UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Kecurigaan Reno.


__ADS_3

Mona...!!" Reno keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk yang menutupi bagian bawahnya. Terpampang jelas tubuh bagian atasnya yang menampilkan Perut six pack dan dada bidangnya.


"Uwaaaaaa....., maaf Tuan. Saya tidak melihat apapun" Mona kabur dari tempat itu setelah sempat terbengong melihat pemandangan indah di depannya.


"Dasar gadis ceroboh"


Mona berlari keluar dari kamar Reno dengan tergesa-gesa. Karena kurang fokus Mona menabrak Tiara yang sedang berjalan berdampingan dengan Rendra. Rendra yang mengetahui Mona sedang menuju ke arah mereka dengan segera menghindar. Tapi Tiara yang tidak mengetahuinya tidak bisa menghindar. Hingga tabrakan antara Tiara dan Mona tak terelakkan lagi.


Bruukkk!!!


"Aaaww...!!!" Pekik Tiara dan Mona bersamaan.


"Iiih Sakit ya Kak" Tanya Rendra pada mereka berdua.


"Ssaakiit bangeettt, jawab mereka bersamaan.


"Kak Mona kenapa, kok keluar dari kamar Daddy ketakutan gitu. Emang habis lihat apa kak"


"Li-lihat apa, nggak aku nggak lihat apa-apa kok beneran. Aku tadi benar-benar nggak lihat apa-apa." Mona gugup menggelengkan kepalanya.


"Ya ampun Mon, kamu ini kenapa sih jalan nggak hati-hati. Gimana coba tadi kalau yang ketabrak Rendra kan bisa bahaya" protes Tiara.


"Ma-maaf" ucap Mona.


"Lagian muka kamu kok sampai merah gitu. Kamu sakit" tanya Tiara menghampiri Mona dan memeriksa kening Mona.


"Eng-enggak Ra, aku nggak sakit cuma kaget aja tadi lihat Tu..." Mona segera menutup mulutnya yang hampir keceplosan.


"Hayo kak Mona lihat apa?" tanya Rendra penasaran. Sementara Mona terdiam bingung ingin menjawab apa.


" Iya lihat apaan sih Mon, Tu-tu... apa?" Tiara sama penasarannya dengan Rendra


"Kenapa kalian kok malah ribut disini? Tiara, Mona ngapain kalian kok pada duduk di lantai. Cepat bangun nanti kalian masuk angin lo" Reno keluar dari kamarnya setelah memakai baju, karena mendengar suara mereka bertiga. Apalagi kamar Reno dan Rendra bersebelahan. Ia cukup terkejut melihat Tiara dan Mona yang Duduk di lantai depan kamar Rendra.

__ADS_1


"Ini Dad, kak Mona tadi keluar dari kamar Daddy tergesa-gesa, jadi nggak sengaja nabrak Kak Tiara. Emang ada apaan si Dad di kamar Daddy sampai kak Mona kayak orang ketakutan gitu." tanya Rendra.


"Di kamar Daddy nggak ada apa-apa kok. Ya kan Mon" Rendra menahan senyumannya.


"I-iya Tuan nggak ada apa-apa." Mona menjawab pertanyaan Reno tanpa berani memandangnya.


"Tiara ayo ke ruang kerjaku ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Dan Mona tolong kamu temani Rendra dulu ya." perintah Reno.


"Nggak, aku nggak mau. Rendra nggak mau ikut kak Mona. Rendra mau sama Kak Rara aja." Rendra sekarang memanggil Tiara dengan sebutan Kak Rara. Karena Tiara merasa aneh dengan panggilan kakak cantik.


"Rendra..., Daddy masih ada perlu sebentar sama Kak Tiara. Rendra ikut Kak Mona sebentar ya, nggak lama kok."


"Beneran ya Dad, nggak pake lama."


"Iya nggak akan lama. Udah sana ikutin kak Mona."


perintah Reno.


Tiara mengikuti Reno menuju ke ruang kerjanya, Sementara Rendra mengikuti Mona menuju lantai bawah.


"Ada yang ingin kau katakan dan jelaskan padaku." tanya Reno.


"Maaf Tuan karena menghilang tiba-tiba, tapi saya beneran sakit. Dan saya juga nggak punya nomor telepon tuan untuk memberitahukan kepada Tuan." ucap Tiara lirih.


"Iya tidak apa-apa, yang penting sekarang kamu sudah sehatkan." Tiara menganggukkan kepalanya.


"Tolong masukkan nomor HP kamu disini" perintah Reno menyodorkan handphone miliknya pada Tiara. Tiara pun memasukkan nomornya ke handphone Reno, lalu mengembalikan lagi kepada Reno.


"Boleh aku menanyakan hal yang sedikit pribadi?" tanya Reno.


Tiara sedikit terkejut dengan ucapan Reno. tapi ia tetap menampilkan ekspresi tenang.


"Eh, boleh Tuan, asal tidak berlebihan." Tiara sedikit takut dengan pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Reno.

__ADS_1


"Apa kau mengenal Dimas?"


"Ya, eh maksud saya begini Tuan. Tu-tuan Dimas adalah seorang pebisnis yang sukses. Fotonya banyak terpampang di majalah, jadi siapa yang tidak mengenalnya" jawab Tiara gugup lalu mengalihkan pandangannya. Reno yang menatapnya sedari tadi sedikit mengernyitkan keningnya melihat reaksi Tiara.


"Tiara, maaf jika pertanyaanku ini membuatmu tidak nyaman. Aku hanya merasa kau mengenal Dimas lebih dari sekedar publik figur. Kau mengerti maksudku bukan."


Apa yang harus aku katakan padamu tuan. Bagaimana mungkin aku bisa jujur padamu, dan mengatakan mengenalnya. Sedangkan pertemuanku dengan Dimas terjadi karena hal yang memalukan, batin Tiara.


Tiara menundukkan kepalanya, ia mencoba menahan Air matanya mengingat pertemuan pertamanya dengan Dimas. Dan bagaimana ia bisa terjerat dari pria itu.


Reno yang melihat perubahan ekspresi wajah Tiara, yang tiba-tiba sedih, menghembuskan nafasnya kasar.


"Tiara, kalau kau memang ada masalah yang tidak bisa kau atasi sendiri, kau bisa bicara padaku. Aku janji akan membantumu" ucap Reno lembut. Tapi Tiara tak juga menjawab pertanyaan Dimas. Ia terus menundukkan kepalanya, seolah-olah ia sedang mengalami perang batin saat ini.


"Maaf Tiara, aku merasa pada saat di pesta itu kau cukup terkejut dan ketakutan melihat Dimas. Saya juga melihat Dimas sepertinya terkejut dan marah apalagi setelah itu kau tidak muncul. Apa benar kau tidak ada masalah dengan Dimas?"


Begini Tiara maksudku..., Dimas bukanlah orang yang mudah di hadapi. Jadi kalau kau memerlukan bantuanku, tolong katakan padaku agar aku bisa membantumu. Aku sudah menganggapmu bagian dari keluargaku, jadi jangan kau tanggung sendiri masalahmu berbagilah padaku apapun masalahmu." Reno seperti sudah kehabisan kata-kata untuk meyakinkan Tiara. Tapi Tiara sama sekali tidak merespon ucapannya.


Tiara sebenarnya bingung dengan situasi yang kini ia hadapi. Jika ia jujur pada Reno akankah Reno menerimanya. Bagaimana jika Reno mengetahui jika dirinya pernah bekerja di tempat dimana wanita menjajakan tubuhnya. Lalu apa yang akan Reno pikirkan tentangnya. Sekalipun ia berada disana karena di jebak tapi itu tidak bisa menutupi kalau ia juga pernah menjadi bagian dari orang-orang itu.


Memikirkan semua itu rasanya membuatnya benar-benar sakit. Dadanya terasa benar-benar sesak, seolah-olah ada batu besar menghimpit dadanya. Menghadapi seorang Dimas yang benar-benar egois, entah sampai kapan ia bisa bertahan. Ingin sekali Tiara lepas dari semua permasalahan ini.


Bahkan saat ini Tiara seperti melupakan tujuan sebenarnya datang ke kota ini. Tujuan yang awalnya ingin mengetahui jati dirinya dan siapa sebenarnya orang tuanya. Tapi malah menyeretnya ke permasalahan yang rumit untuk gadis seusianya.


Seandainya bunuh diri itu tidak dilarang Ia ingin saat ini juga menceburkan dirinya di laut lepas. Melepaskan semua beban masalah yang menghimpit dadanya dan tersenyum bebas bertemu dengan kedua orang tua angkatnya. Tapi ia tidak mungkin melakukan semua itu. Orang tuanya selalu mengajarkannya tentang menghargai kehidupan.


Seberat apapun kondisi dan situasinya ia harus tetap bertahan. Karena tak selamanya kesengsaraan menghampirimu, akan ada hal-hal yang indah juga menantimu. Bahkan pelangi akan datang setelah adanya hujan. Tiara ingin mempercayai semua itu walau terlihat mustahil untuknya.


"Saya ingin berhenti Tuan" Ucap Tiara tiba-tiba mengejutkan Reno.


TBC.


Mohon maaf belum bisa double update maupun crazy up.

__ADS_1


Terimakasih yang sudah mampir dan membaca. Jangan lupa like, vote dan komentarnya terimakasih 🤗😘


__ADS_2