
Suasana di ruang tamu terlihat canggung. Nara melirik Mike yang duduk tak jauh darinya. Reno yang mengerti tentang masalah anak muda akhirnya membiarkan mereka untuk bisa bicara berdua.
"Kalian silahkan ngobrol aja dulu, saya sama Mona ada yang harus dilakukan sebentar" ucap Reno menghampiri Mona, Reno menggandeng tangan Mona dan mengajaknya masuk ke kamar.
"Ada apa sih Mas?" protes Mona, karena Reno membawanya ke dalam kamar.
"Suuuttt diam" ucap Reno kemudian menutup pintunya.
"Ada tamu diluar kok malah ditinggal ke kamar sih Mas!" Mona yang kurang peka masih saja protes terhadap suaminya.
"Kamu ini seperti nggak ngerti anak muda aja!" sahut Reno.
"Memangnya mereka punya hubungan apa? Bukannya Nara masih kecil ya, SMA aja belum tamat. Jangan bilang kalau mereka...."
"Kamu ini udah punya suami masih nggak peka juga, memang kamu nggak lihat cara mereka memandang satu sama lain" ucap Reno menyentil kening Mona.
"Aaawww sakiiitttt Masss!" protes Mona mengusap jidatnya.
"Maaf, sakit banget ya" Reno mengusap kening Mona dan mengecupnya.
Sementara Rendra yang keluar dari kamar tamu menuju ke ruang tamu untuk mencari Daddy nya. Rendra memundurkan langkahnya pelan-pelan ketika melihat dua orang insan saling menatap malu-malu.
Rendra walaupun masih kecil ia memiliki pikiran yang dewasa, karena dari kecil ia dikelilingi dengan pergaulan orang dewasa.
Rendra memilih melangkah ke kamar Daddy nya dan membuka pintu pelan-pelan.
"Huufft" Rendra mengeluarkan nafasnya kasar melihat Daddy nya sedang merayu Mona, sepertinya ibu sambungnya itu kesal pada Daddy nya.
Rendra kembali menutup pintu, ia memilih keluar lewat pintu samping dan berbaur dengan satpam penjaga gerbang. Rendra memilih masuk ke dalam post satpam tempat para satpam itu beristirahat.
"Aden, malam-malam kok tumben main kesini!" tanya salah satu satpam, menatap Rendra heran.
"Itu Pak didalam gerah" jawab Rendra asal.
"Hah Gerah, bukannya ada AC di setiap ruangan ya Den. Apa AC Aden rusak? perlu saya telpon tukang servis AC den? Atau biar bapak lihat aja dulu rusaknya seperti apa. Ayo den antar bapak ke kamar Aden biar bapak periksa" Satpam itu masih saja penasaran dan terus bertanya pada Rendra.
__ADS_1
"Tidak perlu Pak, semua AC dirumah normal dan baik-baik saja. Rendra hanya ingin menghirup udara luar saja" ucap Rendra menghentikan langkah satpam itu yang ingin masuk kedalam.
Rendra tidak mungkin masuk kembali ke dalam kamarnya, ia tidak ingin telinga dan pikirannya rusak karena kemesuman Dimas. Ruang Tamu yang ditempati Tiara dan kamar Rendra bersebalahan. Rendra paling tau seperti apa bucinnya Dimas terhadap Tiara. Manjanya tingkat Dewa membuat Rendra menggelengkan kepala karena tidak mengenal tempat.
Sementara jika Rendra pergi ke ruang keluarga juga tidak mungkin karena dekat dengan ruang tamu. Sudah dapat dipastikan akan terlihat oleh Mike dan Nara jika Rendra ingin kesana.
Dikamar Daddy nya apalagi bisa-bisa ia menggagalkan proses 3 orang adik yang Rendra minta.
Poor Rendra, yang sabar ya.
"Aden mau ikutan main?" tanya salah seorang satpam pada Rendra. Di rumah Rendra total ada 5 orang satpam mereka bekerja shift bergantian. 2 orang bekerja di pagi hari-ba'da Maghrib dan dilanjutkan 3 orang sampai pagi.
"Nggak Pak, Rendra mau lihat aja" ucap Rendra sembari mengamati kedua orang itu yang bermain catur. Sedangkan teman satunya memilih tidur, mereka biasa tidur bergantian selama berjaga agar tetap bisa mempertahankan kondisinya.
Sementara itu di kamar, Tiara yang terkejut melihat suaminya terjatuh segera terbangun.
"Ini beneran kamu Mas! Ya Allah Mas kapan datang" Tiara membantu Dimas untuk bangun.
"Sakit Yang" Ucap Dimas manja sembari menepuk-nepuk pantatnya.
"Maaf aku nggak tahu kalau itu kamu Mas, jadi aku refleks" ucap Tiara menyesal.
"Hallo putri Daddy yang cantik, apa kabar?" Dimas mencium putri kecilnya itu.
"Baru di tinggal Daddy 9 hari pipi kamu udah kayak bakpao" Dimas kembali mencium dengan gemas.
"Punyaku nggak di habisin sama Aqilla kan Yang?" tanya Dimas sembari menatap dua bukit kembar yang terlihat padat dan penuh. Ia mulai mengaktifkan Mode mesum dan manjanya.
"Daddy ini heran aku ya, kalau deket-deket pasti yang di bahas yang aneh-aneh aja." Tiara gemes mencubit pipi Dimas.
"Habis gimana Yang, puasa lama banget bikin nggak tahan. Masih belum selesai juga ya Yang?" tanya Dimas memelas.
"Ya belum Daddy, masa nifas kan 40 hari kalau perlu digenepin 100 hari puasanya Daddy. Aku masih trauma, soalnya takut sakit" ucap Tiara beralasan.
"Astaga sayang tega bener, 40 hari aja Daddy panas dingin kalau 100 hari Daddy bisa konslet" wajah Dimas memucat. Sementara Tiara menahan tawanya.
__ADS_1
Merupakan kesenangan tersendiri bagi Tiara bisa mengerjai suami mesumnya itu.
"Ya gimana lagi Daddy Tiara masih takut, apalagi bekas jahitannya ini sakit banget. Tiara nggak berani bayangin deh kalau tongkat saktimu yang super big size itu...." Tiara menghentikan ucapannya, ia tidak sanggup untuk membayangkannya lagi.
"Kalau nggak boleh masuk ke sarang ya udah Yang pakai cara lain aja" saran Dimas.
"Astaga Daddy" kesal Tiara, karena Dimas sudah mengarahkan tangan Tiara ke tongkat sakti miliknya.
*********
Mike asyik memainkan jari-jari mungil Nara yang berada di genggamannya. Sementara Nara yang dari tadi terdiam sambil melirik Mike malu-malu akhirnya berani angkat suara.
"Kak Mike, kapan pulang? kok nggak bilang-bilang sama Nara sih!" protes Nara memberanikan diri menatap Mike.
"Kenapa kangen Ya" ucap Mike membuat wajah Nara makin memerah di buatnya.
"Nggak, bukan begitu, tapi..."
"Jadi kamu sama sekali nggak kangen sama aku. Padahal aku cepat-cepat pulang dan ingin segera menemuimu sekalipun badanku terasa remuk. Tapi kau ternyata begitu tega meremukkan hatiku" ucap Mike dramatis memotong pembicaraan Nara dan terlihat kecewa. Ia melepaskan genggaman tangan Nara.
"Astaga, Kak bukan seperti itu maksud Nara."
"Jadi kamu merindukanku Nara benar, kamu nggak bohong kan?" ucap Mike kembali menggenggam tangan Nara.
"Iya Nara merindukan Kak Mike" ucap Nara malu-malu.
"Tapi kenapa, Kamu kok seperti nggak yakin ya. Mungkin aku yang terlalu percaya diri, bagaimana mungkin kamu yang masih muda, cantik, imut menyukai aku yang sudah tua" Mike masih saja mendramatisir.
"Kok, Kakak bilang gitu sih! Nara beneran kok Suka sama Kakak" ucap Nara tanpa sadar.
"Beneran kamu nggak bohong, coba bilang sekali lagi" pinta Mike dengan wajah berbinar-binar.
"Iya Nara suka kak Mike!" ucap Nara sembari menutup wajahnya yang memerah.
"Yes" gumam Mike lirih sembari mengepalkan tangannya. Akhirnya misi nya membuat Nara mengakui perasaannya berhasil juga
__ADS_1
Dua orang saudara yang memiliki taktiknya tersendiri dalam menaklukkan wanitanya. Jika Dimas dengan kemesumannya sedangkan Mike adalah Rajanya Drama.
TBC