
Brakkkkk!!!!! Taksi itu menabrak Tiara, menghempaskan tubuh mungilnya ke jalan raya, dan kabur begitu saja. Dimas menangis berlari ke arahnya, dengan tubuh gemetar ia meraih tubuh Tiara yang bersimbah darah.
Warga yang melihat terjadi kecelakaan dengan sigap menelpon ambulance, Sementara Dimas dengan tubuh gemetar mendekat ke Tiara. Ia benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri yang tak bisa melindungi Tiara. Apalagi kejadian itu tepat di depan matanya.
Dimas duduk dengan posisi menekuk lututnya ia menangis menatap tubuh Tiara yang tak berdaya di depannya.
Ia masih bisa merasakan hembusan nafas Tiara. Ia memanggil-manggil Tiara dengan mengelus kedua pipinya yang sudah bersimbah darah. Tiara membuka matanya tersenyum menatap Dimas. Terdengar suara erangan lirih dari gadis mungil itu. sebelum akhirnya ia benar-benar tidak sadarkan diri.
"Hiks hiks..., Bangun sayang buka matamu sayang. Jangan tertidur Sayang, kumohon buka matamu. Sayang kumohon bangunlah" Dimas menangis memeluk tubuh Tiara yang masih tergeletak bersimbah darah. Tapi Tidak ada jawaban dari Tiara, Karena saat ini Tiara sudah benar-benar tak sadarkan diri.
Tak lama datanglah ambulance yang di hubungi warga. Turunlah dia orang perawat langsung menuju ke Tiara. Ia mengecek pernapasan dan detak jantung Tiara. Setelah itu, dengan cekatan dua orang perawat bersama Dimas yang memegangi bagian leher dan kepala Tiara yang terluka. Menjaganya dalam posisi aman sesuai petunjuk perawat, memasukkan Tiara ke dalam mobil ambulance.
Sesampainya di ambulance perawat memberi pertolongan pertama. Perawat memasang oksigen untuk Tiara, membersihkan lukanya dan menekan luks menggunakan kasa agar pendarahan tak semakin banyak.
"Ke-kenapa kamu tidak mendengarkan kata-kataku sayang. Sudah kukatakan berulang kali jangan pernah keluar sendirian. Kenapa kau selalu mengabaikan peringatan ku sayang. Kenapa sayang...., Kenapa?" Dimas meluapkan amarahnya di sela-sela Tangisannya. Ia menggenggam tangan Tiara dan mengecupnya berkali-kali. Dimas meminta agar dibawa ke rumah sakit milik keluarganya. Kebetulan letak rumah sakit itu tak jauh dari lokasi kecelakaan.
"Pak tolong kemudikan dengan cepat."
"Sabarlah anak muda, saya juga mengerti situasi anda. Saya akan berusaha agar kita cepat sampai tujuan," ucap pria paruh baya itu.
"Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya Pak. Apa yang harus aku lakukan tanpanya?"
"Banyak doa Nak, mudah-mudahan dia diberi keselamatan."
"Kamu pasti selamat sayang, Bertahanlah sayang aku mohon bertahanlah.
Aku benar-benar tidak bisa tanpamu sayang. Kau harus bertahan. Kau pasti selamat sayang. Bukankah kau ingin menikah denganku, kalau begitu cepatlah sadar." Air mata Dimas kembali mengalir, ia mengabaikan keberadaan dua perawat di sampingnya yang terus melakukan pertolongan pertama untuk Tiara.
Tak lama ia sampai di depan rumah sakit. Dengan cepat Tiara di larikan ke UGD untuk segera ditangani.
Tidak sengaja Reno, melihat kehadiran Dimas dari jauh. Kebetulan Rumah Sakit Rendra di rawat, adalah tempat yang sama dengan yang di datangi Dimas saat ini. Reno cukup heran melihat kondisi Dimas dengan wajah suram dan baju bersimbah darah berlari mengikuti perawat yang mendorong brankar pasien. Reno berlari ke arah Dimas.
"Dim ada apa? Tiara...!" Reno terkejut begitu melihat Tiara di brankar pasien dengan tubuh bersimbah darah. Sementara Dimas tak menjawab ucapan Reno. Ia mengabaikan kehadiran Reno, Ia fokus pada kondisi Tiara saat ini.
Perawat membawa Tiara masuk ke ruang UGD di ikuti oleh Reno dan Dimas. Dokter UGD yang mengetahui siapa Dimas akhirnya membawa Tiara ke ruangan khusus.
__ADS_1
Dengan cekatan dokter, menangani Tiara. Dimas dan Reno tidak mau keluar dari ruang perawatan Tiara, mereka berdiri tidak jauh dari tempat tidur pasien. Mereka memperhatikan setiap tindakan Dokter.
"Pasien mengalami pendarahan yang cukup banyak, periksa golongan darahnya."
Setelah Dokter memeriksa golongan darah, tak lama kemudian datang seorang suster membawa 1 kantong darah untuk Tiara.
Dokter melakukan transfusi Darah, pada Tiara. Setelah beberapa menit pemasangan Tiba-tiba ada Reaksi penolakan pada tubuh Tiara.
Tubuh Tiara seperti terkena kejut listrik, tubuhnya mengalami hentakan berulang kali. Ini seperti tubuh mengalami penolakan terhadap sel darah yang masuk.
"Ada apa ini Dok, Kenapa dengan tubuh Tiara!!" Dimas berteriak ke arah dokter. Mengagetkan Reno yang pikirannya di sibukkan dengan banyak pertanyaan. Tapi tak satupun ia tanyakan pada Dimas, karena waktunya yang belum tepat pikirnya. Toh saat ini yang terpenting adalah kesembuhan Tiara.
"Tenanglah Dim biarkan Dokter menanganinya" Reno mencoba menenangkan Dimas walaupun dirinya sendiri juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Cepat cabut jarum infusnya, dan periksa antigennya" ucap salah seorang Dokter.
"Dokter mungkinkah..." tanya seorang Suster
"Sepertinya, cepat lakukan pemeriksaan antigen" Dokter itu memotong pembicaraan suster itu, ia mengerti apa yang dimaksud perawat itu.
"Kami belum bisa memastikannya Tuan, tolong tuan sebaiknya menunggu diluar saja. Saya akan jelaskan setelah hasil laboratorium keluar."
"Tapi Dokter, Anda bisa tidak menanganinya? Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, maka jabatan dan nyawa anda taruhannya." ucap Dimas mengancam.
"Insyaallah saya lakukan yang terbaik Tuan, tolong anda tinggalkan dulu ruangan ini. Agar kami bisa menangani pasien dengan lebih baik lagi." Dokter memberikan diri mengusir Dimas yang sedari tadi tak berhenti mengomel. Mengganggu konsentrasi para Dokter dan perawat.
Reno dan Dimas keluar dari ruangan itu. Reno duduk di kursi yang terdapat di depan ruangan itu. Sementara Dimas mondar-mandir tak jelas sedari tadi.
"Dim, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Reno akhirnya memberanikan diri.
"Tiara, tertabrak mobil. Saat itu ia keluar dari apartemen dengan terburu-buru. Ia mendapatkan panggilan dari seorang Suster katanya Anakmu terus menangis dan pingsan mencari Tiara. Karena khawatir dengan kesehatan Rendra ia bahkan keluar tanpa sepengetahuanku."
"Tapi Dim, Rendra baik-baik saja dan tidak ada dari pihak kami yang menghubungi Tiara atau meminta suster untuk menelpon Tiara."
"Lalu siapa yang menghubunginya?" tanya Reno dan Dimas bersamaan.
__ADS_1
"Awalnya Rendra rewel karena tidak ada Tiara. Tapi setelah Mona menjelaskan situasi Tiara yang di butuhkan oleh keluarganya. Dan juga Tiara berjanji akan mengunjunginya setelah urusan dengan keluarganya selesai. Akhirnya Rendra mau menerimanya. Dan ia tidak menanyakan lagi tentang Tiara."
"Tiara meninggalkan catatan alasan ia keluar padaku, seperti yang aku katakan tadi. Tapi jika tidak ada suster yang menghubunginya. Berarti ada konspirasi di balik kecelakaan ini. Apalagi aku melihat sendiri taksi itu melaju ke arah Tiara. Bahkan ia tidak mengerem sama sekali dan kabur begitu saja."
"Sial..., Aku pasti akan menghukum orang yang sudah berani mencelakai Tiara" Dimas mengepalkan tangannya dan meninju tembok di sampingnya.
"Apa sebenarnya hubunganmu dengan Tiara?" Tanya Reno akhirnya memberanikan diri.
"Dia calon istriku. Jadi menjauhlah darinya, aku tak suka kau dekat dengannya."
Deg, Reno cukup terkejut dengan jawaban Dimas. Ada rasa sakit dan sesak di dada Reno saat ini. Walaupun ia sudah menduga jika Dimas mengenal Tiara dari reaksi Tiara yang melihat Dimas pada saat di pesta. Tapi ia benar-benar tak menyangka kalau Tiara adalah calon istri Dimas.
"Pantas saja kau terlihat marah dipesta waktu itu." Reno mengepalkan tangannya menahan perasaan kecewa yang bersarang di dadanya.
"Aku hanya tak suka calon istriku di sentuh atau dekat dengan pria lain."
"Cih, Aku heran, sempat-sempatnya kau cemburu di saat kondisi seperti ini" cibir Reno.
"Diamlah" Dimas kemudian menghubungi Erick menanyakan apakah ia sudah menemukan Aiko apa belum. Setelah ia mendapatkan jawaban dari Erick, wajah Dimas terlihat marah bercampur kesal. Sepertinya Erick dan anak buahnya belum juga menemukan keberadaan Aiko.
Dimas kembali menghubungi seseorang. Ia meminta orang itu untuk segera kembali dengan menggunakan penerbangan, sekarang juga. Karena ia pikir hanya orang itu satu-satunya yang bisa diandalkan untuk menangkap Aiko.
Tak lama setelahnya seorang Dokter datang menghampiri mereka.
"Tuan Dimas bisa ikut keruangan saya" pinta Dokter itu.
"Aku ikut Dim" ucap Reno.
Akhirnya mereka berdua memasuki ruangan Dokter itu.
"Tuan Dimas nona Tiara membutuhkan donor darah segera, tapi maaf kami tidak bisa melakukannya ka..."
"Apa maksud anda Dokter? Bukankah kita memiliki Bank darah. Dan juga stok darah masih lengkap dengan berbagai jenis golongan darah Rh+ maupun Rh-" Dimas sebelumnya mendapatkan info ketersediaan darah yang komplit pada saat sebelum Tiara tranfusi.
"Bukan itu masalahnya Tuan, tapi...."
__ADS_1
TBC.