UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Perubahan Sikap Dewi.


__ADS_3

"Siapa bilang tidak ada yang menyayangimu. Angga menyayangimu dan aku juga sangat-sangat menyayangimu" ucap Anton lembut sembari memeluk Dewi. Dewi semakin menangis keras, mendengar ucapan Anton. Ia membalas pelukan Anton.


"Kau bisa dengarkan Angga menangis karena kau menangis. Sekarang hentikan tangisanmu kita temui Angga, kau mau kan?" ucap Anton lembut. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan Dewi sampai gadis itu berubah seperti saat ini. Tapi ia akan segera mencaritahu.


Dewi langsung menghentikan tangisannya, dan melepaskan pelukannya. Sebelumnya ia tidak mendengar tangisan Angga karena ia sibuk dengan kemarahannya.


"A-Angga menangis, bisakah kau bawa aku kesana sekarang" pinta Dewi. Ia sudah menghentikan tangisannya dan bersikap tenang.


"Baiklah kita kesana sekarang, tapi kau harus berjanji padaku akan menuruti perkataanku. Kalau tidak aku akan mengambil Angga darimu" ucap Anton. Ia hanya ingin berjaga-jaga kalau-kalau Dewi kembali susah di kendalikan.


Dewi mengangguk menatap Anton yang ada tepat dihadapannya.


Cup,


"Anak pintar" Anton mengecup kening Dewi dan mengusap lembut rambutnya.


"Ayo" ajak Anton menggandeng tangan Dewi menuju keluar kamar.


Sampai dikamar Angga, terlihat dua orang pelayan wanita yang menenangkan Angga. Tapi sepertinya mereka gagal, angga masih saja menangis. Wajah mereka tiba-tiba pucat melihat Tuan mereka masuk sementara Angga makin histeris melihat Dewi. Angga mengagungkan kedua tangannya kearah Dewi, sepertinya ia meminta Dewi untuk menggendongnya.


Dewi langsung mengambil Angga dari tangan pelayan dan menggendongnya. Ia juga meminta susu botol dari pelayan satunya. Sepertinya susu itu baru di buat, karena Dewi bisa merasakan kehangatan air susu itu melalui botol yang ia pegang. Angga langsung diam dan tenang seketika berada di pelukan Dewi, membuat Anton tersenyum dan pelayan bisa bernapas lega.


"Kau beruntung Angga, sekalipun Ibumu tidak menginginkanmu tapi ada wanita lain yang sangat menyayangimu" gumam Anton lirih. Ia memilih keluar kamar untuk menelpon orang kepercayaannya.


"Tolong kerumah sekarang juga, aku ingin kau menyelidiki sesuatu" ucap Anton. Ia memilih menelpon orang kepercayaannya di bandingkan harus menelpon Dimas sebelum ia tahu permasalahan apa sebenarnya yang bisa mengubah Dewi menjadi bersikap seperti itu.

__ADS_1


"Baik, Tuan" ucapnya.


Sekitar setengah jam kemudian Orang kepercayaan Anton tiba. Mereka memilih untuk berbicara di ruang kerja Anton di lantai satu.


"Tolong kau selidiki gadis ini, apa saja yang ia kerjakan hari ini dan apa yang ia alami?" jelas Anton, ia menyodorkan handphone miliknya yang terdapat foto Dewi menggendong Angga. Foto itu ia ambil diam-diam saat mereka liburan beberapa hari yang lalu.


"Cantik, apa gadis ini pacar baru anda bos?" tanyanya sembari memperhatikan foto gadis itu.


"Kau kerjakan saja urusanmu, jangan banyak bertanya" ucap Anton acuh.


"Aku turut bahagia untukmu Bos, akhirnya anda bisa move on dari Manda. Informasi apa yang ingin anda dapatkan dari wanita ini, apa tentang masa lalunya? atau mungkin menyelidiki apakah gadis ini sudah memiliki paca apa belum?" goda Dedi orang kepercayaan Anton, mereka sudah cukup lama saling mengenal, jadi mereka sudah seperti seorang sahabat.


"Aku hanya memintamu menyelidiki apa yang ia lakukan hari ini. Sebelumnya ia liburan bersamaku dan baik-baik saja. Tiba-tiba hari ini ia datang ke rumahku dalam kondisi kacau dan depresi berat. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya? Aku juga tidak berani bertanya karena takut akan membuatnya semakin terluka" jelas Anton sembari melipat kedua tangannya di depan dada dan bersandar pada kursi kerjanya.


"Berarti ia ada disini? apa aku bisa melihatnya?" tanya Dedi penasaran.


Tolonglah Bos, aku hanya penasaran saja. Lagipula ini juga akan berguna untuk penyelidikanku nanti" ucap Dedi memohon.


"Baiklah, tapi hanya melihatnya dan tetap jaga jarak. Awas kau sampai bicara macam-macam dengannya!!" ancam Anton. Ia tahu seberapa kepo nya sahabat sekaligus orang kepercayaan ini.


"Setuju" ucap Dedi, ia berdiri mengajak Anton untuk segera menemui Dewi.


Kedua orang pria itu memperhatikan Dewi dari luar pintu. Angga yang terbangun tidak ingin tidur lagi, terpaksa Dewi mengajaknya bercanda. Dewi mendudukkan Angga di atas Karpet tebal dan empuk. Ia mengajari Angga bernyanyi sembari bertepuk tangan.


Walaupun bocah kecil itu belum bisa berbicara lancar, tapi ia terlihat senang. Dedi terbengong menatapnya kagum dari luar, ia merasa takjub melihat bagaimana Dewi memperlakukan Angga.

__ADS_1


"Jangan melihatnya seperti itu!!" ucap Anton sembari menutup mata sahabatnya itu, ia tak senang cari Dedi menatap Dewi.


"Tenang saja aku tidak akan merebutnya darimu Tuan! Lagipula ia pasti akan memilihmu dibandingkan diriku, bagaimana bisa aku mengalahkan level ketampananmu itu?" ucap Dedi.


Dewi yang bermain dengan Angga, merasa seperti ada yang memperhatikannya. Hingga akhirnya ia menatap ke depan pintu melihat Angga dengan pria asing. Dengan secepat kilat ia menggendong Angga dan mendekapnya erat, ia seperti merasakan ancaman dengan kehadiran orang yang tidak ia kenal.


"Si-siapa kamu, untuk apa kau kemari, pergi!!!" usir Dewi marah.


"Dewi! ini sahabatku Dedi, ia kemari karena aku ingin mengenalkanmu padanya" jelas Anton sembari mendekat. Dewi terlihat sekali sedang bersikap waspada dengan kehadiran kedua orang itu.


"Ka-kalian tidak akan mengambil Angga dariku bukan?" tanya Dewi menatap Anton dengan puppy eyes.


"Tidak aku tidak akan mengambil Angga, jadi kau tidak perlu khawatir" ucap Anton membuat Dewi tenang. Tapi walaupun begitu Dewi tidak ingin mereka mendekat, ia mengusir kedua pria yang baru saja memasuki kamar Angga. Ia lalu menutup dan mengunci kamar Angga dari dalam. Anton membiarkan saja sikap Dewi, toh ia memiliki kunci duplikat nya.


"Sikapnya terlihat aneh dan: janggal, sepertinya gadis itu memerlukan seorang psikiatris. Kau yakin putramu akan aman bersamanya?" tanya Dedi khawatir, kekagumannya memudar melihat sikap Dewi yang tiba-tiba ketakutan jika ia dekati.


"Jangan khawatir Angga aman bersamanya. Aku tahu seberapa besar Dewi mencintai Angga" ujar Anton penuh percaya diri


"Terserah kau saja, sudah malam aku pamit dulu" ujar Dedi meninggalkan Anton.


Anton menatap pintu yang ada di depannya saat ini. Ia bertanya-tanya hal apa yang membuat Dewi berubah drastis.


huffttt, Anton mengembuskan nafasnya kasar dan kembali ke ruang kerjanya. Masih ada beberapa berkas yang harus ia selesaikan hari ini. Sepertinya ia harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kesibukannya satu hari ini karena mengurus Dewi membuatnya melupakan tugas kantornya. Ia bahkan menyuruh sang asisten menghadiri rapat yang harusnya ia hadiri.


Baru satu jam Anton memulai tugasnya, pikirannya sudah tidak bisa berkonsentrasi. Akhirnya ia memilih menutup berkasnya dan menaruh pulpennya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2