
Suara tawa kecil terdengar dari bibir Kakek, mungkin ia sudah Tua tapi ia bisa melihat cucunya itu tertarik pada Nara. Ia akan mendukung Mike jika memang Mike ingin menjalin hubungan yang lebih serius lagi.
Pengalaman mengajarkannya tidak memandang seseorang dari kasta dan harta. Nilai seseorang tidak terletak pada hartanya tapi pada hatinya dan seberapa bermanfaatnya ia untuk lingkungan dan orang sekitarnya.
"Jangan khawatir kalau kau menyukainya kami semua akan mendukungmu. Bagaimana menurutmu Nara?" Kakek beralih bertanya pada Nara.
"Maaf, Nara bingung dan tidak mengerti dengan semua pembicaraan ini. Lagipula mana mungkin Kak Mike suka denganku, sepertinya Kakek salah paham. Kak Mike hanya menganggapku adik saja tidak lebih. Terus terang saja saya bahkan tidak berani untuk memiliki perasaan lebih pada Kak Mike, sekalipun hanya dalam mimpi. Jadi mana mungkin Kak Mike memiliki perasaan lebih padaku, Ya kan Kak Mike?"
Seolah mencari pembenaran Nara kembali bertanya dengan Mike tentang pendapatnya.
"Ya sepertinya kalian salah paham, aku hanya menganggap Nara sebagai adik tidak lebih. Mana mungkin aku menyukai gadis ABG sepertinya" ucap Mike.
Ada guratan kecewa dari balik ekspresi wajah Mike, ternyata gadis itu bahkan tak menaruh perasaan apapun padanya. Mungkin ia yang terlalu cepat menyukai gadis itu. Perasaan memang tidak mengenal tempat dan waktu. Ia datang tiba-tiba menyebarkan bibit-bibit cinta tanpa permisi.
Tanpa Mike sadari jawaban Mike sebenarnya sedikit menyakiti Nara, mungkin ia memang belum memiliki perasaan lebih pada Mike atau memang ia sendiri yang belum menyadari seperti apa perasaannya sesungguhnya pada pria yang duduk di sampingnya saat ini.
Nara menolehkan kepalanya kesamping, menatap Mike dalam, hingga tak sengaja pandangan mereka bertemu dan dalam hitungan detik mereka saling menolehkan muka kearah lain. Terlihat semu merah pada wajah keduanya.
"Mungkin Kakek terlalu cepat, anak muda memang sulit diterka. Tapi apapun pilihanmu Kakek akan mendukungmu. Lakukan saja sesuai kata hatimu dan jangan mengingkarinya, itu akan menyakitimu" Nasehat pria tua itu lagi sambil tersenyum tipis.
Pengalaman dan waktu memang mengajarkan kita sesuatu yang berharga tapi kita juga harus ingat, kesempatan tidak datang dua kali. Jadi jangan sia-siakan kesempatan yang kamu dapatkan hari ini, karena waktu takkan mampu berputar ke belakang.
Malam ini di habiskan oleh keluarga itu untuk bercengkrama bersama, dan waktu juga yang membuat mereka harus menyudahi obrolan seru mereka.
__ADS_1
"Kalian menginaplah disini selama beberapa hari, Kakek merindukan suara tawa dan canda terdengar di rumah ini" ucap pria tua itu berharap, Tiara dan Dimas mengangguk.
Seiring bertambahnya usia membuat pria tua itu semakin kesepian karena anak dan cucunya telah memiliki kehidupan dan keluarga mereka sendiri. Ia hanya berharap sesekali mereka mengunjunginya, mengusir rasa sepi dan menghibur lara di hatinya.
Mereka memasuki kamar masing-masing, Nara mengantar Mike ke kamarnya dengan mendorong kursi roda Mike. Sekalipun kursi roda Mike memiliki pengendali otomatis tapi Nara tetap mendorongnya secara manual.
Dimas memilih untuk menginap di lantai 3, lantai favoritnya. Semenjak remaja ia sudah menjadi penguasa lantai 3. Dimas menuntun Tiara dengan hati-hati, ia memilih menggunakan lift di bandingkan harus menaiki tangga.
"Apa kau tidak suka tempat ini, jika kau tak suka kita bisa memilih kamar di lantai satu atau dua. Masih banyak kamar kosong disana" ucap Dimas khawatir, jika mungkin Tiara tak menyukai tinggal di lantai 3 karena terlalu jauh.
"Kalau Mas sendiri lebih suka tinggal di lantai berapa?" tanya Tiara.
Dimas yang ingin membuka pintu kamar mereka menoleh dengan senyuman mesumnya ia membisikkan sesuatu di telinga istrinya.
"Aku lebih suka lantai 3, kau bisa mendesah dengan bebas disini tanpa khawatir terdengar yang lainnya" tawa Dimas pecah, Tiara merinding mendengar ucapan suaminya. Kamar Dimas di lantai 3 memang kedap suara.
"Tapi kau suka kan! Gimana kalau kita praktekkan sekarang. Aku sudah mempelajari gaya terbaru untuk Ibu hamil, di jamin kau akan Mendes*h lama di bawahku" ucap Dimas di sambut pelototan Tiara.
"Apa maksudnya Mas sudah mempelajarinya, Mas selingkuh ya di belakang Tiara" Mata Tiara sudah terlihat memerah, sepertinya ia salah paham. Ia menuju ke kasur, menidurkan tubuhnya dan menutupnya dengan selimut hingga tubuhnya tak terlihat.
Julukan suaminya sebagai Casanova sebelum bertemu dengannya, ia mengetahui itu dengan baik. Ada kekhawatiran jika suaminya tergoda dengan wanita cantik saat jauh darinya sebelumnya. Bukan ia tak mempercayai suaminya, tapi ia tak mempercayai wanita yang menggoda suaminya yang akan melakukan segala cara untuk bisa memanjat ke atas ranjang suaminya.
"Apaan sih Yang! Mas mempelajarinya dari film dan novel ++++ yang mas baca. Kamu cemburu ya, ayo katakan kamu cemburu" Dimas membuka selimut itu dan menggelitik pelan istri kecilnya yang saat ini memiliki tubuh padat berisi. Kehamilan Tiara menambah banyak berat badannya.
__ADS_1
"Hentikan Mas geli, hentikan" ucap Tiara sembari tertawa dan memukul-mukul tangan Dimas yang masih saja menggelitiknya.
"Sepertinya malam ini Mas harus menghukummu dengan baik, agar kau tak lagi mencurigai suamimu ini" ucap Dimas mendekatkan wajahnya pada pundak Tiara. Dimas menurunkan sedikit baju Tiara dan menggigit pundak istrinya itu.
"Sakit Mas" protes Tiara mencoba menjauhkan dirinya dari Dimas dengan mendorong tubuh suaminya itu.
"Sepertinya hukumannya kurang, aku harus memberimu lebih hingga kau mendesah minta ampun padaku" Dimas tersenyum licik, ia mengungkung tubuh istrinya hingga tak dapat lagi bergerak. Akhirnya Tiara memilih pasrah dengan apa yang suaminya lakukan pada tubuhnya.
Suara des*han terdengar bersahutan di dalam kamar itu, Dimas melakukannya dengan lembut agar tak menyakiti bayinya. Tubuh istrinya itu tetap menjadi candu dan favoritnya sekalipun sudah tak selangsing dulu.
Sementara itu Mike, yang ada dilantai 2 memikirkan kata-kata Kakeknya dan juga Nara. Apa gadis itu terlalu polos hingga tak bisa mengartikan bentuk perhatiannya selama ini atau mungkin perhatian yang ia tujukan itu kurang, hingga Nara hanya menganggapnya sebagai Kakak saja.
"Apa wajahku ini terlalu tampan? hingga ia tak berani jatuh cinta padaku" gumam Mike sembari menatap pantulan wajahnya di cermin yang tak jauh dari tempat tidurnya.
"Ya pasti seperti itu" ucapnya sembari menertawakan pikirannya sendiri.
"Lihat saja, aku yang akan membuatmu mengakui sendiri jika kau mencintaiku" gumamnya percaya diri. Ia memiliki rencana yang tersusun rapi pada kepalanya itu.
"Apa, ia sudah tidur" andai saja ini di apartemenku aku pasti bisa datang ke kamarnya diam-diam dan menciumnya.
"Aaaaaahhhhh, bahkan rasa manis bibirnya, aku masih bisa merasakannya" tersenyum tak jelas hingga mengacak-acak rambutnya. Memikirkan ciuman itu membuatnya candu dan ingin melakukannya lagi
Tapi Mike cukup waras untuk bisa menahan diri, mengingat di setiap ruangan kecuali kamar tidur dan kamar mandi semua di lengkapi CCTV.
__ADS_1
"Selamat tidur calon istriku" tersenyum kecil dan berusaha memejamkan mata. Mike berharap malam ini bisa memimpikan bidadari surganya.
TBC.