
Tiara terkejut melihat wanita yang ada di hadapannya. Wanita itu berdiri dengan penuh percaya diri di hadapan Tiara. Wanita yang sudah lama menghilang, lalu kenapa tiba-tiba kembali dan sekarang ada di depannya. Entah ini suatu kebetulan atau sebuah kesengajaan.
Wanita itu mendekat ke arah Tiara, ia mengambil handphone Tiara yang terjatuh, ia menatap layar handphone itu yang masih tersambung dengan Dimas, ia lalu mematikan panggilan telpon itu dan menyerahkannya pada Tiara.
"Terimakasih" ucap Tiara.
"Apa kau sakit?"
"Tidak, maaf bisa kau geser dari hadapanku. Kau menghalangi jalanku."
"Kau terlihat pucat. Aku hanya ingin bicara denganmu sebentar."
"Maaf aku tidak punya waktu untuk omong kosongmu."
"Ini penting, kau akan menyesal jika tak mendengarkanku haru ini." Manda menyingkirkan tas besar yang menutupi perutnya.
"Kau hamil, berapa bulan? Kapan kau menikah?" Tanya Tiara heran.
"Aku akan menjawab semua pertanyaanmu, Ayo ikut denganku." Manda mengajak Tiara ke Taman belakang rumah sakit. Ia mencari tempat yang agak sepi agar bisa berbicara secara leluasa dengan Tiara.
"Aku hamil, Sebenarnya Dokter menyarankanku untuk menggugurkan kandungan ini karena kondisi tubuhku yang lemah. Kemungkinan aku tidak akan berumur panjang jika terus mempertahankan bayi ini. Tapi aku tetap ingin bayi ini lahir, aku sangat menginginkan bayi ini dan juga ayah dari bayi ini."
"Aku tidak tau apa maksudmu menceritakan semua ini padaku. Tapi aku cukup salut denganmu karena mau mempertahankan janin itu. Dan sebaiknya kau ceritakan masalahmu dengan suamimu, bukannya denganku."
"Aku membutuhkan bantuanmu, agar bisa berbicara dengan ayah dari bayi yang aku kandung."
"A-apa maksudmu, memangnya apa hubungannya denganku, aku saja tidak tau siapa ayah dari anak yang kau kandung itu?"
"Suamimu adalah Ayah dari anak yang aku kandung. Tolong bujuk dia untuk bertanggung jawab, aku tidak masalah jika hanya dijadikan istri kedua. Aku tidak akan merebut suamimu darimu aku hanya ingin kita hidup damai bersama, di sisa umurku yang sedikit ini. tolong kabulkan permintaanku Tiara, aku mohon padamu." Msnda mengatupkan kedua tangannya di hadapan Tiara untuk memohon.
__ADS_1
"kau jangan bicara sembarangan, apa Kau pikir aku akan mempercayai ucapanmu? Sebaiknya ku pergi saja dari sini sebelum aku memanggil suamiku dan mengusirmu dari kota ini" Tiara mengepalkan tangannya erat, batinnya bergejolak saat ini antara percaya dan tidak. Tapi sebagian besar hatinya meyakini jika suaminya tidak mungkin mengkhianatinya.
"Aku justru berharap kau mau memanggil suamimu kemari, agar kau tau seperti apa suamimu sebenarnya. Aku tidak menuntutmu untuk bercerai darinya, tapi anakku membutuhkan ayahnya, kau mengerti maksudku bukan."
"Baiklah, aku akan membuat suamiku kemari. Tapi jika kau sampai berani berbohong, apa kau siap menerima hukuman dariku?"
"Aku akan menerima apapun hukuman darimu, tapi jika aku terbukti benar aku harap kau mau membiarkan aku dan anakku untuk hidup bersama Ayahnya. Apa kau sanggup?"
Tiara terdiam kaku tidak tahu harus menjawab apa? jika benar anak itu adalah anak Dimas, apa mungkin ia bisa merelakannya, sementara ia juga sedang hamil saat ini. Lalu bagaimana dengan nasibnya dan anaknya? Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Bagaimana, apa kau bisa merelakan suamimu untukku?"
"Aku tidak akan pernah merelakan suamiku untukmu. Wanita mana yang mau di madu. Tapi aku bisa menjanjikan anakmu untuk memiliki seorang ayah."
"Tidakkah kau wanita yang egois, Suamimu menghamiliku bukankah hal yang wajar jika ia juga bertanggung jawab padaku. Apa kau ingin menyingkirkanku dan merebut anakku dariku" Manda meninggikan suaranya, sementara Tiara berusaha tenang menahan amarahnya.
"Apa kau yakin, itu benar-benar anak suamiku?" Tiara mengalihkan pembicaraan, ia tak sanggup berbagi suami dengan wanita lain.
"Baiklah" Tiara menyetujuinya walaupun terlihat ragu, bulir-bulir keringat mulai membasahi keningnya. Ia terlalu takut dengan kebenaran yang akan ia hadapi nantinya. Ia berusaha berdiri kuat walaupun sebenarnya lututnya beegemetar hebat.
Tiara mengambil handphone miliknya, ia tidak menghubungi Dimas tapi supirnya. Ia akan meminta supirnya untuk memberitahukan suaminya jika ia sedang ada di rumah sakit. Ia yakin jika Dimas pasti akan menyusulnya kemari.
"Hallo Bu, ada yang bisa saya bantu?"
"Bisa bapak tolong telpon suami saya, dan beritahukan keberadaan saya di rumah sakit ini."
"Maaf Bu, Bapak tadi baru menelpon saya menanyakan keberadaan Ibu. Bapak terlihat cemas jadi saya memberitahukan padanya jika Ibu ada di rumah sakit ini. Sepertinya Bapak sedang dalam perjalanan kemari Bu."
"Syukurlah kalau begitu, Terimakasih Pak."
__ADS_1
"Iya Bu, sama-sama."
Tiara mengakhiri panggilannya, ia lalu memberitahukan pada Manda jika suaminya dalam perjalanan kemari dan meminta Manda untuk bersiap. Manda menghubungkan telponnya dengan Tiara, agar Tiara bisa mendengar percakapan mereka dan meminta Tiara untuk bersembunyi di suatu tempat.
Manda saat ini sudah berada di lantai satu rumah sakit. Ia berdiri di tempat yang mudah terlihat oleh orang lain agar Dimas mudah menemukannya nanti.
Manda melirik pintu masuk, ia bisa melihat kedatangan Dimas yang terlihat terburu-buru. Dimas tidak sendiri ia bersama asistennya Erick. Karena memang saat Tiara menelponnya Dimas sedang dalam perjalanan bersama Erick. Manda menundukkan wajahnya dan berjalan menuju pria itu. Ia sengaja membiarkan sebagian Anak rambut menutupi wajahnya. Manda sengaja menyenggol lengan Dimas dan menengadahkan kepalanya menatap pria itu.
"Dimas" ucap Manda pura-pura terkejut menutup mulutnya. Dimas tak kalah terkejut, ia syok mendapati Manda di rumah sakit, apalagi setelah ia menurunkan pandangannya dan melihat perut Buncit Amanda. Erick menatap bengong melihat kehadiran wanita itu yang tiba-tiba.
"Ka-kau Hamil?" Tanya Dimas. Erick ikut menatap perut buncit Manda. Manda mengabaikan keberadaan Erick yang ads di matanya saat ini hanyalah seorang Dimas.
"Iya, dia anakmu. Usianya 17 Minggu saat ini, kita sudah bisa memeriksa jenis kelaminnya saat ini."
"Hentikan omong kosongmu, kau pikir aku akan percaya ucapanmu itu" Dimas menatap tajam dan tak suka ke arah Manda. Ia kemudian menatap asistennya yang terkejut dan melongo tak percaya.
"Erick, kau tolong cari keberadaan istriku di rumah sakit ini, jika kau sudah menemukannya tolong hubungi aku. Dan ingat lupakan yang baru saja kau dengar tadi" ucap Dimas memperingatkan. Erick pun langsung berlalu pergi dari sana.
"Dim, kau akan bertanggung jawab padaku dan juga anak ini kan?"
"Tutup mulutmu, jangan bicara sembarangan kau!!"
Dimas berusaha berkelit, walaupun sisi hatinya yang lain merasa jika itu memang anaknya.
"Kau tidak bisa melepas tanggung jawabmu begitu saja, setelah menghabiskan malam denganku" Manda meninggikan suaranya.
Dimas yang merasa geram menarik Manda keluar dan membawanya ke parkiran. Ia tidak ingin jika sampai ada staf rumah sakit yang mengenalnya mendengar pembicaraan mereka. Terlebih lagi Tiara juga ada di rumah sakit ini. Dimas memasukkan wanita itu ke dalam mobilnya untuk berbicara lebih leluasa, karena tidak akan mungkin ada seorangpun yang akan mendengarkan mereka.
Sementara itu Tiara yang mendengarkan percakapan mereka sebelumnya merasa sendi lututnya lemas, Ia benar-benar takut perihal kebenaran yang sesungguhnya, Bulir-bulir air mata mulai membasahi pipinya. Entah masa depan seperti apa nanti yang ia miliki bersama Dimas setelah kehadiran orang ketiga.
__ADS_1
TBC.