UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Dimas dan Tiara.


__ADS_3

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 2 malam. Tapi Dimas belum juga bisa tidur nyenyak. Ia sedari tadi membolak-balikkan badannya berusaha mencari posisi tidur yang nyaman


"Ah sial, gara-gara Tiara nggak ada disampingku aku jadi susah tidur" gumam Dimas lirih. Ia terus turun dari tempat tidurnya menuju keluar. Ia melirik kearah tangga yang sebelumnya selalu di jaga oleh Steve. Dimas tersenyum melihat ke arah Steve. Ia kali ini beruntung karena Steve tertidur dalam posisi duduk di salah satu anak tangga.


Dimas melepaskan sandalnya, dengan berjinjit perlahan ia naik ke anak tangga menuju lantai atas melewati Steve yang sedang tertidur.


Sampai di depan pintu kamar Rendra lagi-lagi Dimas beruntung karena kamar Rendra tidak dalam kondisi terkunci. Sepertinya Dewi Fortuna berpihak padanya. Dengan hati-hati ia membuka pintu kamar itu.


"Sial apa-apaan monster kecil ini, tidur aja pake acara meluk-meluk istriku segala" kesal Dimas melihat Rendra yang tertidur dalam pelukan Tiara. Dengan hati-hati Dimas melepaskan tangan Rendra yang melilit di pinggang istrinya.


Ia menjauhkan Rendra dari pelukan istrinya. Lalu dengan hati-hati ia menggendong istrinya ala bridal style.


Dengan senyum merekah Dimas berhasil membawa Tiara keluar dari kamar itu. Ia lalu berjalan pelan menuruni anak tangga. Saat posisinya dekat dengan Steve ia menahan nafasnya berjalan hati-hati melewati penjagaan Steve yang masih tertidur pulas.


"Selamat" Dengan hati riang ia meletakkan istrinya diatas tempat tidurnya. Tak lupa ia mengunci pintu kamarnya dan menyembunyikan kunci itu di bawah kasur. Hal itu ia lakukan untuk berjaga-jaga. Ia khawatir jika Tiara sewaktu-waktu bangun dan menghilang dari sisinya.


Dengan senyum merekah ia masuk ke dalam selimut istrinya. Ia membawa istrinya ke dalam dekapannya. Tak lupa tangan satunya ia telusupkan masuk ke dalam baju istrinya. Memainkan dua buah favorit kegemarannya.


Terdengar lenguhan kecil dari Tiara karena ulah suaminya. Tapi rasa lelah karena habis bermain dengan Rendra membuatnya enggan membuka matanya.


Dimas yang merasa tak juga mendapat respon dari istrinya, timbul pikiran jail di otaknya. Ia melucuti pakaian bagian atas istrinya hingga polos.


Menempelkan bibirnya di pucuk gundukan favoritnya dan tangan yang satunya juga ikut menjelajah kemana-mana. Terdengar kembali lenguhan Tiara.


Dimas terlihat seperti bayi besar yang kehausan sedang dalam pelukan Ibunya. Akhirnya karena lelah tak juga mendapatkan respon dari istrinya, ia tertidur dalam posisi seperti itu.


"Aaw" terdengar rintihan Tiara. Ia merasakan sakit ketika Dimas merapatkan giginya dan juga meringis geli karena ulah Dimas. Bayi besar itu masih dalam posisi semalam.


"Astaga, Masku...., Mas, Mas Tiara mencoba membangunkan suaminya dan bergeser menjauh.


Tiara merasakan pucuknya perih karena gigitan Dimas. Ia terkejut melihat tubuh bagian atasnya yang polos karena ulah suaminya.


Tiara yang kesal menarik hidung mancung suaminya.


"Aaaww aaaww ampun sayang sakit" Dimas terkejut menatap wajah istrinya yang kesal padanya. Ia bangun dari tidurnya dalam posisi duduk.


"Mas ini ya mesumnya nggak ilang-ilang" protes Tiara.


"Sama istri sendiri nggak apa dong sayang kan udah halal" Dimas menaik turunkan alisnya menatap istrinya penuh minat.


"Nggak boleh" Tiara menutup bagian atasnya dengan selimut sembari menatap tajam suaminya. Ia tau isi pikiran suaminya itu.

__ADS_1


"Kok nggak boleh sih Yang, lagi on ini" tatap Dimas memelas.


"Maaf, Tiara lagi dapet jadi nggak bisa" ucap Tiara berbohong.


"Yah, puasa lagi dong" Dimas memelorotkan tubuhnya dan kembali tidur masuk ke dalam selimut yang sempat ia singkap. Ia memeluk pinggang istrinya yang sempat menjauh.


Tiara melepaskan pelukannya Dimas kemudian mengambil baju atasannya yang tergeletak di lantai akibat ulah suaminya.


"Sayang kamu mau kemana" tanya Dimas begitu melihat Tiara yang melangkah menjauh.


"Balik ke kamar Rendra" jawab Tiara acuh.


"Ini masih gelap yang, Temenin aku tidur dulu ya" pinta Dimas tapi di abaikan Tiara. Tiara kini sudah sampai di depan pintu dan mencoba membukanya tapi ternyata terkunci.


"Kuncinya dimana Mas?" protes Tiara menatap lubang kunci tak bertuan.


"Ada di hati aku, ayo sini ambil kuncinya" Canda Dimas dan Tiara memberengut kesal.


"Diluar masih gelap, ayo temenin suamimu tidur" Dimas menghampiri Tiara dan menggendongnya kembali ke tempat tidur. Ia kembali tidur dengan mendekap erat tubuh istrinya menaruh kepalanya di antara gundukan kembar.


Tiara yang malas berdebat dengan suaminya membiarkan ulah suaminya itu.


Hari sudah menjelang pagi Dimas membuka matanya. Ia hari ini ingin meminta bantuan istrinya untuk membujuk Rendra agar mau mendukungnya.


"Kemana dia" gumam Dimas lirih. Ia menyingkap ujung kasurnya dan melihat kunci yang masih tergeletak disana.


Ia melangkah ke kamar mandi dan tak melihat keberadaan istrinya. Dengan langkah cepat ia keluar dari kamarnya, mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Hingga akhirnya ia mendapati Reno yang bersiap berangkat ke kantor.


"Lihat istriku nggak?"


"Keluar, jalan-jalan sama Steve dan juga Rendra" jawab Reno acuh lalu kembali melanjutkan langkahnya. Dimas menghalangi langkah Reno yang mencoba menghindar darinya.


"Keluar? maksud Lo. Gue ditinggalin gitu."


"Salah Lo sendiri nggak cepet bangun. Tuh lihat sekarang sudah jam 10 dan mereka sudah berangkat satu jam yang lalu. Dan jangan tanya gue mereka kemana. Gue juga nggak tau. Udah ah gue mau cepat berangkat, ada rapat setengah jam lagi gue." Reno segera berlalu meninggalkan Dimas dalam kondisi bingung.


"Sial, gue ditinggal sendirian. Aaaahhhh..." Dimas mengacak rambutnya kesal ia kembali ke kamar untuk bersiap mandi.


***************


Sementara itu Anton tersenyum lega, ia berhasil mendapatkan dukungan saham dari pemilik 1,5 persen saham incarannya.

__ADS_1


"Terimakasih Tuan senang bekerjasama dengan anda" Ia menjabat tangan mitranya itu sebelum meninggalkan ruangan dengan senyum cerianya.


"Bagaimana? Apa kau sudah tau keberadaan pemilik saham yang 5% itu?" tanya Anton pada asistennya.


"Dasar bodoh, apa saja yang kau lakukan sampai menemukannya saja kau tidak bisa."


"Maaf Tuan, pemilik saham ini tidak pernah muncul karena ia baru saja membeli saham perusahaan kita 2 bulan yang lalu. Dan registrasi pembelian saham sebelumnya atas nama Tuan Dimas sebelum akhirnya berpindah nama ke orang itu. Sepertinya walaupun kita menemukan orang itu, tidak mungkin mendukung kita Tuan. Mengingat ia memiliki hubungan dengan Tuan Dimas."


"Ya sudah pesan tiket sekarang juga, kita akan kembali. Aku akan memikirkan jalan lain untuk menyingkirkan Dimas dari kursinya saat ini."


Anton kemudian menelpon Manda, ia ingin kembali membuat kesepakatan dengan Manda.


"Kau kembalilah ke kantor terlebih dahulu. Cek semua persiapan rapat kita yang akan diadakan 5 hari lagi. Aku masih ada keperluan lain.


Dengan mobil jemputan kantor Anton menuju ke tempat Manda. Tapi sebelum itu ia menurunkan sopirnya di halte bus agar kembali ke kantor karena ia ingin mengemudi sendiri saat ini.


"Kapan datang?" tanya Manda


"Baru dan langsung kemari."


"Ada apa? Tidak mungkinkan kau kemari tanpa tujuan."


"Kau selalu mengerti isi pikiranku."


"Bantu aku menyingkirkan Dimas dari jabatannya. Dan jika berhasil aku akan memberikan bayaran yang besar untukmu."


"Berhenti bermimpi aku tidak akan membantumu kali ini. Apa kau pikir aku bodoh, jika Dimas sampai tersingkir dari jabatannya, pengangguran dong dia. Lalu apa gunanya aku mengejarnya."


"Kau pikir Dimas semiskin itu. Dia tidak akan jadi pengangguran hanya karena jabatannya hilang. Ia masih banyak memiliki usaha lain dan juga properti yang tak terhitung."


"Aku tidak peduli aku tidak akan membantumu" ujar Manda acuh.


"Lalu apa rencanamu untuk mendapatkan Dimas."


"Melangkah lebih dekat untuk mendapatkannya."


"Maksudmu?"


"Aku akan kerja dikantornya seminggu lagi. Ia sudah menyetujui untuk aku bekerja di kantornya. Dekat lagi dengannya akan memudahkanku untuk mengambil hatinya. Ditambah rayuan dan tentunya sedikit tipuan yang akan membuatnya semakin bersimpati padaku" Senyum Manda merekah membayangkan Dimas yang akan kembali ke pangkuannya. Sementara Anton berdecak kesal menatap senyum licik Manda.


"Cih, kau pikir akan segampang itu mendapatkan Dimas kembali. Jika kau tidak mau membantuku maka jangan salahkan aku yang juga akan menjadi batu sandungan untukmu" Dimas meraih dagu Manda menatapnya untuk berbicara padanya. Setelah dirasa cukup ia menghempaskan begitu saja membuat Manda melotot kesal padanya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2