UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Merindukanmu.


__ADS_3

Tiara duduk termenung di dalam kamarnya. Sudah beberapa hari ini Tiara merasa Dimas selalu menghindarinya. Mungkin pria itu terlalu sibuk dengan pekerjaan di kantornya, pikir Tiara.


Beberapa hari tidak melihat Dimas, ada perasaan rindu dan juga kehilangan. Kebiasaan Dimas yang selalu merecoki Tiara sebelum ia tidur, membuat Tiara benar-benar merindukannya. Bahkan Tiara sering kesulitan untuk tidur beberapa malam ini, karena selalu menantikan kedatangan Dimas.


Kenapa ia tak muncul beberapa hari ini, apa ia tidak merindukanku. Batin Tiara kesal.


"Air hangatnya sudah siap nona" ujar Cintia membuyarkan lamunan Tiara.


"Terimakasih ya Cin."


Tiara melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Kondisi Tiara saat ini sudah lebih baik, ia sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan orang lain. Tiara melepaskan seluruh pakaiannya. Ia berendam merilekskan pikiran dan juga tubuhnya.


Sementara itu tampak mobil Dimas memasuki parkir halaman rumahnya. Ia memasuki rumah itu dengan langkah yang agak tergesa-gesa. Sudah beberapa hari ini ia menghindar dari Tiara dan tidak menginjakkan kakinya di rumah ini.


"Dimana Tiara" tanya Dimas ketika berpapasan dengan pelayan wanita paruh baya.


"Nona ada di kamarnya Tuan"


Dimas membuka pintu kamar Tiara, ia mengedarkan pandangannya mencari ke berbagai sudut kamar.


"Kemana dia" gumam Dimas lirih. Ia kemudian berjalan menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Ia membuka pintu kamar mandi itu, yang rupanya tidak terkunci.


" Astaga..." Dimas cukup terkejut melihat Tiara yang tertidur di dalam bathtub. Ia lalu berjongkok mengangkat tubuh wanita itu.


Gluk, ia menelan saliva nya menatap tubuh mulus yang ada di hadapannya. Walaupun ini bukan pertama kalinya ia melihatnya. Tapi tetap saja Dimas adalah pria normal, apalagi bayangan wanita dihadapannya ini selalu mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.


Dengan hati-hati Dimas meletakkan tubuh Tiara diatas kasur. Ia menutupi tubuh polos Tiara dengan selimut. Ia lalu ikut berbaring di sebelah Tiara. Menatap wajah wanita itu lekat.


"Aku sangat merindukanmu" Dimas memeluk tubuh Tiara yang terbungkus selimut dan mengecup pipinya berkali-kali. Tapi perbuatan Dimas kali ini tidak mengusik tidur Tiara. Wanita itu masih tertidur pulas. Mungkin karena beberapa hari ini ia kurang tidur karena merindukan pria yang saat ini tidur di sebelahnya.


Mungkin ini hukuman untukku karena beberapa kali mengabaikan permintaanmu, pikir Dimas.


Dimas mengingat disaat Tiara selalu menuntut memintanya menikahinya. Pada saat Dimas ingin meminta hal lebih darinya, tapi Dimas selalu mengabaikan permintaan Tiara.


Aku benar-benar menyesal sayang, seandainya aku mendengarkanmu mungkin hal ini tidak akan terjadi, gumam Dimas lirih. Ia masih merengkuh Tiara dalam pelukannya.


Melihat Tiara yang tidak terusik sama sekali, membuat jiwa usil Dimas meronta. Ia melepaskan pelukannya, menatap wanita dihadapannya. Ia menusuk pipi Tiara dengan jari telunjuknya dan sesekali menciumi seluruh wajah Tiara.

__ADS_1


Tiara menggeliatkan tubuhnya, perlahan ia membuka matanya. Menatap pria yang tersenyum di hadapannya. Tapi ia kembali memejamkan matanya karena berpikir pria yang dihadapannya tidak nyata. Karena Tiara sering kali membayangkan Dimas yang tertidur di sebelahnya. Mungkin karena kerinduannya membuatnya berhalusinasi.


"Sayang bangun..." Melihat Tiara yang kembali tertidur membuat Dimas semakin gemas. Ia menggigit telinga Tiara.


"Aaaw..." Tiara kembali terbangun karena terkejut. Kembali menatap pria yang tertidur di sebelahnya. Kali ini ia yakin tidak sedang berhalusinasi, karena bayangan tidak mampu menggigitnya.


Tiara langsung memeluk tubuh pria di sebelahnya itu. Tubuh Tiara sedikit bergetar, Dimas kemudian membalas pelukan Tiara dan mengecup kening Tiara. Tak lama ia mendengar isakan kecil dari Tiara.


"Sayang" Dimas melepaskan pelukannya. menghapus air mata Tiara.


"Mas kemana saja beberapa hari nggak pulang, Tiara kangen" ia memukul-mukul dada pria itu.


Dimas menangkap kedua tangan Tiara, membungkam bibir Tiara yang terus memarahinya.


Setelah melihat reaksi Tiara yang hampir kehabisan pasokan udara, Dimas melepaskan ciumannya.


"Aku juga sangat merindukanmu sayang" Dimas kembali menc*umnya. Mel*mat bibir mungil Tiara. Tangan Dimas menelusup ke dalam selimut mencari dua benda favoritnya. Tiara menjingkat terkejut, ia baru menyadari tubuhnya dalam keadaan naked.


Dimas menahan tubuh Tiara yang ingin melepaskan diri darinya. Sesuatu dibawah sana sudah meronta. Dimas melepaskan ciumannya, ia menelusuri tiap jengkal tubuh Tiara dengan ciumannya. Dalam hati Tiara ingin memberontak, tapi apalah daya reaksi tubuhnya berbeda. Ia terlalu merindukan pria di hadapannya kali ini, sehingga lagi-lagi ia kehilangan akal sehatnya.


Dimas mengecup kening Tiara, mengakhiri permainannya. Tiara merona malu karena Dimas yang tersenyum jahil ke arahnya.


"Tidurlah, kau pasti lelah" Dimas menutupi tubuh polos mereka berdua.


"Tiara sudah nggak ngantuk Masku."


"Mau kemana?" Dimas menahan tubuh Tiara yang ingin bangun dari tidurnya.


"Tiara mau bangun, mandi Mas."


"Tunggu sebentar ada yang mau Mas bicarakan."


Tiara mengurungkan niatnya ia mengangguk patuh ke arah Dimas.


"Besok kau ikut Reno dan Rendra liburan ke Singapura. Mona dan Andini juga ikut bersama mereka."


"Kenapa?" tanya Tiara heran. Pasalnya Dimas selalu saja sewot kalau Tiara terlalu dekat dengan Reno maupun Rendra.

__ADS_1


"Mas ada pekerjaan di luar kota cukup lama dan tidak bisa mengajakmu. Mas nggak ingin kamu kesepian disini. Apalagi anak jin itu selalu merengek merindukanmu. Kamu mau kan ikut mereka?"


"Tapi gimana nanti Tiara kalau kangen mas."


"Kamu kan bisa menelponku sayang."


"Apakah boleh?"


"Tentu saja. Kamu ini ada-ada saja, Siapa coba yang berani melarangmu menghubungiku."


"Tiara takut mengganggu kesibukan Mas. Mas juga beberapa hari nggak pulang, sama sekali nggak menghubungi Tiara."


"Maaf sayang, Mas terlalu sibuk dengan pekerjaan Mas."


"Alasan, Mas sibuk aja udah lupain Tiara. Jangan-jangan nanti pas Tiara lama nggak disisi mas, Masku tinggal kawin lagi" Dimas terkejut dengan ucapan Tiara, ia sempat terdiam terpaku. Hingga tawa Tiara kembali menetralkan ekspresi wajah terkejutnya.


"Becanda Mas, biasa aja kali ngeliatinnya" Tawa Tiara melihat ekspresi wajah Dimas.


*************


Sementara itu di lain tempat Aryo sedang melajukan mobilnya. Ia sudah mengetahui fakta tentang identitas Tiara. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Dimas, tapi sama sekali tak ada jawaban. Setelah memastikan Dimas tak ada di kantor, Aryo segera menancapkan mobilnya menuju kediaman Dimas.


Di jalan Aryo menatap kaca spion mobilnya. Ia menatap curiga beberapa mobil yang sepertinya mengikutinya. Ia menancap gas mobilnya kencang, mencoba menghindar dari kejaran mobil di belakangnya.


Kecepatan jenis mobil sport yang mengejarnya, mampu menghadang mobil Aryo. Mereka menghadang dari sisi samping dan juga depan. Benturan mobil pun tak terelakkan lagi. Sekalipun Aryo sudah menginjak pedal gas mengurangi kecepatannya.


Aryo dan juga beberapa Pria itu keluar dari mobil mereka masing-masing.


"Tolong ikut dengan kami sekarang juga Tuan."


Aryo menghiraukan ucapan orang tersebut. Ia menghantam keras wajah pria di depannya dengan kepalan tangannya. Hingga perkelahian pun tak terelakkan lagi. Sekalipun Aryo sendirian melawan orang-orang itu yang jumlahnya cukup banyak, tapi ia mampu merobohkan hampir sebagian dari mereka.


Aryo tidak lelah sama sekali menghadapi mereka, ia masih bersemangat menjadikan samsak tinju orang-orang yang berani menghalangi jalannya. Hingga kelengahan Aryo di manfaatkan salah satu dari mereka. Pria itu mengambil tongkat baseball dari mobilnya. Ia menghantam keras bagian belakang kepala Aryo.


Buukkk..., Aryo terkulai lemas tak berdaya.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2