
Untuk episode sebelumnya sudah saya revisi ya, karena sebelumnya dobel ceritanya. Buat yang belum baca revisinya tolong di baca ulang biar nyambung ceritanya, terimakasih dukungannya.
****************
Mike terkejut menatap Dewi yang ada di hadapannya, ia segera menarik tangannya yang tadi ia gunakan untuk menyikap rambut Dewi.
"Dewi, kok kamu yang tidur disini, bukannya ini kamar Nara" ujar Mike terlihat canggung. Ia hanya tidak menyangka jika orang yang berada di kamar ini adalah Dewi.
"Jadi Kakak kemari mencari Nara ya, bukan mencari Dewi" ucap Dewi terlihat kecewa.
"Eh bukan, Kakak tadinya juga ingin melihatmu setelah menengok Nara. Hanya saja Kakak tidak menyangka kalau kamu yang ada di kamar ini" ujar Mike terlihat bingung, ia hanya tidak ingin menyakiti Dewi.
"Aku tau Kakak hanya perduli pada Nara saja bukan padaku" ucap Dewi terlihat kesal.
"Tidak, aku perduli pada kalian berdua. Kalian adalah tanggung jawabku" ucap Mike kemudian bangun dari duduknya.
"Tidurlah, Kakak pergi dulu" sahut Mike sembari menutupi tubuh Dewi dengan selimut.
Keluar dari kamar Dewi, Mike menuju ke kamar utama yang satunya lagi. Ia berpikir, jika Nara dan Dewi bertukar kamar.
Mike membuka pintu dengan hati-hati, ia menatap heran kamar itu. Kosong tak ada satupun barang disana, lalu dimana Nara batin Mike penasaran. Mike teringat dengan kamar dekat tangga naik menuju kamarnya, ia ingat melihat lampu itu menyala.
Mungkinkah Nara ada di kamar itu, batin Mike penasaran.
Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamar itu, sebenarnya kamar dekat tangga itu akan Mike gunakan sebagai gudang, mengingat ukurannya yang kecil, juga tidak ada AC dan juga ventilasi udara.
Dengan hati-hati dan jantung berdebar Mike membuka pintu itu, kamar yang tadinya menyala terang sudah berganti redup karena Nara matikan lampu utama dan menghidupkan lampu tidur.
Mike menatap Nara yang tertidur, ada sisa air mata di ujung matanya. Mike juga melihat tangan Nara yang memegang kipas plastik di tangannya. Sepertinya ia mengipasi tubuhnya untuk menghilangkan udara panas dari kamar itu.
Ada rasa sakit di hatinya melihat Nara dalam kondisi seperti itu. Mike menghapus buliran keringat yang ada di wajah Nara menggunakan jari-jari tangannya.
Cup, ia mengecup kening Nara.
"Maafkan aku sayang belum bisa melindungimu sepenuhnya, apa kamu tidak bahagia tinggal denganku" ucap Mike terlihat sedih. Tidak ada pergerakan berarti dari Nara.
__ADS_1
Mike menatap sedih kamar yang di tempati oleh Nara. Ia ingat jika ia berjanji akan memberikan kamar terbaik untuk Nara, tapi apa ini. Kenyataan di depannya membuatnya merasa miris.
"Aku akan memenuhi janjiku, memberikan kamar terbaik untukmu" ucap Mike sembari menggendong tubuh Nara ala bridal style.
Mike menaiki anak tangga satu persatu dengan hati-hati, sesekali ia menatap wajah Nara yang tertidur nyenyak dalam pelukannya.
Semakin di tatap semakin gemas ia melihatnya, Mike membawa Nara ke kamarnya. Menidurkannya di atas tempat tidurnya.
Cup, Mike mencium kening Nara dan bibir Nara sekilas.
"Tidurlah sayang" ucap Mike sembari menyelimuti tubuh Nara. Mike memilih untuk segera pergi dari kamar itu. Ia hanya tidak ingin menjadi khilaf karena terbuai akan kecantikan Nara.
Mike memilih untuk tidur di ruang kerjanya yang berada tepat di sebelah kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di sofa panjang. Walaupun terlihat tak nyaman, tapi setidaknya hatinya tenang karena orang yang dicintai sudah berada di tempat yang tepat.
******************
Di rumah yang terlihat megah dan mewah, Dimas sedang menyemangati putrinya yang sudah mulai belajar tengkurap.
"Ayo putri Daddy berjuang lagi" ucap Dimas ketika Aqilla gagal membalikkan tubuhnya. Dimas tersenyum melihat putrinya yang terus barusaha. Berkali-kali gagal membuat Aqilla menangis dengan keras.
Tiara yang baru kembali dari dapur terkejut langsung mendatangi putrinya.
"Kenapa Aqilla Daddy!!" ucap Tiara mengambil Aqilla dari tangan Dimas.
"Ia tadi ingin membalikkan tubuhnya tapi gagal, terus dia nangis" ucap Dimas tertawa kecil.
"Cup-cup putri Mommy, nanti belajar tengkurep lagi ya" ucap Tiara.
"Coba Mi, taruh lagi biar dia belajar tengkurap" ucap Dimas ketika melihat Aqilla tak lagi menangis.
Tiara menuruti permintaan Dimas benar saja ia mulai menggerak-gerakkan tubuh dan kakinya, tapi bokongnya yang gembul mbuatnya kesulitan. Dimas yang gemas dan khawatir putrinya menangis kembali membantu putrinya dengan mendorong bok*ng Aqilla.
"Nah, sudah berhasil sekarang" Aqilla tertawa senang sembari menggerak-gerakkan kakinya. Ia juga belajar mengangkat kepalanya yang berkali-kali terjatuh.
"Duh anak Mommy pingin tengkurap suara nangisnya sampai ke lantai bawah" ucap Tiara gemas sembari mencium pipi gembul Aqilla.
__ADS_1
"Kok rumah sepi Yang, Kakek sama Papa kemana?" tanya Dimas.
"Kakek sama Papa kerumah sakit. Katanya sih Papa sudah bersedia jadi pimpinan rumah sakit. Jadi Papa sudah nggak jadi Dokter relawan lagi" jelas Tiara pada suaminya.
"Baguslah kalau seperti itu, aku khawatir kalau Papa terus ke desa terpencil hingga lupa pulang. Akan lebih baik jika Papa menghabiskan waktunya bersama Kakek. Kakek terlihat makin tua, ia pasti juga ingin anak dan cucunya dekat dengannya. Kamu nggak keberatan kan sayang kalau kita tinggal disini, Aku nggak tega mau pindah dari sini, setiap aku bilang mau pindah Kakek terlihat sedih" ujar Dimas pada Tiara.
"Tiara nggak keberatan Daddy, lagipula kalau kita pindah kasihan Kakek jadi kesepian" ucap Tiara mengerti kegundahan hati suaminya.
"Terimakasih sayang kamu yang oeling mengerti aku" ucap Dimas ingin mengecup bibir istrinya tapi tiba-tiba terdengar suara tangisan Aqilla.
"Kenapa dia sayang?" tanya Dimas melihat putrinya menangis. Dengan segera Tiara mengambil Aqilla dan membawanya ke pangkuannya.
"Aqilla sepertinya kecapean Daddy mau balik nggak bisa jadi nangis dia" ucap Tiara sembari menciumi pipi putrinya.
"Capek ya sayang, duh anak Daddy kasihan mau tengkurap keberatan bok*ng mau balik juga nggak bisa" ucap Dimas kembali tertawa kecil.
"Nanti lama-lama juga bisa, ya kan sayang" ucap Tiara mengajak bicara Aqilla. Aqilla tersenyum menampilkan gigi ompongnya.
"Daddy, aku kangen sama Nara, biasa tiap hari nemenin aku sama Aqilla" ucap Tiara pada Dimas.
"Besok kita ke tempat Mike, terus pulangnya sekalian imunisasi buat Aqilla" ucap Dimas pada Tiara.
"Aqilla haus ya," ucap Tiara ketika Aqilla mencari-cari ASI di dada Tiara. Tiara mengeluarkan salah satu sumber kehidupan Aqilla dan dengan cepat Aqilla menghisapnya.
"Daddy juga haus Mommy" ucap Dimas menirukan suara anak kecil.
"Daddy kalau haus ambil sendiri di dapur ya, ini bagiannya Aqilla sekarang" ucap Tiara memeletkan lidahnya.
"Satu-satu sama Aqilla dong sayang biar adil" ucap Dimas lagi.
"Nggak boleh sama Aqilla Daddy, ini punya Aqilla dua-duanya sahut Tiara iku menirukan suara anak kecil.
"Kalau gitu gantian ya Putri Daddy, Daddy nunggu antrian ini biar ikut kebagian" ucap Dimas gemas sembari mencium pipi tembem putrinya yang masih saja sibuk menyusu.
TBC.
__ADS_1