
"Bisa berbicara dengan keluarga pasien" ujar dokter itu setelah memeriksa Dimas.
"Maaf Dok, keluarganya sedang tidak ada disini. Saya adalah pegawai kepercayaan kakeknya Adi Nugraha. Dokter bisa sampaikan pada saya. Nanti saya akan sampai pada keluarganya."
"Apa dia Pak Dimas cucu dari pemilik rumah sakit ini Pak Adi Nugraha?" tanyanya sedikit terkejut. Pasalnya ia merupakan dokter baru di rumah sakit yang baru di resmikan kurang dari setahun yang lalu. Ia hanya tau pemilik rumah sakit adalah seorang pria tua bernama Adi Nugraha.
"Benar, Dokter."
"Begini, Pak Dimas mengalami infeksi ginjal. Ia harus menjalani perawatan selama beberapa hari disini. Saya juga akan melakukan beberapa tes laboratorium untuk memastikan kondisi ginjalnya saat ini. Dan untuk..."
Bruukkk!!! terdengar suara benda terjatuh dengan keras. Dokter itu dan manajer hotel menoleh bersamaan. Mereka terkejut melihat Dimas yang terjatuh dari tempat tidur, bahkan infus yang ada di tangannya sudah terlepas.
"Anda, mau kemana. Anda harus menjalani perawatan dulu Tuan! penyakit anda cukup serius." Dokter berlari Membantu Dimas bangun. Tapi Dimas mendorong dokter itu, ia melangkah keluar dari ruangan itu.
"Tuan, saya mohon anda jangan kemana-mana, anda membutuhkan perawatan" cegah manajer itu menghalangi langkah kaki Dimas.
"Minggir!!" teriak Dimas
"Maaf Tuan, saya tidak bisa. Anda harus menjalani perawatan demi kesehatan anda sendiri. Jika anda mengabaikan perawatan kali ini bisa berakibat fatal buat fungsi ginjal anda ke depannya Tuan" Dokter dan manajer itu menghalangi Dimas. Mereka berdiri di depan pintu keluar ruangan itu.
"Minggir, atau jangan salahkan aku memecat kalian. Dan aku juga bisa membuat kalian tidak di terima bekerja dimanapun di negara ini. Apa itu yang kalian inginkan?"
Mereka terkejut dengan ucapan Dimas. Nyalinya menciut, mereka kemudian menjauh dari pintu itu. Dengan jalan tertatih karena tubuhnya yang masih terasa sakit ia keluar dari ruangan itu. Mangabaikan permohonan kedua orang yang ingin Dimas mendapatkan perawatan.
"Kalau Tuan tidak ingin dirawat baiklah, tapi ijinkan saya untuk mengantar anda?" Pegawai itu mendekat lalu memapah Dimas. Ia mengantarkan Dimas hingga bandara. Untung saja sesampainya di bandara sudah ada tiga orang anak buah Dimas yang menunggunya.
Manajer itu meninggalkan Dimas pada bodyguard nya lalu pamit pergi dari sana. Setelah jauh dari Dimas, manajer hotel itu segera menelpon Kakek memberitahukan keadaan Dimas yang sesungguhnya.
******"
Sementara itu Tiara sudah mulai sadar, ia menatap bingung ruangan di sekitarnya. Itu adalah ruangan tertutup yang bahkan tidak memiliki jendela. Hanya ada pintu sebagai akses masuk, dan dua lubang ventilasi kecil sebagai jalur keluar masuknya udara.
Walaupun ruangan itu terlihat rapi dan mewah tapi Tiara merasa sesak di ruangan itu. Ia tidak terbiasa berada di ruangan tertutup rapat seperti itu.
__ADS_1
Tiara mengingat kembali peristiwa sebelumnya, keluar keringat dingin dari tubuhnya mengingat peristiwa itu. Ia sedikit khawatir akan keselamatannya dan juga bayinya, walaupun pria itu berjanji tidak akan menyakiti dirinya.
Ia melangkahkan kakinya mendekati pintu itu, mencoba membukanya tapi ternyata pintu itu dalam kondisi terkunci dari luar.
Brok brok brook....
"Tolong buka pintunya, tolong buka...." berteriak terus menerus meminta dibukakan pintu sambil menggedor-gedor pintu.
"Diamlah, apa yang kau inginkan sebenarnya, menyusahkan saja" ucap pria itu dengan nada marah. Pria itu membuka pintu secara kasar hingga membuat tubuh Tiara terhuyung ke depan.
Saat tubuh Tiara ingin menyentuh pria itu, pria itu mendorong kepala Tiara menjauh. Ia menggunakan jari telunjuknya mendorong jidat Tiara agar tak bersentuhan dengannya.
"Dasar wanita ceroboh, menjauh dariku" menghentakkan dorongan jarinya kembali membuat Tiara mundur ke belakang.
"Tuan, ini dimana? Tolong antarkan aku pulang Tuan. Aku tidak ingin ada disini, tolong biarkan aku pergi Tuan." memohon dengan mengatupkan kedua tangannya. Tiara sedikit takut dengan pria sangar berwajah dingin di hadapannya.
"Berisik!!! kalau bukan karena Bosku menginginkan kau tetap hidup. Aku pasti sudah melemparmu ke kandang singa" kesal pria itu membentak Tiara.
"Tuan saya sesak ada di ruangan ini, ruangan ini bahkan tidak memiliki jendela. Tolong biarkan saya pergi Tuan. Saya tidak akan mengatakan apapun pada orang lain. Tolong Tuan, bebaskan saya."
Tiara menelan salivanya mendengar ancam pria itu yang terlihat tidak main-main. Pria itu mengambil sebuah remot dan memencetnya. Sebuah dinding terlihat bergeser dan menampilkan sebuah pintu dan jendela menuju ke sebuah balkon.
"Waw, keren..." melupakan rasa takutnya dan mendekat ke pintu itu. Tiara membuka pintu itu dan menatap takjub pemandangan disana. Ia saat ini berada di lantai 3 dan sepertinya rumah yang ia tempati saat ini seperti berada di tengah-tengah hutan. Karena tidak terlihat satupun rumah di sekitarnya.
Pemandangan banyaknya pepohonan dan kesejukan udara yang menghembus di sekitar Tiara membuatnya melupakan rasa takutnya.
"Jangan pernah berfikir untuk kabur. Rumah ini terletak di tengah-tengah hutan. Binatang buas bisa kapan saja datang menerkammu. Dan simpan juga suaramu jika kau berpikir berteriak bisa membebaskanmu. Karena tidak akan ada seorangpun yang akan mendengarkanmu."
Pria itu mengikuti langkah Tiara dari belakang dan memperhatikan gerak-gerik Ibu hamil itu.
"Berisik!! Kau mengganggu ketenanganku melihat pemandangan disini." wanita hamil itu ganti membentak pria itu, entah keberanian darimana yang ia dapatkan hingga bisa berbicara seperti itu.
Ia tahu persis apa yang dikatakan pria itu benar, ia mencoba mengamati kembali di sekitarnya. Tapi sejauh mata memandang ia hanya melihat pepohonan. Tiara juga melihat banyaknya anjing yang di bebaskan berkeliaran di halaman luar rumah itu.
__ADS_1
"Pohon apa itu" menunjuk sebuah pohon besar dengan buah berwarna kuning dan juga ada yang bewarna hijau. Buah dari pohon itu terlihat seperti bola berukuran kecil. hanya saja ia bewarna kuning dengan ukuran kurang lebih sama dengan buah manggis.
"Itu kecapi, buah hutan."
"Apakah bisa dimakan?"
"Tentu saja."
"Apakah enak?"
"Buah itu dalamnya seperti buah manggis. Berbiji dan manis. Apa?" pria itu menatap Tiara yang bergelagat aneh tiba-tiba. Tiara menampilkan wajah imut sambil memohon.
"Tidak, aku tidak bisa mengambil buah itu. Kau lihat seberapa tingginya pohon itu. Disini tidak ada kayu yang panjang yang bisa menggapai buah itu."
"Tubuhmu terlihat kekar dan kuat, tidak bisakah kau memanjatnya" Tiara menatapnya memelas.
"Tidak ada satu orangpun yang pernah menyuruhku memanjat pohon. Kau jangan macam-macam!!"
"Sayang, kau menginginkan itu ya. Maaf ya sayang, mama nggak bisa ngabulin keinginanmu. Bahkan om bertubuh besar di sebelah mama ini takut untuk memanjat pohon itu" menatap pria yang berdiri di sebelahnya, dengan pandangan mengejek.
"Hentikan tatapanmu itu, sungguh menyebalkan."
"Kau dengar sendirikan sayang, ia bahkan membentak mama. Coba ada papa disini pasti dia bakalan ambil buah itu untukmu. Nggak seperti orang berbadan besar tapi nyalinya kecil, memalukan sekali ya sayang."
"Hentikan mencemoohku, aku akan ambilkan buah itu. Diam dikamar ini dan jangan berani-beraninya kau melangkahkan kaki keluar dari ruangan ini." ancam pria itu lalu keluar menuju lantai dasar menuju ke halaman luar untuk mengambil buah yang dimaksud Tiara.
"Yes, panjat tuh pohon. Emang enak dikerjain, sok galak-galak sama ibu hamil. huh.." Tiara mendengus kesal. Ia memang penasaran dengan rasa buah itu, tapi membuat pria itu kesal adalah tujuan utamanya.
Dimas telah sampai di tujuan, Farih menjemput Dimas di bandara. Lalu mengajak Dimas untuk bertemu dengan tim yang selama ini berusaha mencari jejak Tiara.
Dimas menatap layar televisi besar dari ruang Kontrol CCTV yang menampilkan gambar peristiwa Tiara dibawa pergi pria yang tidak lain seorang buronan berbahaya. Ia melihat pria itu merangkul Tiara keluar dari restoran. Ia mengepalkan tangannya kesal, berani sekali pria itu menyentuh dan membawa istrinya pergi darinya.
"Cari pria itu dan segera temukan dia. Aku akan berikan hadiah besar buat kalian yang bisa menemukan keberadaannya. Bunuh dia setelah Tiara berada di tangan kita"
__ADS_1
TBC.