
"Ma..."
Ikuti aku, kita akan bicara ditempat lain. Apa kau bawa mobil?" Wanita itu memotong pembicaraan Aryo bertanya padanya. Aryo menganggukkan kepalanya.
"Ayo segera pergi dari sini, kita gunakan mobilmu. Aku tidak ingin ada orang kenalan dari suamiku melihatku akrab denganmu."
Aryo merasakan sakit di hatinya ketika Ibu kandung yang dinantikannya berbicara seperti itu padanya. Ia merasa kehadirannya tidak di inginkan oleh Ibunya.
"Kau cukup berhasil juga rupanya, bisa mempunyai mobil mewah seperti ini" ucap wanita itu ketika sudah duduk di dalam mobil Aryo.
"Ini mobil bosku" ucap Aryo datar
Sebenarnya Mobil yang dikendarai Aryo adalah miliknya sendiri. Aryo memiliki penghasilan yang lumayan besar sebagai anak buah Dimas apalagi saat ini Aryo sudah di percaya memegang perusahaan sendiri. Belum lagi pendapatan yang ia hasilkan karena melaksanakan perintah Kakek. Juga ada beberapa job dari dunia bawah yang terkadang ia ambil.
Kakek Dimas juga sebenarnya memanjakan Aryo dengan berbagai fasilitas mewah. Ia sudah menganggap Aryo seperti putranya sendiri. Begitu juga Dimas yang sebenarnya menganggap Aryo sebagai saudaranya.
Tapi Aryo tetap saja menjaga batasannya, ia selalu memanggil Dimas dengan sebutan Bos atau Tuan. Sebuah panggilan yang sangat tidak disukai Dimas. Tapi Dimas lelah terus saja meminta Aryo memanggilnya dengan nama tapi selalu diabaikan Aryo. Berbeda dengan Kakek Dimas, Aryo bisa bersikap biasa tanpa menjaga jarak dengan pria tua itu. Kakek adalah sosok Ayah buat Aryo.
Wanita itu tersenyum seolah meremehkan Aryo. Aryo yang mulai tak nyaman dengan sikap Ibunya, tak lagi berbicara. Ia disibukkan dengan sejuta pertanyaan di pikirannya. Hingga sampai di tempat yang ia tuju tak ada satupun yang berbicara.
Aryo menghentikan mobilnya di tempat yang di inginkan Ibunya setelah melewati satu setengah jam perjalanan. Tempat Itu adalah sebuah pantai yang terletak di perbatasan kota.
Mereka turun dari mobilnya, melangkahkan kaki menuju ke pinggiran pantai. Kondisi pantai lumayan sepi, walaupun terlihat beberapa nelayan yang mulai menepikan perahunya.
"Kau ingat ini adalah pantai yang biasa kita kunjungi di saat hari ulangtahun adikmu maupun disaat liburan sekolahmu jika kau meraih juara kelas."
__ADS_1
"Mama mengingat itu semua. Lalu dimana adikku sekarang Ma, Bagaimana kabarnya? Ia pasti sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik" Aryo tampak senang karena Ibunya mengingat masa lalu mereka.
"Banyak kenangan yang kita mulai di pantai ini, Mulai dari hal yang menyenangkan sampai hal yang sangat mengerikan terjadi disini. Mari kita akhiri semua kenangan kita sampai disini."
"Apa maksudmu Ma."
"Lupakan, lupakan kalau kau pernah memiliki Ibu dan seorang adik perempuan. Anggap saja kami sudah mati dan jalani hidupmu seperti sebelumnya. Seperti saat kami tidak ada lagi disampingmu. Karena akupun sudah menganggapmu mati dimalam itu."
"A-apa maksudmu Ma"
"Jangan pura-pura tidak tahu, hari dimana kita terakhir bertemu di malam naas itu kita sudah membuat kesepakatan. Tidak ada hubungan apapun diantara kita. Dan Aku sudah berterima kasih padamu karena membantuku membunuh pria-pria bajingan itu. Bukankah kau sendiri juga yang mengatakan padaku bahwa itu adalah sebagai bayaran hutang budimu padaku karena telah melahirkanmu."
"A-apa maksudmu Ma pembunuhan apa dan kesepakatan apa."
"Apa kau lupa, kau telah membunuh 4 orang pria dimalam itu. Kau tidak hanya mencincang tubuh mereka, bahkan kau membakar hangus tubuh mereka ditempat ini, Tepatnya disebelah sana, di dekat pohon kelapa besar itu. Apa kau lupa?" Wanita itu menunjuk kesebuah tempat yang agak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.
"Tapi tetap saja, aku membencimu, Semua yang terjadi karenamu. Seandainya kau tidak ada di dalam rahimku. Aku tidak akan mengalami ini semua. Kau monster yang bersembunyi di balik tubuh manusia. Kau tidak pantas berdiri disampingku. Kau hanyalah anak hasil pemerkosaan punya hak apa kau menuntutku untuk memperlakukanmu sebagai anakku. Dengan aku mempertahankan keberadaanmu dan melahirkanmu itu sudah merupakan hadiah terbesar untukmu.
"Hentikan Ma, hentikan aku mohon hentikan" Aryo menangis memegang kepalanya yang berdenyut hebat. Tidak hanya kepalanya saja yang sakit tapi ia juga merasakan sakit di dadanya. Dadanya sakit seolah ribuan belati menusuk jantungnya.
"Hal yang sama seperti malam terakhir pertemuan kita. Kau anak yang tak pernah kuinginkan, anak yang terlahir karena hasil pemerkosaan, Anak yang menyebabkan penderitaan berkepanjangan."
"Tidak, hentikan Ma. Hentikan ucapanmu. Aku tau kau menyayangiku. Selama ini pasti kau terpaksa meninggalkanku karena Ayah memaksamu. Aku tau, Ayah selama ini membenciku karena aku bukan putra kandungnya. Tapi tenang saja Ma, sekarang aku sudah besar dan mampu melindungi mu dan Adik dari kekejamannya."
"Apa kamu lupa, kalau kamu sudah membunuh pria itu dan ketiga orang sahabatnya. Kau membunuh ayah kandung adikmu. Apa kau pikir adikmu akan memaafkanmu jika tau kau membunuh ayah kandungnya. Sekalipun kau membunuh pria itu untuk melindungiku, tapi adikmu tidak tau fakta dan kebenarannya. Aku tidak akan mengatakan hal baik padanya tentangmu. Karena Aku membencimu sebesar aku membenci pria bajingan yang telah memperkosaku. Menghancurkan masa depanku, menghancurkan hidupku."
__ADS_1
"Tidak, itu tidak benar. Kau mencintaiku, aku putramu. Putra kebanggaanmu, kau mencintaiku, kau mencintaiku..." Aryo berteriak sambil menutup telinganya ia tak sanggup mendengar perkataan kebencian yang keluar dari bibir wanita yang sangat ia rindukan Air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
"Seandainya Ayahmu tidak memperkosaku dan menyebabkan kehamilanku. Orang tuaku tidak perlu terpaksa menikahkanku dengan pria bajingan yang baru mereka kenal. Ayahmu menghancurkan hidupku dan menghilang begitu saja. Dan Kau, Kau sumber bencana untukku. Sumber penderitaanku. Enyahlah kau, enyah dari kehidupanku dan putriku untuk selamanya.
Aryo menangis Pilu, ia tak terima dengan semua ucapan Ibunya. Karena selama ini yang ada dalam memorinya adalah kenangan indah Ibunya dan Adiknya. Senyum dan tawa bahagia mereka.
Aryo banyak melupakan fakta karena kejadian tragis yang ia alami malam itu. Ia hanya mengingat apa yang ia ingin ingat. Dan menghapus sebagian memori buruk yang tidak ingin ia kenang. Itu adalah caranya melindungi diri. Sistem pertahanan yang ia bentuk untuk melindungi perasaannya agar tak terluka.
Ibunya Aryo terus meluapkan amarahnya, melepaskan semua beban pikirannya, kekecewaannya, dan rasa sakitnya. Tanpa memperdulikan Aryo yang sebenarnya juga terluka. Aryo juga merupakan korban saat ini. Korban kebencian Ibunya karena kesalahan Ayahnya.
Aryo yang tak tahan dengan kebencian Ibunya merasakan sakit yang luar biasa. Ia kembali merasakan kepalanya yang semakin berdenyut hebat serasa ingin pecah. Ia terjatuh dalam posisi bersimpuh, terus memegangi kepalanya. Ia menangis dalam kesakitan, Sakit karena wanita yang ia rindukan ternyata sama sekali tidak menginginkannya.
Tampaklah gambaran memori yang terlupakan muncul di kepalanya satu persatu. Merangkai sebuah peristiwa berdarah, yang memaksanya melakukan sebuah pembunuhan. Peristiwa yang menyebabkan munculnya Karakter baru Key. Nama yang ditakuti di dunia bawah karena terkenal kekejamannya.
Ibunya Aryo meninggalkan Aryo begitu saja, setelah ia meluapkan emosinya. Ia menghubungi sebuah aplikasi jasa transportasi.
Maafkan aku karena menyakitimu, wajahmu mengingatkanku pada pemerkosa itu. Maaf karena tidak bisa menerima kehadiranmu. Ini adalah yang terbaik untuk kita berdua, batin wanita itu.
Ia berlalu begitu saja, tanpa menoleh sedikitpun. Sebenarnya ia juga merasakan rasa sakit yang luar biasa, memperlakukan putranya sendiri seperti itu. Tapi rasa benci dan sakit hatinya lebih besar daripada rasa sayangnya. Ia ingin secepatnya pergi dari situ. Melihat kondisi putranya yang seperti sekarang ini hanya akan melemahkan pertahanannya saja.
Ia benci, benar-benar benci karena semakin dewasa Aryo memiliki wajah yang sama persis dengan pemerkosa itu. Benci karena kehamilannya banyak membawa kesengsaraan untuknya. Belum lagi hinaan dan cibiran yang ia terima dari orang-orang sekitarnya. Akibat kehamilan tanpa adanya seorang suami hingga terpaksa ia harus menikah dengan orang yang salah. Menambah penderitaan dan rasa sakitnya. Dan sekarang ia sudah bahagia, memiliki seorang suami yang mencintainya dan terlepas dari penderitannya. Ia tidak ingin kehadiran Aryo kembali membawa kesengsaraan untuknya.
Aryo yang terus merasakan rasa sakit di kepalanya makin bertambah, belum lagi rasa sakit di dadanya. Ia memukul-mukul dadanya, ia benar-bener tidak terima dengan apa yang terjadi hari ini. Gambaran masa lalu sudah terangkai jelas di otaknya. Rasa rindu berubah menjadi rasa benci.
Dalam tangisannya ia tertawa, menertawakan kebodohannya karena merindukan wanita yang tak memilik hati sama sekali. ia berteriak dalam tangisannya dan sesekali ia juga tertawa. Ia berteriak sekuat-kuatnya mengeluarkan rasa sakit dihatinya. Hingga ia tumbang begitu saja. Ia pingsan dalam posisi tertelungkup tanpa satu orang pun yang tahu.
__ADS_1
TBC.