
Dengan diikuti seorang pengawal Tiara menuju ke Toilet. Debaran jantung Tiara terasa berdetak dengan cepat. Ini sama seperti pertama kali ia mulai jatuh cinta pada suaminya. Perasaan senang dan rindu bercampur aduk menjadi satu.
Tiara memegangi dadanya yang masih saja berdetak tak karuan bahkan bayi yang ada dalam perutnya ikut menendangnya dengan riang.
Kau pasti merindukan Daddy mu ya Nak, sama Mama juga merindukan Daddy mu, batin Tiara sembari mengelus perutnya.
Tiara ingin melangkah masuk, tapi tiba-tiba ia berhenti di depan pintu masuk Toilet.
"Kau tunggu disini!" perintah Tiara pada pengawalnya.
"Tapi Tuan Putri, Pangeran meminta saya..."
"Apa kamu ingin berbuat mesum dengan mengikuti saya sampai kedalam" Tiara memelototkan matanya.
"Tidak Tuan Putri, saya akan menunggu anda disini" akhirnya pengawal itu menuruti Tiara dengan menunggu di depan pintu.
"Jaga pintunya, jangan biarkan satu orang pun masuk, termasuk dirimu. Aku akan sedikit lama berada didalam, aku harus memperbaiki tampilan ku. Kau Taukan betapa ribet dan lamanya perempuan kalau berdandan" ucap Tiara beralasan, Ia memberi perintah dengan tegas.
"Baik Tuan Putri"
Dengan jantung berdebar-debar Tiara melangkah masuk. Begitu sampai di dalam Tiara menatap Dimas dalam balutan busana wanita. Ia tersenyum sembari menahan air matanya yang hampir menetes.
"Kangeeennnn" ucap Tiara lirih sembari berjalan cepat menghampiri Dimas. Dimas menyambutnya dengan pelukan mesra. Mereka meluapkan kerinduan mereka, hingga akhirnya Dimas melepaskan pelukannya.
"Jangan disini, nanti jika ada yang tahu identitasmu bisa gawat" bisik Dimas membawa Tiara ke bilik pintu kamar kecil yang tepat berada paling ujung.
"Tidak perlu bersembunyi disana, aku sudah meminta pengawalku untuk berjaga di pintu masuk. Tidak akan ada yang mengganggu kita, kau jangan khawatir" Tiara kembali menarik Dimas ketempat semula.
"Aku sangat merindukanmu sayang, kau tahu bagaimana aku merasa gila setiap saat karena merindukanmu" Dimas menciumi seluruh wajah Tiara.
__ADS_1
"Kalau Masku rindu padaku, kenapa tak datang menjemputku. Apa tugas yang di berikan belum mas selesaikan? Apa begitu sulit?" tanya Tiara khawatir.
"Tugas Mas sudah selesai, begitu Mas ingin menjemputmu villa sudah dalam kondisi hancur dan kau tak ada disana. Syukurlah kau selamat, Mas bisa gila kalau kehilanganmu."
"Tedi menyelamatkanku, ia membawaku keluar dari Villa itu sebelum ledakan terjadi. Tapi kenapa Mas menyamar seperti ini. Kenapa tidak langsung datang menghampiriku!" tanya Tiara sedikit bingung.
"Tedi menghalangi Mas untuk masuk ke negara ini. Bahkan ia Sampai menyebar foto mas dan mem-blacklist Mas ke dalam daftar Pencekalan. Mas tidak diijinkan untuk masuk ke negara ini, Mas terpaksa masuk dengan identitas wanita agar bisa lolos dari pemeriksaan."
"Pangeran sialan itu benar-benar tidak tahu terimakasih, Mas sudah membantunya menyingkirkan musuhnya. Berani-beraninya ia melakukan itu pada kita. Biar Tiara beri pelajaran dia Mas" ucap Tiara kesal.
Tiara ingin melangkah keluar tapi dihalangi oleh Dimas. Dimas menahan lengan Tiara, agar tak bertindak sembarangan.
"Ini bukan negara kita, Mas tidak punya kekuatan dan kekuasaan sebesar keluarga kerajaan. Bersabarlah, mas akan mencari kelemahan si Tedi brengsek itu dan memberikan pelajaran padanya" ucap Dimas memperingatkan Tiara.
"Lalu sekarang Tiara bagaimana?" tanya Tiara sedih, ia memiliki firasat buruk.
"Bertahanlah sayang, untuk sementara Mas belum bisa membawamu keluar dari sini. Kalau kita nekat keluar dari sini tanpa persiapan matang, yang ada malah kita akan tertangkap" Dimas terdiam sejenak menatap Tiara yang sudah mulai meneteskan air matanya. Dimas mengusap lembut pipi Tiara.
"Beri mas waktu untuk mengumpulkan kekuatan dan membentuk kekuasaan disini. Jangan khawatir mas janji tidak akan lama. Mas akan berusaha sebelum waktunya anak kita lahir, kita sudah keluar dari tempat ini"
"Ta-tapi..." Tiara ingin mengatakan sesuatu tapi di sela oleh Dimas.
"Mengertilah sayang jika kita sampai tertangkap, maka Mas tidak akan punya kesempatan lagi untuk membawamu keluar dari negara ini. Percayalah sama Mas kali ini, Mas nggak akan ngebiarin si Tedi brengsek itu mengambilmu dari sisi mas. Ini hanya untuk sementara saja. Dia tidak menyakiti atau bertindak kurang ajar padamukan?" tanya Dimas.
"Tidak, dia baik padaku. Aku bahkan tidak menyangka di balik sifat baiknya padaku ternyata selama ini ia memanfaatkanku."
"Tetaplah berpura-pura kau tak mengerti apapun demi keamananmu, dan jangan pernah biarkan pria brengsek itu menyentuhmu" pinta Dimas diangguki Tiara. Dimas beralih menatap perut Tiara. Ia jongkok di depan Tiara mensejajarkan tubuhnya dengan perut Tiara.
"Hallo anak Daddy apa kabar?" Dimas mengelus dan mengecup lembut perut Tiara.
__ADS_1
"Kabar baik Daddy, aku seorang putri yang cantik seperti mamaku" ucap Tiara dengan suara khas anak kecil.
"Kau sudah mengetahui jenis kelaminnya. Bagaimana putriku, apa dia sehat? Apa dia suka rewel dan suka menendang perut Mama nya?" Dimas terlihat heboh jika itu sudah menyangkut anaknya.
"Putri kita sehat Mas, dia bahkan menendang-nendang perutku seolah tidak sabar untuk bertemu denganmu" ucap Tiara mengelus rambut Dimas. Saat ini Dimas sedang menempelkan telinganya di perut Tiara. Ia bisa merasakan tendangan putrinya diwajahnya.
"Mas, jaga diri baik-baik ya jangan sampai sakit. Di negara ini nggak ada keluarga mas ataupun Tiara yang dampingi Mas. Tiara nggak mau mas sampai sakit ataupun kenapa-napa. Mas harus hati-hati dalam melangkah dan bertindak, utamakan keselamatan Mas. Karena percuma Mas nyelamatin Tiara kalau sampai terjadi sesuatu sama Mas. Tiara nggak akan sanggup hidup jika Mas sampai kenapa-napa" ucap Tiara sedih menasehati Tiara.
"Tenang sayang mas akan baik-baik saja. Sekarang Mas hanya ingin memelukmu dan juga menciummu" Dimas bangun dan menatap wajah Tiara. Ia mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir Tiara. Satu tangannya menahan badan Tiara sementara satu tangannya lagi menelusup masuk di sela-sela baju Tiara. Meremas benda kenyal di dalam sana.
"Kesukaan Mas bertambah besar sekarang" ucap Dimas setelah melepaskan ciumannya.
"Ini akan menjadi milik anakmu kelak, kau tak boleh merebutnya" ucap Tiara menjahili Dimas.
"Tidak, anakku tidak boleh menguasainya. Kita bisa saling berbagi nanti, dia satu dan aku satu, adil kan" ucap Dimas kembali mencium bibir lembut Tiara.
"Tuan Putri apa anda sudah selesai" terdengar suara teriakkan dari luar. Tiara yang terkejut mendorong Dimas menjauh.
"Tunggu disana, sebentar lagi aku keluar!!" teriak Tiara
Dengan cepat Tiara memperbaiki bajunya yang kusut akibat ulah Dimas. Ia membasuh mukanya lalu mengeringkannya dengan tisu. Tak lupa ia memoleskan bedak dan lipstik di wajahnya. Dimas yang merindukan Tiara tak ingin melepaskan Tiara begitu saja. Ia memeluk Tiara dari belakang menelusupkan kedua tangannya dan memainkan dua benda kenyal kesukaannya.
"Mas, aahh jangan" ucap Tiara merasa geli. Dimas membalik tubuh Tiara menciumi seluruh wajah Tiara lalu beralih ke perut Tiara.
"Pergilah, Mas akan segera menjemputmu. Ingat kata-kata Mas, jangan bertindak gegabah. Pura-pura kau tak mengerti apa yang terjadi demi keselamatanmu dan bayi kita" ucap Dimas kembali mengecup lembut kening Tiara.
Dimas menatap tak rela kepergian Tiara, tapi ia tidak ingin bertindak bodoh yang akan ia sesali seumur hidup.
"Tunggu aku sayang kita pasti akan bersatu lagi seperti dulu" gumam Dimas lirih.
__ADS_1
TBC.