UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Kemarahan Aiko


__ADS_3

Dimas mengepalkan tangannya, menahan amarahnya dengan wajah Dinginnya. Bahkan Eric yang melihat reaksi bosnya itu merinding. Merasakan hawa dingin yang keluar dari bosnya itu.


"Matilah kau bos, gadis kecilmu itu pasti menyaksikan ini semua," gumam Eric lirih.


Dimas saat ini tidak bisa berbuat apa-apa, ketika Kakeknya memintanya untuk menyematkan cincin di jari Aiko. Dengan terpaksa ia melakukannya.


"Dengar pertunangan ini bagiku hanyalah sandiwara belaka, jangan berharap lebih" ucap Dimas sambil memeluk Aiko setelah mereka memasangkan cincin di jari masing-masing.


Setelah selesai memasang cincin, Dimas langsung meninggalkan panggung, tanpa permisi. Bahkan Dimas juga pergi meninggalkan pesta dengan wajah juteknya. Perbuatan Dimas membuat geram Kakeknya dan juga Ayah Aiko. Mereka merasa tidak dihargai. Kakek Dimas dan Ayah Aiko menatap tajam ke arah Dimas.


Sementara tamu undangan yang melihat perbuatan Dimas merasa heran. Ada apa dengan pertunangan ini, mengapa Dimas tidak merasa senang dengan pertunangannya apalagi terpancar wajah dingin menahan marah dari Dimas. Seketika suasana ruangan itu menjadi dingin mencekam.


Aiko berusaha mengalihkan perhatian tamu undangan. Aiko merebut mic dari MC yang terbengong menatap kepergian Dimas.


"Selamat malam untuk para tamu undangan yang terhormat. Terimakasih atas kedatangannya dalam acara malam ini. Karena malam ini merupakan malam bahagia untuk saya dan juga tunangan saya Dimas beserta keluarga kami."


"Mohon dukungan dan juga doa'nya agar kami bisa secepatnya mengusung pertunangan ini menjadi pernikahan yang sebenarnya. Dan mohon maaf karena tunangan saya Dimas harus cepat-cepat meninggalkan acara ini, karena ada emergency yang harus di selesaikan segera. Sehingga dengan terpaksa harus meninggalkan acara ini."


"Sekali lagi saya mohon maaf dan terimakasih banyak. Please enjoy the meal provided and enjoy your time too, thank you."


Aiko menampilkan senyum terbaiknya untuk tamu undangan. Sehingga membuat tamu ikut merasakan kebahagiaan mereka. Seketika para tamu memberikan tepuk tangan meriah bersamaan. Setelah meras cukup dengan sambutannya Aiko lalu berbalik pergi meninggalkan panggung di ikuti oleh yang lainnya.


Aiko menahan amarahnya ia mengepalkan tangannya dengan erat, Aiko ikut berjalan keluar dari pesta itu. Ia memasuki kamar hotel yang sudah di pesannya.


Braaakkk


Braaakkk


"Aaarggghhhh.....!!!!!" Aiko berteriak keras ia bahkan menghancurkan barang yang ada di kamar itu.


"Brengsek, baji*gan!!! Berani-beraninya kau mempermainkan ku. Aku akan membunuh siapa saja yang berani merebutmu dariku Aaaagghhh.......!!!


Praangkk...., Aiko melempar kaca riasnya menggunakan lampu tidur yang ada di sebelah tempat tidurnya.


Kamar itu benar-benar hancur sekarang bahkan tangan Aiko terluka karena tak sengaja mengenai benda tajam ketika ia sedang menghancurkan barang-barang.

__ADS_1


Padahal kamar itu direncanakan Aiko untuk memadu kasih dengan Dimas. Setelah acara tukar cincin, Ia berencana akan bersulang dengan Dimas dengan minuman yang akan ia campuran bubuk perangsang.


Belum sempat Aiko menjalankan aksinya, tiba-tiba saja Dimas sudah pergi meninggalkan acara. Apa yang dilakukan Dimas benar-benar mempermalukannya. Ia berjanji dalam hati akan membalas perbuatan Dimas ini.


***********


Sementara itu di rumah sakit saat ini Rendra sudah di tempatkan di ruang rawat inap. Tiara, Mona dan Reno menunggu Rendra sadar.


"Maaf Tuan apakah anda sudah menghubungi Bu Rina." Mona mengingatkan Reno untuk menghubungi Ibunya. karena sejak tadi ia tidak melihat kehadiran Ibu Rina.


"Astaghfirullah, Saya lupa" Dengan segera Reno merogoh handphone yang ada di saku celananya. Ia lalu keluar ruangan untuk menghubungi Ibunya.


"Memangnya Ibu Rina siapa?" tanya Tiara kepada Mona.


"Ibu kandung Tuan Reno"


"Ooh" ucap Tiara.


"Astaga aku juga lupa menghubungi Andini. Ya ampun handphone aku kan ada di tas, di rumah tuan Reno" ucap Tiara lirih tapi masih terdengar oleh Mona.


"Ya ampun Mona terimakasih banyak ya, kamu memang sahabat terbaikku" Ucap Tiara memeluk Mona, kemudian mengambil tas selempangnya dari tangan Mona.


Tiara langsung mengambil handphone miliknya dari dalam tasnya. Ia melihat 10 panggilan tak terjawab dari Andini. Ia kemudian menghubungi Andini.


"Ya ampun Tiara kamu kemana aja? untung kamu segera menelpoku. Aku baru saja ingin menghubungi Dimas. Aku takut kamu kenapa-kenapa, bisa di gantung Dimas Aku kalau sampai kamu kenapa-kenapa" Cerocos Andini begitu mengangkat Telpon dari Tiara.


"Maaf Din, ini anak majikanku kecelakaan. Jadi aku nggak pulang ya hari ini. Aku mau tunggu dia sampai sadar."


"Oke deh terserah kamu aja, yang penting jaga diri kamu baik-baik ya."


"Ya, jangan khawatir. Terimakasih banyak ya Andini, assalamualaikum" Tiara langsung mengakhiri pembicaraannya dengan Andini.


Tiara sebelumnya sudah menceritakan pekerjaannya pada Andini. itu cukup membuat Andini terkejut. Bagaimana mungkin Tiara bisa bekerja sebagai pengasuh bukankah Dimas adalah gudangnya uang. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua. Dan siapa Tiara sebenarnya dan apa statusnya?


Banyak pertanyaan yang hinggap di kepala Andini, Tapi ia sama sekali belum berani menanyakan itu. mungkin nanti saat ia sudah akrab dengan Tiara.

__ADS_1


Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya memasuki ruangan itu dengan tergesa-gesa. Masih ada sisa air mata di pipinya. Reno mengikuti langkah wanita itu dan mencoba menenangkannya.


"Tenanglah Ma, cucu mama sudah baik-baik saja" Reno mencoba menenangkan Ibunya.


Wanita itu mengabaikan ucapan Reno. Ia langsung menuju ke arah cucunya. Ia menangis di depan cucu kesayangannya itu.


"Bangun sayang, kenapa kamu bisa jadi begini? Maafin Oma yang baru datang menjengukmu. Cepat sadar dan cepat sembuh ya sayang" Oma Rina menciumi seluruh wajah Rendra, air matanya kembali menetes melihat kondisi tak berdaya cucu kesayangannya.


Reno menahan air matanya melihat interaksi ibunya dan anaknya. Reno yang khawatir dengan ibunya pun mendekat, Ia mengelus punggung Ibunya.


"Tenang Ma, kata dokter kondisinya sudah stabil. Tinggal penyembuhan saja, kita doakan yang terbaik untuk kesembuhannya ya Ma. Mama jangan terlalu banyak pikiran nanti darah tinggi mama kumat lagi" Reno memperingati ibunya tentang penyakit lama ibunya itu.


Mama Rina yang kecewa melihat kondisinya terluka pun menatap anaknya kesal. Ia meraih tas selempang yang menggantung di tubuhnya lalu memukul-mukulkannya pada Reno.


"Aaaww Ma sakit ma, ampun Ma..."


"Dasar Duda nggak laku jaga anak aja nggak becus. Cepat cari istri sana biar ada yang jaga anakmu. Mama akan bawa Rendra ke luar negri menyusul papamu kalau sampai kau belum juga menikah dalam tiga bulan ini" Mama Rina benar-benar kesal dengan anaknya. Ia terus memukul-mukul anaknya sambil memakinya.


"Aaaw sudah ma aaawww...." Reno berteriak kesakitan. Mama Rina yang merasa lelah setelah memukul anaknya pun kembali duduk di kursinya yang terletak di samping tempat tidur Rendra.


"Apa kau tidak kasihan anakmu, sudah lama ia menginginkan seorang Ibu" ucap Mama Rina lirih.


"Reno tau ma, tapi Reno belum Nemu yang cocok," jawab Reno beralasan.


"Alasan saja kamu, bukannya kata anakmu kamu lagi suka sama pengasuh anakmu. Rendra juga kelihatannya sayang banget sama dia. Siapa namanya itu Ti..., Ti..."


"Ehem, Mama jangan ngaco deh" Reno berdehem menghentikan ucapan Ibunya, sambil melirik Tiara dan Mona yang posisi duduknya di belakang Mama Rina. Sehingga Mama Rina tidak mengetahui kehadiran dua wanita cantik itu di dalam ruangan itu.


"Oh iya namanya Tiara" ucap Mama Rina bersemangat. Sementara Reno menepok jidatnya, menatap Ibunya yang benar-benar tidak peka.


"Uhuk-uhuk, uhuk...." Tiara yang baru saja mau menelan minumnya jadi keselek mendengar ucapan mama Reno.


Mama Reno yang terkejut mendengar ada suara lain di ruangan itu menolehkan kepalanya ke belakang. Menatap dua wanita cantik itu kemudian kembali menatap Reno. Reno hanya bisa kembali menepok jidatnya, sambil memberi pelototan pada Ibunya.


"He he he..., Maaf" ucap Mama Rina, melihat anaknya yang melotot padanya.

__ADS_1


__ADS_2