UPIK ABU & CEO TAMPAN

UPIK ABU & CEO TAMPAN
Rencana Manda.


__ADS_3

"Sayang kamu tunggu di mobil dulu ya, Mas mau ke toilet sebentar" ucap Dimas setelah mengantarkan Tiara masuk ke dalam mobil.


"Hallo Erick, tolong kirim seseorang untuk memata-matai Aiko. Saya akan kirimkan alamatnya segera" ujar Dimas menelpon Erick.


"Pertemuan Investor nya di tunda sayang, kita pulang saja ya" ucap Dimas.


"Balik ke kantor aja gih Mas, Tiara masih banyak kerjaan."


Sementara itu di rumah makan Jepang, Aiko, Ayahnya dan juragan Karjo sedang merayakan kesuksesan mereka. Karjo telah berhasil melenyapkan orang yang telah menjadi penghalang mereka.


Kehadiran Aiko kali ini bukan untuk mendekati Dimas. Tapi untuk balas dendam pada orang yang telah menyebabkannya kehilangan satu tangannya. Ia bahkan kini terpaksa menggunakan tangan robot sebagai pengganti tangannya yang hilang.


"Kau yakin telah berhasil melenyapkannya."


"Jangan khawatir Bos, Dia benar-benar lenyap kali ini."


"Bagaimana, kau sudah puas Sekarang." tanya Papa Aiko.


"Sebenarnya Aiko belum puas Pa. Aiko ingin Tiara dan Dimas juga lenyap."


"Tahan dulu balas dendammu untuk mereka. Kita tidak cukup memiliki banyak kekuatan untuk menyentuh mereka. Jika pria tua itu ikut campur, maka hancurlah kita."


"Tapi Aiko membencinya, Pa. Aiko ingin mereka lenyap, atau paling tidak buat mereka cacat."


"Hentikan omong kosongmu Aiko. Kau ingin keluarga kita hancur. jika kau ingin balas dendam pada mereka, kau harus memiliki kekuatan yang lebih besar dari mereka. Sore ini juga kita kembali ke Jepang. Papa tidak ingin kau bertindak melewati batasanmu dan menyebabkan keluarga kita hancur."


****************


Di kantor Dimas yang pikirannya tak tenang, kembali menghubungi Erick. Kehadiran Aiko benar-benar sebuah ancaman bagi Dimas. Ia tidak ingin wanita gila itu kembali menyakiti Tiara.


Bahkan semenjak pertemuannya dengan Aiko, Dimas tak membiarkan Tiara sendirian. Ia membawa semua pekerjaannya ke ruang kerja Tiara. Bahkan Tiara yang ingin ke ruang pantry untuk membuat kopi pun dilarangnya. Dimas tak membiarkan Tiara menghilang dari pandangannya.


Tiara lebih suka membuat kopi sendiri, sebab kopi buatan pegawainya tak sesuai dengan seleranya.


"Kenapa sih Mas, cuma buat kopi juga. Lagipula kan deket," protes Tiara.


"Kalau mas bilang nggak boleh, ya nggak boleh. Biar di bikinkan nanti, Kamu mau Kopi model apa bilang sama Mas, nanti Mas pesankan."


"Nggak jadi, dah nggak mood Tiara."


"Ya sudah cepat selesaikan pekerjaanmu sejam lagi kita pulang" ujar Dimas."


"Tapi jam pulang masih dua jam lagi Mas" protes Tiara lagi."


"Jangan banyak protes Tiara, atau mas bawa kamu pulang sekarang juga."


Tiara terdiam, dan kembali melanjutkan pekerjaannya dengan bibir manyun.


"Tunggu disini dan jangan kemana-mana" Setelah mewanti-wanti Tiara, Dimas keluar ruangan untuk menelpon Erick. Ia tidak ingin jika Tiara sampai tau penyebab kekhawatiran dirinya.


"Bagaimana Rick?" tanya Dimas melalui handphone miliknya.


"Jangan Khawatir Bos, dia saat ini sudah ada di bandara. Sepertinya mereka akan kembali ke negaranya. Setengah jam lagi pesawatnya akan berangkat ke Jepang."


"Lalu mengapa mereka ada disini, apa yang sebenarnya mereka lakukan."


"Saya belum tau Bos, karena belum menyelidiki sampai kesana. Apa perlu saya Kirim orang untuk menyelidikinya sekarang bos?" tanya Erick.

__ADS_1


"Tidak perlu, yang terpenting ia sudah pergi dari negara ini dan tidak menyentuh Tiara."


"Baik Bos."


Dimas mengakhiri pembicaraannya di telpon dan kembali ke ruangan Tiara.


****************


Tiara dan Mona saat ini berada di butik langganan Mona. Mereka membeli beberapa setel gaun untuk acara undangan pesta mitra kerja perusahaan.


"Kau yakin aku harus menggunakan gaun ini Mona?" tanya Tiara ketika sedang mencoba sebuah gaun.


"Yakin, kau terlihat sangat cantik dengan gaun ini" Mona memandangi Tiara dengan senyuman puas di wajahnya.


"Tapi aku merasa tidak nyaman, bagaimana jika nanti aku masuk angin" Tiara menatap gaun yang terbuka pada bagian punggungnya, yang ia kenakan saat ini.


"Astaga Tiara, kamu ini jangan konyol deh. Ini gaun model Helter Neck. Ya sudah pasti punggungnya terbuka. Tapi kamu cantik banget pakai gaun ini. Lihat warnanya cocok banget sama warna kulitmu dan modelnya juga cantik banget. Di jamin kamu bakalan jadi wanita tercantik dan menjadi pusat perhatian disana nanti."


"Tapi aku..."


"Diam Tiara, tolong kali ini saja ikuti saranku oke."


"Lalu mana gaunmu" tanya Tiara.


"Ada, lagi di ambilkan mbaknya di atas.


************


Sementara itu di kantor Dimas sedang siap-siap untuk bertemu investor baru dari luar negri. Ia berencana menemui investor di sebuah hotel bersama dengan sekretarisnya.


"Entahlah Pak, setelah meminum kopi perut saya terus-menerus merasakan sakit. Sepertinya saya tidak bisa menemani bapak, bagaimana ini Pak" tanyanya khawatir.


"Sudah, panggilkan Erick untuk menemaniku."


"Maaf Pak, Tuan Erick baru saja berangkat ke proyek. Ada sedikit konflik disana yang harus diselesaikan."


"Lalu saya berangkat dengan siapa?'


"Bagaimana kalau bapak berangkat dengan Manda saja Pak."


"Sekretaris Tiara, Si Mona itu ada nggak?" tanya Dimas.


"Mona keluar bersama Ibu, Pak."


"Oh ya hampir lupa saya, tadi mereka sudah mengatakan padaku. Ya sudah suruh Manda menyusul saya ke mobil secepatnya. Dan jangan lupa berkas-berkasnya berikan pada Manda."


"Baik, Pak."


Dimas langsung turun menuju Lobi bawah sebentar, sebelum ia menuju ke parkiran. Ia lupa mengatakan pada sekretarisnya agar memberitahu pada Tiara perihal kepergiannya menemui investor.


"Tolong beritahu sekretarisku untuk menyampaikan pesan pada istriku jika aku ada meeting di luar" ujar Dimas pada salah satu resepsionis."


"Baik Pak."


Dimas langsung menuju mobilnya di parkiran, sebelum Dimas membuka mobil, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa menuju ke arahnya.


"Huft..., huft Tu-tunggu sebentar Pak. Huft, huft..." ucap Manda dengan nafas ngos-ngosan.

__ADS_1


"Masuk" ucap Dimas cuek.


Di dalam mobil Manda terus berbicara, sementara Dimas tidak begitu menanggapi. Ia tidak tertarik dengan cerita masa lalu mereka. Manda sengaja menceritakan masa percintaan mereka dulu, agar Dimas kembali mengingat bagaimana dulu ia tergila-gila padanya.


"Sebaiknya kau hentikan ocehanmu, kau membuatku sakit kepala" ujar Dimas.


"Kamu berubah ya Mas, dulu kau tidak pernah membentakku dan mengacuhkanku. Tapi sekarang jangankan berbicara denganku berdekatan pun kau enggan."


"Baguslah kalau kau sadar" ucap Dimas.


"Bisakah kau bersikap seperti dulu padaku Mas, aku janji aku akan menuruti setiap perkataanmu."


"Tidak bisa" jawab Dimas singkat.


"Kenapa?"


"Karena orang yang kucintai saat ini bukan kamu."


Manda terdiam, lidahnya terasa kelu untuk kembali berdebat dengan Dimas. Sepertinya ia harus menggunakan metode lain untuk menjerat Dimas. Kali ini ia akan mencoba metode yang paling ekstrim, tidak perduli bagaimana pendapat Dimas tentang dirinya nanti. Yang terpenting adalah bagaimana caranya tetap berada di sisi Dimas.


Sampai di dalam hotel Dimas berbicara dengan investor. Menjelaskan tentang proposal kerja yang akan di kerjakan dalam waktu dekat ini.


Manda pamit ke belakang sebentar dengan alasan ingin ke toilet. Tapi ia tidak menuju Toilet, ia menghadang pelayan yang ingin membawa minuman untuk mereka.


"Untuk kamar nomor 224 ya mbak, biar saya antarkan itu ruangan sahabat saya mbak, kebetulan saya juga mau kembali kesana."


"Tapi Nona..."


"Sudah jangan khawatir, oh ya tolong saya pesankan kamar juga ya mbak. Tolong kamar yang terbaik atas nama Tian Dimas. Bos saya ingin menggunakannya satu malam saja untuk istirahat. Ini foto kopi KTP bos saya dan uang sewa kamar, sisanya mbak boleh ambil" Manda mengeluarkan uang merah dalam jumlah banyak."


Pelayan yang tadinya ingin menolak, langsung menerima sodoran uang itu. Karena berfikir jumlah tip yang ia dapatkan kali ini lumayan banyak, melihat dari banyaknya jumlah uang yang disodorkan Manda.


Setelah pelayan itu pergi dengan sigap Manda memasukkan bubuk putih ke salah satu gelas dengan tersenyum licik.


"Manda kenapa kamu yang membawa minumannya" tanya Dimas heran melihat Manda membawa minuman ke tempat mereka."


"Kebetulan tadi ketemu pelayan di depan jadi sekalian saya bawa. Silahkan di minum dulu, setelah itu baru Bapak lanjutkan lagi" ucap Manda lembut.


Dimas dan mitra bisnisnya meminum minuman yang diberikan Manda tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Setelah beberapa jam, Dimas merasakan ngantuk yang luar biasa. Ia berkali-kali menguap karena menahan kantuknya.


"Sepertinya Pak Dimas lelah. Sebaiknya di lanjutkan besok lagi saja Pak pembicaraannya" ucap Manda seolah penuh perhatian.


"Asisten anda benar Pak Dimas, kita lanjutkan besok saja. Anda beruntung memiliki asisten yang pengertian."


"Baiklah Pak kalau begitu saya permisi dulu."


Manda keluar bersama Dimas dari ruangan itu, Dimas dengan langkah sempoyongan karena efek obat yang ada pada minumannya. Manda yang ingin memapah Dimas beberapa kali di tepis oleh pria itu. Hingga akhirnya Dimas tumbang dan dengan segera Manda berusaha memapahnya. Beruntung Manda bertemu dengan pelayan yang ia suruh memesan kamar tadi.


"Ada apa Nona? kenapa bapak ini? apa perlu kita memanggil Dokter?" tanya pelayan hotel itu bertubi-tubi.


"Tidak perlu, bos saya hanya lelah. Mana kunci kamar yang tadi saya pesan" tanya Manda.


"Ini Nona."


"Ya sudah, tolong bantu saya memapah bos saya ke kamar itu."


TBC

__ADS_1


__ADS_2