
"Iya sayang jangan khawatir, sekarang juga mas telpon Aryo buat ambil barang yang kamu mau. Sepenting apa sih barang-barang itu, kamu kelihatan khawatir banget."
"Kotak itu..."
Pembicaraan Tiara terputus karena terdengar handphone Dimas berbunyi.
"Sebentar ya sayang, ini telpon dari Mitra bisnis Mas" Dimas keluar kamar untuk mengangkat telpon. Setelah selesai berbicara dengan mitra bisnisnya, Dimas menelpon Aryo. Ia meminta Aryo ke apartemennya untuk mengambil sebuah kotak kecil hitam di lemari, sesuai petunjuk Tiara.
*********
Sementara itu dirumah Reno terjadi kehebohan. Rendra yang mengetahui Tiara sudah pulang dari rumah sakit terus merengek pada Daddy nya, karena ingin mengunjungi Tiara.
"Daddy, Please. I Miss her so much."
"Darimana Rendra tau kalau Kak Tiara sudah pulang?" tanya Reno.
"Tadi Kak Mona dan Rendra baru aja telponan sama Kak Tiara" jawab Rendra.
"Rendra tau nggak dimana alamat rumah Kak Tiara."
"Nggak," Rendra menggelengkan kepalanya.
"Terus gimana caranya kita kesana, Daddy juga nggak tau dimana alamatnya."
Rendra terdiam sejenak, Ia menopang dagunya.
"Sebentar ya Daddy, Rendra mau telpon kak Tiara lagi mau tanya alamatnya."
"Nggak usah, biar Daddy aja yang telpon."
"Ayo Daddy telpon sekarang, Video call ya Dad. Rendra mau lihat Kak Tiara lagi."
"Tidak, Daddy tidak akan menelpon Kak Tiara."
"Terus gimana dong Daddy, Rendra kan pingin ketemu Kak Tiara" Rendra merengek pada Reno. Ia menggoyang-goyangkan tangan Reno.
"Jangan khawatir, Daddy akan telpon calon suami Kak Tiara buat minta ijin biar kita bisa main kerumahnya."
"Memang beneran ya Dad, om itu calon suami Kak Tiara" tanya Rendra lagi, di angguki oleh Reno.
__ADS_1
"Sudah sana kembali ke kamar, kerjakan PR mu. Minta bantuan kak Mona kalau kurang paham."
"Tapi Beneran Ya Daddy kita ke rumah Kak Tiara. Kita ajak kak Mona juga ya" Reno mengangguk meyakinkan Rendra.
"Yeay, akhirnya bisa ketemu kak Tiara" Rendra berlari riang menuju ke dapur ia mencari Mona.
********
Tiara saat ini sedang berada di dalam kamar. Ia menerawang menatap langit-langit kamarnya.
Tak terasa sudah 4 bulan Tiara di kota ini Ayah, tapi sampai sekarang Tiara belum juga bertemu orang tua Tiara. Tiara bingung harus mencari keluarga Tiara kemana? Ayah, Ibu Aku sangat merindukan kalian, batinTiara.
Tiara membayangkan wajah Ayah dan Ibunya tersenyum berada di hadapannya. Ia mencoba memeluk bayangan itu, tapi tiba-tiba bayangan itu menghilang. Menyisakan rasa sesak dan air mata Tiara yang menetes di pipi.
"Tiara...." panggil Dimas ketika ia memasuki kamar itu. Tapi rupanya wanita yang ia panggil sedang larut dalam lamunannya, hingga ia tak menyadari kehadiran Dimas di kamarnya.
Dimas meletakkan nampan yang berisi lauk pauk untuk makan malam Tiara. Ia menaruhnya di atas meja samping Tiara. Suara nampan yang beradu dengan meja itu menyadarkan Tiara dari lamunannya.
"Kapan Masku masuk" Dengan cepat Tiara menghapus sisa jejak air matanya. Tapi terlambat karena Dimas terlanjur melihatnya.
"Ada apa, apa ada yang menyakitimu?" Dimas mendekat pada Tiara, Ia membelai wajah Tiara.
"Baiklah kalau kau tidak ingin mengatakan apapun saat ini. Tapi Mas harap disaat kita sudah menikah nanti tidak ada lagi rahasia diantara kita, oke" ujar Dimas dan Tiara tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Ayo makan dulu. Mau mas suapin atau makan sendiri."
"Makan sendiri aja."
Dimas mengambil nampan yang ia letakkan di atas meja tadi, ia menaruhnya di depan Tiara.
"Masku sudah makan belum?"
"Nanti aja mas makan, sekarang kamu makan aja dulu."
"Kita makan berdua aja ya Masku ini banyak banget, aaa..." Tiara menyiapkan sendokan pertama ke Dimas.
"Kenapa jadi mas yang di suapin, yang sakit kan kamu. Sini mas aja yang suapin."
"Aaa dulu" pinta Tiara. Akhirnya Dimas menerima suapan dari Tiara. Setelah itu Dimas mengambil alih piring Tiara. Dimas menyuapi Tiara dan juga dirinya dengan sabar. Hingga tak terasa makanan itu pun habis tak tersisa.
__ADS_1
Dimas menghubungi pelayan melalui telepon kamar, tak lama pelayan pun datang membawa nampan makan keluar. Dimas kemudian mendekat pada Tiara. Ia duduk di sebelah Tiara menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Sayang, maukah kamu ceritakan tentang dirimu. Sepertinya aku belum tau banyak tentangmu" Dimas memancing Tiara untuk mulai terbuka dengannya. Sebenarnya Dimas sudah menyelidiki melalui anak buahnya. Ia mengetahui dimana Tiara tinggal dan di besarkan. Juga seperti apa kehidupannya dulu, hanya saja Dimas tidak mengetahui jika Tiara adalah anak yang ditemukan oleh keluarga itu. Ia tidak menyelidiki sampai sedalam itu.
Tiara mulai menceritakan masa lalunya kepada Dimas. Sesekali Dimas menimpalinya dengan candaan. Karena Dimas selalu melihat kesedihan di mata Tiara tiap kali ia bercerita tentang ayahnya. Dari cerita Tiara ia bisa menyimpulkan betapa Tiara sangat menyayangi Ayahnya.
"Apa kamu mau kita ziarah ke makam Ayahmu?"
"Apakah boleh?"
"Tentu saja, cepatlah sembuh. Setelah kita menikah, kita kunjungi makam Ayahmu" Dimas merengkuh Tiara ke dalam pelukannya. Ia lalu mengecup kening Tiara lembut.
"Terimakasih Mas. Sudah malam Mas pindah ke kamar mas, ya. Tiara nggak enak kalau sampai pelayan disini berpikir yang bukan-bukan, kita kan belum menikah mas."
"Jangan khawatir, nggak akan ada satupun pelayan yang berani bicara macam-macam. Mas juga janji, nggak akan melakukannya lagi sebelum kita resmi menikah. Tapi kalau kamu menginginkannya, mas sih nggak masalah."
"Ih mas jangan becanda deh, Tiara mohon mas jangan tidur disini ya. Gimana coba nanti kalau sampai kita lepas kontrol lagi."
"Iya mas janji akan pindah ke kamar sebelah, setelah kamu tidur lelap. Kamu kalau ada apa-apa telpon mas ya."
"Bukannya kamar mas ada di lantai atas ya."
"Iya sih, tapi mas mau tidur di ruang tamu sebelah aja. Biar kalau kamu ada perlu sama mas jadi gampang" ujar Dimas.
*****************
Saat ini Aryo sudah berada di apartemen Dimas. Ia menuju kamar Dimas dan membuka salah satu pintu lemari, dimana kotak itu berada.
Setelah menemukan barang yang dimaksud Aryo mengeluarkan kotak itu dengan menenteng bagian atas kotak. Tapi ternyata kotak itu tak tertutup sempurna, hingga mengakibatkan isi dari kotak itu terhambur keluar.
Aryo mengumpulkan barang yang tercecer di lantai. Ia menatap heran gaun anak kecil yang terdapat noda darah.
"Apa ini, kenapa baju ini penuh dengan noda darah" gumam Aryo lirih.
Karena rasa penasaran Aryo mengecek barang yang tercecer satu persatu. Ia membuka kotak perhiasan yang berisi kalung Tiara. Ia kemudian beralih lagi pada sebuah amplop yang terjatuh tak jauh dari tempatnya. Ia meraih amplop itu dan mulai membukanya.
TBC.
Mohon maaf karena berapa hari ini tidak bisa up karena ada kesibukan. Terimakasih sudah membaca, jangan lupa like, vote dan komentarnya terimakasih 🙏
__ADS_1