
Apa kau sudah puas melihat hasil eksperimenmu" ucap Reno mengejek.
"Sebaiknya kau memang harus pergi ke psikoterapi untuk mengobati keanehanmu ini. Atau mungkin kau bisa menjadikan gadis ini sebagai eksperimenmu. Aku merasa kamu sepertinya tidak terganggu sama sekali dekat dengannya."
"Entahlah, pada saat itu aku hanya panik melihatnya yang akan terjatuh, jadi aku hanya refleks menangkap tubuhnya dan juga menggendongnya. Tapi...."
"Tapi kenapa?"
"Entahlah aku merasa seperti sudah pernah mengenalnya sebelumnya. Tapi sekeras apapun aku berpikir, tetap saja aku tidak bisa mengingat wajah ini."
"Sebaiknya kau pikirkan saja bagaimana caranya menahan wanita ini tetap di sisimu."
"Entahlah akan aku pikirkan nanti, Oh ya hari ini aku ada rapat. Bisakah kau menggantikanku?"
"Ren, aku ini Dokter bukan pengusaha. Sebaiknya kamu urus sendiri perusahaanmu itu."
"Apa kamu lupa, kamu juga merupakan salah satu pemilik saham di perusahaanku. Sebaiknya mulai sekarang kamu harus belajar bisnis sedikit. Nanti sekretarisku akan menemanimu, biar dia nanti yang presentasi. Aku hanya butuh kehadiranmu untuk menyimaknya saja."
"Tidak, aku sibuk"
"Tolonglah kali ini saja ya, bukankah kau yang menyuruhku untuk pendekatan dengan wanita ini. Bagaimana nanti kalau dia tiba-tiba terbangun dan pergi begitu saja. Aku harus mencarinya kemana? Setidaknya kalau aku berada disini di saat dia terbangun, aku bisa menggali informasi tentangnya."
"Alasan saja kau ini, pergilah urus pekerjaanmu dulu. Hasilkan uang yang banyak untukku, Kau bisa meminta pelayanmu untuk mencari info tentangnya nanti"
"Itu akan sangat berbeda sobat, aku ingin saat ia membuka matanya. Aku adalah orang yang pertama kali di lihatnya. Siapa tau begitu ia membuka matanya dan melihatku kemudian ia jatuh cinta padaku. Siapa sih yang bisa menolak pesona seorang Reno" ujar Reno sombong.
"Dasar Narsis, kepedean amat lu ya. Oke deh aku bantu menggantikanmu rapat. Tapi kamu juga harus berjanji membantuku menggagalkan perjodohan Yang sudah diatur oleh orang tuaku."
"Rebes, bakalan aku bantu sampai tuntas."
************
"Dim, bangun..., hai Dim cepat bangun." Leo mengguncang tubuh Dimas agar segara bangun.
Dimas semalam mabuk berat, Leo membawa Dimas ke apartemennya karena khawatir dengan kondisi Dimas.
Tiba-tiba terdengar suara telpon dari Handphone Dimas. Leo melirik telpon Dimas yang tergeletak di atas meja dan terpampang nama Eric di depannya. Dengan segera Leo mengangkat telpon dari Eric.
__ADS_1
"Ada apa Ric"
"Tuan Leo, apa tuan Dimas ada?"
"Bosmu masih tidur, aku sudah membangunkannya sedari tadi tapi tidak berhasil. Semalaman ia mabuk berat, ia baru tidur menjelang subuh."
"Tapi Tuan, dua jam lagi akan ada rapat. Saya mohon Tuan tolong bangunkan Tuan Dimas. Karena rapat kali ini sangat penting."
"Baiklah aku akan berusaha membangunkannya, sebaiknya kau juga datang kemari menjemputnya. Karena aku tak yakin kalau dia bisa mengendarai mobil nantinya."
"Baik Tuan, saya akan segera meluncur ke sana."
Leo pun membangunkan Dimas dengan berbagai cara, akhirnya setelah 1 jam perjuangannya Dimas pun terbangun. Leo memberikan Dimas obat pereda mabuk, dan kemudian memaksa Dimas untuk segera mandi.
Tak lama kemudian Eric pun sampai di rumah Leo. Dengan langkah gontai Dimas mengikuti Eric dari belakang untuk segera berangkat ke kantor.
Di dalam mobil Dimas terlihat lesu, ia duduk dengan menyenderkan kepalanya ke kursi.
"Bagaimana kabar gadis kecil itu ya?
Apa dia tidak memikirkanku karena tak pulang kerumah. Mengapa tidak ada satupun panggilan telepon darinya? Apa dia tak mencemaskanku?"
Gadis ini benar-benar, gumam Dimas kesal.
Dimas pun mencoba menghubungi Tiara. Ia mencoba menghubungi telpon apartemennya tapi tak ada seorang pun yang mengangkatnya. Ia pun mencoba menghubungi handphone milik Tiara. Tapi lagi-lagi tak ada jawaban, membuat Dimas semakin kesal.
"Kemana gadis ini, berani-beraninya tak menjawab telponku. Ric hentikan mobilnya"
"Tapi Tuan, kita belum sampai di kantor."
"Hari ini aku malas ke kantor, Aku mau pulang saja. Kau silahkan lanjut ke kantornya. Aku berhenti disini saja."
"Maaf Tuan, hari ini anda harus memimpin rapat. Jadi mohon kerjasamanya."
"Eric apa kau tak mendengarkan ucapanku, aku bilang hentikan mobilnya!!!" Teriak Dimas.
"Maaf Tuan, kali ini saya tidak bisa mengabulkan permintaan anda. Tuan tau sendiri bukan, proyek kali ini begitu penting untuk kakek. Bahkan angka nominal proyek ini sangat besar. Kakek anda juga menugaskan saya agar memastikan Anda hadir dan memimpin rapat kali ini."
__ADS_1
"Eric kamu saya pecat!!!"
"Maaf Tuan, Saya bekerja atas perintah Kakek anda. Jadi hanya kakek saja yang bisa memecat saya."
"Mulai berani kamu Ric ya."
"Tuan tolong kali ini saja bekerja sama lah dengan saya. Tuan tidak ingin bukan jika Kakek anda sampai mengusik nona Tiara. Karena saya yakin kalau anda sampai melawannya. Itu akan menjadi alasan Kakek untuk menyingkirkan Nona Tiara."
"Kenapa kau bawa-bawa Tiara dalam permasalahan kali ini."
"Karena saya yakin anda ingin pulang karena ingin menemui Nona Tiara bukan. Dan jika sampai kakek Anda tau, Tuan mengabaikan pekerjaan karena nona Tiara. Maka secara otomatis itu akan menjadi alasan Kakek untuk menyingkirkan Tiara."
Dimas yang mendengar alasan Eric yang sepertinya masuk akal. akhirnya memilih menyerah dan mengikuti saran Eric.
Ia kembali memasukkan handphonenya ke dalam kantong celananya.
"Lihat saja bagaimana aku menghukummu nanti" Gumam Dimas lirih tapi masih terdengar oleh telinga Eric. Eric pun menelan saliva nya, Ia berpikir jika Dimas akan menghukumnya nanti. Padahal disini yang dimaksud menghukum di tujukan untuk Tiara.
*************
Sementara itu di sebuah ruang tamu yang terlihat mewah. Seorang gadis bertubuh mungil mulai menggeliatkan tubuhnya. Perlahan ia mencoba membuka matanya.
Dimana ini ? batin Tiara. Ia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia melihat salah seorang pria asing sedang membaca buku. Dan tak jauh dari tempatnya terdapat anak kecil yang juga sibuk dengan mainannya.
"Kakak udah bangun" Sapa bocah kecil itu begitu melihat Tiara sudah membuka matanya.
Reno yang mendengar suara anaknya pun menutup buku bacaannya. Ia memperhatikan Tiara yang menatapnya dengan ekspresi wajah bingung.
"Ini Rumah saya, maaf karena membawa anda kemari tanpa ijin, karena saya tidak tau dimana rumah anda" Reno melangkah mendekati Tiara.
"Tidak apa-apa Tuan, seharusnya saya yang minta maaf sama Tuan. Karena telah merepotkan Anda. Dan terimakasih karena sudah menolong saya."
"Kau tidak perlu sungkan padaku, bahkan aku juga berhutang banyak padamu. Terimakasih karena sudah menyelamatkan anak saya. Saya tidak tau apa yang akan terjadi jika anda tak menolong anak saya. Sebagai rasa terimakasih saya, Anda boleh meminta sesuatu pada saya. Selama saya mampu, saya berjanji akan mengabulkannya."
Tiara cukup terkejut mendengar ucapan pria di hadapannya itu.
Ya Tuhan, bolehkah aku egois kali ini. Salahkah aku jika meminta orang ini membantuku melunasi hutangku pada tuan Dimas, batin Tiara.
__ADS_1
TBC.