UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Air Mata Rendra


__ADS_3

"Sebaiknya aku berikan amplop ini besok saja, kalau tidak ia bisa menggila di acara pesta nanti" gumam Eric lirih.


Sementara itu Dimas sedang sibuk menyelesaikan tugasnya. Ia ingin segera menyelesaikan tugasnya agar bisa secepatnya kembali ke sisi Tiara. Apalagi 6 hari lagi adalah ulang tahun Tiara yang ke 18 tahun. Ia ingin berada di sisi Tiara sebelum hari ultah Tiara.


***********


Sementara itu, di rumah Reno Tiara sibuk bermain dengan Rendra di kamar Rendra. Tak lama Mona datang dengan Kue kering kesukaan Rendra.


"Tara kuenya udah jadi" ucap Mona membawa sepiring kue ke kamar Rendra.


"Waw choco cookies. Cepetan Kakak Mona bawa sini Rendra mau cobain." teriak Rendra kegirangan.


"Eett, Cium dulu dong" Mona menjauhkan piringnya dari Rendra.


"Kak Rara, Kak Mona pelit. Bantuin dong ambilin itu Kak Rara" Rendra menunjuk piring yang di bawa Mona, Ia meminta tolong pada Tiara untuk mengambilkan piring itu.


"Makannya cium dulu, nih disini" Mona menunjuk salah satu pipinya, mendekatkannya pada Rendra


"Nggak mau kak Mona bau Asep kompor!!"


"Yee, Kak Mona wangi ya. Ini kak Mona masaknya nggak di kompor tapi di open listrik. Kalau nggak percaya nih cium pipi Kak Mona."


"Beneran Kak Tiara, Kak Mona wangi" tanya Rendra penasaran


"Coba aja Rendra buktiin sendiri" ucap Tiara.


"Caranya?" tanya Rendra.


"Ya cium pipi kak Mona dong." sahut Tiara dan Mona bersamaan.


Rendra menatap Mona yang masih berdiri di hadapannya dengan memicingkan matanya. sementara Mona sengaja meninggikan piringnya agar Rendra tak bisa mengambilnya.


"Kak Mona itu kenapa rambutnya kok seperti ada anak cicak kejebak di rambut kak Mona." ucap Rendra Tiba-tiba


"Aaaaa Mana-mana, aduh Rendra tolong usirrin dong cicaknya aaaa...Tiara tolongin dong. Aaaaa.......!!!!!" Mona menaruh piringnya asal, ia berteriak-teriak ketakutan. Ia menggoyangkan kepalanya dan mengebat- ngebatkan rambutnya. Sambil lari berputar-putar tak tentu arah sambil menghentak- hentakkan kakinya.


Tiara yang ingin membantu Mona pun sedikit takut. Ia juga bingung melihat Mona yang berteriak-teriak sambil lari berputar-putar. Sementara itu pelaku penyebab keributan sedang asik menikmati kuenya di tempat tidur. Tak memperdulikan teriakan Mona sama sekali.


Reno yang baru pulang dari kantor dan menaiki anak tangga, tanpa sengaja mendengar teriakkan Mona dari kamar Rendra. Dengan segera ia lari bergegas masuk ke kamar Rendra.


Sementara itu Mona yang masih lari berputar-putar tak jelas tanpa sengaja kepalanya menabrak Dada bidang Reno yang memasuki kamar Rendra dengan tergesa-gesa. Mona yang merasakan kepalanya menabrak dada bidang seseorang terkejut, spontan Mona mendongakkan kepalanya hingga menghantam dagu Reno.


"Aaaduhh, Monaaaaa!!! Teriak Reno terkejut terkena hantaman kepala Mona.


"Maaf Tuan, maaf..."


"Reno yang tadinya ingin marah kepada Mona malah tertawa terbahak-bahak melihat rambut Mona yang berantakan seperti sarang burung. Tiara dan Rendra yang memperhatikan Mona pun ikut menertawakan Mona.


"Ha ha ha ha ha....." Tawa mereka bersamaan.


"Rendra, Tiara kok ketawa sih. Ini juga Tuan kok ngetawain Mona sih, ini tolongin Mona dong katanya rambut Mona ada cicaknya" Mona meraih tangan Reno dan menaruhnya di kepalanya. Kebetulan saat ini Reno adalah orang yang berdiri dekat dengan Mona.

__ADS_1


"Reno terkejut dengan perlakuan Mona, satu hal yang Reno sadari ketika Mona tanpa sengaja menyentuhnya adalah Ia tidak merasakan perasaan jijik atau tidak nyaman. Bahkan ruam merah atau rasa gatal yang ia rasakan pada saat bersentuhan dengan wanita yang tidak ia kenali pun tak ia rasakan.


Apa aku sembuh, batin Reno


"Pak kok bengong sih, cepetan tolongin dong, periksakan rambut Mona" protes Mona kembali menyentuh tangan Reno yang masih bertengger di kepalanya.


"Eheem..., yang bilang rambutmu ada cicaknya emang siapa?" Reno menarik tangannya dari kepala Mona.


"Rendra" Mona menunjuk Ke arah Rendra, dan betapa terkejutnya ia. Melihat Rendra yang sibuk memakan cookies hingga mulutnya belepotan.


"Aaaa...., kamu membohongiku ya Rendra" Mona yang menyadari telah di perdaya oleh Rendra. Dengan segera menghampiri Rendra ia lalu menerjang Rendra dan mengelitiki bocah itu.


"Ampun kak Mona ampun..."


Sementara itu Reno menatap Tiara yang tersenyum menatap interaksi antara Mona dan Rendra ada kelegaan di hati Tiara. Dan tanpa ia sadari air matanya menetes. Dengan cepat ia mengusapnya, sebelum orang-orang di sekitarnya menyadarinya. Tapi Reno melihat itu semua.


Huftt....


Reno menghembuskan nafas kasarnya, menatap Tiara yang menyembunyikan permasalahannya dan berpura-pura tegar.


"Tiara...."


"Ya tuan"


"Sebelum kau pulang, temui aku di ruang kerjaku ya. Ada yang ingin aku sampaikan"


"Baik Tuan.


"Hallo Dokter Nia, ini saya Reno."


"Ya, apa ada yang bisa saya bantu Tuan Reno?"


"Begini Dok, tadi saya secara tidak sengaja bersentuhan dengan ART saya. Tapi tidak muncul reaksi alergi berupa ruam merah dan gatal-gatal. Apa saya sudah sembuh?"


"Saya belum bisa memastikannya Tuan, tapi bagaimana perasaan dan reaksi Anda ketika bersentuhan dengannya. Apakah anda menghindar, terkejut atau ada reaksi lainnya?"


"Saya sedikit terkejut, tapi saya tidak menolak sentuhannya. Dan perasaan saya juga biasa saja. Tidak ada rasa jijik maupun tidak nyaman."


"Apa anda sudah lama mengenal wanita itu, atau mungkin sering berinteraksi dengannya."


"Saya baru mengenalnya beberapa Minggu Dok, dan saya sering berinteraksi dengannya akhir-akhir ini."


"Kalau kesimpulan saya dari keterangan bapak Reno tadi. Kemungkinan anda sudah merasa nyaman dengan keberadaan wanita itu jadi tidak ada reaksi berlebihan atau penolakan dari tubuh bapak."


"Kasus wanita ini berbeda dengan nona yang bapak ceritakan sebelumnya. Kalau Nona yang sebelumnya anda sama sekali belum mengenalnya maupun bertemu dengannya tapi tubuh anda bisa menerima sentuhannya. Ini cukup aneh buat saya. Tapi untuk memastikan Anda sembuh atau belum mungkin anda bisa melakukan beberapa percobaan."


"Maksudnya Dok"


"Coba anda sentuh beberapa wanita yang anda tidak kenal dan perhatikan reaksi tubuh anda pada setiap anda bersentuhan dengan mereka. Kalau anda tidak mengalami reaksi apa-apa. Berarti anda sudah sembuh Tuan. Dan selamat itu tandanya Anda sudah bisa melepaskan masa lalu anda."


"Tapi jika sebaliknya, dan anda masih merasakan alergi dan perasaan tidak nyaman berarti anda belum sembuh sepenuhnya."

__ADS_1


"Baiklah Dokter saya akan melakukan percobaan sesuai perkataan anda. Terimakasih atas penjelasan dan waktunya, Selamat sore Dok" Reno menutup teleponnya.


Tak lama setelah Reno menutup teleponnya, Tiara mengetuk ruang kerja Reno. Reno mempersilahkan Tiara untuk Duduk.


"Apa keputusanmu sudah bulat"


"sudah Tuan"


"Lalu bagaimana dengan Rendra. Kapan kau akan menjelaskan kepergianmu padanya."


Tiara terdiam, ia benar-benar bingung dan takut jika Rendra tidak bisa menerima kepergiannya. Ia menahan air matanya yang akan tumpah.


"Ambillah" Reno menyodorkan amplop berwarna coklat ke hadapan Tiara.


"Apa ini Tuan"


"Itu untukmu, ambillah."


Tiara memeriksa amplopnya, dan ia cukup terkejut melihat uang dengan jumlah yang sangat banyak.


"A-apa ini Tuan. Ti-tidak saya tidak bisa menerimanya."


"Ambillah, aku akan menjelaskan semuanya pada Rendra."


"Bagaimana caranya Tuan, dan apakah ia akan membenciku." Tiara tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia menangis sesenggukan.


"Tenanglah Tiara, Ambil saja uang ini dan pergilah dari sini kapanpun kau inginkan. Untuk masalah Rendra kalau kau tidak bisa menjelaskan tentang kepergianmu. Biar aku yang bicara padanya, sekalipun itu berarti ia akan membenciku."


Praannkk!!! Tiba-tiba terdengar suara piring yang pecah.


Tiara dan Reno secara bersamaan melihat ke sumber suara itu. Betapa terkejutnya mereka mendapati Rendra di depan pintu dengan pintu yang sudah terbuka lebar. Sementara piring yang berisi kue yang ia bawanya tadi, jatuh pecah berantakan.


"Daddy jahat, Kak Tiara jahat!!!. Kalian semua jahat, kenapa Daddy membiarkan kak Tiara mau meninggalkan Rendra kenapa-kenapa!!!" Rendra menangis keras.


Tiara menangis dan berlari ke arah Rendra, ia ingin memeluk Rendra. Tapi Rendra mendorong Tiara, tanpa sengaja kaki Tiara menginjak pecahan beling yang berserakan. Tubuh Tiara terhuyung ke belakang. Reno yang berada di belakang Tiara menahan tubuhnya Tiara agar tak terjatuh.


"Rendraaa!!!" Reno berteriak menatap Rendra marah.


Rendra cukup terkejut mendengar Teriakkan Daddy nya tapi ia lebih terkejut dengan kondisi kaki Tiara. Ia menatap kaki Tiara yang terluka akibat ulahnya. Ada penyesalan terpancar dari matanya. Dengan masih berurai air mata ia berlari bahkan kakinya kini tanpa sengaja juga terkena pecahan beling. Tapi ia mengabaikan luka di kakinya, rasa kecewa terhadap Orang-orang yang di cintainya dan dirinya sendiri membuat ia ingin lari menjauh.


"Rendra jangan lari, maafin Dady nak!!!"


Rendra mengabaikan teriakan Reno dan Tiara. ia terus berlari dan berlari. Reno mengejar Rendra, dan Tiara pun ikut berlari mengejarnya dengan tertatih-tatih.


Rendra yang berlari tergesa-gesa menuruni anak tangga tak sengaja terjatuh, tubuhnya terguling-guling di anak tangga.


Mona yang sudah berada di lantai bawah mendengar suara teriakan Reno dan Tiara segera menghampiri ke asal suara, ia terkejut melihat tubuh Rendra yang jatuh menggelinding melewati anak tangga. Ia sekuat tenaga berlari ke arah tangga. Ia ingin menangkap tubuh Rendra sebelum jatuh menyentuh lantai bawah.


Tapi apa mau dikata kecepatan jatuhnya Rendra mengalahkan larinya Mona. Tubuh bocah kecil itu terhempas ke lantai dengan darah yang mengalir deras dari kepalanya.


Tubuh ketiga orang itu terpaku menatap nanar pandangan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2