UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Kedekatan Michael dan Tiara.


__ADS_3

"Dia cucu sahabatku" ujar Kakek. Ia belum siap untuk mengatakan kebenarannya pada Dimas.


"Kenapa Kakek biarkan pria itu mendekati istriku?" Kesal Dimas.


"Kau tidak perlu cemburu berlebihan, karena Pria itu tidak akan mungkin merebut istrimu."


"Aku tidak mau tahu, jangan biarkan ia dekat-dekat dengan Tiara."


"Aku tidak bisa melarang Tiara dekat dengan siapapun selama ia bisa menjaga dirinya."


"Kalau begitu Kakek harus memikirkan cara untuk membujuk istriku agar mau kembali denganku. Kakek hanya punya waktu 3 hari, kalau Kakek tidak bisa melakukannya, aku akan menculiknya" ancam Dimas.


"Kenapa aku harus ikut pusing dengan masalahmu, pikirkan sendiri caranya. Kau bisa masuk kesana dengan menyamarkan, untuk dekat dengan istrimu. Tapi jangan sekali-kali kau berpikir untuk memaksanya kembali padamu. Aku tidak ingin Tiara tertekan yang berakibat fatal pada kandungannya."


Dimas memikirkan kata-kata Kakeknya. Haruskah ia menyamar agar bisa dekat dengan istrinya atau membiarkan dan memberi waktu untuk istrinya.


Dimas mengambil laptop milik Kakek begitu saja dan pergi tanpa permisi.


"Hai apa yang kau lakukan, kembalikan laptop milikku."


"Aku akan mengirimkan laptop terbaru buat Kakek nanti. Yang ini untukku."


"Hai cucu sableng, disitu banyak data-data penting milikku."


Dimas menghiraukan ucapan Kakek, ia pergi dengan terburu-buru. Yang ada di otaknya saat ini adalah, ia bisa mengawasi istrinya dengan Laptop di tangannya dan juga memikirkan strategi selanjutnya untuk bisa dekat dengan istrinya.


*************


Tiara saat ini sedang menemani Michael di taman belakang. Kegiatan rutin yang selalu mereka lakukan, berjemur matahari pagi. Roy berada tidak jauh dari mereka, ia adalah asisten siaga yang siap menerima perintah apapun dari Bosnya.


Michael sudah mengetahui jika Tiara adalah istri Dimas dari penjelasan Kakek. Tapi Tiara belum mengetahui jika Michael adalah Adik dari Dimas.


Kakek masih merahasiakan identitas Michael, karena Michael ingin datang sendiri pada Dimas dan memberitahu tentang identitasnya. Sedangkan Kakek memutuskan untuk memberitahu identitas Tiara karena Kakek tidak ingin Michael menaruh perasaan pada istri Kakaknya itu.


"Apa kau tidak memiliki keluarga selain asistenmu yang over protective itu." Tiara melirik Roy yang tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari sosok bosnya, walaupun ia duduk agak jauh dari mereka.


"Ayahku pergi entah kemana, sedangkan Ibuku sudah meninggal dunia."


"Maaf kalau terlalu banyak tanya."

__ADS_1


"Tidak apa. Sebenarnya aku masih memiliki Kakak, Kami satu Ibu tapi beda Ayah."


"Lalu dimana dia, apa dia tau kondisimu saat ini."


"Aku tidak tau ia mengetahui keberadaanku atau tidak, kami belum pernah sekalipun bertemu. Karena aku ikut Ibuku sedangkan Kakakku di asuh ayah kandungnya."


"Apa kau tidak penasaran seperti apa kakakmu sekarang?"


"Sebenarnya, aku ada di kota ini karena ingin mengunjunginya tapi aku mengalami kecelakaan. Untung ada seorang wanita yang menolongku. Astaga, aku lupa menepati janjiku padanya." Michael menepuk jidatnya perlahan.


"Roy..!!" Panggil Michael.


"Ya Tuan."


"Kau tolong pergi ke night club tempat kau menemukanku terakhir kali. Dan apa kau masih ingat gadis yang menolongku waktu itu?" tanyanya.


"Ya Tuan, saya sempat memfoto wajahnya diam-diam karena saya tau pasti anda pasti akan menanyakannya."


"Tebus dia dari club itu dan bawa kemari!"


"Maaf Tuan, waktu itu kira-kira 1 bulan setelah anda koma saya mencari tahu keberadaannya tapi tidak ada yang mengenalinya. Tapi ketika saya menanyakan pada manajer di club itu, katanya wanita itu sudah di tebus seseorang dan juga wajah yang ada di foto ini bukan wajahnya yang sesungguhnya. Manajer itu juga tidak mau memberitahu saya siapa pria yang sudah menebusnya jadi saya kesulitan mencari keberadaannya."


Tiara tersenyum mendengar pembicaraan mereka. Ia cukup senang karena ternyata pria di depannya itu tidak melupakan hal baik yang pernah ia lakukan. Seandainya saja Michael tidak koma dan menebusnya saat itu, tentu jalan cerita hidupnya akan berbeda.


"Baik Tuan, saya pergi sekarang." Roy berlalu pergi dari tempat itu. Baru saja ia melangkah sebanyak tiga langkah tapi Tiara menghentikannya.


"Pak Roy berhenti!! anda tidak perlu mencari keberadaan wanita itu."


"Apa maksudmu Nona?" Ucap Roy. Michael dan Roy menatap heran ke arah Tiara. Mereka bertanya-tanya, kenapa Tiara melarang Roy untuk mencari wanita penolongnya.


"Boleh aku melihat foto wanita itu?" tanya Tiara. ia ingin memastikan tebakannya tidak salah.


Roy melangkah mendekat ke arah Tiara dan memberikan handphone miliknya, setelah sebelumnya ia menampilkan foto wanita itu di layar handphonenya.


Tiara tertawa kecil melihat fotonya yang terlihat begitu berbeda dengan kenyataannya saat ini.


"Mengapa terlihat jelek sekali?" tawa Tiara. Roy yang menyangka Tiara mengejek penyelamat bosnya mengeluarkan kata-kata pedas.


"Kebaikan tidak dilihat dari wajahnya tapi hatinya. Setidaknya ia memiliki kebaikan di balik rupa buruknya. Daripada seorang wanita yang cantik tapi memiliki kebusukan di hatinya."

__ADS_1


Roy terlihat kesal karena ucapan Tiara, sementara Tiara tersenyum mendengar kata-kata Roy. Ternyata pria dingin yang terkadang bertingkah konyol ini menghargai seseorang tidak hanya dari penampilannya saja. Sementara Michael diam saja, ia belum cukup mengenal Tiara sekalipun sudah beberapa hari ini mereka selalu terlibat pembicaraan bersama.


"Saya tidak menghinanya, saya mengatakan itu karena aku sangat mengenalnya" ujar Tiara yakin.


"Kau mengenalnya?" tanya Michael dan Roy bersamaan.


"Hemmm"


"Bisa kau katakan keberadaannya, biar Roy bisa menemuinya" pinta Michael.


"Kau tidak perlu mencarinya, karena wanita itu ada disini, di taman ini" ujar Tiara


Michael dan Roy mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ada dipikiran mereka. Tapi yang ada di taman belakang itu hanya mereka bertiga dan dua orang tukang kebun yang sedang merapikan bunga dan memangkas rerumputan.


"Dimana dia? kau tidak sedang bercandakan Nona!" Roy terlihat makin kesal. Ia berfikir ucapan Tiara itu mungkin hanya candaan saja.


"Aku tidak berbohong, wanita itu saat ini berada di depan kalian."


"Kamu? Jangan bercanda" ucap mereka lagi-lagi bersamaan.


"Apa kalian lupa, jika manajer itu mengatakan wajah wanita itu samaran. Aku menggunakan tompel dan juga kawat gigi untuk menutupi wajahku yang sebenarnya dan untuk merubah warna kulit, aku menggunakan lotion tertentu. Aku melakukan semua itu agar terlihat jelek, karena aku tidak ingin mereka berbuat jahat padaku."


"Bisa anda ceritakan, tentang yang terjadi disana agar kami yakin jika itu benar-benar anda" ujar Erick.


Tiara pun menceritakan apa yang terjadi di sana, ia bahkan masih mengingat warna baju yang dikenakan Roy dan Michael.


"Terimakasih banyak, karena sudah menolongku. Jika kau kesulitan dan membutuhkan sesuatu kau bisa meminta padaku." ucap Michael penuh haru, ia tidak menyangka penolongnya selama ini ada di dekatnya. Bahkan ia tersadar juga setelah kedatangan Tiara.


"Boleh aku memelukmu sebentar saja sebagai rasa terimakasih dan juga tanda persahabatan kita."


"Hah" Tiara terlihat bingung harus menjawab apa, ia ingin menolak tapi melihat tatapan Michael yang seperti penuh harap membuat Tiara menyetujuinya.


"Sebentar saja bo..." belum juga Tiara menyelesaikan ucapannya Pria itu sudah menariknya lembut ke dalam pelukannya.


Sementara di lain tempat ada seorang pria yang mengamati mereka dari sebuah layar. Walaupun ia tidak bisa mendengar ucapan mereka, tapi ia benci karena pria itu berani menyentuh istrinya.


"Sial, akan kubuat kau tidak bisa berjalan selamanya, jika kau tidak segera melepaskan pelukanmu itu" Ia mengepalkan tangannya erat hingga kuku-kuku jarinya melukai telapak tangannya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2