
Tiara menatap Dimas kesal. Sepertinya ia benar-benar marah dengan tindakan Dimas kali ini.
"Jangan kau tidak perlu keluar dari sini, biar aku yang keluar" ujar Dimas.
"Aku pergi dulu, aku akan kembali besok. Kau jangan khawatir aku tidak akan ke tempat wanita itu. Malam ini aku akan tidur di apartemen Leo. Tidurlah, maafkan aku" Dimas mengecup kening Tiara lembut lalu menutup pintu kamar itu.
Dimas bisa mendengar suara tangisan istrinya ketika ia meninggalkan istrinya. Dimas meraih handphone miliknya menghubungi asistennya Erick. ia meminta Erick mendatangi Andini dan menjemputnya. Ia ingin Andini bisa menemani istrinya saat ini. Tiara cukup dekat dengan Andini sebelumnya jadi Dimas berharap kedatangan Andini bisa sedikit menghibur Tiara.
"Tapi Bos ini sudah pukul 11 malam. Saya bisa digebuki penghuni kos jika malam-malam kesana. Apalagi saya seorang pria" protes Erick.
"Coba kau hubungi dia dulu, katakan Tiara lagi membutuhkan seorang teman saat ini. Kalau dia mau menemui Tiara kau bisa menjemputnya di depan gang" Solusi Dimas.
"Baiklah Bos kalau begitu" Aldo mengakhiri pembicaraan dengan menahan kesal.
"Gini nih kalau punya Bos kerjaannya ribut Ama bini. Anak buah jadi korban, lagi enak-enak tidur eh dapat kerjaan baru lagi" kesal Erick.
Atas saran Dimas akhirnya, Erick menghubungi Andini terlebih dahulu. Untung saja Andini tidak menolak permintaan Erick. Dengan segera Erick meluncur untuk menjemput Andini.
Sementara itu Dimas pergi ke apartemen Leo. Dimas yang sudah biasa ke apartemen Leo langsung memencet pasword masuk ke apartemen. Terlihat Leo yang saat ini sedang asyik menonton pertandingan sepakbola favoritnya.
"Ngapain Bos malam-malam ngungsi kesini?" tanya Leo yang terkejut dengan kedatangan Dimas.
"Diam, gue ngantuk mau tidur" Dimas merebahkan tubuhnya di sebelah Leo
"Bos ngapain tidur pakai ngungsi kesini segala, bukannya tidur dirumah kelonan sama istri lebih asyik ya Bos. Apa jangan-jangan bos di usir sama bini ya Bos" tebak Leo.
"Lu kalau nggak diem, besok saya suruh kepala rumah sakit buat mindahin Lu ke pedalaman" kesal Dimas.
"Jadi beneran nih Bos diusir bini. Ha ha ha.... tawa Leo menggelegar tidak memperdulikan ancaman Dimas.
"Mangkanya punya bini itu disayang Bos, jangan dibikin kesel. Udah tau bini lagi hamil, orang hamil itu lebih sensitif jadi jangan macem-macem."
"Gue bingung ngadepin Tiara dan bagaimana harus memperlakukan Mona."
"Ikutin saran gue Bos, lakukan tes DNA sama kehamilan Manda. Kalau situasinya Bos biarin gini terus yang ada bos bakalan kehilangan Tiara."
"Terus kalau tes DNA ternyata anak Manda, anak gue gimana?" tanya Dimas.
"Ya resiko Bos, berani berbuat berani tanggung jawab. Tapi paling nggak kalau tes DNA Bos bisa tau pasti kebenarannya. Daripada sekarang ini mempertahankan yang belum tentu milikmu Bos, yang ada nanti malah bini sendiri yang kabur."
"Bahaya nggak ngelakukan tes DNA pada kondisi hamil?" tanya Dimas khawatir. Dimas lebih mengkhawatirkan kondisi kelangsungan janinnya Manda daripada rasa penasarannya.
"Insyaallah aman Bos, apalagi dilakukan kondisi janin sudah di atas 10 Minggu. Kehamilan Manda sudah besar dimana janin sudah terbentuk sempurna jadi Insyaallah aman. Jangan khawatir saya akan pilihkan dokter terbaik dan akan saya pastikan akan dilakukan secara hati-hati."
"Dua hari lagi Manda mengajakku kontrol kehamilannya, bisakah kau melakukan tes DNA pada saat itu. Dan tolong lakukan secara diam-diam" pinta Dimas.
__ADS_1
"Beres Bos."
***************
Tiara saat ini sedang bersama Andini di kamarnya. Ibu hamil itu tidak bisa tidur, berkali-kali ia membolak-balikkan tubuhnya.
"Kau tidak bisa tidur?" tanya Andini.
"Maaf, apa aku membuatmu terganggu?" tanya Tiara.
"Tidak sama sekali, suamimu memintaku datang kemari untuk menemanimu. Kau bisa bicarakan apapun padaku untuk menghilangkan keresahanmu itu" ucap Andini.
"Aku bingung" ucap Tiara lalu kembali terdiam.
"Bingung kenapa?" tanya Andini
"Bingung sama sikap Mas Dimas. Sebenarnya dia itu sayang nggak sih sama aku. Kenapa ia selalu saja membuatku kesal, tiap kita baru saja baikkan dia selalu membuat masalah. Kadang terbersit keinginan untuk menyerah dan pergi jauh aja dari dia, daripada makan hati mulu."
"Mungkin dia punya alasan sendiri. Kita nggak tau kesulitan apa yang ia hadapi karena kita nggak berada di posisinya. Coba deh kamu pandang masalah ini dari sisinya dia. Dan jangan tergesa-gesa untuk mengambil keputusan. Saat ini bukan hanya tentang kehidupanmu saja tapi juga tentang anak dalam kandunganmu."
"Memangnya kamu siap anakmu lahir tanpa seorang Ayah. Dan apa kamu juga sudah pertimbangkan perasaan anakmu nanti kedepannya dan juga perasaan orangtuamu yang pastinya juga akan ikut terluka melihat rumah tangga anaknya hancur."
"Cobalah bertahan dan beri kesempatan terlebih dahulu, jika ia memang tidak berubah dan tidak mau menggunakan kesempatannya dengan baik, baru kau bisa ambil langkah ekstrim. Paling tidak kau tidak akan menyesal karena sudah memberikan kesempatan untuknya." ujar Andini panjang lebar.
"Din..." panggil Tiara."
"Ya."
"Kau mengenal Dimas sudah lama bukan?"
"Ya, ada yang ingin kau tanyakan tentangnya?"
"Bagaimana hubungannya dulu dengan mantan kekasihnya?"
"Manda, maksudmu?"
"Memang dia punya berapa mantan sebelumnya?" tanya Tiara.
"Hanya satu. Dimas mengenal Manda sejak mereka masih kecil. Manda adalah satu-satunya wanita yang dekat dengan Dimas. Sebelumnya Dimas memang mencintai Manda tapi sekarang yang dicintai Dimas adalah kamu. Jadi jangan pikirkan masa lalunya fokuslah dengan masa depan kalian karena setiap orang memiliki masa lalu. Entah itu baik atau buruk dia adalah suamimu, pertahankan dia jangan beri kesempatan orang lain masuk dalam hubungan kalian" saran Andini.
*********
Setelah pertengkaran Dimas dan Tiara, hubungan mereka sedikit merenggang. Tira yang masih kesal dengan suaminya selalu mengabaikan keberadaan Dimas. Tapi Walau bagaimanapun Dimas tetap bersikap biasa saja terhadap istrinya. Ia menyadari kesalahannya yang tidak bisa jujur dengan istrinya.
"Sayang" sapa Dimas pada Tiara yang sibuk dengan alat make-up nya. Tidak ada jawaban apapun dari Tiara, lagi-lagi ia mengabaikan keberadaan Dimas.
__ADS_1
"Mas mau keluar sebentar, kamu ikut nggak?" tanya Dimas. Sebenarnya Dimas berencana untuk menemani Manda periksa kandungan sekaligus tes DNA. Tapi ia takut kepergiannya akan membuat Tiara kembali marah padanya. Walaupun dalam hati Dimas lebih berharap Tiara tidak ikut karena khawatir ibu hamil itu menjadi lebih sensitif lagi.
"Sayang, ikut nggak?" tanyanya lagi berdiri di samping istrinya.
"Nggak" jawab Tiara acuh.
Alhamdulillah, batin Dimas
"Kalau gitu Mas pergi dulu ya, jangan kemana-mana. Tunggu Mas pulang dulu kalau kamu pingin keluar atau jalan-jalan." ujar Dimas, ia kemudian berlalu pergi.
Di rumah sakit Dimas menemani Manda tidak sendiri. Ia mengajak satu wanita paruh baya yang selama ini melayani Manda.
"Aku ada urusan sebentar dengan Dokter Alex kau tunggu disini" ujar Dimas meminta Manda menunggu di ruang tunggu.
"Jangan lama-lama ya Dim," pinta Manda. Dimas menganggukkan kepalanya dan menemui Alex.
Sudah sekitar 10 menit kepergian Dimas, tapi pria itu belum juga terlihat. Manda terlihat menguap karena mengantuk.
"Manda" sapa seorang pria terkejut, Manda pun tak kalah terkejut berjumpa dengan pria itu. Pria itu menatap perut Manda yang terlihat besar, ia tidak bisa mengalihkan pandangannya sangking terkejutnya.
"Kamu hamil, itu an..."
"Ssuuuttt" Manda menginjak kaki pria itu hingga pria itu menghentikan ucapannya.
"Bibi, bisa tolong belikan aku minuman" ujar Manda pada wanita paruh baya itu sambil menyodorkan selembar uang merah.
"Tentu Non."
"Sisanya bibi ambil aja. Nggak perlu buru-buru Bik, santai aja" ujar Manda di angguki wanita paruh baya tersebut.
"Kau hamil berapa bulan? itu anakku kan?" tanya pria itu terlihat takjub. Ia tak menyangka hubungan yang tak sengaja mereka lakukan membuahkan hasil.
"Siapa bilang, ini anakmu. Ini anakku dengan Dimas!!!" ujar Manda dengan menekan nama Dimas.
"Benarkah? padahal aku berharap itu anakku, lagipula Dimas sudah memilik istri. Aku sedikit ragu dengan ucapanmu jangan-jangan kau menjebaknya" ujar pria tersebut terlihat penasaran. Ada rasa kecewa ketika Manda mengatakan itu bukan anaknya. Ia selama ini menginginkan seorang anak. Tapi istrinya dinyatakan mandul, hingga akhirnya ia memilih menceraikan istrinya.
"Jangan asal bicara, yang jelas anak ini anak Dimas. Tidak ada hubungannya denganmu, pergi sana!! usir Manda.
"Aku ingin kau lakukan tes DNA, aku tidak ingin jika kau sampai hamil anakku dan kau meminta pertanggungjawaban orang lain. Anakku adalah milikku, terlepas kau mau menikah denganku atau tidak aku tidak perduli. Aku menginginkan anak itu" ujar pria itu terlihat kesal.
"Anak siapa maksudmu Ton?" Dimas tiba-tiba datang disaat Manda sedang berdebat dengan Anton sepupunya.
TBC
Mohon maaf tidak bisa update setiap hari karena kerjaan lagi banyak. Terimakasih yang masih setia membaca🙏
__ADS_1