
Susi yang seharusnya kemarin menemui Bagas tiba-tiba gagal, karena mendapatkan telpon dari teman sosialitanya yang ingin mengajak shopping barang-barang branded edisi terbatas.
Shopping adalah kesenangan tanpa batas untuk mencapai kepuasannya. Apalagi semenjak pundi-pundi rupiah selalu mengalir ke rekeningnya tanpa ia harus bekerja susah payah.
Susi melajukan mobil mewahnya. Mobil keluaran terbaru yang baru saja ia beli. Ia menuju ke alamat rumah Bagas yang baru. Ia cukup terkejut karena alamat yang di berikan kakaknya merupakan pemukiman rumah warga kalangan menengah kebawah. Belum lagi akses jalan yang buruk karena aspal yang hancur dan terdapat banyak lubang.
Untungnya mobil yang ia kendarai adalah jenis mobil mewah yang nyaman, jadi ia tak tersiksa melewati jalan berlubang itu. Ia menghentikan mobilnya di depan warung karena sedari tadi hanya berputar-putar di tempat itu, tanpa menemukan keberadaan nomor rumah yang sesuai.
Susi yang berusaha menghubungi nomor Bagas tapi tak kunjung mendapatkan jawaban akhirnya turun dari mobilnya. Ia berniat menanyakan dimana letak alamat rumah Bagas.
"Permisi Bu, Maaf saya mau tanya alamat ini ada dimana ya bu?"
"Oh Alamat ini masuk gang nyonya, setelah Satu rumah sebelah kanan warung saya ini masuk ke selatan, rumah paling pojok. Mobilnya taruh sini saja Nyonya, karena sulit untuk parkir di depan gang itu. Jalannya agak menikung sering terjadi kecelakaan disitu."
"Oh begitu ya Bu, terimakasih kalau begitu. Ini saya ada sekedar buat Ibu, tolong jaga mobil saya ya Bu. Jangan sampai ada orang yang pegang-pegang mobil saya. Takutnya nanti kotor dan lecet, maklum mobil mewah. Saya permisi ya Bu, titip mobilnya. Ingat pesan saya Bu ya!" Susi menyodorkan selembar uang merah pad Ibu itu, sebelum ia berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
Ibu itu sebenarnya ingin marah ketika Susi seolah-olah meremehkan mereka. Tapi kekuatan uang mampu meredakan amarahnya.
"Lumayanlah, nambah penghasilan. laris, laris, laris ..." ucap Ibu itu lirih sambil memukul-mukul uang itu ke barang dagangannya.
"Astaga, kenapa Kakak jadi tinggal di pemukiman seperti ini sih. Sudah jalannya jelek, becek, masuk gang lagi" Susi menggerutu sepanjang perjalanan. Jika ia tau perjalanannya masuk gang lumayan jauh pasti ia akan mengganti sepatu hak tingginya dengan sepatu sneaker atau sandal flat yang ada di dalam mobilnya.
Setelah perjalanan yang lumayan, akhirnya ia sampai di depan rumah sederhana yang ditinggali Kakaknya Bagas.
Baru saja Bagas membuka pintunya. Tapi adiknya sudah melayangkan protes padanya.
"Astaga Kakak tempat apa yang kau tinggali ini? Kenapa kau bisa tinggal disini? Apa usaha Kak Anggi bangkrut sampai kau harus tinggal di tempat ini."
"Kau ini baru datang sudah bikin pusing kepalaku saja dengan pertanyaanmu itu. Sudah masuk dulu, Kakak jelaskan di dalam."
"Apa Kak Anggi mengusir dan mengancam Kakak jadi Kakak terpaksa tinggal disini. Gawat, benar-benar gawat, Lalu apa yang harus kita lakukan Kak."
__ADS_1
"Aku sendiri juga pusing menghadapi kemauan Anggi. Tidak biasanya ia keras kepala seperti ini. Bagaimana pernikahan Anita, apa ia bahagia bisa mendapatkan pria idamannya? Seandainya saja aku juga bisa ikut menghadiri pernikahan putriku itu."
"Pernikahannya gagal total. Dan sekarang Putrimu tinggal di pondok pesantren. Hampir setiap jam ia selalu menelponku menangis minta pulang, membuat kepalaku mau pecah."
"Apa yang terjadi kenapa bisa seperti itu."
"Pria yang ingin dinikahi Anita. Tidak mencintai Anita ia bahkan sudah memiliki calon istri. Kakak tau pernikahan yang seharusnya jadi milik Anita. Malah jadi milik wanita lain, mereka mengganti pengantin wanitanya begitu saja. Hanya karena Keluarga Atwijaya itu berhutang budi pada Ayah mempelai pria."
Anita menceritakan semua kejadian yang terjadi pada Anita, hingga akhirnya mereka memutuskan mengirim Anita ke pondok pesantren.
"Benar-benar kurang ajar mereka, sudah merebut kebahagiaan putriku. Masih saja memasukkan putriku ke tempat yang ia tak sukai. Aku saja sebagai Ayahnya saja tak pernah memaksakan kehendakku. Awas saja aku akan buat mereka menyesal nanti. Terus mempelai wanita itu, apa kau mengenalnya."
"Aku tidak mengenalnya sama sekali, tapi jika Kakak ingin mengetahui wajahnya, Aku memiliki foto pernikahan mereka di handphone ku." Susi mengambil handphone yang ada di tasnya. Ia mencari gambar foto pernikahan Dimas di galeri handphone miliknya. Lalu menunjukkan pada Bagas.
Pada saat pernikahan Dimas dan Tiara berlangsung, Susi menyempatkan mengambil beberapa foto pernikahan Dimas dan Tiara. Agar ia bisa menunjukkan pada Kakaknya nantinya.
Bagas terkejut melihat wajah pengantin wanita. Ia bahkan sampai memperbesar gambar di handphone itu. Untuk meyakinkan penglihatannya.
"I-ini adalah Anak mereka yang asli. Dan Tuan Dimas. Bagaimana mungkin Tuan Dimas mau menikahi seorang wanita malam"
"Apa sih Kak maksudmu. Anak siapa dan siapa yang wanita malam?"
"Wanita ini adalah Tiara anak asli dari Tuan Aziz dan ia adalah wanita kampung yang tidak sengaja bertemu Anggi. Lalu Anggi menjebaknya menjadi wanita malam dan Tuan Dimas membelinya. Aku tidak menyangka ternyata wanita yang terlihat polos ini benar-benar hebat. Bisa membuat Tuan Dimas yang terkenal suka mempermainkan wanita, menikahinya."
"A-apa jadi dia adalah anak yang asli. Gawat Kak ini benar-benar gawat. Bagaimana jika kita ketahuan. Apalagi keluarga itu mengangkat Tiara ini menjadi putri angkatnya. Kemungkinan kita ketahuan akan semakin besar. Bagaimana ini kak aku tidak ingin menjadi miskin dan mendekam di penjara."
"Tenangkan dirimu Susi, jangan membuat kepalaku semakin sakit karena ocehanmu itu."
"Kakak harus cepat bertindak, pikirkan caranya agar kita bisa mendapatkan semua harta mereka. Aku tidak ingin hidup susah Kak."
"Diamlah Susi aku akan memikirkan jalan keluarnya."
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan ancaman Kak Anggi? Bagaimana Kakak akan mengatasi ini semua? Ya Tuhan semua makin rumit saja. Lakukan apapun Kak, aku tidak ingin berakhir miskin ataupun masuk jeruji besi."
"Iya-iya aku akan segera menyelesaikan semua. Sebaiknya kau pulang saja. Kau makin membuat pusing kepalaku saja."
Bagas mengusir adiknya Susi. Ia ingin merencanakan aksinya dengan tenang.
********
Aryo melangkahkan kakinya ke sebuah hotel mewah. Hotel itu sebenarnya milik dari Dimas, sehingga memudahkan Aryo mendapatkan informasi tentang keberadaan wanita yang ia ingin temui.
Setelah mendapatkan informasi dimana letak kamar orang yang ingin ia temui ia segera melangkahkan kaki menuju ke lantai yang ingin ia tuju.
Sampai di depan kamar yang di maksud ia mengetuk pintunya. Tak lama muncullah wanita yang sangat ia rindukan di depannya.
"Si..." Wanita itu mematung menatap pria dihadapannya. Sekalipun ia sudah lama tak berjumpa dengan pria di hadapannya ini. Tapi ia mengenal setiap guratan wajah yang terpatri di wajah pria itu.
"Ma..." Aryo menatap wanita itu dalam. Ia ingin memeluk wanita itu menyalurkan kerinduan pada wanita yang telah melahirkannya. Tapi wanita itu memundurkan langkah kakinya. Menghindari gapaian tangan Aryo yang ingin merengkuhnya ke dalam pelukannya.
Aryo sedikit terkejut, sehingga ia pun ikut memundurkan langkah kakinya. Ia tidak menyangka wanita yang sangat ia rindukan menolak pelukannya. Tapi ia tetap berfikir positif. Mungkin saja ada kesalahpahaman diantara mereka.
"Siapa Ma" tiba-tiba terdengar suara pria paruh baya dari sudut ruangan kamar itu.
"Orang salah masuk kamar Pa" teriak wanita itu sambil menatap Aryo dengan penuh kebencian.
"Kau tunggu aku di lobi hotel kita ketemu disana" ucap wanita itu lirih kemudian menutup pintu begitu saja di hadapan Aryo, hingga membuat Aryo tersentak terkejut.
Aryo segera melangkahkan kakinya menuju lobi hotel. Setelah menunggu sekitar setengah jam akhirnya wanita yang ia tunggu-tunggu muncul juga.
"Ma..."
TBC.
__ADS_1