UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Mencari Keberadaan Aryo.


__ADS_3

"Sayang ini Pak Adi adalah supir baru untukmu. Selama aku bekerja, Kau akan diantar olehnya jika kau ingin keluar."


"Selamat Pagi Non."


"Pagi juga Pak. Jangan panggil Non panggil Tiara aja."


"Tidak, dia tidak boleh memanggil namamu. Pak Andi bisa panggil istri saya Nyonya Dimas."


"Baik Tuan."


"Pak Adi sekarang boleh pergi dulu. Nanti jika Tiara membutuhkanmu, Akan dipanggil kembali."


"Terimakasih Tuan, Nyonya. Saya undur diri dulu." Pak Adi keluar dari ruangan itu.


"Astaga Mas, aku jadi merasa seperti Nyonya besar saja."


"Kau memang Nyonya besar disini. Apa kau lupa identitas suamimu."


"Yah tapi kan Mas, panggil nama udah cukup. Apalagi Pak Adi usianya lebih Tua dari Tiara."


Supir Tiara berusia sekitar 30 tahun ke atas.


"Apakah selama Masku bekerja aku boleh, keluar jalan-jalan?" tanya Tiara.


"Kalau kau ingin jalan-jalan, tunggu akhir pekan. Mas akan ajak kemanapun yang kau inginkan. Tapi untuk sekarang ini Kau hanya boleh keluar untuk hal mendesak saja. Atau kalau kau bosan, boleh minta antar supir ke kantor Mas. Ingat, kemanapun kau pergi harus lapor sama Mas."


"Baik Bos" sahut Tiara memberi hormat pada Dimas. Dimas mengacak rambut Tiara gemas.


"Ini kartu ATM dan Kartu kredit tanpa batas, gunakan untuk keperluanmu. Sedangkan untuk keperluan dapur dan gaji pelayan. Sudah ditangani oleh Kepala pelayan. Jadi kau cukup mengurusi keperluanmu."


"Mas Tiara pingin daftar kuliah, apa boleh."


"Boleh, tahun depan Mas daftarkan. Kalau tahun ini kamu sudah ketinggalan hampir satu semester. Jadi sebaiknya tahun depan saja sekalian.


"Terserah mas saja yang penting Tiara bisa kuliah."


"Ya sudah Mas pamit kerja dulu. Ingat jangan keluar tanpa sepengetahuan Mas" Dimas mencium kening Tiara, mata, hidung kemudian bibir Ia mengecupnya sekilas.


"Mas..., malu dilihat pelayan" protes Tiara. Pasalnya Dimas melakukannya di ruang tamu, dan masih ada beberapa pelayan di sekitar mereka.


"Abaikan saja mereka, Ya sudah mas berangkat kerja dulu. Ingat pesan Mas."


"Iya Mas, lagian Tiara juga hari ini nggak kemana-mana kok." Tiara mengantar Dimas hingga menuju mobilnya.


************


Sementara itu di rumah sakit.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi suamimu hari ini. Apa ada keluhan semalam" tanya Dokter Teo begitu memasuki ruangan.


"Semalam dia tidak bisa tidur karena terus batuk dan merasa sesak. Tapi setelah Dokter jaga memeriksa dan memberikan obat, Batuk dan sesaknya berkurang. Dan sekarang ia bisa tidur nyenyak."


"Baguslah kalau begitu. Jangan sampai lupa terus mengingatkan pasien untuk meminum obatnya." Dokter Teo kemudian memeriksa kondisi pasien.


"Kondisinya sudah lebih baik di bandingkan kemarin. Jagalah suamimu baik-baik, saya permisi dulu."


"Teo, Terimakasih banyak ya. Saya tidak tau apa yang akan terjadi pada suamiku jika kau tidak membantunya. Dan untuk masalah Anggi..."


"Kau tidak perlu memikirkan apapun. Dan untuk masalah Anggi kita bicarakan lain kali. Yang terpenting saat ini adalah kesembuhan suamimu."


"Ya kau benar kita bisa membicarakan lain waktu. Terimakasih."


" Ini, kalau kau memerlukan bantuanku kau bisa menghubungiku" Dokter Teo Menyodorkan kartu namanya pada Ana.


"Terimakasih, Dok."


"Saya permisi dulu ya An, masih ada yang harus aku selesaikan."


Ana menganggukkan kepalanya. Ia lalu menatap suaminya yang masih tertidur. Tak lama seorang suster masuk membawakan obat untuk di konsumsi suami Bik Ana.


"Ini obat Bapak ya Bu, tolong di berikan tepat waktu."


"Terimakasih suster."


"Bukan Sus, saya hanya temannya Dokter Teo."


"Ibu beruntung karena suami Ibu dirawat Dokter Teo. Dia adalah Dokter terbaik disini sebelumnya."


"Sebelumnya? Maksudnya Sus?


"Dokter Teo sudah lama berhenti dari rumah sakit ini. Dan memilih mengabdikan dirinya sebagai Dokter relawan. Beliau memilih menjadi dokter di wilayah Desa tertinggal atau dikirim ke wilayah bencana alam dan daerah konflik."


"Teo memang baik hati sejak dulu."


"Terimakasih Bu karena merawat suami Ibu disini, Dokter Teo jadi mau kembali kesini. Dokter Kepala dan kami semua tenaga medis sangat senang dengan kembalinya Dokter Teo."


"Saya yang seharusnya berterimakasih kepada semua tim tenaga medis disini karena merawat suami saya dengan baik. Terimakasih banyak ya Suster, saya akan mengingat kebaikan kalian semua."


"Ya sudah Bu, saya undur diri dulu. Jangan lupa obat untuk pasien di minum tepat waktu ya Bu."


"Ya Suster, Terimakasih"


*********


Di kantor Dimas sedang uring-uringan karena Aryo yang sudah menghilang beberapa hari ini. Bahkan handphone milik Aryo pun tidak bisa dihubungi.

__ADS_1


"Apa kau sudah mencarinya dengan benar, kenapa mencari satu orang saja kau tidak becus."


"Saya sudah memeriksa keberadaan Aryo di apartemennya dan beberapa tempat yang biasa dikunjungi Aryo. Tapi Aryo benar-benar tidak ada disana Bos."


"Bagaimana dengan Handphone nya apa masih belum bisa dihubungi juga."


"Belum bisa Bos, handphone nya sampai saat ini belum aktif juga."


"Kalau Aryo belum di temukan juga maka kau yang harus berangkat ke Kanada menggantikannya dan selesaikan masalah disana. Aku tidak ingin pergi kesana dan meninggalkan istriku sendirian disini."


Cih dasar Bucin, Batin Eric


"Apa yang sedang kau pikirkan, apa kau sedang mengumpatku sekarang" hardik Dimas.


"Ti-tidak Bos, saya sedang memikirkan kira-kira Aryo saat ini ada dimana ya Bos?"


Astaga ternyata ia bisa membaca pikiranku, batin Erick


"Mana Saya tau, itu adalah tugasmu untuk menemukannya. Dan jika dalam beberapa hari ini tidak kau temukan, maka kau yang harus pergi ke Kanada."


"Kenapa tidak Bos saja yang kesana. Bos bisa mengajak Tiara sekalian bulan madu Bos."


"Cih, kau mau membodohiku. Kau pikir sesampainya di Kanada aku bisa bersenang-senang dengan istriku. Yang ada bukannya bersenang-senang tapi bisa jadi aku malah mengabaikan istriku karena pekerjaan yang menumpuk. Dan apa tadi kau bilang Tiara, kau pikir bisa memanggil istriku seperti itu. Apa kau sudah bosan hidup."


"Iya-iya Bos Maaf."


"Panggil dia Bu Bos atau Nyonya Dimas. Jangan sok-sokan akrab dengan istriku. Apalagi dekat-dekat, awas kau."


"Iya-iya Bos maaf, saya tidak akan dekat-dekat Bu Bos."


"Sudah pergi sana cari Aryo, ajak saja beberapa Bodyguard untuk mencaritahu keberadaannya."


"Oce Bos Terimakasih, salam hsngat buat Bu Bos"


"Kau mau mati ya" Dimas melempar Erick dengan sebuah buku tebal yang ada diatas meja kerjanya.


"Ampun Bos bercanda" Erick langsung kabur dari ruangan Dimas. Membiarkan buku yang Dimas lempar tadi terjatuh dilantai. Walaupun sebelum menyentuh lantai buku itu sempat mengenai kepalanya."


"Hai kembali kau. Bawa kembali buku itu kemari."


Erick tidak mendengar perkataan Dimas karena ia sudah keburu menghilang dari balik pintu.


"Awas saja kau, akan kupotong gajimu bulan ini" gumam Dimas kesal.


TBC


Note: Buat kalian yang baca ini pasti bertanya-tanya kenapa kehidupan tokoh disini banyak yang saling berkaitan satu sama lain. Karena Author susah menghapal nama-nama tokoh. Jadi Author bikin satu sama lain berkaitan.

__ADS_1


Selamat membaca dan moga kalian suka. Jangan lupa vote, like dan komentarnya terimakasih. 🙏😘


__ADS_2