
Nita menatap kesal kearah Tiara, Apalagi Dimas berkali-kali mengecup kening Tiara gemas. Sepertinya Dimas sengaja melakukan semua itu di depan Farih dan juga Nita. Ia tidak mau Tiara cemburu padanya. Apalagi Nita seperti tidak tau malu terus menatap Dimas penuh nafsu.
"Masku sudah dong, Tiara malu" protes Tiara karena terus mendapatkan kecupan dari Dimas.
"Nggak apa sayang lagian kita bentar lagi juga menikah. Mereka pasti maklum, iyakan Rih" tanya Dimas kepada Farih Sabil menarik turunkan alisnya.
"Iya Tiara santai aja, kita ngerti kok. Oh ya Tiara boleh aku tanya sesuatu padamu."
"Boleh Kak, ada apa ya?"
"Apakah kita pernah saling mengenal sebelumnya, entah mengapa aku merasa Familiar dengan wajahmu. Aku juga merasa nyaman dekat denganmu, seperti aku sudah mengenalmu sangat lama."
Dimas mengerutkan keningnya, menatap Farih heran. Ia berpikir apa maksud dari pertanyaan Farih.
"Entahlah Tuan, tapi saya tidak mengingat kalau pernah bertemu Tuan. Sekalipun saya juga merasakan hal yang sama seperti Tuan. Saya kurang lebih 4 bulan berada di kota ini dan sebelumnya saya tinggal di Desa Suka Mulya. Apa Tuan pernah berkunjung kesana?"
Farih menggelengkan kepalanya, sementara Dimas mulai menatap kesal kearah Farih. Ia berpikir pria di hadapannya ini hanya mencari alasan untuk bisa dekat dengan Tiara.
Dimas semakin mendekat ke Tiara. Ia duduk di sebelah Tiara, melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Tiara. Ia menyenderkan kepalanya di bahu Tiara. Dimas ingin Farih tau Tiara adalah miliknya. Farih hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Dimas, sementara Nita mengepalkan tangannya erat.
Sialan pelet apa yang sudah ia berikan, sampai-sampai Tuan Dimas bersikap seperti itu, batin Nita kesal.
******************"
Di sebuah apartemen Nyonya Anggi sedang melangkah tergesa-gesa. Wajahnya merah padam menahan emosinya sejak tadi.
Samar-samar ia mendengar suara desahan dari dalam kamar suaminya. Selama ini Nyonya Anggi dan Tuan Bagas tinggal terpisah. Tuan Bagas tinggal disebuah apartemen pemberian Nyonya Anggi. Sementara Nyonya Anggi tinggal di sebuah rumah yang cukup mewah.
Pernikahan mereka hanyalah sebuah status belaka, tapi mereka berdua tidak pernah mempermasalahkannya. Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena sebuah kesalahan.
Bahkan Nyonya Anggi tidak perduli dengan suaminya yang suka berganti-ganti pasangan. Semua tak menjadi masalah baginya. Yang paling ia pikirkan saat ini adalah masa depan putri satu-satunya.
Nyonya Anggi rela berbuat jahat, bahkan sampai merusak putri orang lain demi bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga putrinya. Ia bahkan sampai menyekolahkan putrinya di luar negeri, karena ia takut jika putrinya sampai terlibat bisnis haramnya.
Ia ingin anaknya cukup menikmati hasilnya, lalu membangun masa depan mendirikan sebuah perusahaan. Ia sudah mempersiapkan tabungan masa depan agar anaknya bisa mendirikan perusahaan sesuai bidang keahlian anaknya.
__ADS_1
Tapi ternyata rencana masa depan yang ia susun untuk anaknya, di hancurkan karena kebodohan suaminya.
Brakkk...." Nyonya Anggi menendang pintu yang tak terkunci. Kemarahannya membuatnya enggan membuka pintu itu dengan tangannya.
Tampak dua orang dalam keadaan naked dalam posisi tempur. Tuan Bagas dan pasangan yang berada di bawahnya terkejut.
"Anggi" ucap Bagas terkejut, lalu bangun dari posisinya. Sementara pasangannya ikut bangun dan dalam keadaan naked ia mengambil bajunya yang berserakan di lantai dan berlari keluar.
Pasangan tempur Tuan Bagas adalah anak buah Anggi yang bekerja di klub miliknya. Mengetahui bosnya yang masuk dalam keadaan marah, wanita itu segera kabur dari sana. Ia tidak mau jadi pelampiasan Nyonya Anggi yang terkenal sadis dalam mendisiplinkan anak buahnya.
"Aaaagghhh ampun Anggi, ampun....," Teriak Tuan Bagas, ketika Anggi menarik rambutnya kasar. Bahkan badannya ikut terseret karena tarikan Anggi.
"Dasar pria brengsek, berani-beraninya kau melakukannya di belakangku." Anggi menarik rambut Bagas hingga ia terseret dan jatuh dari tempat tidur.
"Ada apa denganmu, bukankah kau tidak pernah mempermasalahkan jika aku bermain dengan siapa saja" Tuan Bagas melepaskan cengkraman Nyonya Anggi dari rambutnya.
"Apa kau pikir aku perduli dengan kamu yang tukang selingkuh" Jawab Nyonya Anggi keras.
"Lalu apa maksudmu, masuk kamarku dan bertindak semaumu" protes Bagas tak kalah nyaring dari teriakan Anggi.
Bagas cukup terkejut dengan apa yang dilontarkan Anggi. Apa dia mengetahui rencanaku, batin Bagas. Bagas terdiam sejenak memikirkan jawaban dari pertanyaan Anggi.
"A-apa maksudmu, anak kita saat ini kuliah di luar negeri. Apa kau habis bermimpi buruk" Bagas membuka lemari lalu mengambil handuk untuk menutupi tubuh polosnya.
"Dasar pria brengsek masih juga kau berpura-pura. Rasakan ini, ini-ini" Nyonya Anggi mengambil satu persatu barang-barang yang ada di atas meja ia melemparkannya ke arah Bagas.
"Aaw, aaw Anggi sudah, aaw..., Anggi...." Bagas terus berteriak-teriak ia melompat kesana kemari menghindari lemparan Nyonya Anggi.
Kemarahan Anggi tak sampai disitu Ia mendorong keras Bagas yang berdiri di depan lemari hingga terjatuh.
Ia mengambil koper besar memasukkan semua baju Bagas kedalam koper.
"Anggi, apa yang kau lakukan. Hentikan Anggi" Tuan Bagas berusaha menghentikan Anggi memasukkan bajunya dalam koper miliknya. Ia tahu jika sampai Anggi melakukan hal ini, maka tamatlah ia.
Setelah koper penuh dengan barang-barang Bagas yang dimasukkan secara berantakan. Anggi menyeret Bagas keluar. Sementara satu tangan Bagas memegangi handuknya yang hampir terlepas.
__ADS_1
"Anggi apa yang kau lakukan lepaskan aku, kita bisa bicarakan baik-baik." Anggi mengabaikan ucapan Bagas ia menyeret Bagas paksa. Tenaga Anggi cukup besar. Karena setelah ia memutuskan membuka klub malam, ia mempelajari ilmu beladiri. Bahkan hal yang mudah baginya untuk membuat Bagas babak belur.
Anggi membuka pintu utama apartemen melemparkan koper Tuan Bagas begitu saja. Ia juga melepaskan pegangannya pada Tuan Bagas.
"Anggi apa yang kau lakukan biarkan aku menjelaskan di dalam, tolong Anggi setidaknya biarkan aku memakai baju dulu" Bagas memohon pada Anggi, ia menatap sekitarnya ragu. Saat ini Tuan Bagas berada di luar pintu apartemennya. Ia menjadi tontonan orang yang lewat.
"Dengar, dalam waktu tiga bulan. Kau harus bisa membuat anakku terlepas dari keluarga palsunya itu. Selama masa itu kau tidak boleh tinggal disini atau rumahku. Kau bisa tinggal dirumah lama kita. Dan tak ada uang bulanan sepeserpun untukmu. Kalau sampai penyamaran anakku terbongkar, aku tidak akan segan-segan melenyapkanmu."
"Tapi Anggi...,"
"Tidak ada tapi-tapian cepat perbaiki kesalahanmu katakan sejujurnya pada mereka. Aku tidak ingin anakku berakhir di penjara. Mereka adalah keluarga terkemuka kau pikir bisa sampai berapa lama kau membodohi mereka"
"Anggi anak kita bahagia disana dan kita bisa menguras harta me..."
"Hentikan omong kosongmu, lakukan perintahku maka aku akan mengembalikan semua fasilitasmu. Pikirkan jalan keluarnya, lakukan secepatnya. Jika dalam tiga bulan kau belum juga menyelesaikannya maka aku sendiri yang akan mengatakan pada mereka. Dan aku akan pastikan kau meringkuk di jeruji besi selamanya. Sekarang prioritasku adalah keselamatan dan kebahagiaan putriku."
Brakkk
Anggi menutup pintunya kasar. Meninggalkan Bagas yang hanya berbebet handuk. Bagas menggedor-gedor pintu, Ia masih berharap mendapatkan pengampunan dari Anggi.
"Sial!!!" teriak Bagas menendang pintu, ia kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Mengabaikan tatapan aneh orang-orang disekitarnya.
****************
Sementara itu saat ini Farih dan Nita sudah kembali ke apartemennya. Ia bermaksud merayu Farih agar membantunya mendapatkan Dimas. Setelah ia berhasil mendapatkan perhatian Dimas ia akan pelan-pelan menyingkirkan Tiara.
"Ayolah Kak, bantu aku. Aku berjanji akan merubah sifat dan juga sikapku" Nita bergelayut manja di lengan Farih.
"Tidak Nita, Dia sudah punya Tiara. Dan apa kau tak dengar tadi kalau mereka akan menikah setelah Tiara sembuh.
"Tapi mereka kan belum menikah dan bisa jadi Dimas jodohku, bukan jodohnya Tiara. Kita nggak akan tau apa yang akan terjadi dimasa depan. Saat ini Nita hanya tau, Nita mau Dimas dan Kakak harus bantu Nita dapetin Dimas. Kalau tidak Nita akan bikin ulah yang buat keluarga kita malu, dan itu akan menjadi salah Kakak."
Brakkk, Nita berlari masuk kamarnya dan membanting pintu kamar itu.
TBC
__ADS_1