
Anton memilih untuk turun ke lantai dasar, ia menuju ke sebuah taman di samping rumah. Ia mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi panjang dan mengambil sebungkus rokok dari kantong celananya.
Ia mengeluarkan sebatang rokok dan menghidupkannya. Menghisap rokok dengan kuat dan menghembuskannya perlahan. Ia selalu melakukan itu untuk menenangkan pikirannya.
"Kau sudah dari tadi disini?" tanya Dimas ikut duduk di samping Anton.
"Baru beberapa menit yang lalu" jawab Anton.
"Bagaimana sidangnya, apa sudah ada keputusan? tanya Dimas lagi.
"Belum, masih mediasi. Mau rokok?" Anton menyodorkan sebungkus rokok di depan Dimas.
"Tidak, Tiara akan menyuruhku tidur di luar jika aku ketahuan merokok" tolak Dimas.
"Ternyata kau masuk ke golongan suami takut istri" Anton tertawa kecil.
"Kau pasti juga akan masuk golongan itu suatu saat nanti. Aku menantikan itu" ucap Dimas.
"Tidak akan" sahut Anton meremehkan.
"Kau belum merasakan bagaimana istri mengomel, dan mereka selalu menganggap perkataan mereka yang paling benar. Kalau kau coba melawan, habislah kau di omeli seharian" ujar Dimas.
"Kau lupa aku sudah menikah dua kali dan bahkan akan bercerai untuk kedua kalinya. Aku sudah kenyang dengan Omelan wanita" ucap Anton.
"Ya kau adalah masternya di keluarga kita, tapi bukan master penakluk wanita. Kau master perceraian, kau tau bukan di keluarga kita tidak ada satupun yang bercerai. Kau bahkan memecahkan rekor dengan bercerai dua kali" ucap Dimas tertawa.
"Sialan" umpat Anton.
"Oh ya kau kenal wanita yang bernama Dewi?" tanya Anton.
"Oh gadis itu, kenal. Memangnya ada apa dengan Dewi?" tanya Dimas sedikit heran.
"Kata pengasuh anakku, Angga lengket dengannya bahkan mereka sedang tidur berdua sekarang" jelas Anton pada Dimas, Dimas mengerutkan keningnya.
"Dewi itu adik angkat dari saudaraku Mike. Aku tidak begitu dekat dengannya walaupun kami pernah tinggal seatap selama satu bulan. Tapi selama bersama kami dia orangnya baik" jelas Dimas.
"Ooh.." jawab Anton singkat.
"Jangan bilang kau tertarik dengan gadis kecil itu, usia kalian beda jauh dia masih 17 tahun dan kau hampir 30 tahun" ucap Dimas.
__ADS_1
"Bukannya kau sendiri dengan Tiara juga berbeda jauh. Sepertinya kau juga melupakan fakta kalian kau sudah tua" sahut Anton tertawa, Dimas mencibirkan bibirnya.
"Jangan khawatir aku tidak tertarik dengan gadis itu aku hanya penasaran saja karena putraku lengket dengannya" ucap Anton.
"Hati-hati dengan rasa penasaranmu itu" ucap Dimas. Ia kemudian melihat jam yang ada dipergelangan tangannya.
"Aku masuk dulu, aku Ingin menemui putriku dan juga istriku. Kau tidak ikut masuk denganku" tawar Dimas.
"Baiklah, biasanya putraku juga sudah bangun jam segini.
Dimas masuk ke dalam rumah, ternyata semua orang berkumpul di ruang tengah. Mereka sedang bercanda dengan dua bayi berpipi montok. Bahkan Mike juga sudah bergabung dengan mereka.
"Kakek senang keluarga Kakek berkumpul dirumah ini, Jangan ada yang pulang sebelum kita makan malam" ujar Kakek dan akhirnya mereka setuju.
Dimas mendekati putrinya yang sedang berada di pangkuan Tiara, ia lalu mengambil alih putri kecilnya itu.
"Putri Daddy pipinya makin gemesin aja, tadi main sama Angga ya" ucap Dimas sembari mencium gemes pipi chubby putrinya itu.
"Iya Daddy Aqilla tadi main sama Kak Angga" sahut Tiara dengan suara khas anak kecil.
"Lihat Kak Angga dari tadi nempel sama siapa itu?" tanya Tiara pada anaknya Aqilla. Tiara memperhatikan Angga yang masih saja betah di pangkuan Dewi. Kini Anton sudah bisa memperhatikan dengan seksama wajah gadis yang menaklukkan hati anaknya itu.
"Dimas...!!" panggil Kakek memperingati Dimas.
"Bercanda Kek" sahut Dimas merasa tak enak memperhatikan raut wajah Anton dan juga Dewi yang berubah tak enak untuk dilihat.
Makan malam terlihat ramai karena mereka semua berkumpul bersama. Sesekali terdengar suara candaan dan tawa dari bibir mereka.
**************
Pagi hari Nara dan dan Dewi berangkat sekolah bersama. Mereka kali ini diantar oleh Pak Karno hingga depan gerbang sekolah.
Suasana di sekolah terdengar riuh dengan kedatangan mereka berdua. Ya mereka termasuk dalam kategori gadis cantik dengan kulit putih mulus yang mereka miliki. Wajah Nara tergolong tipe wajah Asia sedangkan wajah Dewi seperti khas wajah wanita Jawa tapi ia memilik darah Chinese dari kakeknya dan itu terlihat jelas dari warna kulitnya.
Dewi dan Nara menuju ke ruang kepala sekolah, mereka akan di antar kan kelas mereka oleh wali kelas mereka nanti.
"Selamat pagi anak-anak hari ini kelas kalian kedatangan dua siswi baru, Ibu harap kalian bisa saling bekerjasama untuk menciptakan kelas yang tertib juga meningkatkan nilai kalian. Dewi, Nara silahkan perkenalkan diri kalian" ucap Wali kelas mereka.
Dewi dan Nara saling memperkenalkan diri secara bergantian, mereka duduk bersebelahan.
__ADS_1
Di jam istirahat terdengar kasak-kusuk diantara gerombolan para siswa SMA itu. Ada empat orang siswa yang cukup terkenal juga ada di salah satu gerombolan itu.
"Aku dengar di kelas 3A ada dua anak baru, Kecantikan mereka diatas rata-rata. Benar nggak Firman?" tanya salah satu dari mereka.
"Ya, namanya Nara dan Dewi kalau Tidak salah" jawab Firman. Kebetulan ia satu kelas dengan Dewi dan Nara.
"Kenapa Van, apa kau tertarik untuk menaklukan mereka?" tanya Ali.
"Aku tidak perlu menaklukkan mereka, siapa yang tak tertarik dengan ketampanan dan kekayaanku ini" ucap Vano sombong. Ia adalah salah satu idola yang cukup terkenal dan paling di inginkan oleh sisiwi di sekolah mereka untuk di jadikan pasangan. Tidak hanya tampan dan kaya tapi ia juga siswa tercerdas yang menempati urutan pertama di sekolah.
"Kau terlalu yakin Vano, aku tadi melihat kedatangan dua gadis itu. mereka di antar oleh mobil mewah, sepertinya mereka dari keluarga kaya juga. Kau yakin bisa menaklukkan mereka?" tanya Firman terdengar ragu.
Ya, keempat pria itu adalah Vano sang ketua OSIS, Ali wakil ketua OSIS, Firman dan Heri mereka berempat adalah orang-orang terpenting di OSIS.
"Bagaimana kalau kita berempat taruhan. Siapa diantara kalian bisa menaklukkan salah satu dari mereka dalam watu sebulan maka mobilku jadi milik kalian" tantang Vano sang ketua OSIS.
"Tapi kalau kalian kalah kalian harus ganti mengerjakan tugasku sebagai ketua OSIS selama tiga bulan, bagaimana tantang Veno.
"Oke aku setuju" ucap Ali dan Heri bersamaan.
"Aku tidak ikut taruhan, kalian seperti anak kecil saja" ujar Firman tak menerima tantangan Vano.
"Katakan saja kalau kau takut" pancing Heri.
"Tidak, masih banyak hal lain yang harus aku urus daripada sekadar melakukan hal itu dengan kalian" jelas Firman.
"Hai lihat-lihat dua gadis itu lewat" ucap Ali membuat mereka mengalihkan pandangannya. Dewi dan Nara terlihat berjalan bersamaan menuju kantin sekolah.
"Ampun ini sih cantik banget Van" ucap Heri menatap kedua wanita itu yang lewat tak jauh dari mereka.
"Cewek, kenalan dong" teriak Heri dengan lantang.
Dewi dan Nara yang merasa dirinya di panggil dan di perhatikan menatap mereka dengan tajam.
"Ampun tatapannya, galak banget. Sepertinya sulit mendapatkan mereka" ujar Heri memperhatikan reaksi kedua wanita itu.
"Tantangan ini akan semakin menarik" ucap Vano tersenyum misterius melirik ke arah Nara, sepertinya ia lebih tertarik dengan Nara di bandingkan dengan Dewi.
TBC
__ADS_1