.


"Saya dikirim Nona Maya untuk menjemput anda. Mari" ucap orang itu meminta Tiara untuk mengikutinya menuju mobil.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit akhirnya Tiara sampai di apartemen Maya.


Maya membukakan pintu, begitu suara bel berbunyi.


"Masuk" ucap Maya ramah mempersilakan Tiara masuk.


Sementara supir yang mengantar Tiara tadi segera mohon undur diri.


Maya mempersilahkan Tiara duduk di sofa ruang tamu.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu?" tanya Maya berbasa-basi.


"Baik Nona, maaf darimana nona bisa tau nomer saya" Tanya Tiara penasaran.


"Saya meminta nomormu dari Ricky, apa ada masalah" Maya tersenyum ke arah Tiara.


"Tidak-tidak, tapi maaf nona saya tidak bisa berlama-lama. Tuan Dimas tidak mengetahui kepergian saya."


"Baiklah kau tunggu sebentar" Maya beranjak dari duduknya dan menuju ke kamar.


Maya masuk ke dalam kamarnya dan mengambil kotak perhiasan dari laci mejanya. Ia membuka kotak perhiasan itu, lalu mengambil kalung yang berada di dalamnya.


Tak lama Maya kembali dengan membawa sebuah kalung ditangannya. Ia kemudian menyerahkan kalung itu kepada Tiara.


"Kenapa kalung ini terlihat berbeda" ucap Tiara lirih tapi masih terdengar oleh Maya. Tiara memperhatikan kalung itu dengan seksama.


"Maksudmu" Maya terlihat tidak senang dengan ucapan Tiara barusan.


"Maaf saya tidak bermaksud apa-apa Nona, hanya saja kalung ini terlihat baru dan bandulnya juga terlihat lebih kecil" ujar Tiara.


"Oh kalau maksudmu itu, sebenarnya Kebetulan aku mendatangkan orang untuk membersihkan perhiasanku. Ketika aku melihat perhiasanmu yang cukup kusam. Jadi aku meminta orang itu untuk membersihkannya. Maaf kalau itu membuatmu tidak senang" ucap Maya dengan wajah yang di buat semenyesal mungkin."


"Iya, tidak apa-apa. Maaf kalau perkataan saya menyinggung perasaanmu Nona" Tiara merasa tidak enak melihat ekspresi Wajah Maya.


"Dan untuk bandulmu itu, saya juga tidak


menukarnya, mungkin lama tak melihatnya jadi kau merasa itu terlihat berbeda. Ucap Maya membela diri.


"Iya, bisa jadi mungkin seperti itu. Maaf Nona, saya tidak bisa lama-lama. Jadi saya mohon undur diri dulu dan terimakasih banyak sudah mengembalikan kalung ini" pamit Tiara kemudian memasukkan kalungnya ke dalam Tas.


"Tunggu sebentar, aku ...." Maya belum menyelesaikan omongannya tiba-tiba terdengar suara bel apartemen.


"Kau tunggu dulu disini sebentar" ucap Maya kepada Tiara, lalu bangun dari duduknya untuk membuka pintu.


Tak lama terlihatlah seorang wanita paruh baya, melangkah masuk mengikuti Maya.


"Perkenalkan Tiara, ini adalah Dokter Rina yang biasa memeriksa kesehatan pegawai di Club" Maya memperkenalkan Tiara pada tamunya.


"Tiara"


"Dr. Rina" ucap wanita itu tersenyum ramah.


"Tiara ini adalah mantan pegawai saya, baru beberapa hari yang lalu ia berhenti." jelas Maya.


"Oh, kebetulan sekali. Begini nona Maya, setelah saya memeriksa pegawai anda ada beberapa orang yang terkena virus Hepatitis B. Jadi saya menyarankan, sebaiknya anda di periksa juga nona Tiara" ucap Dokter itu dengan wajah khawatir."


"Hepatitis B, maksudnya?" Tanya Tiara


"Begini Nona, selain lewat darah Hepatitis B juga bisa menular lewat keringat.Takutnya anda sudah berinteraksi dengan salah satu dari mereka. Jadi sebaiknya segera periksa agar bisa melakukan pencegahan" jelas Dokter itu


"Terimakasih Dokter atas penjelasannya, saya akan segera memeriksakan diri ke rumah sakit" jawab Tiara.


"Kebetulan saya disini, kalau nona mau saya bisa memeriksa anda nona. jangan khawatir tidak akan lama. Saya hanya butuh contoh darah nona saja."


"Iya Tiara sebaiknya biarkan Dokter ini memeriksamu. Semakin cepat penyakit itu diketahui akan semakin mudah pengobatannya" jelas Maya.


Akhirnya Tiara menyetujui saran Maya dan membiarkan dokter itu untuk mengambil sampel darahnya.


TBC


Terimakasih sudah membaca jangan lupa like vote dan komentarnya terimakasih. 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2