UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Ngidam Nasi Goreng


__ADS_3

Matahari pagi menyoroti celah-celah kamar. Membangunkan sosok dua insan yang terhanyut dalam buaian tidurnya, setelah olahraga malam yang mereka lakukan semalam.


"Mas, ayo bangun" ajak Lia sembari berusaha melepaskan pelukan suaminya.


"Masih ngantuk banget Yang."


"Siapa suruh begadang."


"Kok aku disalahin sih Yang, ini juga kan gara-gara kamu ngegoda aku semalaman. Tapi aku suka, kita lakuin sekali lagi yuk Yang."


"Cukup Mas, badan Lia rasanya remuk. Ini juga masih perih mas rasanya." protes Lia.


"Maaf Yang, abis enak banget sih jadi Mas nggak bisa berhenti deh. Tuh Yang, bangun lagi, gimana ini Yang." Tunjuk Farih memperlihatkan miliknya yang kembali terbangun.


"Aaaaah..., Mas mesum" Lia menarik selimutnya menutupi wajahnya.


"Tapi sukakan?"


"Tau ah, gelap."


"Ya udah mandi bareng yuk."


"Nggak ah, Mas aja duluan Mandi" tolak Lia.


"Nggak ada penolakan" Farih membuang selimut yang menutupi tubuh Lia. Ia menggendong Lia menuju ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi lagi-lagi Farih melakukannya, membuat Lia mendengus kesal. Suaminya itu seperti ketagihan, tubuh Lia bagaikan magnet untuknya.


Sementara itu Tiara dan Dimas sedang sibuk di dapur. Tiara ngidam nasi goreng buatan suaminya. Dimas yang sama sekali belum pernah menyentuh dapur kelihatan kerepotan. Ia mengikuti instruksi Tiara untuk membuat nasi goreng.


"Jangan lupa di kasih sosis, bakso dan juga sayuran hijau ya Mas. Sayurnya sama cabenya yang banyak ya Mas" pinta Tiara.


"Orang hamil nggak boleh makan terlalu pedes Yang. ini Mas kasih satu aja ya cabe nya." ucap Dimas sembari mengulek bumbu.


"Kok, satu sih Mas. Ya, nggak terasalah pedasnya. Kasih lima atau tujuh gitu lho Mas, biar terasa pedesnya dikit" protes Tiara


"Ini Mas tambahin jadi 3 cabenya lho Yang, udah nggak boleh nambah lagi. Kasih kecap nggak ini Yang?" tanya Dimas.


"Jangan Mas yang ada nanti pedesnya nggak kerasa malah jadi manis."


"Bagus dong Yang, anak kita nanti biar ikutan manis kayak Ibunya."


"Yeee, mana ada yang kayak gitu. Mas masih lama ya?" tanya Tiara terlihat tak sabaran.


"Lagi bentar Yang tunggu sayurnya biar agak layu ya."

__ADS_1


"Hemm, baunya enak banget. Tiara jadi makin laper nih Mas."


"Kamu tunggu di meja makan aja Yang 12, lagi bentar juga Mateng kok. Nanti mas siapkan."


"Ya udah, Tiara kesana dulu. jangan lama-lama ya Mas."


"Iya, sayangku jangan khawatir lagi bentar kok."


Tak lama Dimas datang dengan membawa Semangkuk besar nasi goreng. Nasi goreng yang Dimas buat kira-kira cukup untuk 3 orang.


"Yeee, akhirnya jadi juga nasi goreng spesial buatan suami aku."


Dimas menuangkan nasi goreng diatas piring Tiara. Sementara Dimas memilih memakan roti. Entah mengapa melihat istrinya yang lahap memakan masakannya membuat perutnya tiba-tiba merasa kenyang.


Tak lama Lia dan Farih menuruni anak tangga dengan senyum merekah. Farih menggandeng tangan istrinya yang berjalan dengan hati-hati.


Sampai di meja makan, Farih melihat adiknya yang menikmati nasi goreng. Bahkan Tiara mengisi kembali piringnya yang telah kosong.


"Enak banget ya dek, bagi dong buat Kakak" Farih menyodorkan piringnya ke pada Tiara. Masalahnya Nasi goreng itu saat ini ada di hadapan Tiara.


"Nggak boleh, ini nasi goreng buatan suami aku. Kakak makan aja itu, menu buatan Bibik." Tiara mendekap nadi goreng buatan suaminya.


"Ya elah dek segitunya, emang habis nasi goreng sebanyak itu."


"Nanti siang Tiara, mau makan ini lagi."


"Nggak Yang, aku makan masakan Bibik aja. Ayok kamu juga makan yang banyak. Biar cepetan nyusul kayak Tiara" ujar Farih sembari mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Lia.


"Kalau mau ketularan kayak aku, bukannya makannya yang dibanyakin Kak. Tapi olahraga malamnya yang rutin" ujar Tiara sambil terkekeh geli.


"Kamu ini, kalau ngomong suka asal" protes Farih.


"Ya, nggak ngasal lah Kak, kalau..."


"Udah dimakan nasinya, jangan ribut di meja makan" potong Dimas, lalu menyuapkan nasi goreng untuk Tiara.


"Udahan ya Yang maemnya, ini kamu udah habisin dua piring lho."


"Tapi Tiara masih pingin Mas" ucap Tiara dengan Manja.


"Maem nanti lagi ya, mas ngeri lihat kamu makan segitu banyak. Kasihan nanti bayinya sesek di dalam" ucap Dimas asal.


"Iya deh, tapi entar maemnya ditemani ya Mas."


"Iya, kalau perlu nanti Mas masakin lagi" ucap Dimas, membuat Tiara bersemangat.

__ADS_1


"Yang besok kita balik ya, kerjaan Mas banyak yang terbengkalai nih."


"Kan ada Erick sama Mona Mas, Tiara rencananya dari sini ke kampung tempat Tiara di besarkan dulu. Sekalian mau nyekar ke kuburan Ayah."


"Memang kampungmu dekat dari sini?" tanya Dimas.


"Kalau perjalanan darat lumayan jauh, tapi kata Kakak kalau naik helikopter 40 menit sampai, iya kan Kak?"


"Tapi Kamu lagi hamil Tiara, emangnya aman?" tanya Dimas terlihat ragu.


"Tiara kalau kamu ingin melakukan perjalanan kesana sebaiknya kamu cek kandunganmu dulu ke dokter kandungan. Kalau Dokter bilang boleh baru kamu pergi." ujar Farih.


"Tapi aku harus balik besok Yang, soalnya ada meeting penting dan Kakek sudah telpon agar aku hadir. Karena meeting kali ini tidak bisa di wakilkan siapapun gimana dong Yang" ucap Dimas bingung.


"Ya Mas balik aja duluan Tiara ngak apa kok, Tiara bisa kesana minta sama mbak Lia kalau Mas sama Kak Farih repot. Bolehkan Kak, Mas?" tanya Tiara pada kedua orang itu.


"Iya Kakak sih bolehin aja, nanti kalau Kakak ngak repot, kakak ikut bareng kalian. Tapi kalau Kakak repot kakak bisa minta salah satu pekerja kita untuk nemenin kalian, gimana Dimas setuju ngak?" tanya Farih.


"Boleh deh kalau gitu, tapi kamu harus jaga diri baik-baik ya Yang. Mas ngak mau kamu sama anak kita sampai kenapa-kenapa."


"Mas tenang aja, Tiara bakal jaga anak ini dengan baik."


"Ya sudah, besok sebelum Mas berangkat, Mas antar kamu cek kandungan."


"Oke Mas, terimakasih ya. Tiara sayang sama Mas" Tiara mendekat dan memeluk suaminya.


"Manja" cibir Farih.


"Yee kalau iri, peluk aja noh istri sendiri. Tuh Kak Lia ada yang minta di peluk juga. Buruan gih Kak peluk suaminya, kasihan tuh ngeliatin Tiara mesra sama suami sampai ngeches gitu" tawa Tiara mengejek Farih. Sementara Lia hanya menggelengkan kepalanya melihat interaksi dua orang itu.


Farih dan Tiara jika bertemu memang seperti itu, mereka terkadang terlihat rukun dan kompak. Tapi sewaktu-waktu mereka bisa berdebat dan saling ejek satu sama lainnya.


Hari ini Tiara mengajak Dimas keliling kampung, sebelum suaminya itu berangkat besok.


Mereka menikmati pemandangan dari atas bukit, tempat yang terlihat begitu asri dengan pemandangan hamparan sawah dan perkebunan.


"Tiara pingin deh Mas, tinggal dikampung. Hawanya sejuk, asri dan ngak bising. Orang-orangnya juga ramah-tamah."


"Kita bisa sesekali kesini sayang kalau kamu mau, nanti Mas khusus buatkan villa buat kamu. Tapi kalau untuk menetap disini maafas belum bisa. Kamu tau sendirikan Mas anak satu-satunya keturunan Adi Nugraha, bearti Mas harus meneruskan usaha keluarga."


"Sedangkan Michael bukan cucu asli Kakek, pasti Kakek akan menolak jika usahanya Mas serahkan ke adik Mas Michael itu." ujar Dimas terlihat lesu.


"Iya, Tiara ngerti kok Mas, selama Tiara tinggal sama Mas dimana pun sebenarnya gak masalah, yang penting Mas sayang dan peduli sama Tiara."


"Terimakasih, sayang" Dimas memeluk istrinya dan mengacak lembut rambutnya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2