UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Menjauh Sesaat.


__ADS_3

Dimas dan Erick sudah mengelilingi rumah sakit tapi ia sama sekali tidak menemukan keberadaan istrinya itu. Akhirnya mereka memutuskan untuk melihat CCTV rumah sakit itu. Menurut pantauan CCTV terakhir terlihat jika Istrinya menuju ke ruang khusus karyawan dan sayangnya ruangan itu tidak terpantau CCTV, hingga Dimas kehilangan jejak.


Akhirnya Dimas dan Erick memutuskan untuk ke ruangan itu. Ruangan itu terdiri atas 3 ruang, yaitu ruang ganti pria dan wanita yang terpisah, ruang istirahat yang dilengkapi dengan tempat tidur dan kamar mandi dalam dan ruang Pantry. Dimas dan Erick mengitari ruangan itu tapi tetap saja tak menemukan jejak keberadaan Tiara.


Dimas yang kesal, kembali ke ruang CCTV ia ingin tau secara lengkap aktivitas apa saja yang di lakukan istrinya di rumah sakit itu.


Dimas menatap CCTV heran, ia melihat istrinya yang menuju ke ruang periksa Dokter obgyn, istrinya terlihat agak sedikit pucat. Ia terus memantau pergerakan istrinya. dan akan menanyakan kondisi istrinya pada Dokter yang memeriksa nanti. Tiba-tiba Dimas kembali terkejut melihat Manda yang menghampiri Tiara dan terlihat mereka sedang berbicara serius.


Dimas dapat melihat dengan jelas raut kemarahan dari wajah Tiara ketika berbicara dengan wanita itu. Sayangnya CCTV tidak merekam percakapan mereka, hanya ada tampilan gambar yang terlihat jelas.


"Kau kembali ke markas, intograsi wanita itu apa saja yang sudah ia katakan pada istriku. Aku akan menemui Dokter obgyn yang memeriksa Tiara" Ujar Dimas dingin. Erick pun tanpa banyak bicara langsung pergi dari tempat itu untuk melaksanakan perintah Dimas.


Saat ini Dimas sudah berada di ruang praktek, tempat dimana Dokter memeriksa Tiara sebelumnya. Dan kebetulan juga Dokter sudah selesai menangani pasien.


"Pak Dimas, ada yang bisa saya bantu Pak?"


"Maaf Dokter, apa istri saya tadi periksa disini?


"Oh iya Pak, Ibu Tiara tadi melakukan pemeriksaan."


"Istri saya ngak kenapa-kenapa kan dok?"


"Istri Bapak sehat, dan selamat istri bapak sedang mengandung sekarang. Tolong jaga kondisi istrinya Pak ya, jangan sampai kecapean apalagi Stress."


"Istri saya mengandung Dokter!" Anda tidak berbohong kan?" tanya Dimas terkejut, ada ekspresi senang di wajahnya.


"Benar Pak, usia kandungannya sudah sekitar 6 mingguan. Tolong di jaga baik-baik istrinya Pak ya."


"Baik Dokter terimakasih, saya permisi dulu." Dimas keluar terburu-buru. Ia segera menelpon orang rumah dan juga kantornya menanyakan keberadaan istrinya, tapi tak seorangpun yang mengetahui keberadaan Tiara.


Dengan wajah cemas Dimas menelpon anak buahnya. ia mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Tiara dan memeriksa seluruh CCTV jalan, terutama jalan yang mengarah ke rumah sakit. Ia juga menyuruh Erick kembali memeriksa CCT di Rumah Sakit, siapa tahu ada hal yang terlewatkan yang bisa dijadikan petunjuk keberadaan Tiara.

__ADS_1


Dimas saat ini benar-benar kalut, ia takut Istrinya kenapa-kenapa. Apalagi ia mengetahui dari Dokter bahwa istrinya dalam kondisi hamil muda.


****************


Sementara itu Mobil Ambulance sudah berhenti di sebuah bangunan mewah. Bangunan ini tidak seperti rumah sakit tapi terlihat seperti rumah pribadi yang mewah.


Tiara mengikuti brankar pasien yang dibawa ke sebuah ruangan yang terlihat mewah dengan berbagai alat fasilitas medis.


"Tempatkan ia di posisi yang senyaman mungkin dan pindahkan ia ke tempat tidur yang baru." Perintah pria berjas yang Tiara baru tahu jika dia bernama Roy.


Tiba-tiba ada seorang pria tua, yang memasuki ruang rawat itu, kehadiran pria tua itu membuat Tiara cukup terkejut.


Kakek, batin Tiara.


"Suster, mulai sekarang anda yang bertanggung jawab merawat pasien. Dan akan ada Dokter jaga, dan Dokter spesialis juga yang akan terus memantau kesehatannya jadi mohon kerjasamanya." ujar Roy, ia ingin kenyamanan dan kesehatan Bosnya terus terpantau.


"Ba-baik Tuan" ucap Tiara gugup. Ia melirik ke arah Kakek yang sedang mengamati pasien. Kemudian secara tak sengaja mata Tiara bersitatap dengan Kakek. Kakek mengernyitkan dahinya memperhatikan Tiara. Tiara yang takut ketahuan mengalihkan pandangannya.


"Suster, ini infusnya sisa sedikit. Tolong diganti sekalian ya. Dan yang lainnya silahkan keluar" ujar Kakek, menatap Tiara seolah menyelidik. Sekarang di ruangan itu hanya ada pasien, Kakek, Roy dan juga Tiara.


Tangan Tiara terlihat bergetar, ketika ia ingin mengganti infus, bukannya ia tak bisa tapi ia takut melakukan kesalahan hingga membahayakan kesehatan pasien.


"Stop, siapa yang memeperkerjakanmu. Kenapa jari tanganmu terlihat tremor, kau seperti bukan seorang suster saja. Siapa kau sebenarnya? Coba buka maskermu!" ujar Kakek yang sedari tadi curiga sementara Roy mendekat ke arah Tiara, ia mencekal tangan wanita itu dan membuka masker yang dikenakan Tiara.


"Sakit lepaskan, Kakek...!" Tiara berusaha menghempaskan tangannya yang di cekal oleh Roy kemudian berlari ke arah Kakek.


"Roy, bisa kau keluar sebentar saja" Roy menuruti permintaan Kakek, ia segera keluar dari ruangan itu, tapi sebelumnya ia menatap Tiara curiga.


"Drama apalagi ini Tiara?"


"Kakek tidak terkejut?" tanya Tiara menatap Kakek yang terlihat santai.

__ADS_1


"Kenapa harus terkejut, ruangan pasien di rumah sakit sebelumnya sudah Kakek pasang CCTV yang terhubung langsung dengan handphone Kakek. Jadi sewaktu-waktu Kakek bisa memantau kondisinya."


"Jadi Kakek sudah tahu semuanya?" tanya Tiara.


"Kakek akan menghubungi suamimu untuk menjemputmu."


"Jangan Kek!"


"Kasihan suamimu, dia mencarimu seperti orang gila. Ia bahkan meminjam anak buah Kakek untuk menelusuri kota ini untuk mencari keberadaanmu. Jika kau tidak segera pulang, suamimu itu pasti akan membuat ulah yang membuat otakku mau pecah."


"Tiara, ingin menghindar dulu Kek. Tiara janji akan kembali padanya, tapi tidak sekarang."


"Suamimu bilang kau sedang hamil, jadi lebih baik kau pulang saja. Jaga cicit ku baik-baik."


"Tapi Tiara beneran belum pingin pulang Kek, biarin Tiara tinggal disini dulu ya Kek. Tiara lagi kesel sama Mas Dimas, Kakek nggak mau kan, Tiara jadi stress terus cicit Kakek kenapa-kenapa" ujar Tiara memohon.


"Baik, tapi kau ikut Kakek. Biar Kakek bisa memantau kesehatanmu dan janinmu."


"Tiara disini aja ya Kek, Tiara janji nggak bakalan capek-capek. Dan untuk sementara waktu tolong jangan beritahu Mas Dimas ya Kek" pinta Tiara memohon, ia mengatupkan kedua tangannya.


"Baiklah, Kakek akan minta pelayan untuk menyiapkan satu kamar untukmu. Jangan lama-lama meninggalkan suamimu kalau tidak buaya betina itu pasti akan berusaha untuk menjerat suamimu. Kakek tidak akan mencampuri urusan kalian berdua, yang terpenting kau jaga baik-baik kandunganmu itu. Karena dia adalah penerus masa depan keluarga kita."


"Baik Kek, terimakasih sudah mau ngertiin Tiara" Tiara memeluk Kakeknya. Lalu ia kembali melirik pasien yang ada di ruangan itu."


"Oh ya Kek, siapa dia?" tanya Tiara menunjuk ke arah pasien.


"Dia orang terpenting untuk suamimu. Sudah 9 bulan ini ia koma, Kakek harap ada keajaiban yang membuatnya terbangun.


"Orang terpenting, siapa?"


"Nanti, ada saatnya kau tahu. Untuk sekarang biarkan dulu seperti ini."

__ADS_1


Tiara menatap Kakek dan Pasien itu bergantian. Ia tidak mengerti maksud Kakek. Tapi Tiara tidak banyak tanya, karena jika Kakek menginginkannya pasti suatu saat ia akan bercerita sendiri.


"Kakek, lihat jarinya bergerak!" ujar Tiara.


__ADS_2