UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Jalan Terang.


__ADS_3

Dimas dan Michael sudah berhasil mengumpulkan bukti-bukti. Kini saatnya untuk menjebak Katsuro Dasuki juga istrinya Aiko.


Dimas menemui seorang suster, tersangka yang mendekam di balik jeruji besi. Sedangkan Michael menemui supplier yang mengirim obat-obatan kerumah sakit milik Keluarga Dimas yang juga ditetapkan sebagi tersangka.


Sampai saat ini mereka berdua menolak mengatakan kebenaran mereka hanya bersaksi jika mereka lalai sehingga tak sengaja mengirim dan menggunakan obat dan infus kadaluarsa yang mengakibatkan kematian beberapa pasien.


"Sebaiknya anda bekerjasama denganku, itu akan meringankan tuntutan anda" ucap Dimas.


"Itu adalah keteledoran ku sendiri tidak ada orang luar yang terlibat dalam kasus ini."


"Anda yakin, tidak ingin mengatakannya!"


"Sudahlah Tuan sebaiknya anda jangan membuang waktu untukku. Anda tidak akan mendapatkan informasi yang anda inginkan."


"Lihat foto ini, bukankah ini adalah foto anak gadis anda. Dia terlihat sangat cantik. Kira-kira berapa uang yang akan aku dapatkan jika aku mengirimnya ke distrik hiburan malam."


"Jangan coba-coba untuk menyentuh putriku!!"


teriak wanita itu ketakutan. Putri satu-satunya adalah orang yang paling berharga baginya.


"Kenapa tidak boleh menyentuh putrimu. Apa kau pernah berpikir, di saat kau mencelakai pasien yang berobat di rumah sakitku bagaimana menderitanya keluarganya kehilangan orang yang mereka kasihi."


"Aku tidak bersalah. Itu adalah ketidak sengajaan kenapa anda terus memaksaku untuk mengakui hal yang lain." Wanita itu mulai resah dan ketakutan, terlihat keringat dingin mulai membanjiri keningnya.


"Benarkah, lalu bagaimana dengan transferan dengan nominal yang besar yang telah masuk ke rekening putrimu. Di dapatkan darimana dana itu? Apa putrimu yang masih pelajar SMA itu bisa menghasilkan uang sebesar itu. Bahkan jumlah uangnya lebih besar dari 5 tahun gajimu. Jangan berpikir dengan mengirim uang ke rekening putrimu terus kami tidak akan bisa melacak kucuran dana itu."


"Tu-tuan anda salah paham. Uang itu adalah hasil menjual rumah warisan orangtuaku." Suster itu terus berkelit tidak mau mengakui kebenarannya.


"Baiklah jika kau tak mau mengakuinya. Sepertinya menculik putrimu dan menjualnya ke tempat hiburan malam bisa sedikit mengurangi kerugian rumah sakit. Ya walaupun tak banyak, setidaknya bisa melampiaskan kekesalanku" Dimas terlihat malas untuk berbasa-basi ia ingin melangkah pergi.


"Tu-tunggu Tuan!! Sa-saya akan mengatakan kebenarannya. Tapi saya punya syarat untuk anda." suster itu mencoba untuk tawar-menawar.


"Sebenarnya saya melakukan ini semua terpaksa, untuk melunasi hutang judi putraku. Saya juga butuh uang untuk biaya kuliah dan berobat jalan putriku. Tuan saya mohon jangan libatkan putriku karena kesalahanku. Apa yang sebenarnya Tuan ingin saya lakukan, selama tidak menyakiti anakku saya pasti akan lakukan."


"Saya ingin kau bersaksi yang sebenarnya. Bahwa kau melakukan semua ini atas perintah Istri Katsuro yang tak lain adalah Aiko."

__ADS_1


"Bagaimana Tuan tahu" wanita itu menutup mulutnya karena keceplosan bicara.


"Lakukan saja yang aku katakan, dan berikan kesaksian sejelas-jelasnya untuk masalah barang bukti aku yang akan mendapatkannya."


"Baiklah Tuan, saya akan lakukan permintaan Anda tapi tolong anda harus bisa menjamin keselamatan anak-anakku."


"Jangan khawatir selama kau mau bersaksi aku akan jamin keselamatan mereka. Untuk sementara mungkin saya akan mengirim mereka ke tempat yang jauh agar penjahat itu tidak bisa menjangkau mereka dan mengancammu."


Hal yang sama juga dilakukan oleh Michael. Dengan mengancam keselamatan keluarga tersangka. Hal ini merupakan jurus ampuh hingga membuat mereka akhirnya mau bekerjasama. Dimas dan Michael juga bekerjasama langsung dengan kepala kepolisian yang membawahi wilayah kejadian perkara. Mereka tidak ingin kecolongan dan mendapati polisi yang berkhianat dan berbalik mencelakai mereka.


"Kita sudah berhasil mengetahui gudang senjata ilegal mereka dan juga berhasil menemukan gudang obat palsu dan kadaluarsa yang mereka produksi. Nanti malam kita akan menggrebek dua gudang mereka secara bersamaan. Kita juga akan mengerahkan anak buah kita untuk menangkap Nyonya Aiko beserta suaminya."


"Baiklah, kita akan menunggu gelap, agar tak terlalu mencolok. Terus awasi mereka jangan sampai kita kecolongan dan mengakibatkan kehilangan mereka" Kepala polisi memperingatkan anak buahnya.


Dimas dan Michael berniat kembali ke tempat masing-masing setelah pulang dari kepolisian. Michael ingin kembali ke penginapan sedangkan Dimas ingin ke kontrakan miliknya karena ada beberapa barang yang harus ia ambil.


"Aku akan mengantarmu ke tempatmu" ucap Michael mempersilahkan Dimas untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Apa kau tidak ingin mampir terlebih dahulu" tawar Dimas ketika mobil sudah sampai di penginapan sederhana yang Dimas tempati.


"Tentu saja."


Michael dan Dimas masuk kedalam penginapan itu. Melewati lorong sempit yang terlihat lenggang karena di jam segini penghuninya sibuk mencari rejeki.


Dimas menatap heran seorang gadis berpakaian SMA sedang meringkuk di depan pintunya. Sepertinya gadis itu tertidur.


"Siapa Dia Kak?" tanya Michael menunjuk ke arah gadis itu.


"Si pembuat masalah. Aku akan ceritakan nanti padamu" ucap Dimas mendekati gadis itu.


"Bangun!! Dimas menyentil kening gadis itu.


"Aaawww sakit om" keluh gadis itu.


"Apa yang kau lakukan tidur di depan pintu rumahku, menghalangiku masuk saja, minggir!! perintah Dimas. Gadis itu terlihat kesal, ia bangun dari duduknya dan menjauh dari pintu.

__ADS_1


"Ayo masuk Mike" ajak Dimas pada Michael.


"Siapa yang menyuruhmu masuk, rumahku tidak terima tamu wanita" ucap Dimas ketika gadis itu ikut masuk.


"Apa om lupa, om sendiri kan pernah bilang kalau aku boleh main kesini kapan saja" ucap gadis itu mengingatkan.


"Oh ya kapan aku bilang begitu!"


"Ah om sudah tua! makannya gampang lupa. dasar om pikun" gerutu gadis itu.


"Apa kau bilang!!" Dimas terlihat mulai kesal.


"Sudahlah Kak, kenapa juga kau harus berdebat dengan gadis kecil."


"Kakak tampan aku bukan anak kecil bulan depan aku akan berumur 17 tahun" ucapnya pada Michael.


"Oh ya, aku pikir kau masih lima belas tahun. lihat tubuh pendek dan dada rata seperti ini bagaimana mungkin sudah mendekati 17 tahun" ejek Dimas.


"Om mesum" gadis itu menutupi bagian dadanya.


"Tenang saja aku sama sekali tak menaruh minat padamu. Istriku lebih cantik dan menarik dibandingkan kamu. Bocah pendek" ejek Dimas lagi.


"Aku juga nggak bakalan tertarik sama om. Sudah tua pikun lagi" balas gadis itu mengejek Dimas sambil memeletkan lidahnya.


"Hai Bocil, bocah tengil. Kalau ngomong tuh bibir di filter, jangan asal ngap aja" Dimas terlihat makin kesal.


"Sudah Kak, malu di dengar tetangga. Kakak nggak nyadar dari tadi jadi tontonan orang yang lewat." ucap Michael.


Dimas melihat pintunya yang masih terbuka lebar. Dan benar saja setiap orang lewat selalu menoleh ke ruangannya akibat kegaduhan yang mereka buat.


"Hari ini aku nggak terima tamu perempuan. Kamu keluar gih." usir Dimas acuh.


"Om kok berubah sih. Kemarin baik banget dan ijinin aku main kesini sekarang giliran ada Kakak tampan aku diusir. Pacar om ya" ucapnya ngasal.


"Eh nih bocah benar-benar ya nggak ada filternya tuh bibir. Mau aku seret keluar dari sini!!" ancam Dimas.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2