
Tiara yang sedang menghubungi Reno melalui video call, merasa gerah dengan tingkah laku suaminya yang selalu saja mengganggunya. Mencium pipinya, ceruk lehernya bahkan tangannya Dimas yang diam-diam menelusup masuk ke dalam bajunya.
Reno yang sedari tadi melihat kelakuan Dimas dari video call hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah gila Dimas.
"Rendra mana Kak? Tiara kangen banget sama bocah itu" tanya Tiara.
"Belum pulang sekolah, dia ada les hari ini jadi pulangnya agak siangan" jawab Reno.
"Jadi kapan Kak Reno tentuin tanggal pernikahannya?" tanya Tiara lagi.
"Segera, tapi kau mau kan ikut denganku ke rumah Mona, karena ia tak mau menentukan tanggal pernikahan kalau kau tak menghadiri akad nikah kami" ucap Reno berharap.
"Tidak boleh" ucap Dimas kembali mencium ceruk leher Tiara. Sedangkan Reno lemas mendengar jawaban pria arogan satu itu.
"Mas" Tiara melotot tajam pada suaminya, Dimas pura-pura tidak tahu dengan memalingkan wajahnya.
"Bisa kok Kak Reno, kapan kita main ke rumah Mona?" tanya Tiara membuat Reno kembali bersemangat.
"Nanti sore gimana?" jawab Reno.
"Tidak bisa" sahut Dimas lagi.
"Mas" Tiara mencubit gemas perut suaminya.
"Sore kan kamu kontrol sayang" ucap Dimas beralasan sambil menyengir merasakan sakitnya cubitan Tiara.
"Oh iya, ya! Maaf " ucap Tiara sembari mengelus pipi Dimas.
"Tentu sayang" Dimas yang gemas mengecup bibir Tiara singkat.
"Kalian berdua ini ya benar-benar pasangan nggak ada akhlak, bisa-bisanya kalian bermesraan di depanku" kesal Reno.
"Mangkannya cepat nikah" ejek Dimas.
"Ya sebab itu, Tiara biar ikut denganku ke rumah Mona agar aku bisa menghilangkan status Duda keren yang bersemat dalam diriku" ucap Reno sedikit kesal dengan Dimas yang terus mengejeknya.
"Duda keren kok jomblo sampai 6 tahun. Yang bener tuh Duda karatan, jangan-jangan tongkat saktimu itu ikut karatan lagi! Kasihan sekali nasib Mona" ucap Dimas masih saja mengejek.
"Suami kamu ngeselin banget ya Tiara, pasti berat hidup dengan suami seperti itu. Kalau kamu ada rencana mau museum kan suamimu aku dengan senang hati akan membantumu" ucap Reno kesal.
__ADS_1
"Hai Duda karatan, kalau ngomong jangan asal ya. Gini-gini limited edition tau, ya kan Yang" ucap Dimas mencari dukungan.
"Mas, diam! Kalian berdua ini ya umur udah tua kelakuan kayak anak Tk" kesal Tiara.
"Gini aja Kak, Kakak duluan aja ke tempat Mona. Selesai Tiara cek kandungan Tiara bakal susul kesana" ucap Tiara lagi mencari jalan keluar.
"Oke deh, aku tunggu ya. Jangan sampai nggak datang lho" sahut Reno.
"Rendra ajak tempat Mona ya Kak, dan tolong jangan bilang ke mereka kalau Tiara bakalan datang" ucap Tiara terlihat senang. Mengingat Rendra membuatnya bersemangat.
"Tentu" ucap Reno. Tiara yang masih ingin mengobrol tiba-tiba saja sambungan telponnya di sudahi oleh Dimas.
"Ya Allah, mas Tiara belum selesai ngomong" protes Tiara.
"Kalau ngomong sama Duda karatan jangan lama-lama entar timbilan" ucap Dimas asal membuat Tiara makin kesal.
"Tau ah, Tiara kesel sama Mas" Tiara meninggalkan Dimas sendiri di ruangan itu ia berjalan menuju kamarnya.
"Sayang tunggu!" ucap Dimas mengejar Tiara.
Brakk!!
Tok tok tok
"Yang, buka dong pintunya!" teriak Dimas sembari mengetuk pintu
Tok tok tok
"Sayangkuuuuu, yuuuhuuuu. Bukain Abang sayang pintu dong" Dimas masih saja betah mengetuk pintu sambil merayu Tiara.
"Tiara ngantuk mau tidur, mas jangan ganggu" ucap Tiara. Sebenarnya Tiara tidak benar-benar marah dengan Dimas. Ia hanya gerah dengan tingkah suaminya yang selalu menempel padanya.
"Sayang mas juga mau ikutan bobo" sahut Dimas dengan nada manjanya.
"Mas tidur di kamar sebelah aja, Tiara mau tidur sendiri. Mas jangan ganggu, kalau nggak nanti malam Masku tidur di luar dan nggak dapat jatah!!" ancam Tiara. Mendapatkan ancaman seperti itu dari Tiara, nyali Dimas menciut. Ia tak lagi mengetuk pintu kamarnya.
Ya, semenjak kasus penculikan itu Dimas tidak pernah memberi kebebasan Tiara, ia tidak boleh jauh dari pandangan Dimas dan kemana-mana harus ditemani oleh suaminya. Belum lagi tingkah mesum suaminya yang tidak tau tempat dan waktu membuat Tiara lelah mengahadapi tingkah posesif suaminya.
"Ah, akhirnya aku bisa bernafas dengan lega" Tiara menidurkan dirinya di kasur dan merenggangkan ototnya. Suara Dimas yang merengek sembari mengetuk pintu tak lagi terdengar di telinganya.
__ADS_1
Dua jam sudah Tiara tertidur, ia merasa tubuhnya kembali fit. Ia mencuci mukanya sebelum keluar dari kamarnya.
"Aduh" ucap Dimas terjatuh ketika Tiara membuka pintu. Rupanya suaminya itu tidur di depan pintu dengan posisi duduk dan menyenderkan tubuhnya di daun pintu.
"Astaghfirullah Mas, kok tidur disini sih" ucap Tiara terkejut.
"Habis kamu nggak ijinin aku masuk" protes Dimas sembari mengusap muka bantalnya. Jika Tiara tertidur selama dua jam Dimas baru memulai tidurnya setengah jam yang lalu. Ia memilih duduk menyenderkan tubuhnya dan menjaga pintu sembari bermain handphone hingga tanpa ia sadari ia pun tertidur.
"Mas kalau ngantuk tidur aja lagi di dalam" ucap Tiara iba melihat mata suaminya yang masih memerah. Ya semalam suaminya begadang karena minta jatah, belum lagi ia bangun di pagi hari menyiapkan sarapan untuk istrinya.
"Temenin ya Yang, mas sekarang nggak bisa tidur nyenyak kalau nggak ada kamu disamping Mas" ucap Dimas. Peristiwa penculikan itu meninggalkan trauma tersendiri buat Dimas. Ia akan merasa tidak tenang dan terganggu jika tidak melihat istrinya di dekatnya.
"Ya sudah ayo" akhirnya Tiara mengalah menatap wajah lelah suaminya.
Tiara duduk di atas ranjang dengan menyenderkan kepalanya pada kepala ranjang. Sementara Dimas memilih tidur disamping Tiara dengan menempelkan tubuhnya. Ia memeluk paha Tiara posesif.
Tiara memilih membaca novel online untuk menemani tidur suaminya. Ia bisa melihat wajah damai suaminya dalam tidurnya. Sesekali Tiara mengelus sayang rambut Dimas. Ia beruntung memiliki suami yang sangat menyayanginya walaupun terkadang tingkahnya menyebalkan.
Dimas dan Tiara saat ini sedang berada di rumah sakit. Ia tidak perlu mengantri untuk periksa karena rumah sakit itu milik keluarganya.
"Bayinya sehat Bu, perkembangannya bagus, bobotnya juga sesuai, dan ini kelaminnya sesuai dengan apa yang ibu Tiara katakan bayinya perempuan cantik seperti ibunya" ucap Dokter itu memperlihatkan gambar di layar.
Dimas terpaku menatap gambar dilayar, apalagi saat Dokter memperdengarkan detak jantung bayinya. Tanpa sadar Dimas meneteskan air matanya terharu, Secepat air matanya menetes secepat itu ia menghapusnya ia tidak ingin di anggap sebagai lelaki cengeng.
"Dua Minggu lagi ibu bisa kontrol kesini atau selambat-lambatnya satu bulan lagi. Ini resep vitaminnya, tolong diminum sesuai aturan ya Bu, agar bayinya sehat" Dokter wanita itu menyerahkan resep pada Dimas, akhirnya mereka berdua pamit undur diri.
Saat selesai menebus obat tak sengaja Dimas dan Tiara berpapasan dengan Anton sepupunya.
"Dimas, Tiara apa kabar?" sapa Anton tersenyum. Dimas cukup terkejut bertemu dengan sepupunya yang sudah lama tidak pernah ia temui. Terakhir bertemu Anton adalah saat Dimas menyerahkan Manda padanya.
"Baik, sedang apa kau disini" tanya Dimas. Ia bisa melihat wajah lelah Anton dan lingkaran hitam di sekitaran matanya.
"Anakku sakit, ia sedang dirawat saat ini" ucap Anton.
"Manda sudah melahirkan?" tanya Dimas.
"Sudah, satu bulan yang lalu. Oh ya Dim, saya duluan ya kasihan bayiku tidak ada yang menemani. Tadi aku menitipkannya pada suster" ucap Anton terlihat terburu-buru.
"Tunggu, aku ikut!!" ucap Dimas dan Tiara bersamaan. Mereka ingin melihat bayi malang itu, apalagi saat Anton mengatakan bayinya sendirian makin membuat Dimas bertanya-tanya dimana keberadaan Manda sampai ia mengabaikan anaknya.
__ADS_1
TBC.