
Tak terasa 3 bulan sudah sejak pernikahan Tiara dan juga Dimas. Key yang telah lama menghilang entah dimana pria itu berada. Dimas juga tidak mengerahkan anak buahnya karena berfikir Key mungkin ingin menjauh dari mereka. Bahkan Yesi juga sudah Resain dari pekerjaannya.
Farih juga sudah menemui Tiara secara pribadi ketika mengetahui bahwa Tiara adalah adik kandungnya. Ia meminta maaf karena pernah menyakiti Tiara.
Tiara dan Dimas semakin lengket saja. Sejak peristiwa penculikan itu, membuat Dimas menjadi over protective. Ia kerap mengajak Tiara ke kantornya, tidak membiarkan istrinya keluar tanpanya.
Bahkan Dimas membuat Kamar khusus di ruangan kantornya. Lengkap dengan tempat tidur dan juga berbagai peralatan elektronik yang bisa menghibur Tiara dan membuatnya betah.
"Masku apa masih lama."
"Ada apa sayang?"
"Aku bosan disini terus, Tiara boleh ya keluar sebentar saja. Ke kafe depan kantor itu."
"Kamu mau cari apa disana. Biar Mia membelikan untukmu."
"Tapi Tiara pingin ikut kesana Mas, boleh ya, ya-ya" Tiara menggoyang-goyangkan tangan Dimas
"Baiklah kamu kesana ditemani Mia."
"Mia datang keruanganku sekarang" perintah Dimas melalui Telepon kantor.
"Tolong Antar Tiara ke kafe depan. Ajak juga beberapa Satpam kantor untuk menemani kalian."
"Kok ngajak satpam sih mas. Mas mau Tiara jadi perhatian orang-orang disana nanti."
"Ajak Satpam atau tidak usah sama sekali" Kekeh Dimas.
Tiara yang kesal berdiri dari duduknya dan menuju ke kamar yang ada di ruangan itu.
"Gimana Yang, jadi nggak"
"Nggak jadi Tiara ngantuk mau tidur."
Braaakkk!!! Tiara membanting pintu itu keras. Dimas hanya mengelus dada dan menggelengkan kepalanya. Tingkah Tiara akhir-akhir makin manja dan mudah emosi. Dimas harus ekstra sabar menghadapi istri kecilnya itu.
"Kembali keruanganmu" perintah Dimas pada Mia.
Dimas dengan segera menyelesaikan pekerjaannya, ia berencana mengajak Tiara keluar setelah pekerjaannya selesai.
"Sayang..., Ayo bangun. sayang..." Dimas menoel pipi Tiara agar bangun dari tidurnya. Tapi Tiara malah membalikkan badannya membelakangi Dimas.
"Baiklah, karena istriku lebih suka tidur daripada jalan-jalan denganku. Maka sebaiknya acara jalan-jalan aku batalkan saja."
__ADS_1
"Tidak, aku sudah bangun." Tiara sebenarnya tidak tidur. Ia berpura-pura tertidur begitu Dimas masuk ke dalam.
"Ayo aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang indah."
"Tunggu sebentar aku akan membasuh mukaku dan merapikan bajuku" ujar Tiara, ia turun dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi.
"Ayo berangkat." ucap Tiara setelah selesai bersiap.
"Kita ingin pergi kemana?"
"Kita akan pergi ke tempat yang tidak begitu banyak orang. Tapi sangat romantis."
"Apakah jauh."
"Satu jam perjalanan, bagaimana masih mau berangkat"
"Tentu."
"Wah tempat ini keren sekali Mas." Dimas mengajak Tiara ke taman bunga di puncak bukit. Disana juga terdapat air terjun.
"Kamu suka."
"Banget, bagaimana mas bisa menemukan tempat sebagus ini."
"Bagus banget Mas tempatnya. Kok baru sekarang sih Tiara diajak kesini."
"Semenjak ada kamu disisi Mas, Mas tidak pernah kemari, jadi mulai lupa dengan tempat ini. Mas baru keinget tadi pas kamu ngambek karena pingin jalan-jalan. Jadi mas ajak kamu kemari."
"Malam hari tempat ini akan terlihat lebih keren lagi. Karena akan banyak kunang-kunang yang berterbangan."
"Benarkah?" tanya Tiara antusias.
"Ya, dua jam lagi hari akan gelap. Apa kau mau kita menginap ditempat ini agar kau bisa menikmati pemandangan alam dari sini."
"Tapi Mas, disini kan bukit Bunga semua. Lalu kita akan menginap dimana?"
"Kau tidak tau dipuncak sebelah sana. Aku membangun sebuah vila, lima tahun yang lalu. Dari sini tidak begitu terlihat karena tertutup oleh pohon-pohon besar, dan juga posisi Vila itu tanahnya lebih rendah. Jadi tidak begitu terlihat. Kau ingin kesana?"
"Apakah boleh"
"Tentu saja. Ayo."
"Uwaaah model vilanya seperti kastil kerajaan. Masku benar-benar hebat."
__ADS_1
Kastil ini dulunya aku bangun untuknya, ini adalah impian kami disaat kecil. Tinggal di sebuah kastil bergaya Eropa. Membentuk keluarga kecil kami disini. Dia bahkan sudah menghilang sebelum melihat kastil ini, batin Dimas.
"Mas kok bengong sih, hayo mikir apa?"
"Nggak mikir apa-apa, Mas seneng aja kalau kamu suka tempat ini."
"Ayo masuk ke dalam."
*******************
Sementara itu di tempat kedatangan bandara terlihat seorang gadis cantik dengan wanita paruh baya. Mereka baru saja turun dari pesawat. Terlihat gadis itu tersenyum pada Ibunya.
"Kau ingat kedatangan kita kali ini, kau harus bisa menaklukkannya kembali."
"Ibu jangan khawatir ia pernah tergila-gila padaku. Aku pasti akan mendapatkannya kembali."
"Untung saja Ibu mendapatkan berita dari orang kepercayaan Ibu. Kalau Aryo saat ini tidak berada di sisinya lagi. Pria sialan itu selalu menghalangi kita untuk kembali ke negara ini."
"Semua salah Ibu andai saja Ibu tidak terlibat hutang karena berjudi. Aku tidak akan mungkin mau menerima uang dari Kakeknya dan meninggalkannya. Walau bagaimanapun aku mencintainya Ibu."
"Aku tidak peduli dengan rasa cintamu, yang terpenting bagaimana cara menaklukkannya. Dan Kakek tua itu sekarang juga tidak ada di negara ini. jadi tidak ada yang akan menghalangimu lagi."
"Tapi aku dengar kabar dia sudah memiliki istri Bu"
"Kita akan memikirkan cara agar kau bisa mendekatinya lagi."
"Sekarang kita harus mencari apartemen untuk kita tinggali."
"Aku sudah menghubungi sahabatku Ibu dan ia sudah menyiapkan apartemen untuk kita."
***************
Di sebuah rumah sakit Tampak Roy yang masih setia dengan majikannya. Ia sudah mengusahakan dokter terhebat untuk memeriksa kondisi Tuannya. Bahkan Kakek Dimas juga secara diam-diam mendatangkan Dokter terbaik untuk merawat Michael. Tapi sampai saat ini belum nampak perubahannya.
"Tuan kapan kau bangun, apa kau tidak merindukan kucing-kucingmu. Dia sudah memiliki banyak anak Tuan. Bahkan pesonaku kalah dengan kucingmu itu. Setiap hari ada saja kucing jantan yang menghampiri. Aku benar-benar kalah saing dengannya."
"Tuan haruskah aku memberitahukan kondisimu pada Kakakmu."
"Andai saja Tuan tidak membuatku berjanji untuk merahasiakan identitas Tuan. Pasti aku sudah membawa Kakakmu kemari. Aku sebenarnya penasaran bagaimana reaksi Kakak tuan kalau tau Tuan dalam keadaan koma begini ditambah lagi Ibu kalian yang sudah tiada."
"Akankah dia menghajarku Tuan karena menganggapku tidak becus menjagamu. Atau mungkinkah ia akan memelukku karena sudah mempertemukan kalian berdua." Roy bergidik membayangkan yang tidak-tidak.
"Cepatlah sembuh Tuan dan aku akan dengan senang hati membawa Tuan pada Kakak anda. Jika dalam waktu sebulan ini Tuan belum juga sadar maka maafkan saya yang--- terpaksa melanggar janji saya pada Anda Tuan. Saya akan menemuinya dan mengatakan semua kebenarannya. Termasuk identitas Tuan."
__ADS_1
TBC