
Matahari pagi menyinari kamar itu melewati celah-celah ventilasi kamar. Dua tubuh yang terbaring tak terganggu sama sekali dengan sinar matahari yang menyorot masuk kamar itu, hingga bunyi dering handphone mengusik dua tubuh polos yang terbaring dalam satu selimut.
"Mas."
"Hemm."
"Telpon kamu bunyi tuh."
"Ambilin Yang."
Tiara bangun dari tidurnya dan mengambil handphone Dimas yang tergeletak di atas meja.
"Nih Mas."
"Hallo," jawab Dimas dengan suara serak khas bangun tidur.
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Dimas terkejut.
"Bodoh kalian, menangani satu orang saja tidak bisa. Kabulkan saja keinginannya dan suruh segera turun dari situ." kesal Dimas.
"Sial, iya aku kesana sekarang. Kalian awasi dia jangan sampai melakukan hal yang tidak-tidak" Dimas mengakhiri panggilannya dengan wajah yang terlihat kesal.
"Ada apa Mas? Kok kelihatannya serius banget."
"Aku harus keluar sayang, ada hal penting yang harus Mas selesaikan."
"Sekarang Mas."
"Iya."
"Emang sepenting itu ya. Nggak bisa ditunda Mas, Tiara masih ingin berduaan sama Mas" ucap wanita itu manja.
__ADS_1
"Maaf ya Yang ini penting soalnya, Kamu nggak apakan tunggu sini sebentar aja Yang. Nggak lama kok paling sekitar dua jam Mas pasti balik lagi. Boleh ya?"
Dimas tidak ingin mengatakan alasan kepergiannya. Ia takut hubungannya yang baru saja membaik dengan istrinya akan kembali memburuk. Sementara itu Dimas juga tidak bisa mengabaikan nyawa seseorang yang ada dalam pengawasannya saat ini. Apalagi kehamilan wanita itu masih belum diketahui siapa Ayah kandungnya. Ada kekhawatiran di pikirannya, bagaimana seandainya bayi itu adalah miliknya.
"Iya deh, tapi janji balik cepat ya Mas."
"Iya sayang. Kamu tidur aja lagi kalau masih ngantuk. Mas mau bersiap dulu."
Cup
"Morning kiss" Dimas mencium bibir Tiara sekilas. Lalu segera bangun dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi. Karena terburu-buru, ia hanya mencuci mukanya dan menggosok gigi.
Selesai bersiap ia kembali menuju ke tempat Tiara, mengecup kening wanita itu. Tiara memperhatikan kegiatan suaminya yang terlihat terburu-buru dari atas tempat tidur. Ia duduk dan menyenderkan tubuhnya pada kepala ranjang.
"Aku berangkat dulu ya Yang, Eh kelupaan belum pamit sama kesayangan Papa." Dimas menghampiri Tiara kembali dan mengecup perut Tiara. Mengabaikan protes Tiara karena Dimas memelorotkan selimut yang menempel di tubuh polos Tiara.
"Cup, anak Papa jangan rewel ya. Jagain mamanya. Diam di rumah ya Yang, awas jangan sampai kabur lagi," ucap Dimas asal, mengelus lembut perut rata istrinya, sementara Tiara mencibir kesal.
"Ingat, dirumah aja, jangan kemana-mana? kalau pingin sesuatu telpon aja, nanti Mas belikan. Nanti sore kita periksa kandunganmu ya Yang." Ada kekhawatiran di diri Dimas kalau sampai istrinya kembali meninggalkannya.
Dimas pergi setelah berpamitan dengan Tiara dan calon bayinya. Karena terburu-buru Dimas melupakan Handphone miliknya yang masih tergeletak di atas tempat tidur.
Baru saja Tiara ingin melangkah turun dari tempat tidur, suara handphone berbunyi.
"Suara handphone milik siapa?" tanyanya.
Tiara menyingkirkan selimutnya karena mendengar suara handphone di sekitar tempat tidurnya.
"Ya ampun handphone Mas Dimas ketinggalan. Ini nih akibatnya kalau pergi terburu-buru. Heran nemuin siapa sih sepagi ini sudah main pergi aja" kesal Tiara memgbil handphone itu dan meletakkan di atas meja sebelah tempat tidurnya. Ia mengabaikan dering handphone milik Dimas karena melihat tak tertera nama disana. Tiara menganggap si penelpon bukanlah orang yang penting.
Handphone milik Dimas kembali berbunyi, mengusik pendengaran Tiara. Mau tak mau ia mengangkat panggilan itu. Belum juga ia bersuara, si penelpon di seberang sana sudah mendahuluinya.
__ADS_1
"Tuan, tolong segera kemari. Nona Manda selalu berteriak memanggil anda. Sepertinya ia menginginkan kehadiran Tuan sekarang juga, Kami tidak bisa mengatasinya Tuan. Ia mengancam akan melompat dari balkon jika tuan tak segera kemari."
Tiara terpaku mendengar ucapan dari seberang sana. Ia tahu itu adalah suara Kepala pimpinan bodyguard anak buah milik Dimas. Tiara menggenggam handphone itu erat, mengetahui kepergian suaminya yang terburu-buru ternyata berkaitan dengan Manda. Apa segitu pentingnya posisi Manda di hati Dimas. Sampai suaminya mengabaikan keberadaannya dan memilih menemui wanita itu.
"Ternyata, ia menyembunyikan wanita itu.selama ini. Apa anak yang ada dalam kandungan wanita itu benar-benar anaknya? Ya Tuhan aku benar-benar tidak sanggup jika harus berbagi suami dengan wanita lain." gumam Tiara menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia mengingat kembali ucapan Manda yang bersedia berbagi suami dengan Tiara.
Tiara menangis dalam diam, dadanya serasa sesak. Baru saja ia menikmati kebersamaan bersama suaminya, tapi wanita pengganggu itu sudah berhasil merebut perhatian suaminya kembali.
"Hiks hiks hiks..., teganya kamu Mas." tangis Tiara memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.
Tiara merasa sakit hati karena Dimas tidak jujur padanya tentang keberadaan Manda yang ada dalam pengawasannya. Kehamilan Tiara membuatnya menjadi lebih sensitif. Ia menghapus air matanya dan menuju kamar mandi setelah meluapkan emosinya melalui air matanya.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Tiara termenung di depan meja rias. Ia bingung apa yang harus ia lakukan kali ini. Haruskah ia berpura-pura tidak tahu apa-apa untuk menghindari keributan kembali dengan suaminya. Atau ia harus kembali kabur meninggalkan suaminya itu. Entahlah ia bingung apa yang harus ia lakukan.
Setelah melalui banyak pertimbangan Tiara memutuskan untuk bertanya langsung pada suaminya. Dan membicarakan kelangsungan rumah tangganya.
Tiara menatap tempat tidurnya yang berantakan. Ia menarik seprei dan selimutnya mengganti dengan yang baru. Tiara berjalan menuju ember cucian untuk menaruh selimut yang kotor. Ia terkejut mendapati satu setel seragam suster tergeletak di dekat ember cucian.
Ia lebih terkejut lagi mengetahui nama si pemilik seragam itu adalah suster Dina.
"Bagaimana mungkin baju Suster Dina ada di kamar ini?" pikir Tiara.
"Apa mereka memiliki hubungan rahasia di belakangku. Ya Tuhan, kenyataan apa lagi ini. Apa yang harus hambamu ini lakukan, hamba tidak sanggup ya Tuhan" Tiara kembali menangis. Ia menyenderkan tubuhnya pada dinding dekat ember cucian, hingga tubuhnya merosot ke bawah. Ia tidak bisa menahan tangisnya kali ini.
Bagaimanapun suster Dina sudah ia anggap sebagai Kakaknya selama ini. Kehadiran Manda di tengah-tengah mereka saja sudah membuatnya kesakitan. Apalagi jika harus di tambah suaminya yang bermain gila dengan suster yang selama ini merawatnya. Tiara benar-benar tidak sanggup bertahan disisi suaminya.
Pikiran Tiara kacau saat ini, yang ada di otaknya adalah suaminya tidak hanya berselingkuh dengan Manda tapi juga suster Dina hingga menambah lukanya semakin besar. Bagaimana tidak ia mencurigai suaminya bermain gila, jika ia menemukan baju kotor suster Dina di kamar mereka lengkap dengan pakaian dalamnya.
Terdengar suara bel pintu dari pintu utama berkali-kali. Tiara mencoba mengabaikan suara bel pintu itu. Tapi suaranya terus-menerus berbunyi. Tiara menghapus air matanya dan memutuskan bergegas menuju pintu itu dan segera membukanya.
Mengetahui siapa yang ada di balik pintu itu Tiara kembali melanjutkan tangisannya, memeluk pria yang ada di depannya.
__ADS_1
"Kak Farih, bawa Tiara pergi dari sini. Tiara nggak mau tinggal disini. Bawa Tiara pergi Kak, Tiara mohon."
TBC.