UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Mimpi Dimas.


__ADS_3

Pria yang biasa mereka panggil Bos saat ini sedang berada di ruang kerjanya. Samar-samar ia mendengar suara wanita menangis dari lantai dua tempat ia bekerja saat ini. Ia mengerutkan keningnya karena di markasnya ini tidak ada seorang wanita pun selain Tiara wanita yang menjadi tawanannya saat ini.


Di mulai dari penjaga, tukang kebun, tukang masak hingga pembantu rumah tangga semua adalah seorang pria.


Tapi kenapa suara tangisan wanita itu semakin terdengar keras. Pria itu menajamkan pendengarannya dan ternyata suara itu terdengar dari arah luar balkonnya. Pra itu membuka pintu menuju kearah balkon, ia terkejut mendapati sepotong kain panjang menjulur ke bawah melewati balkon kamarnya.


Dengan tergesa-gesa ia keluar menuju balkon, mendongak keatas dan melihat Tiara yang sedang bergelantungan menangis memegangi kain itu.


"Apa yang kau lakukan?!!" bentak pria itu dengan segera ia menaiki balkonnya mencoba menggapai Tali Tiara, yang terus bergoyang.


"Tolong aku, A-aku takuuut" ucap Tiara memejamkan matanya, ia takut jika pandangannya melihat ke bawah.


Pria itu mencoba meraih dan memegang kaki Tiara yang bergetar hebat karena ketakutan


"Turunlah sedikit lagi, agar aku bisa menggapai tubuhmu" perintah pria itu.


"Hiks hiks hiks..., Aku takut, tubuhku tidak bisa bergerak" Tiara menangis dan masih menutup matanya. Ia berpegang erat pada kain itu, tanpa berani menggeser turun tubuhnya.


"Bergeserlah ke bawah sedikit saja, itu akan memudahkanku untuk menurunkanmu."


"Ngak mau, A-aku takuuut!!" jerit Tiara


"Astaga wanita ini!! Bergeserlah turun hingga tanganku bisa menggapai tubuhmu atau aku akan meninggalkanmu bergelantungan disini sampai besok pagi. Palingan kalau kau terjatuh, aku tinggal melepaskan anjing liar untuk memangsamu" ancam pria itu.


Baiklah kalau kau tak mau bergerak juga, aku akan pergi meninggalkanmu disini" ucapnya lagi.


"Tidak-tidak ja-jangan tinggalkan aku, aku akan menuruti perintahmu" Akhirnya Tiara bergeser turun mengumpulkan keberaniannya. Dengan hati-hati pria itu menggapai tubuh Tiara dan membawanya ke dalam pelukannya.


Tiara memegangi erat leher pria itu, ia masih teelihat ketakutan saat ini.


"Apa yang kau lakukan!! kau ingin membunuhku" protes pria itu karena Tiara memeluk lehernya dengan erat.


"A-akuu takut!"

__ADS_1


"Kalau kau takut kenapa kau turun dari lantai 3 menggunakan kain ini. Apa sebenarnya motifmu!" pria itu menurunkan Tiara perlahan, ia juga melepaskan tangan Tiara yang masih bergelantungan di lehernya. Pria itu bisa merasakan tubuh Tiara yang bergetar hebat.


"Sudah aku katakan dari tadi, aku ingin pulang. Kenapa kau terus menahanku disini?" protes Tiara menjauh dari pria itu walaupun dengan kaki yang masih gemetaran dan terasa berat. tangannya bahkan bertumpu pada pinggiran pagar pembatas balkon.


"Aku akan membebaskanmu setelah urusanku selesai. Sekarang ayo kembali ke kamarmu"


"Janji! Tapi, bagaimana jika kau membongiku lagi."


"Kali ini tidak akan, Kau cukup percaya saja padaku. Diam ditempat ini jangan berbuat macam-macam, dan jadilah wanita penurut. Maka aku akan jamin kau dan bayi dalam kandunganmu itu akan selamat."


pria itu mencoba menarik tangan Tiara. Tapi Tiara tak juga bergerak dari tempatnya.


"Kakiku gemetar, aku tidak bisa melangkah" ujar Tiara menunjuk kakinya yang gemetaran, ketika pria itu berbalik dan melotot padanya.


"Kau ini selalu saja menyusahkan" protes pria itu.


Pria itu mendekat pada Tiara, ia duduk dengan posisi membelakangi.


"Ti-tidak." Tiara akhirnya meraih leher pria itu dan naik ke panggungnya dengan canggung. Tiara sampai juga di kamarnya, Pria itu menurunkan Tiara dari gendongan belakang.


"Jangan berani kabur lagi, kalau tidak aku akan merantai kakimu" ujar pria itu hendak berlalu pergi.


"Tunggu!! Siapa namamu?" tanya Tiara.


"panggil saja aku Tedi" pria itu membalikkan tubuhnya menjawab pertanyaan Tiara. Ia lalu pergi dari situ dengan segera.


******************


Sementara itu di penginapan Farih sedang berada di kamar bersama Lia.


Ia berbaring di atas ranjang empuk karena tubuhnya yang terasa lelah.


"Sayang kemarilah!" perintah Farih, menepuk samping tempat tidurnya yang kosong.

__ADS_1


Lia yang tadinya duduk di depan meja rias akhirnya menuruti permintaan suaminya. Ia tidur tepat di sebelahnya.


Farih menggeser tubuhnya mendekat dan membawa istrinya ke dalam pelukannya. Lia tidak mengatakan apapun, ia tahu saat ini suaminya lelah dan pastinya sangat membutuhkan dukungannya.


Lia membalas pelukan suaminya. Ia mengusap lembut punggung suaminya. Ia menguatkan suaminya melalui sentuhan walaupun saat ini ia tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk di keluarkan.


"Terimakasih, sayang. Keberadaanmu saat ini sangat menguatkanku. Aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku jika tak ada kamu. Doain mas ya agar bisa cepat menemukan Tiara."


"Iya mas, Lia juga berharap Tiara cepat ditemukan. Lalu bagaimana dengan Papa dan Mama, apa mas sudah memberitahu mereka."


"Belum, saat ini baik Papa maupun Mama sama sekali belum mengetahui keadaan Tiara. Mereka saat ini juga masih ada di luar negeri. Mas takut jika Mas memberitahu ini pada mereka akan mempengaruhi Mama."


"Kau tahu, dulu saat Tiara usia 7 tahun, ia hilang karena di culik. Mama sempat depresi dan harus dirawat sampai setahun lamanya. Bahkan perusahaan Papa juga ikut terkena imbasnya dan mengalami kebangkrutan. Untung sahabat Ayah mau membantu perusahaan Ayah hingga bangkit kembali dan mencari Dokter terbaik untuk Mama."


"Hingga akhirnya Mama sembuh dan bisa menerima semuanya. Kau tahu kami bahkan baru menemukan Tiara belum genap setahun ini, dan sekarang ia kembali menghilang lagi. Kau bisa bayangkan bukan, bagaimana jika kabar hilangnya Tiara sampai ke telinga mereka."


"Aku tidak menyangka ternyata perjalanan kehidupan Tiara setragis itu. Tadinya aku selalu minder Mas jika melihatnya. Ia wanita yang cantik, memiliki keluarga yang menyayanginya, kehidupan yang mewah dan dikelilingi oleh orang-orang yang perduli padanya. Aku merasa Tiara sangat beruntung, aku sama sekali tidak menyangka ternyata dibalik semua itu ada banyak hal menakutkan yang ia lewati."


"Tiara memang paling pandai menyembunyikan masalahnya melalui senyuman. Ia bahkan tidak mau menceritakan perjalanan hidupnya pada kami, karena takut akan membuat kami makin bersalah padanya."


"Orang baik pasti akan selalu dalam lindungan Allah, Mas jangan khawatir. Sekarang tidurlah Mas, biar besok Mas bisa mencarinya lagi. Lihat kantung mata Mas dan lingkaran hitam di mata mas ini. Tidurlah..."


Farih menuruti istrinya, ia tertidur tanpa melepaskan pelukannya. Perlahan ia memejamkan matanya dan tertidur pulas.


Sementara itu dikamar yang tak jauh dari situ Dimas terlihat gelisah dalam tidurnya saat ini ia sedang memimpikan wanita yang sangat ia rindukan.


Dimas melihat istrinya berlalu pergi di depannya dengan di gandeng oleh pria yang tak ia kenal. Ia berlari menyusul istrinya sambil berteriak memanggil-manggil namanya tapi istrinya tak juga menoleh padanya, pria itu berhasil membawa istrinya menjauh darinya.


"Tiara...." teriak Dimas terbangun dari mimpinya dengan air matanya yang menetes.


Ia menarik nafasnya dalam, menenangkan jantungnya yang berdebar tak beraturan.


"Aku harap kau baik-baik saja sayang. Tunggu aku! aku pasti akan menemukanmu" mengusap air matanya dan kembali bersemangat untuk mencari keberadaan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2