
"Tapi mbak ini Pak Reno sendiri lho yang nyuruh saya kesini. Buat nganterin berkas ini" protes Tiara.
"Adek punya kartu nama Pak Reno atau nomor teleponnya nggak" tanya resepsionis itu menyelidik.
"Nggak mbak" Tiara menggelengkan kepalanya.
"Ya udah kalau gitu keluar aja sana" ujar resepsionis itu dengan nada tinggi. Tapi Tiara sama sekali tidak beranjak dari tempatnya membuat Resepsionis itu bertambah kesal dengan Tiara. Ia tidak mempercayai ucapan Tiara. Bagaimana mungkin gadis di depannya ini mempunyai janji temu, kalau nomor telepon bosnya saja tak tau.
"Tapi mbak..."
"Apa perlu saya panggilkan satpam" ancam resepsionis itu.
Tiara menggelengkan kepalanya, dengan langkah ragu ia keluar dari gedung itu. Menatap mata orang-orang yang melihat aneh ke arahnya. Sesampai di luar gedung ia menuju tempat parkir ia bermaksud mencari supir yang mengantarkannya.
Sementara itu di ruangannya, Reno menatap jam yang ada di pergelangan tangannya.
"Kenapa sampai sekarang belum sampai juga, nyasar kemana gadis itu?"
Reno menghubungi sekretarisnya Doni, ia menyuruh sekretarisnya ke bawah untuk menjemput Tiara. Ia juga memberitahu ciri-ciri fisik Tiara.
"Apa tadi ada Seorang gadis remaja yang kemari mencari Pak Reno, ia membawa berkas map biru" tanya sekretaris Reno pada resepsionis
"Ada Pak tapi sudah pergi" ucap resepsionis itu terlihat pucat.
"Pergi, kenapa? Apa ia meninggalkan berkasnya padamu.
"Maaf Pak saya mengusirnya, saya pikir gadis itu hanya bermain-main saja."
"Gila bener lo ya main usir-usir aja, lo tau nggak berkas itu di butuhkan Pak Reno 10 menit lagi buat meeting. Cepat cari gadis itu, sampai lo berdua nggak bisa nemuin gadis itu, tamat karier lo"
Kedua gadis itu dengan cepat berlari keluar, ia bertanya pada satpam kemana arah Tiara pergi.
"Dek..., Dek" teriak kedua wanita itu begitu melihat Tiara dari kejauhan.
"Ada apa ya mbak"
"Tunggu sebentar, huf... huf....." ucap wanita itu dengan nafas ngos-ngosan.
"Maafin mbak ya dek, mbak nggak tau kalau ucapan adek tadi beneran. Tolong jangan laporin masalah ini sama Pak Reno Ya dek, mbak mohon."
__ADS_1
"Iya mbak, jangan khawatir saya tidak akan mengatakan masalah ini sama Pak Reno" ucap Tiara tersenyum kikuk.
"Terimakasih Ya dek"
Kedua wanita itu kemudian mengantar Tiara ke ruangan sekretaris Doni.
Tok tok tok...
"Masuk"
Tiara memasuki ruangan Reno bersama dengan sekretaris Doni.
"Ini Pak berkas yang tertinggal" Tiara menyodorkan berkas itu ke meja Reno.
"Terimakasih, Ya Tiara"
"Sama-sama Pak. oh ya pak kalau gitu saya permisi dulu."
"Tunggu..., Dua jam lagi kita akan menjemput Rendra jadi sebaiknya kau tunggu disini saja. Nanti kita jemput Rendra sama-sama.
Kau bisa duduk di sofa itu dan membaca buku atau majalah yang ada di sini. Saya ingin pergi ke ruang rapat sebentar." Reno menunjuk sofa dan rak buku yang berada di ruangannya.
"Tidak ada penolakan, tetap disini dan tunggu aku sampai kembali, ingat jangan kemana-mana."
Tiara menganggukkan kepalanya pasrah menyetujui titah Reno.
Sementara itu sekretaris Reno melongo melihat interaksi bosnya dengan gadis remaja di depannya. Karena semenjak perceraian bosnya dengan mantan istrinya. Bosnya ini menjadi anti dengan wanita. Jangankan meminta seorang gadis untuk diam di ruangannya, untuk melihat seorang wanita menginjakkan kaki ke ruangan Reno adalah hal yang langka. Bahkan untuk menemui klien wanita pun Reno enggan. Ia selalu meminta Doni mewakilinya jika klien mereka adalah wanita.
"Don, kenapa bengong. Apa kau sudah meminta setiap kepala bagian menungguku di ruang rapat"
"Su-sudah Pak" ucap Doni tersentak kaget karena mendengar ucapan Reno.
Ruangan Reno ini selama tiga tahun adalah zona merah bagi kaum wanita. Bahkan cleaning service yang membersihkan ruangan Reno adalah seorang pria. Itu sebabnya Doni cukup terkejut ketika Reno memintanya menjemput seorang gadis untuk di bawa ke ruangannya.
Reno keluar dari ruangannya ia memerintahkan sekretarisnya Doni untuk memberikan minum dan camilan untuk Tiara.
Tiara menunggu Reno sambil membaca buku yang ada di meja depannya. Setelah merasa buku itu kurang menarik Tiara menuju ke rak buku dan mengambil beberapa majalah. Majalah yang ada di sana rata-rata adalah majalah bisnis. Tiara melihat satu persatu tumpukan majalah yang diambilnya.
Tak sengaja Tiara menemukan majalah yang gambar cover depannya adalah Dimas dengan judul Langkah Sukses Pengusaha Muda.
__ADS_1
"Pantas dia sombong sewaktu pertama kali bertemu denganku, ternyata ucapannya benar."
(Buat yang lupa sama ucapan Dimas bisa kembali ke episode 4 )
"Dia sangat tampan kalau tersenyum begini, tapi mengingat kelakuanmu membuatku makin sebal denganmu."
"Andai saja kau mau menikahiku, bahkan nikah siri sekalipun aku juga tak masalah. Ah hentikan Tiara, apa yang kau pikirkan. Mana mungkin manusia devil ini mau menikahimu."
"Kau tidak cocok dengan wajah tampan ini, tapi kau lebih cocok jika berpenampilan seperti ini"
Tiara mencoret gambar wajah Dimas. Ia menggambar kumis Pak Raden dan memberikan gambar taring disisi kiri dan kanan bibir Dimas.
"ha ha ha....,gambar ini lebih cocok untukmu. Dasar penjahat wanita.
"Apa yang kau lakukan, kau terlihat bahagia sekali" tanya Reno yang tiba-tiba berada di depan Tiara.
Tiara yang terkejut refleks menyembunyikan majalah yang telah ia coret-coret di belakang tubuhnya.
"Kenapa kau sembunyikan, ada apa dengan majalah itu. Kemarikan aku ingin melihatnya."
"Maaf, karena sudah merusak majalahmu" Tiara menyodorkan majalah yang berisi gambar Dimas yang telah ia coret-coret.
"Kenapa wajahnya kau gambar seperti ini, Apa kau dendam dengannya. jangan-jangan kau salah satu korbannya lagi" Ucap Reno terkekeh melihat gambar Dimas.
"Ko-korban, apa maksud Tuan?"
"Ia ini playboy sejati, ia dikenal suka bergonta-ganti pasangan. Dan biasanya ia tidak pernah menggunakan jasa wanita lebih dari sekali. Selesai pakai langsung di tinggalkan dengan segepok uang. Dan setelah itu jangan berharap lagi bisa dekat dengannya."
"Benarkah? Tuan kelihatan mengenal Tuan Dimas dengan baik.
"Tentu saja, ia adalah saudara sepupu dari mantan istriku. Ibunya Dimas dan Ibu dari mantan istriku adalah sepupu dekat. Walaupun aku tidak cukup dekat dengan Dimas tapi aku kenal baik dengannya."
"Kenapa kau terlihat terkejut seperti itu, apa kau mengenalnya?"
"Ti-tidak Tuan" ucap Tiara gugup.
Tiara cukup terkejut dengan penjelasan Reno. Bahkan wajah Tiara pun pucat seketika.
TBC
__ADS_1