
Seorang satpam segera membukakan gerbang ketika melihat sebuah mobil ingin memasuki gerbang sekolah.
Mike melangkah keluar terlebih dahulu disusul oleh Dimas kemudian. Di pintu masuk mereka bertemu dengan wali kelas Dewi.
"Selamat Pagi Pak Mike, Pak Dimas" wali kelas itu menyapa dengan ramah lalu berjabat tangan.
"Pagi Pak Guru, Oh ya Pak saya ingin bertemu dengan Dewi, kelasnya ada disebelah mana ya Pak?" tanya Mike terlihat tak sabar. Ia belum merasa tenang jika belum melihat Dewi baik-baik saja.
"Maaf Pak Mike, semenjak insiden terjatuh kemarin. Dewi tidak pernah datang ke sekolah dan hari ini pun begitu, Dewi sama sekali belum masuk sekolah" jelas Pak Guru. Mike terlihat bingung dan terkejut.
"Tenanglah, aku sudah mengerahkan anak buahku mencarinya" ucap Dimas dengan suara pelan. Begitu ia pulang dari kediaman Mike dan tidak mendapati Dewi, Dimas langsung memerintahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Dewi.
"Kami ingin bertemu kepala sekolah. Bisa bapak antarkan kami keruangan beliau" ucap Dimas. Guru itu mengangguk dan membawa mereka menuju ruangan kepala sekolah.
"Maaf Pak Dimas saya ada jadwal mengajar jadi tidak bisa menemani bapak ngobrol. Saya mohon pamit undur diri" ucap Pak Guru setelah mengantar Mike dan Dimas sampai di depan pintu ruang kepala sekolah. Dimas mengangguk dan Pak Guru segera pergi menuju ruang kelas.
"Selamat Pagi Pak Mike, Pak Dimas" sapa sang kepala sekolah melihat kedatangan Mike di susul Dimas kemudian. Mereka saling berjabat tangan, lalu kepala sekolah mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Selamat pagi Pak, kedatangan kami kemari terkait dengan kasus Nara dan juga Dewi. Apa Bapak sudah menemukan titik terang" tanya Mike tanpa basa-basi. Ia belum ingin mengeluarkan bukti terkait video yang sudah ia dapatkan dari Dimas. Sementara Dimas duduk dengan tenang membiarkan Mike untuk bicara.
"Begini Pak Mike, Pak Dimas, sebelumnya saya mohon maaf, Terkait masalah kasus Nara dan Dewi kebetulan sudah diambil alih oleh ketua Yayasan. Saya tidak memiliki kuasa untuk memutuskan, saya hanya bisa memantau secara diam-diam" jelas sang kepala sekolah sedikit ragu.
"Kenapa bisa begitu Pak?" tanya Dimas terkejut, setahunya ketua yayasan tidak pernah mencampuri masalah internal sekolah terkait dengan kenakalan siswa."
"Kebetulan anak-anak yang memberi kesaksian kemarin salah satunya merupakan anak ketua, wakil ketua dan juga staf Yayasan Pak" Kepala sekolah menjelaskannya dengan ragu dan sedikit takut. Siapa yang tak mengenal Dimas di sekolah itu, ia merupakan cucu satu-satunya pemilik dari sekolah. Hanya dengan satu ucapan pecat darinya maka dijamin kariernya di dunia pendidikan akan berakhir.
__ADS_1
Dimas mengerti sekarang kenapa kasus ini terkesan ditutup-tutupi. Belum lagi hasil rekaman CCTV yang dihapus dan kamera yang juga ikut dirusak.
"Panggil Ketiga orang tua siswa itu sekarang juga" perintah Dimas terlihat kesal.
"Baik Pak" wajah sang kepala sekolah berkeringat melihat wajah Dimas yang kesal. Ia segera menelpon orang yang Dimas maksud sembari menghapus keringat yang mengalir di wajahnya.
Tak menunggu lama, ketiga orang itu datang dengan terburu-buru. Mereka tidak menyangka anak pemilik sekolah datang dan ingin menemui mereka. Mereka sama sekali belum tahu jika Dimas mengenal Nara maupun Dewi dengan baik. Itulah sebabnya mereka berani mendukung ketiga anaknya memfitnah Dewi.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu, sang kepala sekolah mempersilahkan mereka masuk, dan duduk di sofa yang ada diruangan itu. Mereka menatap Dimas dan menunduk hormat. Terdapat senyuman di wajah mereka bertiga, mereka sama sekali belum menyadari kesalahan besar yang telah mereka perbuat.
"Perkenalkan ini Tuan Mike, wali dari Dewi dan Nara. Dan orang yang berada disebelahnya saya kira Bapak-bapak yang terhormat sudah sangat mengenal beliau" Kepala sekolah memperkenalkan Mike. Mereka bertiga saling berpandangan, terlihat seperti sedikit terkejut. Mereka berharap jika Dimas berada diruangan kepala sekolah bukan karena berada di kubu Mike.
"Selamat pagi Pak Dimas, Pak Mike" sapa mereka sembari memperkenalkan diri mereka masing-masing.
"Begini Pak dari hasil investigasi kami terhadap ketiga saksi yang kebetulan berada di tempat kejadian. Pelaku dari kecelakaan itu tidak lain dan tidak bukan adalah saudara Dewi. Mereka berdua sebelumnya terlibat percekcokan lalu Dewi akhirnya mendorong Nara hingga jatuh dari tangga" jelas salah satu dari mereka dengan penuh percaya diri.
"Apa anda yakin benar-benar telah melakukan penyelidikan dengan benar. Lalu Dewi yang anda katakan sebagai pelaku itu apa kalian juga sudah bertanya padanya tentang kejadian yang sesungguhnya" Mike terlihat geram, tapi ketiga orang itu masih tampak tenang dan menjelaskan dengan penuh percaya diri.
"Pak Mike, Dewi adalah tersangka utama. Untuk apa lagi kita bertanya padanya, sudah jelas ia tidak akan mengaku" jelas mereka lagi.
"Apa kalian memiliki bukti otentik kalau dia benar-benar pelaku yang sebenarnya?" tanya Dimas dengan wajah datar. Sedari tadi ia hanya duduk tenang dan menyimak percakapan.
"Sudah jelas Pak Dimas kalau Dewi memang pelakunya, ketiga siswi memberikan keterangan yang sama. Jadi dapat dipastikan kebenarannya. Lagipula menurut keterangan dari beberapa siswa, Dewi dan Nara sering terlihat tidak begitu rukun" jelas mereka lagi.
__ADS_1
"Bagaimana bisa pernyataan ketiga orang siswi bisa anda jadikan sebuah fakta dengan menetapkan seorang pelaku tanpa adanya bukti pendukung. Sekalipun Dewi dan Nara terkadang tidak rukun tapi itu semua tidak bisa kalian jadikan sebuah dasar untuk menetapkan seorang pelaku" kesal Mike, Dimas melihat kemarahan dari ekspresi wajah Mike. Ia menenangkan Mike melalui sentuhan tangannya.
"Saya beri kesempatan pada bapak bertiga untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya. Sebelum saya sendiri yang turun tangan" Akhirnya Dimas ikut angkat suara.
"Apa yang telah kami sampaikan merupakan sebuah kebenaran Pak Dimas dan memang begitu kejadiannya" mereka masih saja kekeh dengan pendapat mereka. Mereka yakin Dimas maupun orang lain tidak akan mendapatkan bukti kejadian yang sebenarnya mengingat mereka telah menghapus barang bukti.
"Bagaimana saya bisa mempercayai pernyataan kalian jika saksi yang kalian katakan itu adalah putri kalian. Bagaimana jika kenyataannya sebaliknya bukan Dewi pelakunya tapi putri kalian!!" ucap Mike dengan nada tinggi. Ia bisa melihat ekspresi terkejut pada ketiga wajah pria itu sekalipun kemudian mereka tersenyum untuk menutupi rasa terkejutnya.
"Pak Mike bercanda, kami yakin anak-anak kami tidak mungkin melakukan kesalahan yang mengakibatkan celakanya seseorang. Mereka adalah anak-anak yang baik dan berprestasi" ucapnya sembari tertawa kecil.
"Kalian yakin?" tanya Dimas memastikan.
"Yakinlah Pak Dimas" ucap mereka penuh percaya diri. Mike yang terlihat marah ingin menyela ucapan mereka tapi Dimas menghentikannya.
"Baiklah, karena kalian tidak mau menggunakan kesempatan yang sudah saya berikan dengan berkata jujur, maka kalian bertiga saya pecat. Sekolah ini tidak membutuhkan seorang Ketua yayasan maupun pengurus yang lebih mengutamakan kepentingan keluarga di bandingkan mengungkap kebenaran" ucap Dimas membuat mereka bertiga terkejut.
"Pak Dimas bagaimana bisa anda memecat kami bertiga begitu saja hanya karena Masalah ini. Lagipula tidak ada bukti satupun yang menyatakan putri kami pelakunya!!" ucap sang ketua yayasan menahan geram.
"Tentu saja saya bisa memecat kalian sekalipun saya tidak memiliki bukti apapun. Sekolah ini milik saya, Kakek telah mengalihkan kepemilikan sekolah ini padaku. Dan orang yang celaka itu adalah calon adik ipar saya dan satu lagi Pak Mike yang ada disebelah saya adalah adikku. Beraninya kalian memutar balikkan fakta dan memfitnah seseorang sembarangan. Dewi orang yang kalian fitnah itu adalah adik angkat saya. Apa alasan itu belum cukup?" ujar Dimas dengan nada tinggi.
Wajah ketiga orang itu terlihat pucat. tapi walau bagaimanapun mereka harus bisa meyakinkan Dimas agar mereka dan ketiga putri mereka selamat dari incaran Dimas.
"Sekalipun anda pemilik sekolah ini, anda tidak bisa memecat kami begitu saja. Kami bisa melaporkan kesewenangan ini kepada Dinas ketenagakerjaan. Dan satu lagi tidak ada bukti ataupun fakta otentik yang bisa membuktikan jika pelakunya adalah putri kami" ujar orang itu penuh percaya diri.
"Kalian memerlukan bukti? Baiklah, akan aku berikan bukti yang kalian inginkan" Dimas mengeluarkan sebuah USB ia meminjam laptop kepala sekolah untuk menyetel video rekaman yang sebelumnya telah berhasil mereka hapus. Wajah mereka pucat pasi dan saling berpandangan satu sama lain melihat layar laptop yang menampilkan kejahatan putri mereka.
__ADS_1
TBC.