
"A-apa?" ucap Tiara terkejut. Sementara Dimas melotot ke arah Reno.
"Hei Duda nggak laku, pasti Lo yang ngehasut anak Lo kan."
"Jangan nuduh sembarangan. Saya nggak tahu apa-apa."
"Alasan..."
"Kak Tiara..., Kok bengong sih. Kak Tiara maukan jadi momy aku."
"Rendra udah makan belum? Dan Kak Mona dimana sayang?" Tiara mengalihkan pembicaraan.
"Rendra udah makan, Kak Mona lagi di dapur bikin jus buah buat Rendra. Oh iya Daddy mana?"
Tiara mengarahkan kamera handphone ke arah Dimas dan juga Reno yang masih saja berdebat.
"Daddy kok buket bunga mawar nya nggak di kasih Kak Tiara sih." Tanya Rendra ketika melihat buket bunga mawar yang masih berada di tangan Reno.
"Astaga Daddy lupa." Jawab Reno ketika mendengar suara protes Rendra dari handphone. Reno pun ingin mendekat ke tempat tidur Tiara, tapi di halangi oleh Dimas.
"Om jeleeek...!!! jangan ganggu Daddy aku ya. Daddy mau kasih bunga ke calon momy aku"
"Hai anak marmut!!! Siapa yang kamu bilang calon momy. Dia itu istri Om tau." Dimas mengambil alih handphone dari Tiara. Ia berbicara dengan suara keras dan melotot menatap Rendra.
"Hiks hiks hiks, Daddy...." Tangis Rendra pecah, ia terkejut dengan suara keras Dimas. Apalagi mendengar Dimas mengatakan Tiara adalah istrinya.
"Astaga Dim, dia itu cuma anak kecil. Kelakuan kamu ini bener-bener...,"Reno kehabisan kata-kata untuk memarahi Dimas.
"Masku, bawa sini handphone nya. Cepetan..., Kalau mas nggak bawa sini. Mas dekatin aku lagi."
"Iya-iya, nih. Tapi jangan lama-lama"
"Sayang, jangan nangis. Itu tadi om nya cuma bercanda aja kok" Tiara merayu Reno.
"Terus Kak Tiara maukan jadi istri Daddy?"
"Sayang kita bahas itu nanti aja ya, sekarang Kita bicarakan yang lain aja, oke?"
"Oke, tapi Kak Tiara terima bunga dari Daddy ya, itu Rendra yang pilihkan khusus buat Kakak."
"Iya Kakak Terima, Terimakasih Rendra." Setelah puas berbicara dengan Rendra, Tiara mengakhiri panggilan teleponnya.
Reno pun berjalan mendekat ke arah Tiara, Ia ingin memberikan bunga yang sedari tadi ia genggam. Dimas merampas bunga yang di bawa Reno. Reno hanya menghela nafas kasar, lalu menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka Dimas menjadi seposesif ini terhadap Tiara.
"Biar aku saja yang memberikan bunganya"
"Dasar nggak modal. Kenapa nggak beli sendiri coba"
__ADS_1
Dimas mendekat ke arah Tiara, mengabaikan Reno yang protes. Dimas tak memberikannya pada Tiara ia menaruhnya di atas meja, di sebelah Tiara.
"Bunga ini penuh kuman, jangan disentuh nanti bisa gatalan" Dimas berbicara ke arah Tiara, sementara Reno menggelengkan kepalanya ia mendengus kesal melihat kelakuan Dimas.
"Mas, jangan bicara gitu ah. Terimakasih ya tuan Reno bunganya cantik, saya suka."
"Sama-sama Tiara, jangan terlalu sungkan padaku. Kalau butuh apa-apa kau bisa menghubungiku."
"Tiara tidak akan butuh apa-apa darimu, Saya bisa memberikan apapun yang ia mau. Pulang sana waktu berkunjung sudah habis" Usir Dimas pada Reno.
"Mas..."
"Nggak apa Tiara, saya juga mau pamit. Jaga diri kamu baik-baik ya. Dan cepat sembuh, biar kita bisa jalan-jalan lagi sama Rendra." Ucap Reno memanasi Dimas.
"Kau....,"
"Mas...," Tiara melotot ke arah Dimas membuatnya berhenti bicara. Padahal ia baru saja ingin memaki Reno. Dimas menghentikan ucapannya ia tidak ingin berdebat dengan Tiara, Apalagi membuatnya marah.
"Hati-hati ya Tuan. terimakasih kunjungannya." ucap Tiara lembut pada Reno. Sementara Dimas memanyunkan bibirnya.
Reno melangkah keluar ruangan. Dimas yang tadinya bermuka masam, tiba-tiba wajahnya tergantikan dengan mode senyum menatap Tiara. Tiara yang merasa aneh dengan ekspresi wajah Dimas bergidik ngeri.
"Yang, pingin..."
"Pi-pingin, pingin apa mas?"
"Jangan mesum deh mas, ini rumah sakit." Tiara menutupinya dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Dimas tertawa melihat ketakutan di wajah Tiara.
"Becanda sayang, mana mungkin aku ngelakuin hal aneh disaat kamu sakit gini. Cepat sembuh ya. Habis itu kita urus pernikahan kita. Aku udah nggak sabar menghabiskan malam ku denganmu yang." Dimas mengecup pucuk kepala Tiara lembut.
"Mas....," Wajah Tiara merona merah. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Ingat jangan deket-deket pria lain. Dan untuk permintaan Rendra padamu..."
"Mas nggak usah khawatir Rendra anak baik ia pasti ngerti. Aku akan jelasin pelan-pelan, lagipula ini juga salahku mas yang bicara tanpa dipikir."
***********
Hari telah berganti, dan tadi Farih meminta Nita segera bersiap. Karena hari ini ia akan mengunjungi Tiara.
Nita saat ini berada di dalam kamar untuk bersiap-siap, tak lama terdengar suara handphone miliknya berbunyi. Ia menatap panggilan itu yang ternyata dari Ayah kandungnya. Dengan perasaan malas ia mengangkat telponnya.
"Ayah, ada pa kok telpon Nita sih, kalau ketahuan gimana?" ucap Nita begitu Panggilan tersambung.
"Sayang, maaf. Ayah ada perlu penting banget ini?"
__ADS_1
"Ada apa lagi sih Ayah?"
"Ayah kalah taruhan sayang, bisa kau pinjamkan Ayah 50 juta dulu."
"Astaga, Ayah main judi lagi."
"Tolonglah sayang, kalau sampai Ayah tidak membayarnya besok. Mereka akan menghabisi Ayah."
"Nita nggak ada uang. Ayah kan bisa minta sama momy."
"Momy mu akan membunuhku kalau tau Ayah taruhan lagi. Dan Ayah tau kau berbohong, bukannya mereka memberimu kartu kredit tanpa batas. Kau bisa menarik uang dari situ. Lagipula kalau bukan karena Ayah, kau tidak akan bisa menikmati semua itu."
"Baiklah, Aku akan kirimkan. Tapi ingat Ayah ini terakhir kalinya Ayah berjudi. Kalau tidak aku akan mengadukanmu pada Momy."
"Iya, iya sayang, Ayah janji. Tapi kirimi Ayah 80 juta ya. Ayah kehabisan uang dan Ayah tidak berani meminta pada Ibumu. Dia selalu uring-uringan akhir-akhir ini, karena tak bisa menghubungimu. Sebaiknya kau telpon Ibumu Dia sering menanyakan kenapa kau tak pernah menghubunginya. Dan kenapa nomormu sulit di hubungi. Jangan katakan apapun pada Ibumu, termasuk rencana kita ini, kalau tidak ibumu pasti akan mengacaukan semuanya."
"Tenang saja Ayah, aku tidak mungkin mengatakan itu semua. Dan untuk uangnya akan aku kirim ke rekening Ayah segera."
"Oke ayah tunggu." Nita menutup panggilan teleponnya.
"Huh, aku harus segera menghubungi Momy. Kalau Momy sampai mengirim orang untuk mengecek aku bisa gawat" ucap Nita lirih lalu mencoba menghubungi Momy nya, tapi sayangnya panggilannya tak juga di angkat. Ah biarkan saja, aku akan mencoba menghubunginya nanti.
Nita keluar dari kamarnya dan di sambut Farih yang juga sudah bersiap-siap.
"Kita mampir ke supermarket depan ya, Kakak mau beli buah dulu." ajak Farih yang di angguki oleh Nita. Apartemen Farih terletak di tengah kota, dan letaknya sangat strategis. Selain dekat dari kantornya, apartemennya juga dekat dengan supermarket.
Farih melajukan mobilnya mengarah ke supermarket depan gedung Apartemennya. Ia menurunkan Nita terlebih dahulu di pintu Depan, sementara ia memarkirkan kendaraannya. Farih meminta Nita duluan untuk memilih beberapa buah. Ia akan menyusulnya nanti.
Nita melihat-melihat sekitar. Farih tadi memberitahu padanya bahwa buah ada di lantai satu paling ujung. Ketika Nita melewati toko sepatu dan tas untuk menuju ke tempat dimana stand buah berada. Tiba-tiba ada seseorang Ibu-ibu yang mengenalnya berteriak memanggilnya.
"Nita..." Teriak Ibu itu memanggil. Nita yang tidak mendengar panggilan itu berlalu begitu saja. saat ini matanya fokus menatap ke ujung dimana stand buah berada.
Dengan tergopoh-gopoh wanita itu berlari menyusul Nita. Sementara Farih saat ini sudah mulai memasuki pintu utama supermarket.
"Nita tunggu...." Wanita itu berteriak keras.
"Astaga Momy, mati aku."
"Apa yang kau lakukan disini. Kapan kau datang kenapa nggak kasih tau Momy. Dan handphone mu itu, apa kau mengganti nomormu lagi." tanya Momy Nita bertubi-tubi.
"A-aku baru saja sampai Momy, dan..."
"Sudah, ayo pulang. Kau jelaskan dirumah saja" Momy menyeret tangan Nita kasar.
"Momy tunggu, aku..." Nita menghentikan ucapannya ia terkejut dan menatap horor pria yang kini berada di depan Momy nya.
"Hai mengapa Nyonya menarik adikku dengan kasar. Dan Siapa dia dek, kenapa kau memanggilnya Momy, apa hubungan kalian berdua?"
__ADS_1
TBC.