
Dengan bantuan dua orang perawat, Manda sudah berada di atas tempat tidurnya. Tiara menatap wajah Manda yang terlihat sangat pucat. Tapi dalam berbicara Manda terlihat seperti orang sehat, sehingga menimbulkan sebersit tanda tanya di hati Tiara.
Manda yang merasa terus di perhatikan Tiara tiba-tiba mengaduh kesakitan pada bagian perutnya yang konon katanya adalah tempat bekas ia di operasi.
"Do-dokter tolong ini sa-sakit sekali" Manda memegang perutnya sambil merintih kesakitan. Dokter yang kebetulan berada di sana segera memeriksa Manda.
"Dokter kepalaku juga terasa sakit, bagaimana ini Dokter?" ucap Manda dengan suara di buat selemah mungkin.
"Sebaiknya anda istirahat dulu Nona dan jangan terlalu banyak bergerak ataupun berpikir yang tidak-tidak" Setelah memeriksa Manda Dokter itu kemudian menoleh ke arah Dimas dan juga Tiara.
"Kalian keluarganya?"
"Bukan Dok, kami temannya" jawab Dimas.
"Tolong bantu jaga kondisi pasien jangan membuatnya tertekan. Sebisa mungkin turuti saja keinginan pasien selama itu tidak menyakiti pihak lain" ujar Dokter menasehati. Sementara diam-diam Manda tersenyum puas.
"Mas maaf, Tiara nggak tau jika sikap Tiara akan menyakitinya" bisik Tiara di telinga Dimas sambil bergelayut manja pada lengan suaminya. Dimas tersenyum kemudian mengusap lembut pipi Tiara.
"Tidak apa-apa, jangan khawatir" ucap Dimas mengusir keresahan di hati Tiara.
Ketika Dokter ingin berpamitan untuk pergi tiba-tiba Bela sahabat Manda memasuki kamar rawat inap Manda.
"Dokter bagaimana kondisi sahabatku" tanya Bela.
"Nona Manda baik-baik saja. Hanya saja saat ini ia harus banyak istirahat. Dan juga tolong jaga emosinya, jangan membuat ia tertekan. Kalau tidak saya takut akan mempengaruhi Kondisinya nanti."
"Baik Dok kami akan berusaha menjaga kondisinya agar cepat membaik" ujar Bela. Dokter pun berlalu pergi meninggalkan ruangan itu sementara Tiara menatap memelas ke arah Dimas karena merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, jangan khawatir" Dimas merangkul pinggang Tiara. Sementara Manda menatap kesal ke arah mereka.
"Dimas..." panggil Manda dengan suara selemah mungkin.
"Ya, ada apa Manda" Dimas mendekat sambil menggandeng tangan istrinya. Lagi-lagi Manda mendengus kesal, tapi ia tetap berusaha untuk tenang.
__ADS_1
"Bela, bisakah kau mengajak Tiara keluar sebentar. Ada hal pribadi yang ingin aku bahas dengan Dimas" Dengan tidak tau malunya Manda berusaha menyingkirkan Tiara yang selalu bersikap manja dengan Dimas.
"Eh, tapi..." protes Tiara terkejut
"Ayo" Bela menarik tangan Tiara yang satunya, tapi Dimas menahannya. Ia sama sekali tidak ingin melepaskan genggaman tangannya yang sedari tadi menggandeng tangan Tiara.
"Tidak perlu, Tidak ada rahasia antara aku dan istriku. Kau bisa mengatakan di depannya" Dimas menepis tangan Bela yang berusaha menarik paksa tangan Tiara. Ia mengetahui jika Istrinya keberatan meninggalkan dirinya jadi ia membiarkan istrinya tetap bersamanya. Ia tidak ingin terjadi kesalah pahaman di antara mereka.
Manda mengepalkan genggaman tangannya erat. Ia menahan kekesalannya yang sudah mencapai ubun-ubun. Bela menatap Manda dan mendekat. Ia khawatir jika Manda sampai kehilangan kendali dan ketahuan nantinya. Hal itu tentu akan membuat apa yang telah mereka lakukan selama ini menjadi sia-sia.
Tenangkan dirimu. Mereka yang tertawa belakanganlah pemenangnya. Masih banyak kesempatan, bersabarlah. Bisik Bela di telinga Manda. Ia kemudian tersenyum menatap Dimas dan Tiara.
"Begini, sebenarnya aku ingin meminta tolong padamu" ucap Manda ragu-ragu.
"Katakanlah" ucap Dimas.
"Dokter mengatakan jika operasiku kali ini termasuk berhasil. Aku hanya memerlukan waktu dua Minggu untuk pemulihan. Dan..." Manda terlihat ragu untuk melanjutkan, ia menatap Tiara dengan pandangan tidak enak.
"Aku membutuhkan pekerjaan, apakah aku bisa bekerja di perusahaanmu. Maaf aku benar-benar membutuhkan uang selain untuk pengobatanku juga untuk masa depanku nantinya. Aku tidak mungkin terus berdiam diri di rumah sakit. Sementara kehidupan juga membutuhkan uang."
Dimas menatap Tiara, ia lalu membisikkan sesuatu di telinga istrinya.
"Sayang boleh aku membantunya" bisik Dimas. Tiara kemudian menganggukkan kepalanya. Ia merasa sedikit prihatin dengan Manda. Ia juga pernah mengalami kesulitan uang sebelumnya. Jadi ia membiarkan Dimas kali ini membantu Manda.
"Kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan soal biaya rumah sakit atau pengobatanmu. Aku akan membayar semua biaya perawatanmu sampai kau sembuh. Dan untuk masalah pekerjaan. Kau bisa datang ke kantorku dan menemui Erick begitu kondisimu benar-benar pulih."
"Terimakasih ya Dim. Maaf bahkan hingga saat ini aku masih saja merepotkanmu" ucap Manda dengan wajah sedih.
"Kau harusnya berterimakasih pada istriku. Aku menolongmu karena atas persetujuan darinya. Karena tanpa persetujuan istriku, aku tidak akan membantumu" ujar Dimas menekan kalimat terakhirnya. Manda terlihat kecewa dengan ucapan Dimas. Tapi sebisa mungkin ia akan bersabar dan perlahan kembali merebut Dimas dari tangan Tiara.
Setelah dirasa cukup akhirnya Dimas dan Tiara pamit undur diri. Begitu Dimas dan Tiara tak nampak lagi di hadapannya, Manda kembali menggila. Ia menghancurkan seisi kamar itu sambil memaki-maki Tiara.
"Dasar wanita brengsek berani-beraninya kau merebutnya dariku lihat saja. Aku akan mengambilnya darimu. Brengsek"
__ADS_1
"Manda, jaga kelakuanmu. Kalau rahasia kita sampai terbongkar,maka habislah kita. Kau tau bukan bagaimana kejamnya Dimas dan aku tidak mau terkena imbasnya karena kebodohanmu. Rebut Dimas dengan cara yang cantik hingga ia sendiri tidak akan menyadari kebohongan kita" Bela memperingati Manda sekaligus menasehatinya.
"Kau benar, aku akan melakukan semua itu. Awalnya aku akan masuk ke perusahaannya dan setelah itu aku akan masuk ke dalam rumahnya. Menjadi Nyonya Dimas dan mengusir wanita sialan itu."
***************
Sementara itu di tempat lain Anton sudah melancarkan aksinya. Ia mendatangi beberapa pemilik saham agar mau mendukungnya. Ia menjanjikan keuntungan yang melebihi apa yang akan Dimas berikan.
Anton Tampak tersenyum puas begitu keluar dari sebuah rumah yang merupakan salah satu pemilik saham.
"Anda tampak senang hari ini Bos. Apakah usaha Anda berhasil?" tanya asisten Anton.
"Ya tinggal selangkah lagi semua pasti berhasil."
"Tapi pemilik saham terakhir ini agak sulit Bos orangnya. Lagipula keberadaannya saat ini belum kita ketahui."
"Apakah kau sudah menghubungi sekretarisnya."
"Sudah Bos tapi sekretarisnya tidak mau memberitahukan keberadaannya bos" ujar Asisten Anton.
"Apa dia wanita single?" tanya Anton.
"Ya Bos."
"Berikan data-data pribadinya padaku. Aku akan menaklukkan wanita ini" ujar Anton dengan yakin.
"Baik Bos, besok pagi semua data tentang dirinya dan juga aktivitasnya akan ada di atas meja kerja Anda" ucap Asisten itu dengan yakin. Sementara itu Anton tersenyum penuh arti.
"Lihat bagaimana aku akan merebut semua milikmu. Dimulai dari perusahaanmu lalu istri kecilmu itu. Anton membuka galeri foto yang terdapat gambar Tiara pada saat mengunjungi kantor Dimas. Ia mengecup foto Tiara sambil bergumam tak jelas.
"Aku pastikan kau akan menjadi milikku."
TBC.
__ADS_1