
Andini melangkah masuk ke dalam ruang rawat inap Tiara tanpa mengetuk pintu. Entah dia lupa atau terlalu gugup ingin menghindari Aryo, jadi ia melupakan satu hal itu.
Ceklek...
"Tia..." ucapan Andini terhenti melihat pemandangan di depannya.
"Mas..., lepas. Andini datang tuh" protes Tiara berusaha melepaskan pelukan Dimas. Tapi Dimas malah mengeratkan pelukannya.
Dimas mengangkat kepalanya menatap Andini kesal.
"Pengganggu" umpat Dimas kesal tapi tak melepaskan pelukannya.
Saat Andini memasuki ruangan itu, Dimas dalam posisi duduk memeluk Tiara dari belakang. Ia sedang mencium tengkuk Tiara, tapi kegiatannya terhenti karena teguran Tiara.
"Ma-maaf" cicit Andini menyesali perbuatannya.
"Mau apa kau kesini?" tanya Dimas ketus.
"Bukannya Kak Dimas ya yang nyuruh aku kesini" Andini mengerucutkan bibirnya.
"Lain kali kalau masuk ketuk pintu dulu."
"Iya-iya Maaf."
Tak lama terdengar langkah kaki Aryo memasuki ruangan.
"Apa kabar" tanya Aryo dingin. Pandangan Aryo menatap sekilas tangan Dimas, yang masih melingkar di perut Tiara.
"Ba-baik Tuan. Tuan sendiri bagaimana kabarnya" ucap Tiara.
"Baik."
"Tuan terimakasih ya buat yang kemarin-kemarin, udah banyak nolongin Tiara."
"Itu sudah Tugasku."
Aryo menjawab pertanyaan Tiara dengan sepatah dua patah kata. Ia terlihat dingin dan cuek terhadap sekitarnya. Padahal Aryo saat ini sedang berusaha menetralkan hatinya. Karena dekat dengan Tiara, tidak baik untuk jantungnya.
Belum lagi tatapan menyebalkan Dimas. Dimas sengaja tidak melepaskan pelukannya dari Tiara. Ia bahkan sesekali mencium rambut Tiara. Seolah-olah ia ingin memberitahu Tiara adalah miliknya.
Kelakuan Dimas sangat menyebalkan menurut Tiara. Ia malu dengan perlakuan Dimas, saat ini. Padahal ia sudah meminta Dimas untuk melepaskan pelukannya, tapi Dimas mengabaikan permintaannya.
"Aryo, gimana kabar Erick. Apa dia sudah pulang dan bagaimana kondisi Kakinya saat ini?"
__ADS_1
"Erick baik, Dia sudah pulang dua hari yang lalu. Dan untuk kondisi kakinya sudah pulih, hanya saja ia belum bisa berjalan jauh."
"Setelah pulang dari sini tolong kamu kembali ke kantor. Selesaikan masalah proyek kita, data-datanya ada pada Yessi kamu bisa meminta padanya. Dan katakan pada Yessi, besok aku akan kembali bekerja di kantor. Ia sudah bisa menjadwalkan kembali pertemuanku dengan mitra kerja."
"Baik, Tuan."
Dimas mengeratkan pelukannya, sebab sedari tadi Tiara terus bergerak tak nyaman, Ia bahkan mencium rambut Tiara.
Andini hanya melongo menatap kelakuan Dimas. Sebab sepengetahuannya Dimas dulu tidak pernah berbuat seperti itu pada pacar sebelumnya. Dimas tidak pernah mengumbar kemesraan di depan orang lain, tapi walau begitu perhatian Dimas begitu besar pada kekasih sebelumnya.
Sedangkan Aryo terlihat tidak terganggu dengan kelakuan bosnya. Dia paham betul dengan bosnya yang satu ini. Ini seperti peringatan buat Aryo bahwa tidak ada kesempatan baginya
"Mas udah dong lepas, Tiara malu" ucap Tiara lirih.
"Nggak apa sayang, mereka maklum kok."
"Mas" Tiara menatap cemberut Dimas. Dan akhirnya Dimas melepaskan pelukannya.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, dan tak lama terlihat Dokter Leo memasuki ruangan itu.
"Dari hasil lab dan juga Rontgen sudah tidak ada masalah, Tiara boleh pulang hari ini. Dan untuk obat yang harus diminum dan jadwal kontrol nanti diantar Suster kemari" Ucap Dokter Leo.
"Terimakasih kembali Tiara. Jaga kondisi biar cepat sembuh. Ingat jadwal kontrol ya. Jika tidak ada yang ditanyakan saya permisi dulu, mau memeriksa pasien lainnya."
"Untuk jadwal kontrol Tiara, suruh saja Dokter ke rumah" ucap Dimas datar.
"Baik, akan saya sampaikan ke Dokter yang menanganinya nanti.
Setelah itu Dokter Leo pamit undur diri, sedangkan Andini mulai merapikan barang-barang di kamar Tiara. Aryo membawa barang-barang itu ke dalam mobil.
Saat ini Aryo, Andini, Tiara dan Dimas duduk di dalam mobil.
"Mas ini kan bukan jalan menuju apartemen."
"Kita nggak akan tinggal di apartemen sayang. Kita akan pulang ke rumah kita. Biar ada yang jaga kamu nanti saat mas kerja. Di rumah banyak asisten rumah tangga yang bisa nemenin kamu. Jadi mas bisa kerja dengan tenang."
"Tapi Masku, kita kan belum nikah. memang nggak apa Tiara tinggal disana. Gimana dengan orang tua Mas."
"Di rumah itu biasanya Yang tinggal cuma Mas sama Papa. Tapi saat ini Papa lagi di luar negeri. Sekalipun Papa nanti pulang kamu nggak usah khawatir. Papa berbeda dengan Kakek, dia orangnya welcome sama siapa aja."
"Ibunya Mas gimana?"
__ADS_1
"Mama sudah cerai sama Papa waktu aku masih kecil. Dan mulai saat itu aku tidak pernah melihatnya lagi."
"Maaf, mas"
"Nggak apa sayang."
Mobil memasuki kompleks perumahan mewah, akses masuk perumahan itu dijaga ketat oleh beberapa satpam. Tiara menatap kagum jejeran rumah kelas atas itu.
Sampai didepan pintu utama, Dimas mengendong Tiara masuk kedalam kamar. Dimas memilih lantai dasar sebagai kamar mereka agar memudahkan Tiara.
Beberapa pelayan menyambut kedatangan mereka berdua.
Sementara Aryo dan Andini mereka pamit undur diri. Dimas kembali meminta Aryo untuk mengantar Andini.
"Rumahnya besar banget ya mas, emang nggak apa ya mas Tiara tinggal disini?"
"Nggak apa sayang, ini nanti akan jadi rumah kita. Kalau kamu nggak nyaman kita bisa pindah ke rumah lain. Mas masih ada rumah yang mas beli dari hasil keringat mas sendiri, hanya saja rumah itu masih proses Renovasi."
"Kamar Mas yang mana?"
"Kamar Mas ada di lantai 2. Tapi sekarang kamar mas disini, sama kamu."
"Mas tidur dikamar Mas sendiri aja deh Mas, kita kan belum nikah Mas, malu sama pelayan."
"Sebentar lagi juga kita nikah sayang. Mas akan suruh Aryo ngurus surat-surat besok. Kita akad nikah dulu aja yang, untuk pestanya menyusul. Soalnya kerjaan Mas menumpuk selama kamu di rumah sakit. Mas janji setelah 3 bulan akad nikah kita rayain pernikahan kita, gimana?"
"Tiara terserah Masku aja. Oh ya Mas baju-baju dan barang-barang Tiara di apartemen gimana?"
"Disini mas sudah minta kepala pelayan siapin baju dan keperluanmu, jadi nggak usah khawatir."
"Bukan begitu mas, Di Lemari ada barang penting peninggalan orang tua Tiara. Tiara nggak mau kehilangan itu."
"Ya sudah, nanti Mas minta Aryo buat ambil barang pentingmu itu."
"Hari ini ya mas, barangnya di ambil. Bajunya nggak apa ditinggal. Tapi ada kotak hitam peninggalan Ayah, tolong itu dibawa kesini ya mas" pinta Tiara dengan puppy eyes nya.
"Iya sayang jangan khawatir, sekarang juga mas telpon Aryo buat ambil barang yang kamu mau. Sepenting apa sih barang-barang itu, kamu kelihatan khawatir banget."
"Kotak itu..."
TBC
Mohon maaf untuk typo yang bertebaran. Terimakasih sudah mampir dan membaca. Jangan lupa Like, vote dan komentarnya terimakasih 🙏
__ADS_1