
Sampai di sekolah Nara memilih untuk menuju Kantin, ia yakin Dewi pasti saat ini sedang berada di kantin mengingat dia belum mengisi perutnya sejak semalaman.
"Nasi goreng spesial, kerupuk sama teh hangat satu Bu" ucap Nara pada ibu penjual makanan di kantin sekolah. Ia lalu duduk di depan kursi dimana Dewi yang sudah menyantap makanannya terlebih dahulu. Bahkan Nasi dipiting Dewi hanya tersisa separuh.
Dewi hanya melirik keberadaan Nara di depannya lalu ia kembali tak perduli. Nara bagaikan angin lalu buat Dewi saat ini.
"Apa kau marah padaku?" tanya Nara sedikit ragu.
Tak ada jawaban dari Dewi hingga akhirnya Nara pun ikut diam. Ia hanya tidak ingin Dewi terganggu makannya karena ulahnya.
Pesanan Nara datang dan diantar langsung ke tempat Nara. Akhirnya Nara memilih untuk menyantap hidangannya terlebih dahulu.
Tak lama datang dua orang pria idola di sekolah itu, sang ketua OSIS dan Wakilnya. Vano memilih duduk di sebelah Nara dan Ali duduk disebelah Dewi.
"Hallo Dewi, Nara gimana tawaran yang kami berikan. Kalian setujukan masuk ke dalam organisasi kami?" tanya Ali pada dua gadis yang satu meja dengannya.
"Maaf sepertinya saya nggak bisa, kita sudah kelas tiga dan saya ingin lebih fokus ke dalam mata pelajaran" tolak Nara.
"Insyaallah nggak mengganggu, karena dalam seminggu hanya ada satu kali pertemuan di hari sabtu di jam sekolah, paling lama hanya membutuhkan waktu dua jam saja" sahut Vano
Vano sebelumnya, diam-diam terus menatap Nara yang sedang menikmati makannya tanpa perduli dua pria yang ada di dekatnya. Begitu pula Dewi, ia sama sekali tidak menjaga imejnya sebagai seorang wanita yang anggun. Ia makan dengan lahapnya.
"Kalau begitu terserah Dewi saja. Kalau Dewi setuju untuk ikut maka saya juga akan ikut. Tapi jika Dewi menolak maka maaf saya juga tidak bisa" ucap Nara akhirnya.
"Bagaimana, kau setujukan?" tanya Ali pada Dewi.
"Tidak tertarik" Dewi meletakkan sendoknya setelah suapan terakhirnya. Ia menghabiskan teh hangat miliknya lalu meraih tas yang berada disampingnya.
Dewi yang sudah selesai terlebih dahulu langsung bergegas keluar dari kantin menuju ke kelasnya. Ia tak memperdulikan Nara maupun Ali yang sedang berteriak memanggil namanya.
__ADS_1
Nara terpaksa meninggalkan nasi gorengnya yang masih tersisa separoh karena bergegas mengikuti Dewi.
"Tunggu, kau ikut ya" cegah Vano menahan tangan Nara yang yang ingin mengejar Dewi.
"Tidak" ucap Nara singkat sembari melepaskan celana tangan Vano pada pergelangan tangannya. Nara berlari kecil untuk mengejar Dewi.
Sementara itu tak jauh dari tempat mereka makan sebelumnya, ada sekelompok wanita yang menatap mereka dengan kesal.
"Jangan marah padaku, Aku dan Kak Mike meminta maaf, kami sama sekali tidak bermaksud untuk menyalahkanmu, Maaf" ucap Nara sembari mensejajarkan langkah kakinya dengan Dewi.
Dewi tidak menjawab ucapan Nara, ia masih saja diam, tapi setidaknya ia tidak menolak ketika Nara mendekatinya.
"Sepertinya kita akan dihukum hari ini karena tugas kita sama-sama hancur" ucap Nara akhirnya mengalihkan pembicaraan, Dewi spontan menoleh pada Nara dan menatapnya tajam.
"Jangan menatapku seperti itu, aku tidak menyalahkanmu sama sekali. Hanya saja, aku berpikir sepertinya seru juga kalau sekali-kali jadi murid yang tidak patuh. Bukankah kau berkata padaku kalau kau ingin mengajariku agar menjadi sedikit nakal" ucap Nara penuh semangat, ia terlihat ceria dan banyak senyum di pagi hari ini.
Nara hanya ingin mencoba untuk bersikap seperti hari-hari biasanya. Ia memilih bersikap ceria untuk menghilangkan ketegangan di tengah-tengah mereka.
Bel berbunyi tanda jam sekolah di mulai. Mereka diminta untuk mengumpulkan hasil tugas prakarya sekolah, ke depan kelas.
"Tolong kumpulkan tugas prakarya sekolah kalian ke depan sekarang juga. Bagi yang tidak mengumpulkan tugas silahkan pergi ke perpustakaan. Tugas kalian merangkum tentang Pengaruh tradisi budaya tradisional dimasing-masing daerah terhadap kehidupan masyarakat modern dan perkembangan ekonomi ditengah krisis dunia. Jelaskan dan berikan contohnya, rangkum dalam 10 halaman kerjakan sampai selesai di perpustakaan sekarang juga. Kumpulkan sebelum jam istirahat, jika tidak maka nilai kalian nol."
Ruangan kelas menjadi riuh seketika, guru killer yang juga merupakan seorang dosen di salah satu universitas ternama ini tak kira-kira dalam memberikan tugas.
"Silahkan keluar dan menuju keperpustakaan sekarang juga bagi yang tidak mengumpulkan tugas, karena waktu kalian terbatas" perintah guru itu.
Ada sekitar 8 murid yang tidak mengerjakan tugas termasuk Nara dan Dewi diantaranya. Mereka segera menuju ke lantai dua tempat perpustakaan sekolah.
"Dewi, Nara" panggil seorang siswi yang juga terkena hukuman sama seperti mereka.
__ADS_1
Dewi dan Nara menghentikan langkahnya, mereka sudah sampai di lantai dua dan sedang berdiri di anak tangga terakhir. Sedangkan si pemanggil masih berada dilantai satu. Terdapat dua orang siswi yang mengikutinya di belakang.
"Ada apa?" tanya Nara membalikkan badannya.
Dewi sedang mengamati ketiga wanita yang melangkah ke arah mereka. Dewi bisa merasakan aura permusuhan dari ketiga wanita itu, berbeda dengan Nara yang polos dan sama sekali tidak merasakan apapun.
"Aku peringatkan ya kalian, jangan sok cari perhatian disekolah ini" ucap wanita yang memanggil mereka sebelumnya.
"Maksudmu?" tanya Dewi dengan nada menantang.
"Jangan sok cantik dengan cari perhatian dan kecentilan di depan Vano dan Ali. Kalian berdua pikir, mereka tertarik dengan perempuan centil dan genit seperti kalian berdua" ucap gadis itu sambil berkacak pinggang di depan Dewi maupun Nara.
Dewi menarik Nara yang ada di depannya ke samping, ia maju menghadapi tiga wanita menyebalkan di depannya.
"Situ kalau ngomong tolong dijaga jangan asal ngab aja. Yang kecentilan, genit dan sok cantik itu bukannya kalian. Sok ngatur-ngatur hidup orang. Lagipula, kami sama sekali tidak tertarik dengan pria yang kalian sebutkan itu"Ucap Dewi dengan berani. Ia sama sekali tidak takut menghadapi ketiga wanita itu.
"Kamu..."
"Apa?" tantang Dewi, memelototkan matanya.
Ketiga wanita itu terdiam. Nara menarik tangan Dewi memberi isyarat agar pergi dari sana dan tidak usah menanggapi ketiga wanita itu.
Dewi yang mengerti akhirnya berbalik dan bersiap pergi, tapi sayang ketika ia ingin melangkah tiba-tiba salah seorang dari mereka menendang kaki Dewi. Beruntung Nara menarik Dewi hingga Dewi tak jatuh dari tangga. Tidak puas karena gagal ia langsung kembali menendang Nara. Dewi yang bersiap ingin membalas orang yang menendangnya, tiba-tiba terpaku melihat Nara yang berguling-guling jatuh dari tangga. Ia bahkan tidak sempat menyelamatkan Nara karena Dewi terlalu fokus menatap wanita yang menendangnya.
"Naraaaa!!!!" teriak Dewi histeris. Ia berlari menuruni anak tangga untuk berusaha mengejar jatuhnya Nara. Tapi sayang kecepatan jatuh dan larinya Dewi tidak bisa mengejar. Hingga akhirnya Nara terjatuh dari tangga lantai dua menuju kelantai satu.
Darah mengalir deras dari kepala dan hidung Nara.
Tolong..., tolong, tolong...." Dewi berteriak histeris untuk meminta tolong. Begitu juga ketiga wanita yang ketakutan itu, mereka bersandiwara untuk meminta pertolongan.
__ADS_1
TBC.