UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Manja.


__ADS_3

Tiara saat ini sedang berada di restoran bersama dengan Kak Farih dan juga Lia iparnya.


"Habiskan makanmu, jangan kau pandangi saja sedari tadi" ucap Farih menatap Tiara yang sedari tadi hanya memandangi piringnya saja. Ibu hamil itu tiba-tiba kehilangan selera makannya karena tidak bisa menghubungi suaminya.


Dimas sebenarnya saat ini berusaha menghubungi istrinya, tapi Tiara tidak mengetahuinya karena ia meninggalkan handphone miliknya di meja kamarnya.


Akhirnya Dimas kembali ke ruangannya dan menghubungi Farih. Ia duduk di kursi sofa panjang menyenderkan kepalanya di senderan sofa dan memerintahkan Erick memesankan makanan untuknya.


Sementara itu Tiara masih saja memandangi makanannya. Ia mengaduk-aduk makanannya tanpa berniat untuk memakannya.


"Apa kau menginginkan menu yang lainnya?" tanya Farih dan di jawab gelengan oleh Tiara.


"Makanlah Ra, kasihan bayimu akan kelaparan jika kau pandangi dan kau aduk-aduk makananmu seperti itu" Lia mengambil alih sendok dari tangan Tiara, mengisi dengan lauk-pauknya dan menyuapi Tiara.


"Aaa, ayo" pinta Lia, akhirnya Tiara menyambut suapan Lia tanpa semangat.


Terdengar handphone milik Farih berdering, pria itu tersenyum kecil setelah melihat siapa penelponnya.


"Ya, dia bersamaku saat ini. Sebaiknya kau bujuk dia untuk makan, ia hanya memandangi makanannya sedari tadi. Apa kau ingin bicara dengannya?" sahut Farih menjawab panggilan telpon video call miliknya.


"Ini suamimu ingin bicara" Farih menyodorkan handphone pada Tiara dan di sambut Tiara dengan semangatnya. Ia mengalihkan kamera handphone agar tak menyorot wajahnya.


"Hallo" ucap Tiara dengan nada malas. Sekalipun ia sebenarnya senang karena suaminya menghubunginya akan tetapi ia masih kesal karena Dimas baru ingat menghubunginya saat ini.


"Sayang, maaf aku lupa menghubungimu tadi. Handphone aku kehabisan daya, Erick menjemputku dan langsung mengajakku bertemu klien di perusahaan, maaf ya" jelas Dimas, tapi Tiara masih saja terdiam.


"Sayang arahkan kameranya ke wajah kamu dong, mas kangen nih" pinta Dimas dengan nada manja. Karena Tiara masih saja mengalihkan kamera handphone agar tidak menyorot wajahnya.


"Sayang, apa kau sudah makan? jangan lupa makan yang banyak ya, agar anak kita sehat nanti. Kamu pasti nggak mau kan anak kita kelaparan" ucap Dimas lembut mencoba membujuk Tiara yang masih saja belum mau mengeluarkan suaranya.


"Apa mas sudah makan?" tanya Tiara tiba-tiba. Ia bisa mendengar nada lelah dari balik suara lembut Dimas.


"Bagaimana mungkin Mas bisa makan kalau istri dan anak Mas belum makan apapun sedari tadi. Kameranya dong sayang, mas kangen berat nih" ucap Dimas lagi dengan nada suara memelas.


Akhirnya Tiara mengarahkan kameranya ke wajahnya. Dimas tersenyum memandang wajah cemberut istrinya.


"Jangan cemberut gitu dong sayang, jelek nanti. Ayo makannya cepetan di habiskan Mas tungguin" ujar Dimas.


"Mas nggak makan?"


"Masih di pesankan Erick, nanti Mas pasti makan jadi jangan khawatir."

__ADS_1


Tiara menyuapkan makanannya sembari mendengar obrolan Dimas. Farih dan Lia hanya memandangi adiknya tersenyum. Akhirnya mood ibu hamil itu membaik juga.


"Mas kelihatan lelah banget, Mas belum istirahat ya" Tiara menatap wajah lesu suaminya.


"Iya sayang mas capek banget, begitu datang langsung handel pekerjaan. Apalagi nggak ada kamu disini, mas jadi tambah nggak semangat lagi" Dimas merebahkan tubuhnya di kursi sofa yang ada di ruangannya itu.


"Ya sudah, mas istirahat aja dulu. Tiara tutup ya telponnya."


"Iya, tapi nanti malam jangan lupa hubungi mas lagi ya sayang!" pinta Dimas.


"Iya, nanti Tiara telpon Mas, sebelum Tiara pergi tidur. Selamat istirahat sayang, mmmuuaach" ujar Tiara lalu menutup telponnya tanpa mendengar jawaban dari suaminya.


Tiara ingin suaminya beristirahat dengan tenang. Ia tidak tega melihat wajah lelah suaminya itu.


"Eehheemm..., duh yang lagi senyum-senyum habis di telpon suami" ejek Farih.


"Kamu sebaiknya banyak belajar dari Tiara deh Yang, trik untuk menyenangkan suami" ujar Farih pada Lia. Istrinya itu terlalu datar dan polos dalam bersikap. Ia kadang suka iri dengan kemesraan Dimas dan Tiara.


"Istrinya Mas Tiara apa Lia?" tanya Lia.


"Ya kamu lah sayang" Farih menoel hidung Lia.


"Ya, nggak gitu sayang. Mas kan juga pingin romantis-romantisan ama istri" sahut Farih di jawab pelototan oleh Lia.


"Tiap orang punya caranya sendiri kali Kak" ujar Tiara menengahi kedua orang itu.


"Tuh dengerin, adik kamu aja ngerti!!


"Harus kudu sabar emang punya istri anak sekolahan" sahut Farih.


"Maklumin aja lah Kak, Kak Lia kan masih ABG entar kalau udah profesional Kakak bakal kewalahan" tawa Tiara.


"Yaaakk apa maksud kalian, ABG gini yang ngantri juga banyak!"


"Iya-iya istri Mas kan paling cantik. Yang ngantri pasti banyaklah" puji Farih tak ingin berdebat lama-lama dengan istrinya.


"Tapi inget, udah punya suami nggak boleh lirik-lirik cowok lain" nasihat Farih pada istri mungilnya lagi.


************


Dimas meminta Sekretarisnya menyiapkan berkas yang harus ia bawa ke Jepang. Ia berniat untuk berangkat ke Jepang besok sore.

__ADS_1


Ia segera melangkahkan kakinya keluar kantor setelah ia rasa urusannya beres. Ia ingin segera pulang beristirahat, badannya terasa remuk karena ia kelelahan.


Dimas memilih pulang ke apartemennya, ia menuju kamar mandi membersihkan tubuhnya yang terasa lengket seharian.


Selesai dengan aktivitas mandinya, ia merebahkan tubuhnya di kasur. Mencoba menutup matanya, agar bisa menghilangkan rasa penatnya.


Ketidak hadiran Tiara di sisinya, sangat mempengaruhi mood Dimas. Ia merasa gelisah tidak melihat kehadiran istrinya yang berubah menjadi lebih cerewet semenjak kehamilannya.


Dimas memutuskan menelpon istrinya. Begitu Tiara mengangkat panggilannya Dimas memberondongnya dengan keluhannya.


"Sayang aku ngantuk dan lelah, tapi aku tidak bisa tidur bagaimana ini?" keluh Dimas dengan manjanya.


"Kalau ngantuk tidur dong mas, kalau mas terus ngeliatin Tiara gini, terus Mas kapan tidurnya" protes Tiara.


"Temani Mas ngobrol sampai Mas ngantuk ya!" pinta Dimas manja, di angguki Tiara.


"Tumben banget suami aku jadi manja gini. Ada apa sih Mas?"


"Sayang sebenarnya, Mas besok sore harus berangkat ke Jepang untuk urusan bisnis. Mungkin kira-kira mas satu minggu disana. Kamu nggak apa kan sayang Mas tinggal dulu. Nanti pulang dari Jepang Mas jemput. Gimana sayang" tanya Dimas meminta pendapat Tiara.


"Penting banget ya Mas, sampai harus ke Jepang? Kenapa nggak di wakilkan Erick aja. padahal rencananya Tiara pingin minta jemput setelah ngunjungi makam ayah."


"Maaf sayang, ini nggak bisa diwakilkan. Bahkan kepergian Mas ke Jepang merupakan perintah langsung dari Kakek. Dan sebaiknya kamu tinggal disana aja dulu selama kepergian Mas. Mas akan kirimkan beberapa pengawal buat menjagamu."


"Nggak perlu Mas, disini aman kok lagipula ada Kak Farih, mbak Lia dan juga pelayan yang siap membantuku" tolak Tiara.


"Nggak sayang, mas akan tetap mengirim bodyguard kesana. Ingat jaga dirimu baik-baik. Kapan kau akan pergi ke kampung ayahmu?: tanya Dimas.


"Besok Mas."


"Jangan pergi dulu, Berangkatlah setelah orang suruhan Mas datang kesana. Mereka akan mengawal kalian sampai disana dengan aman" saran Dimas.


"Terserah Mas saja" sahut Tiara.


Dimas meminta Tiara untuk terus bercerita, sementara dirinya mencoba menutup mata. Ia ingin tidur sejenak sembari mendengarkan ocehan istrinya. Suara istrinya begitu menenangkan pikirannya hingga akhirnya ia bisa tertidur dengan nyenyak.


Tiara mengakhiri panggilannya setelah mengetahui suaminya tertidur. Ia menuju lemarinya mengemasi beberapa pakaian yang kemungkinan akan ia bawa di perjalanan besok.


"Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak" batin Tiara sembari memegang dadanya. Entah kenapa perasaan itu tiba-tiba datang disaat ia mengemasi beberapa pakaian.


TBC

__ADS_1


__ADS_2