UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Jangan Tinggalkan Kami.


__ADS_3

Anto berlari menghampiri Dewi, ia melihat Dewi memeluk seorang wanita tua, sepertinya ia melindungi wanita tua itu dari lemparan batu anak-anak.


"Dewi" panggil Anton menghampiri Dewi dan memeluknya.


"Mas!! ucap Dewi terkejut. Ia melepaskan pelukannya.


Anton menatap wanita tua yang duduk di sebelah istrinya, wanita itu seperti orang linglung yang kehilangan ingatan. Bahkan baju dan tubuh wanita itu terlihat kotor dan kumal.


"Sayang, kamu baik-baik saja kan" Anton jongkok untuk memeriksa tubuh Dewi kemudian memeluknya kembali.


"Mas Anton, Mas kok ada disini?" Dewi kembali melepaskan pelukan Anton, ia terlihat gugup dan serba salah.


"Aku mencarimu sayang. Kenapa kamu keluar nggak bilang-bilang? Aku khawatir sayang, Kamu ngapain disini?"


"A-aku nggak ngapa-ngapain kok Mas, hanya..." Dewi terlihat bingung dan berusaha menyembunyikan kegugupannya.


"hanya apa?" tanya Anton penuh selidik.


"Nggak ada apa-apa Mas" Dewi terlihat bingung ingin menjawab apa.


"Jangan berbohong! Apakah kamu pergi mencari Angga, anak kita?" tanya Anton memastikan, tapi Dewi tetap diam membisu.


"Jangan khawatir sayang, kita pasti akan menemukannya" ucap Anton, ia berusaha menenangkan istrinya, ia tau Dewi pasti sangat mengkhawatirkan keselamatan Angga.


"Siapa Ibu ini?" Anton akhirnya menanyakan wanita tua disebelah Dewi, setelah tersadar bahwa masih ada seorang wanita tua diantara mereka.


"Dewi nggak tau Mas, tadi Dewi lihat ibu ini sedang di ganggu anak-anak nakal, jadi Dewi hanya mencoba melindungi ibu ini saja" ujar Dewi kepada Anton. Dewi melepaskan diri dari pelukan Anton, dan berusaha menutupi kegugupannya.


"Mas tolong bawa Ibu ini ke rumah sakit, lihat kepalanya terluka" Dewi menyibakkan rambut wanita tua itu dan terlihat luka di kening yang hampir mengering.


"Iy...." ucapan Anton tiba-tiba terputus


"Biar saya yang bawa Ibu ini ke rumah sakit, sebaiknya Kau bawa istrimu pulang" Sela Papa Teo yang baru saja tiba, ia berjalan mendekati mereka.


"Dewi, om duluan ya," Papa Teo tidak membuang waktu lama, ia membawa wanita tua itu pergi dari situ. Meninggalkan Dewi dan Anton.


"Ayo sayang kita pulang" Anton mengajak Dewi untuk berdiri dari duduknya dan membawanya pulang.


"Nggak Mas, Dewi nggak mau pulang. Mas aja yang pulang dulu, Dewi masih mau disini!" ucap Dewi gugup.

__ADS_1


"Nggak, kita pulang dulu ya! Lihat bajumu kotor begini" Anton memperhatikan penampilan istrinya yang terlihat berantakan.


"Nggak Mas, Dewi nggak mau pulang! Sebaiknya Mas aja pergi dari sini. Orang itu nggak akan muncul kalau Mas disini, jadi tolong Mas pergi dari sini ya" ucap Dewi memohon, ia bingung harus pakai cara apa agar dapat mengusir suaminya pergi.


"Orang apa?"


"Apa maksudmu Wi?" Anton yang tak mengerti maksud istrinya bertanya dengan heran.


Dewi terlihat diam, ia ragu untuk menjawabnya. Kepalanya menoleh ke kanan, kiri, bahkan ke belakang. Seolah ia sedang mencari sesuatu, wajahnya terlihat gugup dan khawatir.


"Dewi tatap mata Mas. Apa yang kamu sembunyikan dari Mas?" tanya Anton curiga.


Dewi terlihat bingung ia kembali menoleh kanan, kiri dan belakang. Pandangan matanya mengitari setiap sudut taman.


"Dewi!!" panggilan Anton mengejutkan Dewi dan membuatnya tersentak. bahkan raut wajah Dewi sedang terlihat kacau


"Mas Dewi mohon, mas pergi ya! kali ini aja tolong turuti permintaan Dewi, demi Angga Mas, anak kita" ucap Dewi akhirnya.


"Dewi! Angga juga anak Mas, jadi kita hadapi ini sama-sama. Tolong cerita sama mas, ada apa ini sebenarnya?"


Dewi terdiam, ia menundukkan pandangannya bingung. Air mata Dewi yang tertahan sejak tadi akhirnya terjatuh mengenai punggung tangan Anton.


"O-orang yang menculik Angga, ngajak Dewi ketemuan disini Mas. Dia janji bakalan ngembalikan Angga sama Mas asal ...." kembali menundukkan pandangannya Dewi tak sanggup untuk meneruskan kata-katanya.


"Asal apa sayang!" tanya Anton penasaran. Terlihat kekhawatiran diraut wajah pria itu.


"Asal Dewi ninggalin Mas" ucap Dewi dengan suara yang melemah, ia masih saja menunduk. Ia tak sanggup menatap kedua mata suaminya itu.


"Dan kamu menyanggupinya!" ucap Anton terkejut. Perasaannya mulai bergejolak tak karuan, membuat dadanya terasa semakin sesak.


"Penculik itu janji menjamin keselamatan Angga dan mau ketemuin Dewi terakhir kali dengan Angga disini, asal Dewi meninggalkan kalian. Jadi Dewi mohon Mas tolong pergi dari sini. Gimana kalau sampai penculik itu ngelihat Mas disini dan melukai Angga, hiks.... hiks...aku mohon Mas!!" Dewi tak sanggup lagi menahan air matanya, suara tangisnya akhirnya pecah.


"Kamu tega ninggalin aku sama Angga, sayang! Bagaimana bisa kamu berpikiran seperti itu? Bagaimana kami bisa hidup tanpa kamu, sayang!!" Anton terlihat menahan emosinya, ia memilih memeluk wanita yang menangis di depannya.


Dewi pun tak sanggup berkata-kata melihat reaksi suaminya. Suami dan anaknya, dua orang yang sudah menjadi bagian penting dari hidupnya. Tapi kali ini ia merasa tidak boleh egois dan membahayakan Angga. putranya.


Ia melepaskan pelukan suaminya, memegang kedua lengan suaminya dan menatapnya tajam.


"Mas! Dewi mohon, pergilah! Penculik itu berjanji akan menjaga keselamatan Angga, asal Dewi mau bekerjasama. Ia juga berjanji mempertemukan Dewi dengan Angga untuk terakhir kalinya disini, asal Dewi mau ninggalin Mas. Ia juga janji akan mengembalikan Angga sama Mas. Jadi Mas, tolong pengertiannya!"

__ADS_1


Dewi mulai menaikkan nada bicaranya, ia terus mengulang perkataannya sembari menatap wajah suaminya dengan mata yang memerah dan menahan tangisannya.


"Nggak, Mas nggak ijinin kamu ninggalin kami. Percaya sama aku sayang, aku bakal bawa anak kita kembali. Jangan pernah coba-coba berpikir untuk meninggalkan kami. Jangan ikuti kemauan penculik itu, aku mohon sayang" Anton terlihat kebingungan, ia melepaskan tangan Dewi yang memegangi lengannya. Ia meraih jemari tangan istrinya dan mencium punggung tangan Dewi.


Dewi yang juga kebingungan terdiam tak merespon ucapan Anton.


"Dimana penculik itu, dimana dia. Woi, penculik sialan keluar kau" teriak Anton. Ia berdiri dan berlari mengitari taman, menatap tajam ke setiap sudut taman.


Seperti orang kebingungan ia berlari mondar-mandir tak tentu arah menuju setiap sudut taman. Dewi mengikuti gerak-gerik suaminya, ia takut terjadi apa-apa dengan Anton. Anton terlihat kacau tak seperti biasanya, ia berteriak-teriak memanggil penculik anaknya. Ia tak menyangka istrinya berpikir untuk meninggalkannya.


"Penculik bajing*n keluar kau, hadapi aku kalau berani!! Jangan beraninya mengancam istriku. Keluar kau pengecut!! Kembalikan anakku!!" Teriakan Anton menarik perhatian orang sekelilingnya. Dengan wajah cemas Dwi terus mengikuti Anton. Ia mencoba menenangkan suaminya.


Anton menepis tangan Dewi yang mencoba untuk merangkulnya.


"Mas!! hiks... hiks..., Dewi mohon jangan seperti ini" ucap Dewi kembali mencoba meraih lengan Anton.


"Apa pedulimu, bukannya kau ingin meninggalkanku dengan Angga. Kau sama saja dengan Manda, kau tak jauh beda dengannya, kalian semua sama!!" kemarahan Anton membuatnya berbicara dan bertindak tanpa berpikir panjang. Ia kembali menepis tangan Dewi.


"Mas!!" teriakan Dewi membuat Anton tersentak.


Ia sempat mematung hingga ia memerosotkan tubuhnya di tanah.


"Jangan tinggalkan aku sayang, jangan..." Anton yang kembali ke akal sehatnya melembutkan suaranya kembali. Menangis dan memohon seperti layaknya anak kecil.


"Mas maafin Dewi, Dewi janji nggak akan ninggalin Mas. Maafin Dewi ya Mas" Dewi memeluk tubuh suaminya. Ia tak sanggup melihat reaksi suaminya atas keputusan yang ia ambil sebelumnya, dan ia menyesali itu.


Tanpa mereka sadari, mereka telah menjadi tontonan orang. Orang-orang mulai berbisik-bisik menatap mereka penuh tanya.


Sementara itu tak jauh dari mereka, terlihat seorang wanita yang menyamar sebagai tukang sapu sedang memperhatikan mereka sedari tadi. Ia menyamar menggunakan pakaian DKP pria, memakai masker dan juga topi penutup kepala.


Ia membawa sapu ditangannya dan berpura-pura menyapu taman, tapi pandangannya tak pernah lepas dari kedua orang yang terlihat bertengkar di taman. Ia menggenggam erat pegangan sapunya, menatap kesal kedua pasangan yang semula bertengkar dan kini sedang berpelukan mesra


"Kita pulang ya Mas" ucap Dewi memecah kebisuan diantara mereka. Ia melepaskan pelukannya, merasa tidak ada gunanya lagi berada di taman, Dewi memilih untuk pergi, penculik itu juga pasti sudah kabur melihat keberadaan Anton disekitarnya pikirnya.


Anton dan Dewi memutuskan untuk meninggalkan taman. Mereka berjalan bergandengan tangan. Tak sengaja pandangan mata Anton bertemu dengan si tukang sapu, membuat Anton menghentikan langkahnya. Anton mengernyitkan keningnya seperti merasa tak asing, ia terdiam sesaat.


"Mas, ayo!" Dewi menarik tangan Anton yang sempat menghentikan langkah kakinya. Anton masih memperhatikan tukang sapu itu yang telah mengalihkan pandangannya darinya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2