
Tok tok tok...
Dimas yang masih berpenampilan sebagai suster mengetuk-ngetuk pintu kamar Tiara dengan hebohnya.
"Nona..., Nona Tiara tolong saya" terus mengetuk sambil memanggil-manggil nama Tiara.
"Ada apa sih mbak Dina" Tiara yang baru keluar dari kamar mandi dan masih berbalut handuk membuka pintunya untuk suster cantik itu.
Dimas menelan salivanya, menatap tubuh istrinya yang semakin Sexy Apalagi bukit kembar yang menyembul dari lilitan handuk terlihat makin padat berisi karena kehamilannya.
"Masuk mbak, kok bengong" Tiara segera menutup pintunya setelah Dimas masuk ke ruangannya.
"Mbak, ada apa kok seperti orang bingung gitu" Tiara menuju ke lemari mengambil baju ganti dan mengenakannya di depan Dimas. Tiara tidak terlihat canggung karena merasa suster Dina juga seorang wanita jadi ia tidak sungkan sama sekali.
Dimas semakin menegang menatap kemolekan tubuh istrinya. Apalagi adiknya semakin meronta membuat ****** ******** terasa makin sesak.
Sial, aku benar-benar ingin menerkamnya sekarang. Sabar Dimas, kau harus bisa menaklukkan hati istrimu dulu agar bisa memenuhi keinginan adikmu yang terus meronta, batin Dimas menyemangati dirinya.
"Mbak, kenapa?" tanya Tiara penasaran.
"Tiara, tolong aku. Di kamarku ada kecoak aku takut sekali" mendekat ke arah Tiara lalu memeluknya erat. Dimas tersenyum penuh kemenangan dapat memeluk tubuh mungil istrinya yang sangat ia rindukan.
"Kecoak, masa sih. Mbak nggak salah lihat kan" tanya Tiara ragu pasalnya Tiara tahu bagaimana tingkat kebersihan gedung yang ia tempati. Jangankan kecoak bahkan semut pun hampir tidak pernah ia melihat ada di gedung ini.
"Ka-kalau kau tidak percaya kau bisa melihatnya sendiri di kamarku" ucap suster Dina.
Tiara terlihat ragu, karena ia juga sangat takut dengan kecoak. Dimas tersenyum tipis karena ia tahu istrinya paling takut dengan kecoak.
"Nona, bagaimana? apa anda ingin melihat kecoak itu dan membantuku untuk mengusirnya?" tanya Dimas dengan nada manja. Ia geli sendiri dengan sikap manjanya. Ia bergelayut manja di lengan Tiara sambil menempelkan tubuhnya pada Tiara. Hal yang biasa Tiara lakukan padanya jika menginginkan sesuatu.
"Tidak-tidak tidak perlu. Aku percaya padamu" ucap Tiara terlihat gugup. Ia tidak mungkin berani masuk ke dalam kamar yang ada kecoaknya.
"Nona, apa boleh aku tidur denganmu. A-Aku benar-benar takut dengan kecoak Nona" ucap Dimas dengan nada yang di buat semelas mungkin.
"Baiklah, kau boleh tidur denganku. Aku akan meminta petugas kebersihan untuk membersihkan kamarmu nanti."
Berhubung hari sudah mulai malam jadi Tiara merasa tidak enak untuk memerintah petugas kebersihan yang mungkin saja baru menikmati waktu istirahat mereka.
Yes, misi berhasil, batin Dimas tersenyum penuh kemenangan.
Dimas langsung menaiki tempat tidur Tiara, ia menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.
__ADS_1
"Kemarilah Non Tiara. Saya ingin tahu lebih banyak tentang anda." ia menepuk sebelahnya meminta Tiara untuk duduk disitu.
Tiara duduk di tempat yang di tunjuk suster Dina.
"Sudah berapa bulan?"
"Terakhir aku periksa usia nya masih sekitar 6 Minggu dan ditambah saya disini sudah ada 3 Minggu. Jadi kehamilanku kira-kira sudah berusia 9 Minggu."
"Boleh aku menyentuhnya."
"Hah" Tiara sedikit terkejut dengan permintaan suster itu.
"Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja, boleh?"
"Sentuhlah."
Dimas mengulurkan tangannya menyentuh perut Tiara. Ada rasa senang dan haru ketika tangannya bisa menyentuh perut itu.
Hai, son ini Daddy. Baik-baik di perut Mommy ya sayang, batin Dimas.
"Bagaimana?" tanya Tiara tiba-tiba mengejutkan Dimas.
"Dia bayi yang sehat, dan pastinya tampan seperti Daddy Nya" ucap Dimas asal karena tidak tau harus bicara apa.
"Kenapa? Apa kau merindukan Ayah dari anakmu?" tanya Dimas.
"Tidak, kenapa aku harus merindukan pria sepertinya?"
"Pria sepertinya? memangnya kenapa? Bukankah ia pria baik dan bertanggung jawab?" ucap Dimas heran.
"Dia pria bodoh!" ucap Tiara kesal.
"Bodoh? saya rasa tidak dia tampan dan cukup bertanggung jawab!"
"Dia bodoh, karena berhasil di perdaya oleh wanita yang sama bodohnya sepertinya."
"Tidak, kau pasti salah paham padanya."
"Kenapa kau membelanya!! kalau kau menyukainya kau jaga saja dia! Tidak usah dekat denganku lagi!! Kalau perlu aku akan menelpon Kakek dan meminta Kakek menjadikanmu suster pribadi mereka berdua." kesal Tiara.a
"Setelah aku pikir-pikir ucapanmu memang benar. Mereka memang dua orang bodoh yang perlu disingkirkan" ucap Dimas berusaha berpihak pada Tiara.
__ADS_1
"Apa maksudmu!!!?" suara Tiara mulai terdengar tinggi dan tidak bersahabat.
"Aku hanya mendukung ucapanmu saja."
"Aku hanya mengatakannya bodoh dan tidak bermaksud menyingkirkannya."
Astaga, salah lagi. Perempuan memang benar-benar rumit, batin Dimas
"Iya maaf saya salah bicara." Dimas memukul mulutnya di depan Tiara.
Tok tok tok..., terdengar ketukan pintu di depan kamar Tiara.
Dimas yang ingin bangun dan membuka pintu itu di cegah oleh Tiara.
"Biar aku saja yang membukanya."
"Pak Roy, ada perlu apa?" tanya Tiara terkejut pasalnya selama ini pria itu belum pernah mendatangi Tiara ataupun bicara akrab dengannya.
"Aku-aku tadi dari kamar suster Dina, ia kemana ya? kenapa kamarnya kosong? padahal saya sudah menunggu lama di depan pintunya tapi ia tak juga kembali ke kamarnya" ucap Roy dengan nada bicara yang terdengar hati-hati.
"Itu suster Dina, ia sedari tadi ada di kamarku karena takut ada kecoa di kamarnya" Tiara membuka pintu kamarnya lebar dan menunjuk suster Dina yang baru saja merebahkan tubuhnya di kasur Tiara.
"Apa kecoa? beritahu saya dimana kecoa yang berani mengganggu suster Dina, biar aku singkirkan" ucap Roy yakin.
"Ayo suster kita ke kamarmu. Pak Roy yang akan membantai kecoa yang berani masuk ke kamarmu" Seketika wajah Tiara tersenyum senang. Ia menghampiri Suster Dina dan menarik tangannya untuk turun dari kasur dan menuju ke kamar suster Dina di lantai satu.
Roy memimpin jalan dengan bangganya. Sementara Tiara mengikutinya dengan senang hati. Hanya Dimas yang sedang menekuk wajahnya tak suka.
Pria ini memang pengganggu, harusnya aku singkirkan dia terlebih dahulu, batin Dimas kesal.
Sesampainya di depan kamar suster Dina. Tiara dan suster menunggu di depan kamar, hanya Roy yang memasuki kamar itu dan memeriksa secara teliti kondisi kamar itu. Ia bahkan sampai memeriksa kolong meja dan tempat tidur untuk mencari keberadaan makhluk kecil yang menjijikan itu.
"Suster, saya sudah memeriksa secara teliti. Tapi kecoak itu belum saya temukan juga. Saya rasa ia sudah berhasil kabur dari kamar suster" ucap Roy yakin.
"Wah Pak Roy hebat, sekali datang kecoak langsung menghilang. Suster tidak perlu takut lagi dan sudah bisa tidur di kamar suster sendiri" ujar Tiara senang.
"Tapi Nona saya masih takut. Bagaimana jika Kecik itu datang saat saya sedang asyik tidur" ucapnya memelas.
"Begini saja Non Tiara, biarkan suster Dina tidur di kamar saya. Saya akan tidur di kamar suster, bagaimana?" ucap pria itu terlihat bangga. ia ingin menunjukkan pada suster Dina kalau dia adalah pria murah hati.
"Bagus itu saya setuju" tanpa bertanya pada suster Dina Tiara menyetujuinya.
__ADS_1
Benar-benar pria hama pengganggu, sepertinya aku harus meminta Erick untuk membelikan racun potas untuk pria ini, agar ia tidak merusak rencanaku.
TBC.