
"Ayah kumohon jangan bicara lagi, Yesi akan baik-baik saja Ayah."
"Key kumohon" ujar Pak Kupit mengabaikan ucapan Yessi.
"Aku akan menikahinya, tapi anda harus bertahan. Bukankah Bapak pernah bilang ingin menyaksikan pernikahan putri Bapak."
Pak Kupit mengangguk mengiyakan perkataan Key. Key kemudian meminta tolong pada Juragan ikan untuk memanggilkan Penghulu atau Ustadz yang bisa menikahkan mereka Sekarang juga. Ia juga memberikan sejumlah uang untuk Juragan ikan untuk membeli yang diperlukan, Seperti mas kawin dan baju yang layak yang bisa dikenakan Yesi.
Juragan ikan meminta bantuan beberapa warga desa untuk bergerak cepat, selagi menunggu kedatangan penghulu. Ia juga meminta bantuan beberapa warga desa untuk menjadi saksi.
Hanya memerlukan waktu satu jam saja semua sudah mereka beli. Seperangkat alat sholat, Baju Kebaya untuk Yesi dan juga Jas untuk dikenakan Key. Key juga mengambil kalung emas putih bertahtakan berlian yang ia sembunyikan di mobil. Awalnya kalung itu di siapkan oleh Aryo sebagai hadiah untuk Ibunya.
Yesi mengenakan kebaya dengan make up tipis, tidak ada pesta, kue pengantin, makanan mewah atau dekorasi yang indah. Yang terpenting baginya saat ini adalah mengabulkan permintaan Ayahnya.
"Jangan nangis aja Nduk, nanti make up nya luntur" Istri Juragan ikan menghapus air mata Yesi.
"Ayo senyum, bagaimanapun juga hari ini adalah hari pernikahanmu. Kasih senyuman yang manis untuk Ayahmu. Biar Ayahmu semangat melawan penyakitnya."
"Iya, Bu" Yessi menguatkan dirinya, ia menahan air matanya. Melangkah ke kamar Ayahnya di dampingi oleh istri juragan ikan dan beberapa warga kampung nelayan.
"Key menatap Yesi dengan wajah dinginnya. Yessi sempat melirik ke arah Key, tapi ia kembali menurunkan pandangannya. Tatapan dingin pria itu seakan menusuk tulangnya. Tapi tatapan Key berubah melembut begitu berhadapan dengan Pak Kupit.
Mereka berdua kini telah dihadapkan oleh penghulu dengan disaksikan oleh Pak Kupit dan juga beberapa warga.
"Bagaimana bapak-bapak, sah?"
"Sah!!!"
Kalimat Sakral nan syahdu telah diucapkan oleh Key dengan seperangkat alat sholat dan sebuah kalung berlian sebagai mas kawinnya.
Ijab kabul telah di laksanakan dengan Khidmat disaksikan beberapa warga, Dokter dan juga suster. Yesi saat ini sudah resmi menyandang status sebagai Istri Key dengan nama asli Aryo Saputra. Yesi meneteskan air matanya, entah itu air mata kebahagiaan atau kesedihan hanya dia seorang yang mengetahuinya.
Yesi mencium punggung tangan Key. Disambut oleh Key dengan kecupan lembut di kening Yesi.
Wajah pucat Pak Kupit tersenyum, keinginannya telah terkabul. Ia merasa tenang bisa menyerahkan tanggung jawab putrinya pada orang yang tepat menurutnya.
Key dan Yesi mencium punggung tangan Pak Kupit. Orangtua itu meraih tangan putrinya lalu menyerahkannya kepada Key.
"Sekarang ia tanggung jawabmu. Jangan sakiti dia. Jika ia berbuat salah maka ajari dia untuk berbuat benar. Jika kau merasa ia tidak pantas untukmu, maka buatlah menjadi pantas."
"Bapak tidak perlu khawatir saya akan menjaga Putri Bapak dengan nyawa saya. Saya juga sudah mengabulkan keinginan Bapak, jadi bapak harus segera sembuh. Sekarang sebaiknya Bapak istirahat dulu ya."
__ADS_1
"Cepat sembuh ya Yah" Yesi berpamitan pada Ayahnya. Dan semua orang meninggalkan ruangan itu. Agar Pak Kupit bisa beristirahat dengan tenang.
"Nak Key dan Nak Yesi sebaiknya pulang dulu istirahat. Biar saya dan istri saya yang menjaga Pak Kupit disini."
"Tidak, Yesi mau tunggu ayah disini."
Yesi menolak permintaan mereka. Sementara Key hanya diam saja memperhatikan.
"Begini Nak Key, Nak Yesi. Sebenarnya warga di kampung kita sudah menyiapkan syukuran kecil-kecilan untuk pernikahan kalian. Selain untuk ucapan selamat atas pernikahan kalian. Ini juga sebagai tanda terimakasih kami karena Nak Key sudah membantu warga desa mengusir rentenir Karjo yang jahat itu. Jadi sebaiknya kalian berdua pulang dulu ya. Biar warga yang menantikan kedatangan kalian tidak kecewa."
"Baik Pak saya akan mengajaknya pulang" ujar Key.
"Tapi Ayah saya, bagaimana pak?"
"Jangan khawatir kami akan menjaganya" ujar Juragan ikan beserta istrinya."
"Ayo" Key menarik tangan Yesi.
************
Di rumah sakit Dimas terus menggenggam tangan Tiara. Ia tidak mengijinkan Dokter maupun Suster untuk pergi dari kamar Tiara sebelum Tiara sadar.
Jadilah kamar Tiara penuh dengan suster dan Dokter yang berbaris rapi seperti sedang mengikuti upacara bendera. Dan Erick sebagai komandan upacaranya. Karena Dimas juga memintanya berbaris di depan para dokter dan suster.
"Tunggu sebentar lagi Tuan, Nona masih terpengaruh obat bius" ucap salah satu Dokter sementara Erick hanya bisa menghela nafasnya melihat bosnya yang sudah mulai menggila.
"Kalian ini dokter atau satpam komplek dari tadi suruh tunggu-tunggu. Kalian saya bayar untuk mengobati istriku bukan untuk..."
"Dimas..." Panggil Papa Teo menghentikan ucapan Dimas. Papa Teo baru saja tiba diruangan Tiara dan melihat Dimas yang sedang memarahi Dokter dan suster.
"Kalian pergilah kerjakan urusan kalian yang lain. Biar saya yang mengurus menantu dan putraku yang penggangu ini." ujar Papa Teo kepada para Dokter dan suster.
Papa Teo awalnya bingung dengan banyaknya Dokter dan suster yang tiba-tiba menghilang. Setelah memasuki ruangan Tiara terjawab sudah semua. Ternyata putranya lah penyebab hilangnya Dokter dan suster.
"Apa maksudmu mengumpulkan Dokter dan Suster di kamar ini. Apa kau pikir pasien yang lain tak butuh perawatan."
"Siapa suruh mereka tidak bisa membangunkan istriku" jawab Dimas kesal.
"Tunggu sebentar lagi Tiara juga bangun. Papa tadi sudah memberikan vitamin di infus Tiara. lagi pula Ini adalah kesempatan buat Tiara beristirahat.
"Dan kau Erick kenapa kau ada disini. Siapa yang bertanggungjawab di kantor. Apalagi Aryo juga tidak ada."
__ADS_1
"Jangan khawatir Pa, Ada Yessi. Dia cukup bisa untuk diandalkan."
"Tapi Tuan Yessi ijin pulang kampung."
"Siapa yang mengijinkan?"
"Bukannya Tuan sendiri yang mengijinkannya."
"Benarkah, kenapa aku bisa lupa?"
"Saat itu mungkin tuan sedang panik karena Tiara menghilang."
"Sekarang kau pergilah ke kantor Erick. Biar Dimas menunggu istrinya disini."
"Tidak boleh, Bagaimana jika istriku sadar dan meminta sesuatu. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri."
"Astaga!! kau menyuruh Erick diam disini hanya untuk menjadikannya kacung. Sementara kantormu saat ini sedang kacau dan membutuhkan seorang pemimpin untuk mengawasi kinerja pegawai. Kau bisa meminta tolong suster disini Dimas, berhentilah bertindak konyol."
"Tidak bisa, Erick tetap harus disini. Karena hanya Erick yang tau tempat-tempat makanan favorit Tiara. Bagaimana jika Tiara sadar dan meminta sesuatu. Papa tidak tau begitu sulitnya mencari nama makanan aneh kesukaan Tiara. biarkan Erick disini, Erick bisa menyuruh kepala bagian untuk mengawasi anak buahnya masing-masing."
"Lalu bagaimana dengan rapat dan janji temu dengan investor."
"Itu semua bisa dijadwalkan ulang Pa"
"Memangnya apa nama makanan aneh kesukaan Tiara?" tanya Papa Teo penasaran.
"Entahlah Pa, aku juga susah mengingat nama makanan itu. Apa kau ingat Erick?"
"Karedok, Mie seblak, siomay, salome, cimol itu beberapa yang saya ingat Tuan."
"Makanan apa itu?"
"Tuh kan papa aja yang hidup lebih lama dari Dimas nggak tau makanan apa itu. Apalagi Dimas Pa."
Bagaimana kalian bisa tau makanan seperti itu kalau kalian lebih sering memakan makanan menu barat, batin Erick.
"Terserah kau saja, Papa menyerah menghadapimu. Tapi ingat jangan menyusahkan para dokter dan suster disini lagi."
"Apa Papa sudah mengabari Tuan Aziz tentang identitas Tiara" Dimas mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin Papa nya terus membahas perkara suster dan dokter yang berkumpul di kamar Tiara. Bisa-bisa Papa Teo akan memarahinya seharian.
"Mereka masih di luar negeri. Besok baru mertuamu akan kembali. Ayah berencana berbicara dulu dengannya setelah itu baru Papa mempertemukan mertuamu dengan istrimu. Dan bagianmu adalah memberi penjelasan pada istrimu tentang identitas dia yang sebenarnya."
__ADS_1
TBC.