UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Mengumpulkan informasi.


__ADS_3

Dimas menyuruh anak buahnya yang juga bekerja di tempat yang sama dengannya untuk mencari informasi. Anak buah Dimas di tempatkan di bartender karena keahliannya meracik minuman.


Dimas dan anak buahnya saat ini sudah pulang ke hotel tempat ia menginap. Dan mereka berempat sedang melakukan pertukaran informasi yang mereka dapatkan.


"Maaf Tuan menurut informasi yang saya dapatkan, para investor itu akan di tempatkan di lantai 7 ruangan khusus VVIP. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki akses kesana. Dan tentunya pelayan yang kesana adalah pelayan kepercayaan mereka. Akan sulit bagi kita untuk bisa kesana."


"Aku akan cari cara, kau jangan khawatir. Tolong kau cari tau siapa pelayan yang biasa di tempatkan di lantai 7."


"Baik Tuan."


"Dan Kalian berdua, bagaimana? apa kalian sudah mendapatkan informasi penting?" tanya Dimas kepada kedua orang yang ditempatkan di gudang senjata.


"Kemarin ada peti kemas yang datang Bos. Tapi kami tidak tau isinya apa. Kami hanya ditugaskan mengangkat peti itu masuk kedalam gudang. Besok, saya akan coba cari tahu apa isi peti itu. Kemarin kami tidak memiliki kesempatan untuk mengecek barang karena mereka menjaganya dengan ketat. Mudah-mudahan hari ini penjagaannya longgar jadi kami bisa mengecek peti kemas itu."


"Bagus, dan kalau bisa coba kalian dekati orang yang di percaya di gudang tempat kalian bekerja. Bersahabatlah dengannya agar kalian mudah menggali informasi lebih lanjut."


"Baik Bos."


"Sekarang pergilah bekerja, dan mulai besok kalian akan aku pindahkan di kontrakan biasa. Aku tidak ingin jika ada orang ditempat kalian bekerja mengetahui kalian tinggal di hotel mewah. Kita harus berhati-hati mulai sekarang, saya juga akan mencari kontrakan biasa sama seperti kalian" ujar Dimas.


Akhirnya Hari dan Bobi yang merupakan anak buah Tedi pergi meninggalkan kamar hotel itu, untuk berangkat bekerja. Sementara Dimas yang memulai pekerjaannya sore hari, memutuskan untuk berjalan keluar mencari kontrakan.


Dimas akhirnya menemukan sebuah kontrakan Apartemen sederhana letaknya di daerah padat pemukiman, dimana tempat orang kelas menengah kebawah tinggal. Bangunan 4 lantai dan tidak ada lift di dalamnya. Mereka harus naik turun tangga untuk menuju ketempat tinggalnya. Semakin keatas harga sewa yang ditetapkan semakin murah.


Sekalipun wilayah itu padat pemukiman tapi tempat yang disewa Dimas terlihat bersih. Dimas mendapatkan sewa dilantai 2. Sedangkan kedua anak buahnya ia sewakan di lantai 3. setiap lantai terdapat 10 ruangan/penyewa.


Dimas menyewa sebuah sepeda lipat untuk berkeliling di sekitaran tempatnya berada. Ia menuju ke sebuah Taman tak jauh dari tempatnya tinggal saat ini.


Sebuah Taman yang cukup asik di gunakan orang Jepang sebagai tempat bersantai, jalan-jalan dan bersepeda.


Dimas menaruh sepedanya dan duduk di sebuah kursi taman. Ia memperhatikan ada seorang gadis kecil yang sepertinya sembunyi dari kejaran beberapa pria yang berseragam hitam. Mereka terlihat seperti seorang pengawal.

__ADS_1


Dimas memberi kode agar wanita itu menundukkan kepalanya ketika Pengawal itu hampir mendekati gadis itu.


Dimas memanggil salah satu dari mereka.


"Apa anda mencari seorang gadis berpakaian hitam?" tanya Dimas. Gadis yang mengintip Dimas berbicara dengan pengawalnya memelototkan matanya, ia berpikir Dimas akan memberitahu persembunyiannya.


"Ya, apa anda tahu ia lari ke arah mana?" tanya salah satu dari mereka.


"Dia lari ke arah Utara sana, dan sepertinya tadi ada mobil yang menjemputnya" Dimas menunjuk ke arah jalan raya.


"Terimakasih" ia lalu segera pergi dari tempat itu bersama dengan yang lainnya. Dan terlihat pengawal itu mengambil handphone miliknya dan menghubungi seseorang. Gadis yang mengintip itu mengurut dadanya dan tersenyum lega.


Gadis yang kita-kira berusia 15 tahun itu keluar dari persembunyiannya. Ia menuju kearah Dimas sambil tersenyum.


"Terimakasih Paman" Ia membungkuk hormat di depan Dimas.


"Kau membolos" tanya Dimas memperhatikan seragam sekolah yang dikenakan gadis itu.


"Siapa mereka tadi?" tanya Dimas berdiri dari duduknya.


"Mereka orang jahat Paman, terimakasih sudah membantuku" setelah selesai berbicara gadis itu berusaha kabur dari hadapan Dimas. Ia merasa tidak suka karena Dimas terlalu banyak bertanya.


"Mau kemana?" Dimas menahan laju gadis itu dengan mencengkram kerah baju bagian belakang gadis itu.


"Paman lepaskan, atau aku akan berteriak" ancam gadis itu.


"Silahkan, dan begitu kau berteriak orang-orang itu akan kembali kesini dan menangkapmu!" Dimas mengancam balik gadis itu, dan menarik gadis itu untuk duduk di sebelahnya.


"Paman tolonglah jangan seperti ini, mereka itu benaran orang jahat Paman. Ijinkan aku pergi dari sini ya paman sebelum orang itu kembali."


"Kau ini hobi sekali ya berbohong, siapa mereka? Apa pengawal yang dikirim orangtuamu?" tanya Dimas.

__ADS_1


"Bagaimana om tahu?" gadis itu menutup mulutnya menyadari kebodohannya.


"Iya-iya dia adalah pengawal yang bertugas melindungiku. Hari ini aku bolos, karena teman-teman menjauhiku. Mereka takut berteman denganku karena latar belakang keluargaku." ucap gadis itu tertunduk lesu.


"Kau tidak perduli apa kata orang, seharusnya kau belajar yang rajin dan tunjukkan prestasimu sama mereka."


"Tapi aku ingin merasakan hidup sebagai orang biasa paman. Aku ingin bisa jalan-jalan sama teman, ingin merasakan naik kereta bawah tanah, naik bis bersama kerumunan orang-orang. Kenapa aku harus lahir di keluarga kaya, dan kenapa Ayah bergabung dengan Yakuza." keluh gadis itu. Mata Dimas langsung berbinar ketika mengetahui Ayah gadis ini seorang Yakuza. Dan pastinya ia memiliki jabatan tinggi karena anaknya saja dijaga oleh pengawal."


" Memangnya Siapa nama Ayahmu?"


"Kenapa paman ingin tahu?"


"Ya, siapa tahu saja saya mengenalnya."


"Kalau begitu aku tidak akan memberitahu Anda. Bagaimana jika anda mengenalnya dan mengadukan keluhanku pada Ayah. Ayahku pasti akan memarahiku, dan wanita penyihir itu akan menertawaiku!"


"Aku tidak akan mengadukannya, aku hanya ingin tahu saja. Terus Wanita penyihir, siapa dia? memangnya masih ada penyihir di jaman ini, kau itu kebanyakan menonton drama." Dimas memancing percakapan. Ia tahu anak remaja seusia ini mereka akan lebih terbuka berbicara jika di pancing pembicaraan.


"Dia ibu tiriku."


"Oh, pantas saja kalau ia galak padamu. aku juga jika memiliki anak tiri tukang bolos sepertimu akan memarahiku setiap hari.


"Paman, kenapa kau jadi membelanya?"


"Memangnya kenapa aku harus membelamu, aku tidak mengenalmu sama sekali. Dan sepertinya ayahmu juga tidak memiliki jabatan penting di Yakuza. Paling-paling di hanya level rendahan saja" ejek Dimas dengan sengaja.


'Paman jangan sembarangan ya. Ayah saya Katsuro Dasuki. Salah satu pemimpin klan dan orang kepercayaan di organisasinya. Ayah saya juga membawahi banyak perusahaan" ucapnya bangga sambil berdiri dan berkacak pinggang.


Dimas tersenyum karena anak ini telah terpancing pembicaraannya. Entah ini kebetulan atau keberuntungan ia menemukan jalan lain menuju tujuannya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2