
"Hai..., Saya Andini" sapa wanita itu lembut, menatap Tiara.
Cantiknya, apa dia kekasih Tuan Dimas, batin Tiara.
"Apa yang sedang kau lakukan dan bagaimana kau bisa masuk?"
"Kak Dimas menghubungiku, ia memintaku untuk menemanimu disini. Oh ya nama kamu Tiara kan. Tadi aku menghubungimu tapi kau tidak menjawab panggilanku. Bahkan kak Dimas tadi juga menghubungimu tapi katanya kau tidak mengangkat telponnya. Jadi aku tadi meminta paspor apartemen ini dari Kak Dimas."
"Ya ampun sejak siang tadi aku tidak mengecek handphoneku, mati aku..." Tiara menepok jidatnya menyadari keteledorannya. Dengan cepat ia mencari Handphone miliknya yang ada di dalam tas.
"Astaga 30 panggilan tak terjawab, 25 panggilan dari Tuan Dimas dan 5 lagi ini..."
"Itu nomerku. Sebaiknya kau hubungi Kak Dimas, kelihatannya dia marah sekali denganmu."
"Benarkah..." Wajah Tiara tiba-tiba memucat mendengar penjelasan dari Andini. Andini menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Tiara.
"Oh ya, siapa tadi nama mbak?"
"Panggil Andini saja, kelihatannya usia kita seumuran."
"Baiklah Andini, saya ke kamar dulu ya, saya mau menghubungi Tuan Dimas."
"Oke, sebaiknya kau membersihkan diri juga. Setelah itu kita makan bareng ya."
Tiara mengangguki ucapan Andini. Lalu bergegas masuk ke kamar. Di dalam kamar Tiara mencoba menghubungi nomer Dimas. Tapi sama sekali tidak ada jawaban. Setelah menghubungi Dimas sebanyak 5x dan tetap tidak ada jawaban, akhirnya Tiara menyerah dan memutuskan untuk mandi saja.
Selesai mandi Tiara langsung menuju meja makan. Di meja makan sudah ada Andini yang menunggunya. Andini memainkan HP selagi menunggu Tiara.
"Kenapa nggak makan duluan aja?" tanya Tiara.
"Ini adalah hari pertama saya disini, jadi saya ingin makan bersamamu. Ini kamu cobain masakanku." Andini mengambil piring Tiara dan mengisinya dengan menu yang ada.
"Enak." ucap Tiara. Lalu mereka memakan makanannya dengan hening. Selesai makan Tiara dan Andini membereskan mejanya.
"Udah Andini biar aku aja yang cuci piringnya. Kamu kan udah masak tadi."
"Oke deh aku tunggu di ruang Tv ya, kita ngobrol-ngobrol seru."
Tiara mengangguki ucapan Andini.
Setelah selesai mencuci piring Tiara menuju ruang Tv. Terlihat Andini sedang memilih-milih acara yang ingin dia setel.
"Kok flashdisk nya isinya kartun semua sih Tiara."
__ADS_1
"Iya kebetulan aku suka kartun, jadi Tuan Dimas ngisi flashdisk nya kartun semua."
"Ya ampun Tiara kamu ini udah Dewasa tapi kok tontonannya kartun sih. Emang Kak Dimas nggak pernah ngajak kamu nonton yang lain apa." Tanya Andini. Tiara pun menggelengkan kepalanya.
"Tuan Dimas selalu menonton apa yang aku setel. Dan jika ia yang menghidupi TV ia selalu bertanya padaku mau nonton apa? Karena aku suka kartun, ya jadinya kartun deh yang disetel. Oh ya Andini terimakasih Ya karena kamu udah mau repot-repot masak."
"Biasa aja kali Tiara, sebelum kamu tinggal di apartemen ini juga aku udah biasa kok masakin buat Kak Dimas."
"Kamu akrab ya sama Tuan Dimas." Tanya Tiara.
"Kak Dimas itu sahabatan sama Kakakku mulai dari SMA sampai mereka kuliah. Jadi ya cukup lama aku mengenalnya. Oh ya Tiara, kenapa kamu kok manggilnya Tuan Dimas. Emang kamu pembantunya. Terus kok aku lihat tadi kamu masuk kamar kak Dimas. Kalian tidur satu kamar ya" Selidik Andini.
"Ti-tidak kami tidak tidur sekamar kok, biasanya Tuan Dimas tidur di ruang kerjanya" Gugup Tiara berbohong pada Andini.
"Lah terus kenapa kok manggilnya Tuan, kamu ini sebenarnya siapa sih. Pembantunya atau kekasihnya?"
"Anggap aja saya pembantunya, tapi karena Tuan Dimas baik. Jadi ia sudah menganggapku seperti keluarga, Itu sebabnya Tuan Dimas rela memberikan kamarnya padaku." Tiara bingung ingin menjawab apa, jadi terpaksa ia harus membohongi Andini.
"Oh..." Jawab Andini seolah tak percaya dengan jawaban Tiara.
"Kok Sepertinya kamu kurang percaya gitu sih"
"Ya gimana mau percaya Tiara, Kak Dimas itu orangnya Dingin banget. Aku ngelihat kamu ada disini tinggal di apartemennya aja itu udah seperti keajaiban. Apalagi sampai Kak Dimas ngerelain kamarnya buat kamu. Itu tuh Amazing banget Tiara."
"Masa sih..."
"Kamu kenal cewek itu?" Tanya Tiara penasaran.
"Ya kenal lah Tiara, tapi kita nggak usah ceritain dia deh bikin sebel aja."
"Kenapa memang? tanya Tiara heran.
"Udah kamu nggak perlu tau, mending kita ceritain tentang Kak Dimas aja. Kasih tau dong Tiara kok bisa sih kamu dekat Kak Dimas."
Andini bertanya banyak hal seputar Dimas yang diketahui oleh Tiara. Walaupun merasa aneh dan kurang nyaman tapi Tiara menjawab semua pertanyaan Andini sekalipun ada beberapa hal yang ia jawab secara tidak jujur.
********
Sementara itu di negeri sakura Dimas mengecek Handphone miliknya yang tertinggal di kamar hotelnya. Ia melihat 5x panggilan tak terjawab dari Tiara.
"Apa-apaan gadis ini, mengapa ia menelpon ku hanya 5x saja padahal aku menelponnya lebih dari 20x" ucap Dimas sewot memandang Handphone miliknya.
"Dan apa ini, mengapa ia tidak mengirimiku pesan. Awas saja kamu ya, kalau sampai hari ini kamu mengabaikanku. Aku benar-bener akan menghukummu."
__ADS_1
Dimas mengistirahatkan tubuhnya di kasur. Ia menaruh Handphone di sebelahnya berharap Tiara akan segera menghubunginya.
Tak lama suara handphone Dimas berbunyi. Dimas tersenyum meraih Handphone miliknya. Ia berpikir pasti Tiara yang menghubunginya. Tapi Dimas kecewa begitu membaca nama yang terpampang di layar depan handphone miliknya.
Mau apalagi wanita murahan ini menghubungiku, batin Dimas. Ia mengabaikan panggilan itu. tapi karena handphone nya yang tidak berhenti berbunyi maka ia terpaksa mengangkatnya.
"Maaf saya sibuk" Dimas langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia juga memblokir nomor yang menghubunginya itu.
Dasar wanita pengganggu, jangan harap aku akan jatuh pada tipuan busukmu itu, batin Dimas kesal.
"Kenapa Tiara tak menghubungiku, haruskah aku menghubunginya lagi. Ah tidak-tidak kau harus jual mahal kali ini Dimas. Apa-apaan Tiara itu berani-beraninya membuat seseorang Dimas menunggu telpon darinya. Rasakan saja nanti pembalasanku, aku akan benar-benar menghukummu kali ini."
Dimas dari tadi ngomel sendiri, ia kesal karena Tiara tak menghubunginya lagi. Karena kelelahan setelah menyelesaikan pekerjaannya yang lumayan banyak, akhirnya Dimas tertidur dengan handphone miliknya yang berada di sebelah bantalnya. Sepertinya ia sangat berharap Tiara akan menghubunginya.
Sementara itu wanita yang sedari tadi di tunggu kabarnya sudah tertidur pulas bersama Andini. Ia tidur di depan ruang TV, kebetulan di depan TV terdapat kasur yang bisa ia pakai berdua Andini. Mereka berdua tanpa sadar telah tertidur dengan keadaan TV yang masih menyala. Sepertinya mereka kecapean setelah banyak bercerita dan juga aktivitas mereka seharian ini.
Tepat tengah malam Tiara terbangun.
"Ya ampun aku dan Andini ketiduran ternyata, mana TV masih menyala lagi. Tiara mematikan TV menggunakan remote.
"Astaga aku lupa menghubungi Tuan Dimas" Tiara segera bangun, dan dengan tergesa-gesa Ia menuju kamarnya untuk mengambil handphone miliknya yang ia taruh di atas meja riasnya.
Sesampainya dikamar ia langsung mengambil handphone miliknya, kemudian memencet nomor Dimas. Tak lama kemudian terdengar jawaban dari sebrang sana.
"Assalamualaikum, masku" ucap Tiara.
"Kau masih mengingat untuk menghubungiku"
"Maaf, tadi aku menaruh HP milikku ke dalam tas dan aku membuatnya ke mode silent."
"Apa kau melupakan ucapanku!!! bukankah aku katakan padamu untuk menjawab telponku kapanpun, dimanapun? hukuman apa kira-kira yang pantas buatmu!!!" suara Dimas mulai meninggi, bahkan Tiara gemetar mendengarnya.
"Maaf Masku sayang aku teledor kali ini. Maafkan aku ya sayang ya ya," Tiara mencoba memberanikan diri merayu Dimas untuk meredakan amarah Dimas.
"Aku suka panggilanmu itu, mulai sekarang panggil aku seperti itu. Kalau kau sampai salah menyebutkan panggilanku. Aku akan membuatmu menyesal.
"Hah..." Tiara terkejut dengan ucapan Dimas maksud hati hanya ingin meredakan amarah Dimas dengan merayunya. Tapi mengapa malah jadi begini.
"A-apa maksud Masku panggilan yang mana" Tiara berpura-pura bersikap bodoh.
"Apa aku harus memperkosamu dulu baru otakmu itu berjalan lancar."
"Oh tidak-tidak, aku sudah mengerti sekarang Masku sayang. Oh ya Masku sayang berhubung disini sudah tengah malam jadi sampai disini dulu ya, bye bye" Tiara mematikan sambungan telponnya begitu saja. Bahkan ia belum sempat mendengarkan jawaban dari Dimas.
__ADS_1
"Berani-beraninya mematikan sambungan teleponku. Awas saja kamu Tiara, aku akan menghabisimu sepulangku nanti" Dimas tersenyum smirk menatap handphone miliknya, yang gambar depannya adalah foto dirinya mencium Tiara yang ia ambil pada saat Tiara tertidur.
TBC