UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Kondisi kritis.


__ADS_3

Angin berhembus semakin kencang. Key yang berusaha mendorong perahu ke lautan di halangi beberapa nelayan.


"Tolong jangan nekad, lihat angin semakin kencang, badai sudah datang sebaiknya cepat kita menjauhi pantai.


"Minggir, jangan menghalangi, atau aku tidak akan segan menghajar kalian semua."


"Tolong jangan nekad Tuan, kita akan mencari Pak Kupit setelah badai reda. Sayangilah nyawa anda."


"Aku bilang minggir," Key yang sudah tidak bisa menahan kesabarannya menghajar orang-orang yang menghalanginya satu persatu. Ia sudah seperti orang kesetanan, tidak memperdulikan jika orang yang sebenarnya tidak bersalah babak belur karenanya.


"Lihat ada perahu ingin menepi cepat bantu."


Seketika perhatian Key teralihkan ia melepaskan orang yang menjadi sasaran kemarahannya. Lalu berlari menuju ke perahu yang ingin menepi. Beberapa nelayan yang selamat dari amukan Key ikut berlari membantu. Sedangkan sebagian lainnya terkapar karena perbuatan Key.


"Cepat tolong, bantu angkat Pak Kupit." Setelah perahu berhasil menepi mereka mengangkat Pak Kupit keluar dari perahu.


"Apa yang terjadi dengannya."


"Dia pingsan dan jatuh ke laut pada saat mengangkat jala yang terakhir, sepertinya kondisinya tidak begitu baik. Kapalnya juga terbalik karena di hantam ombak besar akibat badai. Untung perahu saya ada di dekat perahunya jadi saya bisa sigap membantunya"


"Cepat bawa ke puskesmas, sekalian bantu juga orang-orang yang terkapar."


"Bawa ke Rumah Sakit semua, disana fasilitasnya lebih lengkap," ujar Key.


"Puskesmas lebih dekat Tuan dan juga gratis. Kami bukan kumpulan orang kaya yang memiliki banyak uang."


"Saya akan menanggung semua biaya. Bawa dulu mereka menjauhi pantai, saya akan mengambil mobil."


Key segera berlari menuju ke tempat dimana ia menitipkan mobilnya. Ia kemudian menghampiri para nelayan dan membawa mereka semua ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit mereka langsung mendapatkan perawatan.


"Bagaimana kondisi pasien yang pingsan tadi Dokter."


"Kondisi pasien saat ini kritis. Apa kami bisa berbicara dengan keluarga pasien."


"Saya keluarganya Dok, anda bisa berbicara dengan saya," ujar Aryo.


"Baiklah, mari ikut ke ruangan saya."

__ADS_1


"Pasien mengalami cidera paru-paru akibat banyaknya jumlah air yang masuk, Kerusakan fungsi otak karena suplai oksigen yang terhambat. Selain itu ia juga sepertinya sempat mengalami serangan jantung sebelum ia jatuh pingsan. Pasien benar-bener kritis saat ini kemungkinan untuk bisa bertahan hidup sangat kecil. Jadi tolong hubungi keluarga yang lain agar bersiap untuk kemungkinan yang terburuk."


"Apa maksud Anda Dokter, anda jangan main-main ya. Selamatkan dia, jika dia tidak selamat maka saya akan menguburkan anda dengannya." Key menarik kerah baju Dokter itu. Dokter itu ketakutan dan mencoba untuk menenangkan Key."


"Tuan, tolong tenang. Saya pasti berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkannya. Tapi saya juga tidak bisa membohongi anda, jika kondisi pasien saat ini kritis. Sebaiknya anda hubungi keluarga anda yang lain. Dan saya juga akan berusaha untuk menyelamatkan pasien."


"Beri dia pengobatan dan ruangan terbaik. Dan jika harus mendatangkan Dokter ahli terbaik dari luar negeri maka datangkan. Berapapun biayanya saya akan membayarnya."


"Baik Tuan, kami akan berusaha yang terbaik untuk kesembuhan pasien. Kami juga mohon kerjasamanya agar Keluarga pasien juga mau membantu dengan memberi dorongan semangat hidup pasien."


Key keluar dari ruangan itu, ia menemui nelayan yang juga mendapatkan perawatan akibat perbuatannya.


"Apa kalian tau Dimana keluarga Pak Kupit."


"Pak Kupit tidak memiliki keluarga Tuan.


Ia hanya memiliki seorang putri yang bekerja di kota. Kita bisa minta tolong ke juragan ikan untuk menghubunginya nanti, setelah kita pulang dari sini. Karena Pak Kupit sering minta tolong Pak Kupit untuk menghubungi anaknya."


"Tidak usah, Saya mengenal Bos Putri Pak Kupit biar saya saja yang menghubunginya."


************


"Maaf Tuan mau cari siapa dan ada keperluan apa?"


"Nyonya Anggi ada?, saya teman Nyonya Anggi."


"Maaf apa Tuan sudah membuat janji sebelumnya?"


"Belum, tapi tolong sampaikan pada Nyonya Anggi. Saya sahabatnya Teo ingin bertemu."


"Maaf Tuan, Nyonya kami sibuk. Anda bisa menelponnya dan membuat janji terlebih dahulu."


"Ini buat kalian, tolong biarkan saya bertemu bos kalian" Papa Teo menyodorkan beberapa lembar uang merah. Penjaga itu menerima uang itu lalu menghubungi temannya untuk menginformasikan pada Nyonya Anggi akan kedatangan Papa Teo.


"Anda bisa membawa mobil anda masuk Tuan, nanti akan ada teman saya disana yang akan mengantar anda menemui Nyonya."


"Terimakasih" Mobil Papa Teo meluncur memasuki halaman rumah.


Papa Teo berjalan di samping pengawal menuju halaman samping rumah. Halaman yang tertata rapi dengan aneka macam bunga. Terdapat juga rumah kaca khusus tanaman hias. Pengawal itu membawa Papa Teo ke rumah kaca, lalu meninggalkannya. Terlihat Nyonya Anggi yang sedang sibuk merawat tanamannya.

__ADS_1


"Anggi" Papa Teo memanggil Nyonya Anggi. Nyonya Anggi sempat terpaku mendengar suara yang telah lama tidak ia dengar.


"Kau, mau apa kau kemari?" terdengar nada sinis dari pertanyaan Nyonya Anggi.


"Bisa kita berbicara."


"Tidak ada yang harus kita bicarakan, pergilah. Sebelum aku meminta pengawalku mengusirku."


"Aku ingin kita berbicara Anggi. Aku juga ingin meminta maaf padamu. Aku sama sekali tidak tau jika pembatalan pernikahan kita membawa kesengsaraan untukmu dan juga keluargamu."


"Kau sudah berbicara dan juga minta maaf sekarang pergilah. Kita sudah tidak punya urusan lagi."


"Kenapa kau banyak berubah, kemana Anggi yang dulu ramah dan juga baik hati. Kumohon Nggi kembalilah ke sifatmu yang dulu. Bertobatlah, jangan seperti ini."


"Dengar kau bukan siapa-siapa ku lagi. Jadi kau tidak berhak menasehatiku atau ikut campur dalam hidupku. Pergilah sebelum aku memanggil pengawal untuk menyeretmu dari sini."


"Aku berhak ikut campur, karena perbuatanmu telah menyakiti menantuku. Aku bisa menuntutmu karena perdagangan manusia."


"Menantu, apa maksudmu? Apa anakmu itu sudah menghentikan petualangannya?"


"Apa kau mengenal putraku."


"Tentu saja. Apa kau tidak tau bahwa Putramu adalah pelanggan tetap kami. Kau membuatku ingin tertawa dengan pengaduanmu."


"Aku tidak main-main Anggi, jika kau masih terus melaksanakan bisnismu. Aku akan membawamu ke meja hijau."


"Lakukanlah, aku akan menyeret putramu bersamaku dan aku juga sedikit oenasat bagaimana jika orang-orang di luaran sana sampai tau kalau menantumu adalah bekas wanita malam."


"Menantuku bekerja di tempatmu karena jebakanmu. Dan juga sekalipun menantuku bekerja disini tapi ia tetap suci. Tidak ada pria selain suaminya yang pernah menggaulinya."


"Ha ha ha...., Kau pikir orang lain akan percaya? Wanita malam tetaplah wanita malam. Bagi sebagian orang Kami adalah wanita murahan dan sampah masyarakat. Apa kau sanggup jika menantumu mendapat julukan seperti itu."


"Apa yang kau inginkan sebenarnya?"


"Tidak usah terburu-buru, Ayo ikut aku. Kita berbicara di ruang kerjaku."


Nyonya Anggi mengajak Papa Teo ke dalam rumah. Papa Teo menatap heran sebuah bingkai foto besar yang menempel di dinding ruangan utama.


Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia merasa mengenal foto gadis muda yang terdapat pada bingkai foto itu. Ia berniat menanyakan itu nanti pada Nyonya Anggi dan juga ada hubungan apa diantara mereka sebenarnya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2