UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Taktik Dimas.


__ADS_3

Wanita itu terkejut karena ada pria yang tiba-tiba memeluknya. Dengan cepat ia mendorong pria yang tak juga melepaskan pelukannya.


Roy cukup terkejut dengan tenaga yang dimiliki wanita di hadapannya ini. Padahal ia sudah merengkuhnya dengan kuat, tapi hanya dengan satu dorongan saja sudah membuat Roy hampir terjengkal ke belakang karena tenaga wanita itu yang cukup luar biasa. Ini menambah kekaguman pria itu.


Benar-benar wanita yang luar biasa, gumamnya lirih hampir tak terdengar.


Kakek menahan tawanya melihat Suster itu yang terlihat jijik. Ia membersihkan bekas sentuhan Roy dengan tisu yang ada di kantong roknya dan memelototi pria itu kesal. Roy bukannya takut ia malah makin terpesona dengan suster itu.


Benar-benar wanita langka, batin Roy tersenyum senang.


"Tiara!" panggil Kakek.


"Ya, Kek."


"Kemarilah" Tiara mendekat ke pria tua itu, Dimas yang berada di sebelahnya ingin sekali memeluk wanita itu dan membawanya pulang. Tapi ia menahan semua rasa itu.


Ya pria itu adalah Dimas, ia mendadani dirinya seperti wanita. Dengan trik make up ia terlihat begitu cantik dan sangat berbeda dari wajahnya yang sebelumnya.


Ia bahkan harus rela menghilangkan beberapa bulu di bagian tubuhnya agar terlihat seperti wanita tulen. Belum lagi ia yang harus belajar jalan seperti wanita dan juga mempelajari trik mengubah suara agar lebih terdengar lembut seperti wanita pada umumnya.


Dimas benar-benar menjelma menjadi suster cantik yang di gilai para pria. Bahkan sepanjang perjalanan banyak pria yang tak bisa mengalihkan pandangannya darinya.


"Ini adalah suster yang akan menemanimu, dan juga memperhatikan kesehatanmu. Tolong dengarkan perkataannya, ini semua Kakek lakukan karena Kakek tidak ingin kau makan makanan sembarangan yang akan membahayakan cucu Kakek nanti."


"Tapi Kek, Tiara kan nggak sakit. Yang lebih membutuhkan perawatan itu Michael Kek, bukan Tiara."


Dimas terlihat kesal, karena Tiara manggil pria itu tanpa embel-embel apapun.


"Kau juga membutuhkan suster yang merawatmu Tiara. Apalagi kandunganmu semakin lama akan semakin membesar" ujar Michael menimpali.


Apa mereka sebegitu akrabnya, sampai memanggil nama tanpa sungkan, batin Dimas kesal.


"Ia tapi Kakek menyewa suster ini khusus menjagamu, ia selain tahu banyak tentang kesehatan ia juga bisa bela diri. Jadi jika kau bosan kau bisa keluar bersamanya tanpa harus khawatir bertemu dengan suamimu, Karena ia pasti bisa melindungimu dari suamimu dan anak buahnya."


"Benarkah Kek?" tanya Tiara senang.

__ADS_1


"Ia, jangan khawatir selama suster ini bersamamu, Dimas tidak akan berani muncul."


"Baiklah Kek, kalau begitu biarkan ia jadi suster penjagaku mulai sekarang."


"Saya akan melayani anda dengan senang hati Nona" Ucap suster itu dengan lembut tapi suaranya terdengar sedikit ngebas hingga Tiara sempat mengerutkan keningnya karena terdengar aneh di telinganya.


"Siapa nama anda Suster?" tanya Tiara


"Dim..., eh maksud saya Dina nona" ucap Dimas, hampir saja ia keceplosan menyebutkan namanya. Untung saja Kakek langsung menyenggolnya untuk mengingatkannya.


"Oh Dina. Mulai sekarang boleh ya, aku panggil mbak Dina. Sepertinya Anda terlihat lebih tua dari saya" ujar Tiara.


"Anda bisa memanggil saya Dina saja Nona" Dimas juga ingin terlihat akrab dengan Tiara tanpa ada embel-embel apapun.


"Tidak, kau terlihat jauh lebih tua dariku. Akan tidak sopan jika hanya memanggil nama saja."


"Kalau begitu Kakek permisi dulu Tiara, Kakek masih ada perlu dengan suster ini. Michael, Kakek duluan ya."


"Hati-hati Kek" ucap Michael, sementara Dimas yang diminta untuk mengikuti Kakek terlihat tak rela meninggalkan Tiara dengan dua laki-laki aneh di ruangan itu.


Tiara sedikit terkejut, Roy yang dikenalnya sedikit bicara dengannya, mau menyapa suster yang baru saja di kenalnya.


Modus, dasar cowok kalau ada maunya, batin Tiara menyembunyikan tawanya.


Suster itu memberengut kesal karena ucapan Roy, ia mengabaikan keberadaan Roy disana dan berlalu pergi.


Tiara yang melihat ekspresi Suster itu mengingatkannya pada ekspresi suaminya jika kesal padanya.


Melihat ekspresi Suster itu mengingatkanku padamu Mas. Apa kabarmu mas, aku merindukanmu, batin Tiara. Ia mencoba menenangkan moodnya yang tiba-tiba berubah menjadi melo. Entah mengapa ia ingin menangis di pelukan suaminya saat ini.


"Kamu kangen Daddy yang sayang, sama mommy juga kangen Daddy" gumam Tiara lirih. Michael yang berada di dekat Tiara mendengar kegalauan Tiara. Ia menghembuskan nafasnya kasar, menatap wajah Tiara yang tiba-tiba menjadi mendung.


"Michael, aku balik ke kamar dulu ya" ucap Tiara tiba-tiba karena sudah tak bisa membendung lagi air matanya yang ingin lolos dari pelupuk matanya.


Tanpa menunggu jawaban dari Michael ia berlalu begitu saja, mengacuhkan Roy yang menatapnya dengan heran.

__ADS_1


"Kenapa dia Bos, aneh sekali?" tanya Roy.


"Kau juga keluarlah. Aku ingin beristirahat." ujar Michael mengusir keberadaan Roy di ruangannya.


"Kenapa hari ini semua orang terlihat aneh" ujarnya berlalu pergi.


***********


Sementara itu di sebuah ruangan yang terletak pada lantai paling atas gedung itu terdapat Kakek dan Dimas yang sedang terlibat dalam pembicaraan.


"Ruanganmu ada di lantai bawah, Aku sudah persiapan semua keperluanmu disana. Jaga sikapmu itu jangan sampai ketahuan, kalau tidak Kakek tidak punya cara lain lagi untuk mendekatkanmu dengan Tiara."


"Lalu ruangan Tiara, ada dimana?"


"Dekat dengan ruangan Michael, hanya tersekat oleh satu ruangan disebelahnya."


"Kalau begitu Kakek harusnya tempat aku sekamar dengan Tiara" Protes Dimas.


"Jangan gila kau, baru datang sudah mau sekamar saja. Kau lihat dirimu di cermin."


"Cih, ini semua gara-gara Kakek. Coba saja Kakek tidak membantu Tiara sembunyi disini."


"Apa kau ingin istrimu berkeliaran di luar sana tanpa ada keluarga yang melindunginya" Kesal Kakek.


"Maksudku tidak seperti itu Kek. Kalau aku tidak bisa sekamar dengannya setidaknya biarkan ruanganku satu lantai dengannya" ujar Dimas.


"Ruangan itu sudah penuh sebelum kau kemari, jadi jangan banyak protes. Akan terlihat aneh jika aku harus memindahkan kamar seseorang hanya karena seorang suster. Nikmati saja peranmu, bersyukurlah karena masih bisa dekat dengan istrimu setelah semua kebodohan yang kau lakukan."


"Iya Kek, terimakasih karena sudah membantuku" ucap Dimas pasrah.


"Kalau Kau ingin sekamar dengannya, pikirkan sendiri. Gunakan otakmu itu untuk melaksanakan keinginanmu. Bukannya kau paling pintar memperdaya istrimu." Kakek langsung pergi dari situ. Ia malas berdebat dengan cucunya yang selalu berpikir berlebihan jika sudah menyangkut istrinya.


"Kakek benar, aku memang harus menggunakan otakku, untuk menaklukan istriku. Sepertinya aku punya cara agar bisa tidur sekamar dengannya malam ini" gumam Dimas lirih. Otaknya sudah di penuhi pikiran mesum tentang istrinya saat ini.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2