UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Tiba Di Negara Tujuan.


__ADS_3

Semenjak Kepergian Dimas, hubungan Nara dan Mike semakin dekat. Mereka berusaha melupakan yang telah terjadi dengan tidak mengungkit kejadian itu. Keramahan dan perhatian Mike cukup membuat Nara nyaman dan tidak canggung lagi jika mereka sedang berdua. Mike meminta Nara menganggapnya sebagai seorang Kakak, begitu juga Mike yang menganggap Nara sebagai seorang Adik.


"Kak Mike kapan kita keluar dari rumah sakit, Nara bosan" ucap Nara sembari mengerucutkan bibirnya. Kondisi Nara sudah membaik dan selang infus pun sudah di lepas dari tangannya.


"Sabar ya, tunggu luka di kaki Kakak membaik baru kita pulang" ucap Mike.


"Maaf" ucap Nara begitu menyadari jika luka Mike di sebabkan oleh kejahatan Ayahnya.


"Ini bukan salahmu Nara, Kau ingatkan apa yang Kakak katakan kemarin."


"Jangan pernah meminta maaf untuk kesalahan yang bukan Nara perbuat" sahut Nara.


"Anak pintar, sabar sedikit ya. Setelah Kakak benar-benar sembuh kita pulang ke Indonesia. Kita akan tinggal disana, kau juga harus meneruskan pendidikanmu disana nanti."


"Baik Kak, Nara akan ikut kemanapun Kakak pergi, karena sekarang hanya Kakak yang Nara punya.


"Sampai di Indonesia nanti kau akan punya banyak teman, jadi kau tak perlu khawatir lagi" ucap Mike dan diangguki oleh Nara.


"Kak Mike, Nara suapin ya" Nara mengambil nampan yang berisi lauk pauk di atas meja dekat tempat tidur Mike.


"Kakak bisa makan sendiri Nara, yang sakit Kaki Kakak bukan tangan Kakak, kemarikan" Mike meminta mangkuk yang ada di tangan Nara.


"Biarkan Nara melayani Kakak, Nara bosan dan nggak tahu harus ngapain lagi. Aaaa..." Nara menyodorkan sendok yang berisi sup tahu dan jamur. Mike akhirnya menerima suapan Nara. Nara melakukannya terus hingga sup habis tak tersisa.


"Kakak pintar" ucap Nara memuji setelah Mike menghabiskan supnya.


"Hah, kau memperlakukanku seperti bayi saja" keluh Mike menertawakan dirinya sendiri.

__ADS_1


***************


Dengan berbekal identitas palsu Dimas akhirnya berhasil lolos menaiki kapal yang berlayar memasuki Negara Z. Perjalanan yang di tempuh selama 6 jam terasa lama buat Dimas. Untung saja ia memesan kelas VIP hingga ia bisa sedikit menikmati perjalanannya.


Cuaca tak begitu mendukung perjalanan Dimas, Angin bertiup dengan kencang membuat kapal bergerak terombang-ambing. Dimas yang sudah terbiasa dengan perjalanan laut tidak begitu terpengaruh.


Setelah melewati perjalanan yang menegangkan akhirnya kapal berhasil menepi dengan selamat. Pemeriksaan penumpang setelah keluar dari kapal di lakukan dengan ketat. Barang-barang bawaan para penumpang tak luput dari pemeriksaan.


"KTP dan Paspor tuan" petugas jaga meminta identitas diri Dimas. Dengan santai Dimas memberikan apa yang diminta petugas itu.


"Silahkan Tuan" petugas mempersilahkan Dimas untuk lewat setelah dirasakan tak ada masalah dengan identitasnya.


Sampai di negara itu hal pertama yang Dimas lakukan adalah mencari informasi tentang Tedi. Ia memang tidak mengetahui nama asli Tedi, tapi ia tahu Tedi adalah seorang pangeran di negara yang saat ini ia datangi.


Mencari informasi Kerajaan negara Z di internet tidaklah mudah. Negara dengan jumlah penduduk tidak lebih 100.000 jiwa itu begitu tertutup pada dunia luar. Mereka tidak mengekspos Foto para pangerannya. Kita hanya akan mendapati Foto Raja, Ratu dan Tuan Putri. Siapa Pangeran kerajaan dan penerus selanjutnya bukanlah hal yang bisa kita lihat di internet. Informasi yang didapatkan Dimas hanyalah nama-nama Pangeran tidak ada satupun berita yang menampilkan foto sang pangeran. Dimas hanya bisa mencari informasi dari penduduk sekitar.


Setelah menyewa penginapan untuk beberapa hari kedepan, Dimas langsung meluncur keliling kota. Ia memilih pergi sendiri dan membiarkan pengawalnya untuk beristirahat.


Berawal dengan menanyakan budaya akhirnya Dimas menanyakan tentang kehidupan Raja dan para pangeran.


"Raja sebenarnya memiliki 7 orang anak. terdiri dari 1 anak laki dari permaisuri. 1 anak laki-laki dan 2 anak perempuan dari selir Paula, dan 3 anak laki-laki dari selir Amerta. Tapi sayang anak dari selir Amerta meninggal semua. Dua orang kecelakaan dan satu lagi meninggal karena wabah penyakit, dan selir Amerta menjadi Gila karena kehilangan putranya. Ia diungsikan di tempat yang dirahasiakan" jelas seorang Ibu-ibu yang berjualan jagung bakar di pinggir Pantai. Dimas menikmati jagung itu sambil mengobrol dengan ibu itu.


"Lalu bagaimana dengan anak yang lainnya. Terutama sang pangeran, saya sangat tertarik dengan para pangeran, sayang saya tidak bisa menemukan foto mereka di media sosial" ujar Dimas yang saat ini berpenampilan sebagai seorang wanita. Ia memperkenalkan dirinya dengan nama Ana.


"Wajar saja anda tertarik dengan pangeran, Bahakan semua wanita di negara ini juga memimpikan bisa bersanding dengan pangeran. Terutama Putra Mahkota, sayang dia sudah memiliki istri, istrinya sangat beruntung bisa mendapatkan pangeran kami apalagi ia dari kalangan biasa dan bukan dari negara ini."


"Oh ya kalau boleh tahu siapa nama Pangeran kerajaan ini?" tanya Dimas.

__ADS_1


"Pangeran Alex dan Osvaldo untuk nama lengkapnya ibu lupa, maklum sudah tua" ucap Ibu itu sambil tertawa kecil.


"Siapa bilang ibu tua. Ibu masih kelihatan cantik dan awet muda" puji Dimas menyenangkan hati ibu itu.


"Bagaimana caranya ya Bu, saya bisa melihat pangeran tampan negeri ini? Saya sangat ingin bisa melihat wajah tampan mereka."


"Kalau melihat langsung sepertinya agak sulit tapi jika Nona menginginkan gambar para pangeran, Nona bisa meminta pelukis jalanan yang biasa duduk di dekat pintu masuk menuju pantai ini untuk melukisnya. Ya walaupun mahal setidaknya bisa mengobati rasa penasaran Nona" ucap ibu itu memberi saran. Dimas suka dengan saran Ibu itu, ia membayar lebih untuk jagung bakarnya dan segera mencari tukang lukis jalanan.


Setelah menemukan pelukis jalanan Dimas meminta pelukis itu untuk melukis para pangeran. Setelah melakukan negosiasi dengan bayaran yang memuaskan akhirnya pelukis itu setuju.


"Nona ingin saya melukis Putra Mahkota Alex atau Pangeran Osvaldo terlebih dahulu?" tanya pelukis itu.


"Terserah anda saja" ucap Dimas.


"Baiklah karena bayaran yang Nona berikan memuaskan, saya akan melukis Putra Mahkota dan istri barunya. Anggap saja ini bonus dariku untukmu Nona." ucap pelukis itu mulai menorehkan coretan diatas kanvas.


Walaupun gambar masih berupa sketsa Dimas bisa menebak jika pria itu adalah Tedi yang ia cari. Dengan sabar Dimas masih terus memperhatikan coretan indah pelukis itu. Dimas menegang dan cukup terkejut ketika pelukis itu mulai menggambar istri putra mahkota.


"Tidak, ini tidak mungkin. Pasti ini hanya mirip saja" gumam Dimas pelan. Semakin pelukis itu memperjelas lukisannya semakin Dimas yakin jika itu adalah Tiara istrinya.


"Apa bapak yakin ini adalah istri Putra Mahkota ?" tanya Dimas tak percaya.


"Tentu saya yakin Nona, Putra Mahkota Alex memperkenalkan istrinya pada rakyat dan petinggi istana. Saya beruntung bisa melihat istri Putra Mahkota langsung karena saya salah satu rakyat yang diundang di istana. Putra Mahkota kami memiliki istri yang cantik dan istrinya juga sedang hamil saat ini" Pelukis itu menjelaskan pada Dimas dengan bangga.


Tidak ada keraguan lagi di hati Dimas ia yakin istri Putra Mahkota itu adalah Tiara istrinya, apalagi Tedi yang melarikan istrinya adalah sang Putra Mahkota itu sendiri.


Kurang ajar kau Tedi berani-beraninya kau merebut istriku, Dimas menatap lukisan itu dengan wajah memerah, tangannya mengepal erat hingga kuku-kuku jarinya melukai telapak tangannya.

__ADS_1


"Karena kau berani bermain-main denganku maka aku akan dengan senang hati menyambut permainanmu. Selamat datang di dunia kehancuranmu Tedi, ucap Dimas dalam hati.


TBC.


__ADS_2