UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Menemui Mona


__ADS_3

Mobil Rendra masuk ke sebuah halaman mansion yang terlihat mewah. Rumah dengan sentuhan gaya Eropa klasik menambah kesan kemewahan dan keunikan tersendiri.


"Ayo Kak" Rendra menuntun Tiara menuju ke pintu utama rumah itu. Ia meminta Steve untuk membunyikan bel pintu, berhubung letak bel itu cukup tinggi dan tangan mungil Rendra belum sampai untuk menggapainya.


"Kau..., Masuklah. Aku akan memanggilnya sebentar" ucap seorang pria tampan yang membuka pintu pada Rendra. Usia pria itu kurang lebih sama dengan Dimas. Tapi penampilan pria ini terlihat lebih berwibawa dan dingin. Tiara sempat terpaku menatap wajah tampan pria itu.


"Ayo kak, masuk" Rendra kembali menarik tangan Tiara yang terlihat bengong. Tiara mengagumi rumah dengan jendela dan langit-langit yang tinggi. Serta memiliki berbagai ornament tradisional, semakin menambah kesan klasik rumah yang di dominasi perabotan yang terbuat dari kayu.


"Tiara, apa kabar?" Mona berlari menghampiri Tiara dan memeluknya. Tiara sempat terbengong menatap penampilan Mona. Biasanya ia terlihat berpenampilan sederhana dengan baju pelayannya. Berbeda sekali dengan Mona yang saat ini ada di hadapannya. Baju maupun penampilan Mona terlihat stylish dengan gaya girly and chic.


"Kabar baik, Ya ampun Mona kamu cantik banget" ujar Tiara menatap kagum penampilan Mona.


"Kamu juga makin cantik. Suamimu mana? Apa ia tidak ikut denganmu?" Mona melihat ke arah belakang Tiara lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, Tapi tak mendapati Dimas bersamanya. Akhirnya pandangan Mona berlabuh pada sosok kecil yang tersenyum menatapnya. Mona membuka lebar tangannya untuk Rendra. Rendra menyambut pelukan hangat Mona.


"Kak Mona, Aku merindukanmu."


"Aku juga sayang. Baru beberapa hari tidak bertemu, kau makin bertambah besar saja."


Mona mengajak Tiara dan Rendra untuk duduk di kursi ruang tamu. Sementara Steve melangkah keluar ruangan itu. Ia memutuskan untuk menunggu majikannya diluar.


"Ayo ceritakan apa yang sebenarnya terjadi padamu. Dan rumah siapa ini" tanya Tiara.


"Sebenarnya ini rumah Kakakku. Aku kabur dari rumah karena orangtuaku ingin menjodohkanku dengan anak kolega bisnisnya.


Dan pada saat aku kabur, aku tidak sengaja bertemu dengan Bik Anik. Lalu ia menawariku pekerjaan dan membawaku ke rumah Tuan Reno. Maaf karena tidak jujur dengan kalian."


"Lalu apa yang terjadi padamu dengan Tuan Reno? Kenapa sampai ia tega mengusirmu."


"Tuan Reno salah paham. Ia berfikir kalau aku adalah wanita penggoda karena aku seringkali kepergok tengah bicara akrab dengan tetangganya. Padahal tetangganya itu sahabat Kakakku. Aku sering berbicara dengannya karena aku mencoba untuk bernegosiasi agar ia tidak memberitahu Kakakku tentang keberadaanku. Tapi dia malah memberitahukannya pada Kakakku."


"Begitu mengetahui keberadaanku Kakakku langsung datang menemui ku. Dan pada saat Kakakku memelukku bertepatan dengan kedatangan mobil tuan Reno. Tuan Reno salah paham, ia marah besar padaku dan mengusirku. Ia bahkan tidak mau mendengarkan penjelasanku, benar-benar menyebalkan."


************

__ADS_1


Dilain tempat terlihat Dimas yang tampak uring-uringan. Sedari tadi ia menghubungi handphone milik istrinya tapi tak sekalipun istrinya menjawab.


"Kemana putramu membawa istriku?"


"Sudah Aku bilang aku tidak tahu. Jangankan berpamitan padaku, menyapaku juga tidak." kesal Reno. Ya saat ini Dimas berada dikantor Reno.


"Tapi diakan putramu, kau bisa menelponnya atau menyuruh seseorang untuk mengikutinya."


"Aku sudah menelponnya tapi dia tidak mengangkatnya. Dan orang yang aku suruh mengikuti mereka kehilangan jejaknya."


"Kau memang payah, pantas saja putramu mengabaikanmu."


"Lalu bagaimana denganmu, istri sendiri kemana tidak tahu. Sudahlah aku bosan meladenimu, pergilah. Masih banyak pekerjaan yang harus aku urus."


Dimas menatap Reno kesal, tapi ia tak juga beranjak dari kantor Reno hingga sering handphone miliknya mengejutkannya.


"Siapa?" gumam Dimas sambil merogoh handphone dari saku celananya.


"Kakek? Tumben menelpon" gumam Dimas lalu segera berjalan keluar dari ruangan Reno tanpa berpamitan terlebih dahulu. Reno hanya menatap acuh kearah Dimas.


Hari sudah menjelang sore Dimas dan Reno sudah berada di rumah. Mereka berdua sesekali memandangi pintu masuk berharap akan ada seseorang yang datang.


Tak lama terdengar suara mobil datang, Dimas melangkah mendekati jendela untuk melihat siapa yang datang. Rendra dan Tiara keluar dari mobil sambil tertawa ditangan mereka sudah di penuhi tas belanja. Dimas kembali ke tempat duduknya berpura-pura tidak tahu dengan kedatangan mereka.


"Mas" Tiara menghampiri suaminya dan mengecup punggung tangan suaminya.


"hemm" jawab Dimas pura-pura cuek.


Sementara Rendra hanya melirik keberadaan Reno. Reno menyodorkan tangannya sambil menatap putranya. Melihat tatapan Daddy nya Rendra mendekat dan mencium punggung tangan Reno. Reno menyentuh kepala putranya dan mengacak rambutnya. Rendra hanya menatap datar pada Daddy nya.


"Sepertinya kalian berdua cukup bersenang-senang hari ini. Apa kau melupakan keberadaan suamimu hingga telpon saja kau tak sanggup untuk mengangkatnya," ujar Dimas kesal. Tiara yang melihat ekspresi suaminya yang kesal dengan cepat menghampirinya.


"Sayang maaf aku meninggalkan handphone milikku dimobil" Tiara mendekat kearah Dimas. Ia kemudian duduk di sebelah suaminya dan ikut bergelayut manja.

__ADS_1


Dimas tersenyum tipis, ia menyembunyikan ekspresi senangnya. Sepertinya berpura-pura marah adalah cara yang ampuh untuk menjinakkan istrinya.


"Cih dasar Raja drama" ujar Reno lirih mengetahui senyuman tersembunyi Dimas. Sementara Dimas mengabaikan ucapan Reno.


"Kakek menelpon besok kita harus segera kembali, karena jadwal rapat akan dimajukan. Berkemaslah," ucap Dimas.


"Baiklah" jawab Tiara dengan sedikit kecewa. Dimas yang mengerti maksud dari kekecewaan istrinya pun mencoba menghiburnya.


"Jangan khawatir, selesai pemilihan pimpinan yang baru kita akan pergi berbulan madu" Bisik Dimas membuat Tiara tersenyum malu. Lalu Tiara bergegas menuju ke kamarnya.


"Rendra" Panggil Dimas, menghentikan langkah bocah kecil itu yang ingin menaiki anak tangga.


"Kau tau bukan apa tujuanku kemari."


"Uncle Steve sudah menyiapkan semua berkasnya. Om bisa memintanya pada uncle Steve. " Rendra melangkah pergi meninggalkan Dimas. Ia yang semula ingin melangkah ke kamarnya pun tidak jadi. Ia menaruh belanjaannya diatas meja, lalu bergegas menyusul Tiara.


"Kak" sapa Rendra menatap Tiara yang memasukan bajunya ke dalam koper.


"Kakak, masih ingatkan dengan rencana Kakek."


"Ya, tapi Kakak takut, bagaimana jika rencana itu menyakiti perasaan suamiku."


"Kakak tidak perlu khawatir. Seperti apa kata Kakek Adi, jika suami Kakak mencintai Kakak maka ia akan mendukungmu."


"Apa aku pantas."


"Pantas, sangat pantas. Kakak tidak perlu khawatir, Kakek telah menyiapkan semua. Walaupun suami Kakak terlihat menyebalkan, tapi jangan pernah biarkan orang lain merebutnya dari Kakak."


"Baiklah Kakak akan berusaha yang terbaik. Kakak tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah kau dan Kakek berikan. Terimakasih karena mempercayai Kakak" Tiara memeluk Rendra dan tak terasa air matanya menetes.


"Jangan menangis Kak! sebentar lagi Kakak akan memasuki Medan perang yang sesungguhnya. Semangat Kak."


Rendra menghapus air mata Tiara yang sempat menetes. Ia lalu kembali tertawa bersama.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2